Islamic Online University Aqidah 301
2
Studi Perbandingan
Agama-agama
Masa Kini
Mohammed Ali
Muhiyaddin
VANTAGE PRESS
New York / Washington / Atlanta
Los Angeles / Chicago
Islamic Online University Aqidah 301
3
Bab
1
Pendahuluan
Saat ini umat manusia dihadapkan dengan dua ideologi utama, TEISME dan ATEISME.
Masyarakat penganut teisme yang terdiri dari monoteis dan paganis berpusat di sekitar ketuhanan
dengan akar keyakinan pada Satu Kekuatan Tertinggi, Satu-Satunya Tuhan, yang merupakan
perencana tunggal, perancang, pencipta, dan penopang seluruh tatanan alam semesta. Pada
dasarnya, Tuhan diyakini jauh di atas setiap ciptaan, Mahatinggi, Mahakuasa, dan Maha
Mengetahui, yang terus-menerus ada di setiap masa yang, bagi setiap makhluk, adalah periode
dari masa lalu yang tak terbatas hingga ke masa depan yang tak terhingga, di mana ketika
kehidupan manusia yang sangat singkat di bumi dibandingkan maka kehidupan manusia di dunia
ini akan terlihat seperti interval yang sangat kecil dan dapat diabaikan dalam keabadian yang luas
dari alam semesta. Dalam konteks ini, para penganut teisme tidak hanya menyembah Tuhan
dalam rasa syukur karena telah sifat-Nya yang telah Mencipta dan Mengasihi tetapi juga
memuja-Nya atas kebaikan dan kebijaksanaan-Nya yang luas, dalam ukuran yang tepat untuk
semua makhluk. Selanjutnya, para penganut teisme berdoa kepada Tuhan agar diberikan
pertolongan dan bimbingan dalam semua segi kehidupan di dunia ini, agar dilindungi dari
kekuatan jahat, bahaya, dan dari terjerumus ke dalam perbuatan dosa dan agar mencapai
kebahagiaan abadi selama hidup dan setelah kematian. Mereka menganggap beberapa tahun
kehidupan manusia di bumi sebagai rentang yang sangat singkat dalam keseluruhan keberadaan
yang tak terbatas di alam semesta. Di sisi lain, masyarakat ateis tidak peduli dengan apa yang
oleh para teis sebut sebagai nilai-nilai spiritual dan, dengan demikian, memiliki apresiasi yang
murni materialistik terhadap kehidupan. Mereka percaya bahwa seiring dengan evolusi spontan
alam semesta, hukum-hukum alam dibangun, dengan hasil yang sesuai dengan hukum-hukum
ini, dan tanpa kebutuhan akan Tuhan, alam semesta serta segala sesuatu di dalamnya, termasuk
umat manusia di bumi, terus berfungsi dan ada sebagai entitas tanpa tujuan atau motif di balik
proses penciptaan, hidup dan kehancurannya. Oleh karena itu, masyarakat ateis tidak memiliki
keyakinan sama sekali terhadap kehidupan apa pun setelah kematian.
Islamic Online University Aqidah 301
4
Masyarakat ateis tidak juga menemukan kebutuhan untuk agama apapun karena percaya
bahwa masyarakat yang dibentuk oleh massa untuk eksis sebagai kelompok yang terorganisasi
dapat membingkai norma-norma dan kode hukumnya sendiri untuk menyesuaikan dengan
tatanan sosial apa pun yang ditentukan sebagai yang terbaik oleh mayoritas masyarakat sesuai
dengan kebutuhan sosial dari setiap zaman. Cukup jelas bahwa hukum sosial, kode dan norma-
norma juga dapat berubah seperti bilah cuaca dalam kaitannya dengan kehendak massa dalam
masyarakat, dengan hasil yang secara teoritis dapat diduga bahwa masyarakat lainnya juga
mungkin memiliki beberapa hukum, kode dan norma yang sepenuhnya bertentangan dengan
kehendak setiap mayoritas. Dibandingkan dengan ini, masyarakat teisme umumnya percaya
bahwa tatanan universal pada umumnya, dan ras manusia pada khususnya, telah diciptakan oleh
Tuhan dengan tujuan tertentu yang hanya diketahui oleh-Nya saja, Dia sendiri bertanggungjawab
untuk mengarahkan segala sesuatu di alam semesta menurut cara yang ditetapkan sesuai dengan
takdir masing-masing hanya melalui tatanan hukum dan kekuatan alam-Nya sendiri. Dalam
keseluruhan rencana yang sama datanglah petunjuk ilahi yang dikirim oleh Allah kepada umat
manusia dari waktu ke waktu melalui model pemimpin yang terpilih dengan norma-norma
standar ketuhanan, kode-kode dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada mereka untuk
membimbing umat manusia di sepanjang perjalanan yang adil dan bahkan, sesuai dengan tingkat
pertumbuhan mental manusia di berbagai zaman keberadaannya di dunia.
Masyarakat teistik saat ini terdiri dari penganut dan pengikut dari sejumlah agama
bersejarah atau cara hidup yang, dalam urutan abjad, adalah sebagai berikut: Agama Buddha,
Hindu, Islam, Jainisme, Kristen, Komunisme, Konfusianisme, Shintoisme, Sikhisme, Taoisme,
Yudaisme, dan Zoroastrianisme.
Terlepas dari konsep kesatuan dasar dari Tuhan yang mahakuasa, ada dimana-mana dan
maha mengetahui serta kekuasaannya yang hebar, absolut, dan tanpa kompromi, dalam filsafat
semua agama (tanpa alasan apapun selain mungkin karena telah tercampur aduk selama
bertahun-tahun karena hubungan dengan lingkungan orang-orang kafir atau animisme dan
konsep atau penyembahan berhala, serta permintaan bantuan spiritual dari makhluk ghaib dan
kepada kekuatan alam), tidak hanya penganut beberapa agama tetapi juga kitab suci mereka
tampaknya telah termasuk dalam keyakinan dasar dan tema ritual mereka tentang penyembahan
dan pengabdian kepada beberapa gambar dan berhala para dewa dan setengah dewa, dengan
beberapa atribut spesifik dari Satu Tuhan yang melekat pada mereka. Sepertinya memang
demikian, karena perpecahan yang mengerikan inilah beberapa agama seperti agama Buddha dan
Jainisme dimulai tanpa konsep Tuhan yang spesifik sama sekali, tetapi dengan penekanan pada
melakukan kebaikan, menjauhkan diri dari dosa dan menjalani meditasi yang mendalam ketika
menuntut ilmu pengetahuan, mencari pencerahan dan penebusan jiwa demi kebaikan dari
keberadaan duniawi yang aktif. Konsep Trinitas Kekristenan, yang mengaitkan beberapa
kekuatan Allah yang Satu kepada Yesus Kristus, yang dianggap sebagai putra Allah, juga
tampak seperti pecahan dari konsep Satu Tuhan yang Mutlak. Namun demikian, beberapa agama
seperti Islam dan Yahudi tidak berdamai dengan konsep apa pun yang meruntuhkan, sedikit
Islamic Online University Aqidah 301
5
apapun, aspek "di atas manusia" dari Satu Tuhan. Di bawah pengaruh keyakinan dan
kepercayaan yang bertentangan itu, maka tidak jarang bahwa ras manusia berada dalam dan
sedang mengalami tekanan dan ketegangan dari penindasan yang sering terjadi, ketidakadilan
dan bahkan permusuhan serta perang yang menghancurkan di tangan para penganut dari agama
yang berbeda dalam nama berbagai jenis iman kepada Tuhan Yang Mutlak. Latar belakang
seperti itu mungkin telah mendorong munculnya Marxisme, yang sama sekali melarang
pengelompokan apapun dengan nama.
Melawan kekuatan lama yang dahsyat dari masyarakat teistik sebagai keseluruhan yang
terdiri dari penganut dan pengikut berbagai agama yang dijelaskan di atas, seorang tokoh muncul
di awal abad kedua puluh untuk memperkuat jajaran masyarakat ateistik. Marxisme, yang arsitek
utamanya adalah Karl Marx, diberikan bentuk praktis sebagai cara hidup yang berbeda di Uni
Soviet oleh Lenin dan rekan-rekannya di tahun-tahun setelah Perang Dunia Pertama. Teori
Marxisme, yang disorot sebagai metode Bolshevik-Komunis untuk mencapai negara dan
masyarakat sejahtera tanpa kelas demi evolusi tatanan dunia sosialistik, pertama kali diterapkan
di Uni Soviet atas dasar kediktatoran partai yang ketat, sejak itu telah meliput hampir semua
kawasan di Eropa Timur, Cina, Burma, Korea Utara, Vietnam, serta beberapa negara lain di Asia
dan Afrika. Para penganut Sosialis dan ideologi sayap kiri Komunis merupakan kelompok-
kelompok minoritas yang sangat kuat mempengaruhi perilaku ekonomi, sosial dan politik dari
banyak negara lain di Eropa, Asia, Afrika dan Amerika Latin. Pemerintah Perancis yang
berkuasa saat ini adalah sosialis dengan dukungan komunis dan begitu pula Pemerintah Italia
yang pada ambang permulaan mulai terserap ke dalam kelompok yang sama. Ideologi sosialis
diselingi oleh prinsip-prinsip komunis dan Marxis telah mulai mendapatkan momentum di
negara-negara seperti Inggris, Jerman Barat dan sebagian besar negara-negara berkembang di
Asia, Afrika dan Amerika Latin, dan bahkan AS. Cara hidup Marxis yang diidentifikasi sebagai
Komunisme adalah materialistis, sesuatu yang tanpa "Tempat untuk agama, nilai-nilai spiritual
dan Tuhan.” Seperti ateis lainnya, masyarakat Komunis juga percaya bahwa alam semesta
diciptakan melalui proses evolusi selama berabad-abad sesuai dengan hukum dan kekuatan alam
tanpa sebab, alasan, tujuan atau maksud dan bahwa, dengan demikian, itu juga dapat berjalan
tanpa ada kebutuhan akan Tuhan. Oleh karena itu, cara hidup ini tidak memiliki keyakinan dalam
penyebab, atau tujuan penciptaan, hidup atau mati dan, dengan demikian, tidak juga percaya
bahwa ada kehidupan setelah kematian.
Namun demikian, pikiran manusia yang selalu ingin tahu tampaknya tidak akan puas
bahkan setelah menjinakkan atom jin untuk melakukan pekerjaan perintah setelah membelahnya;
sering melakukan kunjungan-kunjungan tak diundang ke berbagai planet dan luar angkasa
sendirian dan melalui berbagai penyelidikan dan satelit buatan; menyelidik dan mengganggu
teritori yang jauhnya beberapa juta tahun cahaya dari galaksi, quasar dan lubang hitam melalui
teleskop radio; melihat struktur atom menit melalui mikroskop elektron; menciptakan klorofil
dan banyak bioproses alami lainnya, dan bahkan mengembangkan uji bayi tabung; penetrasi ke
dalam berbagai rahasia kehidupan itu sendiri yang belum diketahui seperti DNA dan aktivitas
Islamic Online University Aqidah 301
6
kromosom dan seterusnya; hingga dan—kecuali jika—dia mampu memahami rahasia
penciptaan, jika dia bisa! Bagaimana bisa, oleh karena itu, pikiran manusia yang cerdas dan
bertanya-tanya milik para ilmuwan dan filsuf menemui jalan buntu ketika dihadapkan pada
penalaran bahwa semua komplikasi rumit ini yang ia temukan di sekitar dan bahkan dalam
dirinya sendiri, semua diatur secara sistematis dan komplementer dengan tugas-tugas khusus
yang dialokasikan untuk setiap keseluruhan dan bahkan untuk setiap komponen yang semuanya
muncul tanpa perencanaan, perancangan dan tujuan sama sekali? Ketika manusia yang
tercerahkan, setelah mengetahui semua itu; menjadi bagian integral dari alam semesta, ia tidak
dapat dipaksa bertindak tanpa tujuan dan bahwa setiap tindakan membutuhkan subjek dan juga
tujuan, bagaimana seseorang dapat berpikir bahwa alam semesta yang begitu harmonis dengan
jutaan makhuk bernyawa dan tak bernyawa yang berbeda, yang satu melengkapi yang lain, harus
terwujud dan ada tanpa alasan atau tujuan dan tanpa perencana, perancang dan penopang?
Karena kehidupan itu sendiri adalah tindakan dan tidak ada tindakan yang dapat terjadi tanpa
sebab, alasan atau motif, konsekuensi wajar alami dari pikiran matang dan cerdas, tidaklah
manusia bisa kecuali mencapai pada kesimpulan logis dan keyakinan bahwa, bagaimanapun,
harus ada seorang pencipta, penguasa dan juga penopang untuk seluruh tatanan alam semesta
serta harus ada tujuan khusus di balik setiap ciptaan. Hanya untuk menyangkal fakta mencolok
ini dengan didukung oleh penalaran logis dan ilmiah sama artinya dengan melarikan diri, seperti
seorang pengecut, dari realitas kehidupan itu sendiri. Bahkan penerimaan ateis terhadap
keberadaan hukum dan kekuatan alam yang bertanggungjawab atas penciptaan, hidup dan mati
itu sendiri merupakan pengakuan tidak langsung akan keberadaan Tuhan Yang Maha Perkasa,
yang Mahaagung!
Maka sungguh, Allah yang Perkasa ini harus menjadi entitas agung yang luar biasa yang
memerintah secara kekal atas berjalannya alam semesta dari awal sampai akhir, Diri-Nya berada
jauh di atas waktu, materi, energi, ruang dan aspek-aspek terbatas lainnya yang dibangun ke
dalam komponen atau konstituen apa pun, yang merupakan alam semesta itu sendiri dalam ruang
terbatas, waktu, materi dan segmen energi dari ruang dan waktu yang tak terbatas. Oleh karena
itu, tidak mengherankan bahwa terlepas dari pengingkaran dangkal yang tegas akan adanya
Tuhan oleh masyarakat ateis, itu juga secara tidak langsung sama artinya dengan mengakui
keberadaan Kekuatan Tertinggi, Tuhan, dengan mengakui fakta bahwa penciptaan, keberadaan
dan kehancuran segalanya di alam semesta terjadi sesuai dengan "hukum alam," meskipun
mereka tidak mampu mendefinisikan "alam" tidak pula menjelaskan kepada kepuasan hati nurani
dan sains siapa penulis dari karya "alam" ini, bagaimana ia terbentuk dan untuk tujuan apa!
Namun demikian, disepakati oleh semua orang bahwa tujuan materialistik agama dan
bahkan cara hidup Marxis, Komunis, dan Sosialistik, adalah untuk mengembangkan masyarakat
dunia multirasial yang damai, sarat isi dan progresif di mana setiap individu mampu memenuhi
kebutuhannya sendiri selama kehidupan yang singkat di bumi tanpa menghalangi kehidupan
yang sama yang beragam tetapi teratur dari sesama makhluk dan, sebagai makhluk sosial, untuk
saling melengkapi satu sama lain. Secara alami, hukum-hukum yang penting tentang tingkah
Islamic Online University Aqidah 301
7
laku seperti itu harus berlaku secara internasional untuk semua masyarakat di dunia di kapan
saja, jika persaudaraan internasional adalah tujuannya. Oleh karena itu, jika kita dapat
menemukan agama dengan cara yang memungkinkan umat manusia yang sepenuhnya
berkembang saat ini, besok dan masa depan untuk membentuk tatanan dunia dimana
permusuhan, keserakahan, kemiskinan, kelaparan, kebencian, kecemburuan, persaingan,
penindasan, eksploitasi dan seterusnya dihapuskan dan, sebaliknya, kesetaraan dan keadilan
manusia terlepas dari pertimbangan ras, prasangka atau warna kulitnya, kemakmuran dan
kepuasan untuk setiap individu, perasaan persaudaraan di antara satu sama lain dan seterusnya
adalah tatanan yang mapan hari ini berdasarkan cita-cita mulia "satu untuk semua dan semua
untuk satu," maka cara hidup seperti itu tidak bisa diadopsi pada basis dunia untuk
bertanggungjawab membawa umat manusia kepada peradaban milenium yang masyhur yang
memungkinkan tidak hanya Dunia Timur bisa bertemu dengan Dunia Barat tetapi juga untuk
membuat setiap orang dari umat manusia saling bertatap muka untuk memimpin di depan
sebagai satu bangsa demi melestarikan peradaban manusia saat ini dan untuk maju ke masa
depan yang lebih progresif?
Tentu saja demikian, jika memang ada, tetapi siapa yang tahu betul? Pencarian ini
bermanfaat karena, kecuali kita segera dapat mengidentifikasinya, tidak ada yang yakin bahkan
pelestarian peradaban besar manusia saat ini dari sains dan teknologi, dimana untuk mencapai
seni yang ditemukan saat ini, seberapa keras dan berdedikasi kerja dari berapa ribu orang yang
telah bertanggung jawab untuk berapa ribu tahun, tidak ada yang benar-benar tahu! Tapi satu hal
yang cukup jelas: satu-satunya cara hidup yang memuaskan kebutuhan hari ini, esok dan masa
depan harus dimotivasi oleh insentif dan penghargaan secara material, moral dan spiritual karena
motivasi untuk bekerja dihasilkan oleh insentif dan penghargaan saja, sebuah aspek yang
dibangun ke dalam spesifikasi mendasar dari sifat manusia itu sendiri. Setiap rekomendasi yang
tidak mengakui aspek penting dari kehidupan ini pasti akan gagal dalam gaya hidup manusia.
Inilah yang sesungguhnya terjadi pada cara hidup mutakhir, Komunisme, dalam rentang
kehidupan enam setengah dasawarsa di Uni Soviet. Di bawah kendali partai politik yang kaku
dan totaliter dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Kesetaraan penuh dalam segala hal
adalah sesuatu yang bertentangan dengan sifat itu sendiri. Pegunungan, lembah, sungai, laut,
lautan, hutan, dataran, gurun, yang semuanya berbeda tetapi saling melengkapi satu sama lain
untuk membentuk keseluruhan yang seimbang, kontras, harmonis. Sebagaimana makanan tidak
akan dapat dinikmati tanpa adanya rasa lapar, maka bukanlah suatu hal yang alami untuk sengaja
menciptakan penderitaan kelaparan demi menghasilkan rasa lapar untuk mereka yang tidak
merasa lapar. Tanpa adanya panas, nikmatnya angin sepoi-sepoi tidak akan dapat dirasakan.
Sehingga, dalam keberanekaragaman hal, terdapat kenikmatan di dalamnya. Nilai-nilai rohani,
akhlak, serta nilai-nilai materialistis, semuanya terhubung dengan aspek penting kehidupan dan
alam semesta. Oleh karenanya, konsep kesetaraan yang terlalu utuh dalam segala aspek hidup
manusia terasa tidak nyata. Kaya dan miskin harus ada bersama-sama dan saling melengkapi satu
sama lain. Meskipun orang miskin mengharapkan adanya rasa simpati dari orang kaya sebagai
bentuk persaudaraan, mereka yang miskin juga harus tetap berterima kasih kepada mereka yang
Islamic Online University Aqidah 301
8
kaya. Paham yang realistis dan efisien seperti ini, bersama dengan keharmonisan alam yang luar
biasa, tidak akan lekang oleh waktu. Di dalamnya ada semangat dan harapan materialistis, akhlak
dan rohani. Segala sesuatu yang bertentangan akan gagal dalam kenyataannya.
Selanjutnya, filsafat dan cara hidup yang kita cari ini harus memperhitungkan salah satu
sifat penting yang dimiliki manusia, yaitu sifat umat manusia yang rentan terjerumus dalam
melakukan kesalahan dan melalaikan hidupnya baik dilakukan dengan sadar atau tidak. Oleh
karena itu, cara hidup ini harus mampu untuk memberikan harapan pada manusia akan adanya
masa depan yang cerah bagi mereka meski telah melakukan kesalahan baik secara sadar atau
tidak. Manusia bersifat khilaf, Tuhan bersifat pemaaf. Meskipun begitu, manusia-lah yang
bertanggungjawab atas segala tindakannya karena kapabilitas yang telah diberikan pada mereka.
Tetapi, segala kesempatan diulurkan pada manusia untuk bertaubat dari kesalahan-kesalahan
yang ia perbuat pada orang lain. Dalam ilmu sains pun, kualitas dan tingkat kemurnian hal-hal
abstrak seperti mineral, emas dan air bersifat relatif, tergantung pada lingkungan dimana ia
berada dan seberapa mudahnya untuk dijangkau. Maka, manusia tidak dituntut untuk harus
seratus persen murni kembali agar ia baru dapat termaafkan, dan manusia juga tidak difatwakan
bahwa untuk dapat termaafkan, ia harus menderita dan merasakan ganjaran semua dosa-dosa dan
kesalahannya seumur hidupnya di bumi tanpa ada harapan untuk diampuni. Demikian pula,
harapan manusia bahwa segala dosa dan kesalahan yang diperbuat akan langsung termaafkan
hanya dengan sekedar meyakini suatu paham filsafat tertentu, juga bukan merupakan suatu cara
berpikir yang benar karena dapat menciptakan kelalaian yang menyebabkan kebingungan dalam
masyarakat yang terorganisasi. Sehingga, paham filsafat yang dapat memuaskan manusia intelek
ialah paham dan cara hidup yang mana hubungan rohaniah antara manusa dan Tuhan seperti
hubungan antara anak kepada orangtuanya, dimana Tuhan yang Maha Mengetahui dan Maha
Kuasa tidak hanya penuh kasih sayang, memahami dan mencintai, tetapi juga sedia untuk
memaafkan serta menghukum dengan pantas. Dengan demikian, tergambarlah ciri-ciri Tuhan
yang ideal, yang siap tiap saat untuk menghargai perbuatan baik dan selalu memberikan maaf
kapanpun seseorang memohon ampun dan bertaubat dengan tulus dan benar, sehingga tiap
manusia dinilai sesuai dengan total timbangan kebaikan dan keburukannya. Paham filsafat dan
cara hidup ini kemudian terbentuk menjadi semacam standar, pahamnya pun diterapkan oleh
orang-orang di seluruh dunia sepanjang masa, dan tiap manusia dapat memenuhi tanggung jawab
pada dirinya sendiri, pada sesama makhluk, pada masyarakat, dan pada Tuhan tanpa saling
mengganggu antara satu dengan yang lain.
Tetapi sayangnya, sejauh ini, tiap agama, ideologi, dan cara hidup disebarluaskan oleh
pengikut dan penganut-penganutnya sebagai paham yang terbaik untuk mencapai zaman
keemasan kesejahteraan dan kedamaian universal di dunia ini dan juga untuk mencapai
kehidupan abadi setelah perjumpaan dengan alam akhirat. Ini dilakukan tanpa adanya analisis
mendalam perihal paham-paham filsafat dan cara hidup seluruh agama yang ada, termasuk
agama mereka sendiri, untuk yakin bahwa agama mereka-lah yang terbaik dari semuanya untuk
kemajuan masyarakat yang seimbang secara materi, akhlak, dan rohani yang dapat membertikan
Islamic Online University Aqidah 301
9
kesempatan untuk mencapai dua pencapaian tersebut. Pada waktu proses persaingan demi
menjadi pemenang ini berjalan, rasa cemburu, benci, dengki, dan rasa ingin bersaing, semuanya
ada dimana-mana. Akhirnya, demi menenangkan ego manusia, sejarah mencatat, pengerahan
pasukan dan bahkan perang total berkali-kali dilakukan dengan pengorbanan dan kehancuran
besar. Bahkan di masa ini pun, masa dimana umat manusia telah mencapai kemajuan ilmu dan
teknologi lebih maju daripada masa-masa sebelumnya, dua ideologi dunia, bangsa-bangsa
kapitalis di satu sisi dan bangsa-bangsa komunis totalitarian di sisi lain, keduanya saling
bertanding untuk membuktikan kepada satu sama lain dan kepada seluruh dunia, melalui unjuk
keperkasaan dan kehancuran, bahwa sistem politik, sosial, dan ekonomi mereka lah yang lebih
baik untuk terciptanya tatanan dunia yang adil. Dalam prosesnya, demi menyaingi satu sama
lain, mereka sibuk menimbun stok persenjataan mereka, termasuk senjata seperti nuklir dan
lainnya, dengan tujuan untuk konfrontasi yang berujung hanya pada kehancuran umat manusia
itu sendiri. Di tempat lain, kita akan menemukan kelompok-kelompok yang saling terpisah satu
sama lain, kelompok-kelompok bernama negara kaya, negara miskin, negara maju, negara
berkembang dan bahkan negara di bawah garis kemiskinan, yang semuanya berisi orang-orang
dari ras umat manusia yang sama, yang hidup di dunia dan di masa yang sangat maju ini.
Merupakan harapan negara-negara kaya dan miskin serta badan-badan khusus Perserikatan
Bangsa-Bangsa bahwa tidak hanya kelaparan dan kemiskinan orang-orang saja yang harus
dihapus, tetapi kesenjangan ekonomi yang besar antara negara kaya dan negara miskin juga
wajib dihilangkan dengan cara menyediakan bantuan dan pengawalan ekonomi, pembagian
kekayaan dan teknologi yang lebih baik. Tidak sedikit kejadian dimana berjuta-juta orang
meninggal dalam kemiskinan karena kurangnya persediaan makanan dan air minum serta
banyaknya penyakit tersebar di berbagai penjuru dunia. Di bagian lain dunia ini, kita
menemukan bahwa kemiskinan tetap ada bahkan di antara negara-negara kaya, kita juga
menemukan bahwa kurangnya persediaan bahan makanan dan barang-barang konsumsi lainnya
merupakan hal yang umum di tanah yang dijanjikan oleh reformis dengan cara hidup baru,
Komunisme, yang menjanjikan pencapaian milenium lebih dari enam dasawarsa yang lalu
melalui cara-cara fasisnya. Pada saat yang sama, hal yang mengejutkan ialah kedua blok yang
saling adu senjata menggunakan ekonomi rakyat-rakyat miskin mereka sebagai biaya adu
persenjataan mereka. Bukanlah suatu hal yang langka bahwa bahkan negara-negara miskin yang
mendekati atau bahkan di bawah garis kemiskinan juga ikut dalam berpartisipasi dalam
mengumpulkan senjata dan pasukan demi alasan keamanan dan pertahanan, sementara rakyat
mereka sendiri kelaparan dan pemerintah-pemerintah dari negara-negara yang bersangkutan
terlibat dalam kegiatan meneruskan topi penderitaan ini, melakukan penggalangan dana,
sumbangan dan pinjaman tiap tahunnya untuk pengembangan nasional, dan bahkan untuk
membayar bunga dan utang besar. Bukankah merupakan suatu hal yang mengerikan bahwa kita
hidup di dalam dunia dimana kemelaratan dianjurkan atau bahkan dibenarkan demi hidup dalam
kemewahan dan untuk menyebabkan kehancuran? Sebuah bentuk penghinaan harga diri
manusia! Di tempat lain, kita juga menemukan bahwa negara yang kaya dan berkembang
seringkali ikut menjual persenjataan pada negara-negara miskin ini, negara-negara kaya ini lebih
Islamic Online University Aqidah 301
10
memilih untuk mengulurkan pinjaman dan bantuan finansial daripada membantu dengan proyek-
proyek pembangunan bangsa untuk meningkatkan ekonomi negara-negara miskin. Jika saja
sebagian dari total pengeluaran tahunan untuk pembelian dan penjualan senjata dimanfaatkan
untuk pengembangan ekonomi orang-orang miskin di dunia, maka dapat dikatakan bahwa
tingkat ekonomi tiap manusia dapat meningkat sekian ribu dollar, dimana jumlah tersebut berada
jauh diatas garis kemiskinan seluruh negara. Selain itu, umat manusia telah menjadi sangat
kejam saat ini dimana jutaan orang meninggal karena kelaparan dan malnutrisi di berbagai
penjuru dunia, benih-benih makanan yang berharga dibuang-buang ke laut begitu saja dengan
alasan stabilisasi pasar. Semua ini terjadi pada masa dimana seluruh orang mengaku bahwa
dirinya penganut agama dan cara hidup yang katanya bertujuan untuk mendirikan kesejahteraan
bangsa yang sebenarnya! Apakah kebohongan ini tidak akan ada akhirnya?
Ada apa dengan semua kebingungan ini? Apakah belum ada satu agama atau cara hidup
yang dapat mengubah perilaku individu, masyarakat, negara dan seluruh dunia? Mungkin ada,
namun belum disadari oleh manusia masa kini. Mungkin itulah mengapa Karl Marx dan Lenin
didesak untuk membuat Marxisme baru sendiri. Tetapi apa yang jelas berdasarkan catatan
sejarah ialah sudah ada banyak reformis muncul sepanjang sejarah dan sudah banyak daerah di
dunia saat ini berada dalam pengaruh banyak agama, apakah mungkin setidaknya satu dari
banyak agama itu memiliki kapabilitas untuk menuntun kita menuju masa kedamaian dan
kesejahteraan? Tetapi kemudian, di masa yang bersifat sangat materialistis ini, meskipun sudah
banyak penganut agama tidak mempertanyakan pada diri mereka mengapa mereka juga tetap
menganut agama yang sama dengan nenek moyang mereka, masih banyak juga penganut agama
yang menganut ajaran nenek moyang mereka dengan buta, tanpa mengetahui falsafah dasar
agama mereka sendiri. Di masa sekarang ini, bagi kebanyakan orang, taat pada agama menjadi
sebuah gaya hidup ritual dan kepercayaan yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Beberapa dari
kebiasaan ritual agama ini terlihat sangat tidak masuk akal, sehingga akan sulit bagi orang-orang
tercerahkan abad ini untuk mempercayainya. Hanya faktor kebiasaan, ego pribadi, dan rasa takut
diasingkan dari masyarakat saja-lah yang mendorong orang-orang seperti ini untuk tetap
menganut agama orangtuanya. Sangat disayangkan juga bahwa kebanyakan misionaris beberapa
agama saat ini tidak memiliki pengetahuan mendalam perihal agama-agama lain yang dianut
oleh ratusan jutaan manusia. Dan agama-agama ini masing-masing mengaku bahwa itulah agama
yang terbaik, padahal menurut akal dan nalar, agama terbaik belum dapat terbukti sebelum ada
hasil dari pembandingan semua agama. Banyak orang yang mengambil jalan pintas dan setuju-
setuju saja mengatakan bahwa semua agama pada akhirnya menuju akhir yang sama, mereka
tidak peduli untuk mempelajari agama-agama ini secara mendalam karena mereka tidak ingin
merasakan adanya pertentangan baik dari agama mereka sendiri atau dari agama lain. Mereka
juga tidak ingin mengkritsi ataupun memuji agama-agama lain. Terdapat juga kelompok kategori
lain yang merasa bahwa tidak hanya agama menentang konsep berpikir bebas tetapi juga bahwa
beberapa falsafah dari agama itu sendiri menentang konsep-konsep dasar sains, sosial, dan
ekonomi yang diperlukan oleh masyarakat maju. Sehinggga, orang-orang pada kelompok ini
mengambil kesimpulan yang salah bahwa agama tidak diperlukan untuk memajukan masyarakat.
Islamic Online University Aqidah 301
11
Orang-orang seperti ini mudah untuk terpengaruh oleh materialisme dan menolak semua agama
tanpa memiliki pengetahuan yang jelas perihal agama tersebut. Dengan tidak memiliki nilai-
nilai agama, mereka pun ikut jatuh kedalam euforia memandang rendah masyarakat apapun yang
menggunakan agama sebagai fondasinya. Karena Marxisme satu-satunya jalan yang
mencerahkan bagi mereka, mereka pun memperlakukan prinsip-prinsip Marxis sebagai agama
untuk mencapai milenium. Pada saat yang sama, persaingan di antara masing-masing cara hidup
tetap berlangsung tanpa mereka saling mengerti prinsip-prinsip dan falsafah dasar dari masing-
masing cara hidup tersebut. Sehingga, dapat dikatakan bahwa, bukanlah agama yang menjadi
sebab permusuhan dalam masyarakat, tetapi kurangnya pengetahuan mendalam perihal agama
mereka dan agama lain lah yang menjadi penyebab utama. Kebanyakan konflik antar agama
disebabkan karena adanya desas-desus, ketidaktahuan atau ketidakpedulian.
Kalau begitu, apa solusinya? Satu-satunya solusi ialah dengan mempelajari secara kritis
agama sendiri dan agama-agama penting lainnya untuk membuat manusia memahami apakah
ada di antara agama-agama itu, agama yang memenuhi persyaratan dan harapan masyarakat di
masa dan tempat manapun serta harapan individu itu sendiri. Tetapi, untuk mempelajari berbagai
agama, seseorang juga perlu untuk memiliki berbagai kitab suci, perjanjian dan literatur agama-
agama tersebut. Jumlahnya terlalu banyak, sehingga seumur hidup pun tidak akan cukup untuk
mempelajarinya semua. Selain itu, terdapat banyak sekali buku ditulis oleh berbagai macam
penulis dari berbagai macam agama di dunia, dengan penjelasan dan interpretasinya masing-
masing. Sehingga, tidak ada cara bagi seseorang untuk mengetahui falsafah dasar dan cara hidup
yang ditawarkan tiap agama, kecuali orang itu rela meninggalkan pekerjaannya dan keluarganya
demi memiliki waktu luang untuk mempelajari tiap agama secara mendalam. Sayangnya, sejauh
ini, belum ada seorang pun berusaha untuk membuat satu risalah studi komparatif agama-agama
yang ada, dimana risalah ini akan berguna dan bertujuan untuk membuat orang awam memiliki
panduan untuk mengetahui lebih dalam tentang kitab agama yang ingin dipelajari. Karena saya
pernah mendapatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai macam agama yang ada secara
mendalam serta memiliki kenalan penganut berbagai macam agama di dunia, dan saya juga telah
mengerti falsafah, kitab-kitab, cara hidup, dan ritual agama-agama ini. Maka, saya pun
memutuskan untuk mengisi kesenjangan penting pada evolusi kultural umat manusia ini, yang
sayangnya di abad kemajuan sains dan teknologi ini telah menuju kebobrokan akhlak dan rohani
yang disebabkan oleh materialisme berlebihan dan penolakan total seluruh nilai-nilai rohaniah.
Dunia saat ini berada dalam jurang kehancuran. Berbagai bangsa, negara, dan bahkan
individu mulai meragukan kejujuran satu sama lain agar mampu menguasai secara absolut hal-
hal yang sekedar bernilai materialistis saja; nilai-nilai akhlak dasar berbasis aspek rohaniah
ditinggalkan begitu saja. Holocaust total yang ditakuti bisa menjadi kenyataan kapan saja,
sayangnya, jika jari salah satu manusia yang mengendalikannya menekan ke tombol merah yang
dapat memerintahkan perang dunia ketiga dengan melepaskan hulu ledak konvensional dan
nuklir yang kuat, terus siap di mana-mana dan di seluruh dunia. Pada hari-hari keraguan dan
kebingungan ini, hanya satu tatanan dunia, berdasarkan cara hidup yang berlaku secara
Islamic Online University Aqidah 301
12
internasional yang berasal dari nilai-nilai moral yang dibangun di atas landasan spiritual, yang
dapat memberi manusia dan seluruh alam semesta posisinya masing-masing, serta maknanya,
dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Maha Kuasa yang Maha Tunggal dari alam
semesta, yang dapat memberikan bantuan bagi umat manusia yang mengembara dan hanyut
mencari nilai spiritual yang tepat. Kehidupan seperti itu tentu saja akan dapat bertahan hanya jika
ia diatur oleh kode kehidupan yang lengkap yang berlaku untuk semua masa dan generasi
sehingga memungkinkan manusia untuk hidup di rumah materialistis sementara di bumi sebagai
makhluk yang cocok di setiap era sambil mencoba untuk mengkonsolidasikan posisi akhirnya
dalam kehidupan setelah kematian di suatu tempat di alam semesta dalam beberapa bentuk yang
tidak diketahui lainnya setelah mencapai keabadian dan persatuan dengan lingkungan orang-
orang shalih untuk hidup selamanya. Tanpa harapan dari tujuan akhir seperti itu, manusia tidak
bisa tetap tenang secara mental. Kehidupan duniawi yang ideal seperti itu pasti dapat dinikmati
hanya jika diri beserta lingkungan yang dekat dan jauh di penjuru bumi, semuanya menikmati
karunia Tuhan dalam ukuran yang wajar dan memuji Tuhan sebagai ucapan syukur atas
petunjuk-Nya, setiap individu telah menyesuaikan diri di tempat terhormat dalam tugas di
komunitas masyarakat manusia kontemporer, melengkapi upaya masing-masing. Bukankah kita
masing-masing amat merindukan kedatangan hari itu? Karena itu, perkenankan saya mencoba
untuk membantu orang-orang yang berada di zaman saya ini untuk mengetahui apakah ada
filosofi dan cara hidup seperti itu yang ada saat ini untuk menyelamatkan umat manusia. Inilah
motif yang mendorong saya menulis risalah unik ini.
Dalam keadaan seperti itu, saya meminta pembaca untuk membuang egonya yang dulu;
Yang sejauh ini telah memaksanya untuk percaya bahwa jalan hidupnya sendiri, meskipun penuh
dengan kekurangan dan ketidakcukupan, adalah yang terbaik kecuali jika dia terlalu yakin akan
hal itu sebagai hasil belajar tentang filosofi dan cara hidup yang didukung oleh agama-agama
lain. Saya yakin tidak ada orang yang mampu mencapai pada kesimpulan itu sampai dia
memahami sepenuhnya filosofi dari semua agama lain yang ada. Oleh karena itu, yang saya coba
lakukan adalah membantu pembaca untuk memahami dan membandingkan masing-masing
agama-agama berikut yang ada saat ini dari garis besar filosofi, keyakinan, kode, ritual, dan
aspek lain masing-masing, dengan mengalokasikan satu bab untuk masing-masing: Agama
Buddha, Kristen, Konfusianisme, Hindu, Islam, Jainisme, Yahudi, Shintoisme, Sikhisme,
Taoisme, dan Zoroastrianisme.
Karena alasan kediktatoran Partai Komunis berdasarkan ideologi Marxis telah mengakar
di banyak wilayah dunia dengan kontrol sosial, ekonomi dan politik yang lebih kaku terhadap
massa daripada agama apa pun, dan sebagai cara hidup dan kekuatan pendorong untuk lebih dari
sepertiga penduduk dunia saat ini dengan kemungkinan mengambil alih lebih banyak lagi
wilayah lainnya, terutama di bagian Negara miskin dan berkembang di dunia, sebuah bab
terpisah telah dialokasikan untuk membahas ideologi baru dan cara hidup yang telah menjadi
sebuah gerakan dunia. Karena sebagian besar masyarakat luas yang kini berada di bawah
pengaruh aktif Komunisme sebelumnya adalah penganut dan pengikut salah satu agama utama
Islamic Online University Aqidah 301
13
yang ada, yang semuanya berjanji untuk menawarkan hampir semua hal di dunia ini dan di
akhirat kepada para pengikut mereka masing-masing, kita harus mengakui kenyataan bahwa cara
hidup baru ini mungkin memiliki beberapa poin kuat di dalamnya yang pasti telah menarik
orang-orang dengan jumlah yang cukup besar ke dalam jemaahnya, terutama ketika cara hidup
baru ini mengabaikan keberadaan Allah sama sekali. Alasan perubahan penting generasi
sekarang ini terhadap Komunisme adalah fenomena yang sangat penting pada abad ke-20,
dimana, setelah menimbulkan masalah yang begitu luas sehingga keberhasilan dan kegagalannya
tergantung dari keberlangsungan atau kehancuran umat manusia itu sendiri, perlu penyelidikan
yang baik. Apakah itu karena daya tarik dan lingkaran cahaya sementara yang ditawarkan oleh
ideologi Komunis yang diproyeksikan melalui kampanye publisitas yang luas, atau apakah
kegagalan agama-agama yang ada untuk sama-sama memenuhi aspirasi manusia yang
dikembangkan? Ataukah kegagalan untuk memproyeksikan informasi yang cukup tentang
ideologi agama-agama yang ada kepada generasi baru yang progresif yang bertanggungjawab
telah menarik sedemikian banyak orang untuk mendukung Komunisme? Ini dapat ditemukan
hanya dengan membandingkan ideologi gerakan baru ini dengan gerakan berbagai agama yang
ada.
Untuk tujuan risalah ini saya hanya menggunakan materi seperti yang dinyatakan dalam
kitab suci dasar dari masing-masing agama yang dianggap pengikut mereka sebagai wahyu dari
tuhan yang mereka yakini. Namun, meskipun saya telah membuat beberapa catatan dan
penjelasan atau pandangan tentang agama seperti yang terlihat dari sudut pandang setiap gerakan
reformis atau politik di dalamnya, memperkenalkan perubahan dalam filosofi, ritual dan kode
agama yang lama diterima, saya belum mempertimbangkan itu secara resmi. Hal ini karena,
untuk beberapa waktu, upaya telah dilakukan oleh beberapa reformis yang, tanpa otoritas wahyu
ilahi, telah menemukan bahwa konsep-konsep dasar tertentu, praktik dan kode perilaku dari
beberapa agama tidak dapat tegak untuk membuktikan kebenaran ilmiah modern dan akal sehat
atau setara dengan pertimbangan internasional tentang persamaan dan keadilan manusia yang
dapat diterima secara sosial, ekonomi dan politik bagi setiap individu terlepas dari kelahiran, ras,
warna kulit, kekayaan atau profesi, atau bahkan untuk pertimbangan pribadi mereka yang lain
telah mencoba untuk merumuskan pandangan mereka sendiri dengan menafsirkan hukum-hukum
kitab suci suci, kode-kode dan praktik-praktik agama mereka sendiri, di mana perubahan-
perubahan drastis praktik-praktik yang ada sejak dahulu kala dan yang diterima telah
diperkenalkan agar perubahan itu dapat diterima oleh orang-orang yang bertanya dan penasaran
di kemudian hari atau untuk menciptakan kebingungan melalui keraguan dan perpecahan.
Perubahan mendasar semacam itu merupakan perpecahan akut yang tidak memiliki otoritas ilahi
yang memungkinkan mereka untuk mengubah struktur mendasar agama pokok yang
bersangkutan yang kemudian pada gilirannya dalam kelayakan berbagai hal dibuang karena tidak
layak untuk zaman modern daripada tetap ada padanya secara egois dengan membuat perubahan
radikal tetapi tidak sah dengan dalih patriotisme akut dan kecintaan terhadap tradisi.
Islamic Online University Aqidah 301
14
Di sisi lain, sudah saatnya pikiran manusia yang dikembangkan pada abad yang unik ini
harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam kepada dirinya sendiri:
Apakah ada ketidakkonsistenan, kontradiksi, pemikiran yang membingungkan dan
perkataan dalam kitab suci yang merupakan filsafat, hukum, kode dan praktik agama
yang saya ikuti?
Apakah agama yang saya anut hari ini benar-benar kondusif bagi evolusi masyarakat
permodelan oleh orang-orang berbudaya massa abad ke-20 dan di luar masyarakat tanpa
kelas tanpa pandang bulu pada basis nasional maupun internasional yang didamaikan
dengan kebenaran ilmiah dan kemajuan teknologi?
Dapatkah filosofi dan cara hidup agama saya memungkinkan saya untuk memenuhi tugas
saya sehari-hari kepada orang lain yang hidup semasa, tetangga, organisasi, dan negara
saya, serta kepada Tuhan tanpa rintangan?
Apakah filsafat agama saya memberi makna bagi kehidupan saya dan alam semesta serta
harapan bagi jiwa saya selama hidup saya yang singkat di dunia ini dan kehidupan abadi
yang tidak diketahui setelah kematian?
Jika jawaban untuk masing-masing adalah YA yang tulus dan jujur, maka tentu saja tetap
padanya; jika tidak, sudah saatnya seseorang mulai mencari filsafat yang lebih penuh harapan,
bermakna, dan bermanfaat serta cara hidup dengan bantuan risalah ini. Saya yakin bahwa
seseorang harus dapat menemukan model dari berbagai agama yang ada yang penting yang
dibahas di halaman-halaman berikut yang sepenuhnya memuaskan manusia modern saat ini serta
manusia masa depan.
Saya telah mencoba menguraikan setiap agama dengan tanpa perasaan tanpa versi
terdistorsi dan secara ketat sesuai dengan apa yang ditemukan dalam Kitab suci masing-masing.
Namun, untuk membimbing pembaca yang ingin tahu, saya telah memberikan beberapa
komentar yang dibenarkan di sana-sini setiap kali ada kritik konstruktif yang diminta dengan
bijaksana. Tanpa risalah unik seperti ini yang membandingkan berbagai agama utama di bawah
atap satu buku mungkin tidak dapat sepenuhnya melakukan peradilan. Dalam beberapa bab,
saya telah menyimpulkan atau bahkan mengulangi beberapa fakta, kadang-kadang beberapa
kali, karena tanpa mereka tema yang tepat tidak dapat disorot sebaliknya dengan cara
sedemikian rupa sehingga inti argumen dapat dipahami dengan jelas. Sebagian besar kitab suci
juga mengulangi satu dan gagasan atau arahan yang sama berulang kali karena alasan yang
sama ini. Oleh karena itu, menjadi sebuah eksposisi dari apa yang dinyatakan dalam berbagai
kitab suci, keadilan penuh untuk studi komparatif dari subjek tidak mungkin tanpa pengulangan
tema esensial seperti itu di tempat yang tepat. Ini khususnya benar ketika membahas dua agama
kembar Yahudi dan Kristen, terutama karena Perjanjian Lama, yang merupakan bagian
pertama dari Alkitab Kristen kurang lebih adalah Pentateukh dari orang Yahudi. Tentu saja
saya harus meminta maaf atas perbuatan ini. Tidak diragukan bahwa para pembaca cukup
pandai untuk menarik kesimpulan mereka sendiri dan juga untuk memahami ketulusan dari
Islamic Online University Aqidah 301
15
tujuan penulis. Atas dasar kritik semacam itu mungkin lebih mudah bagi pembaca untuk
mempelajari kitab suci yang relevan dalam aslinya untuk menarik kesimpulannya sendiri yang
independen dan bijaksana. Namun, pada akhir risalah, dialokasikan satu bab untuk meringkas
dan membandingkan semua agama dan cara hidup yang dibahas dalam bab-bab sebelumnya
melawan standar universal keyakinan, perilaku dan tindakan seperti yang sesuai dengan
harapan manusia yang dikembangkan pada abad ini dan juga masa depan bagi evolusi
masyarakat tanpa kelas yang didasarkan pada satu tatanan dunia untuk seluruh umat manusia
agar dapat hidup seperti kehidupan yang bermakna di dunia material ini yang
memungkinkannya untuk menikmatinya dan juga untuk mendapatkan pahala yang adil selama
kehidupan abadi setelah kematian seperti yang dijanjikan oleh sebagian besar agama. Meskipun
manusia modern telah menjadi lebih materialistis daripada, mungkin, sebelumnya, dalam
sejarahnya yang panjang, ia juga menjadi lebih sadar akan kebutuhan yang mendesak untuk
memperkuat aspek spiritualnya sedemikian rupa sehingga tidak hanya mungkin selaras dengan
alam serta fakta-fakta ilmiah yang terbukti dari waktu ke waktu, tetapi, mungkin juga
memberikan motivasi yang diperlukan baginya untuk bekerja bergandengan tangan dengan
sesama makhluk dengan membuang prasangka berdasarkan ras, kasta, warna kulit, kelas, profesi
dan kekayaan untuk mencapai kebahagiaan universal melalui cinta dan kepuasan. Ini tentu
menuntut filsafat dan cara hidup universal yang praktis dan dinamis yang mengintegrasikan
materialisme dengan nilai-nilai moral yang berasal dari kesadaran spiritual. Juga tidak boleh
kehilangan pandangan bahwa filsafat dan cara hidup yang dimaksudkan untuk membimbing
umat manusia harus selaras dengan semua aspek perilaku manusia yang timbul dari spesifikasi
penciptaan manusia dan, tentu saja, dalam harmoninya dengan hukum alam yang mengatur alam
semesta pada umumnya dan bumi pada khususnya. Tuhan, Yang Esa, sendirian menjadi satu-
satunya penulis hukum ini, hanya filsafat dan cara hidup yang telah terbukti telah diberikan oleh-
Nya melalui pemimpin yang tercerahkan yang memenuhi persyaratan. Juga tidak sulit untuk
menyadari bahwa pemimpin model ini pada dasarnya tidak lain adalah seorang manusia, karena
alasan sederhana bahwa jika ia, sebaliknya, seorang malaikat, atau inkarnasi atau putra Allah,
jelas tidak mungkin bagi manusia biasa untuk mengikuti makhluk super manusia seperti itu.
Filsafat ilahi semacam itu dan cara hidup yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia pada
saat ketika telah mencapai kedewasaan mental, kemudian, semata-mata itu saja bisa mengklaim
universalisme, yang berlaku untuk kita hari ini maupun untuk manusia masa depan.
Seseorang tidak mungkin gagal untuk memperhatikan bahwa itu adalah kebutuhan
modern yang bahkan standar moral yang harus diterapkan pada setiap masyarakat di mana
pandangan materialistik tentang kehidupan berlaku harus menerima persetujuan dari mayoritas
rakyatnya; bahkan pula di negara-negara yang mengklaim sebagai pembela keyakinan tertentu,
demikian juga. Namun, bahwa kehendak mayoritas tidak harus selalu tepat untuk semua orang
secara moral, sosial dan spiritual, ditunjukkan oleh konsensus nasional tentang, katakanlah,
pornografi, homoseksualitas, seks pranikah antara orang dewasa yang suka sama suka dan
sebagainya yang, sementara dalam beberapa negara cukup legal, adalah ilegal di negara lain
sesuai dengan kehendak mayoritas, meskipun menurut agama dari orang yang sama perbuatan-
Islamic Online University Aqidah 301
16
perbuatan tersebut sangat tidak pantas. Tidak hanya itu: Bagaimana aspek yang sama dalam
kehidupan manusia yang sehat dan berakal adalah legal dan juga ilegal pada saat yang sama di
dua negara yang berbeda? Demikian pula, kehendak mayoritas orang di negara yang sama dapat
menjadikan sesuatu yang legal hari ini menjadi ilegal esok hari, meskipun ini dapat
mempengaruhi struktur sosial dan keseimbangan yang ada. Namun, moralitas universal standar
untuk manusia yang maju, sebagaimana didikte oleh hukum Allah berdasarkan nilai-nilai
spiritual, yang sesuai untuk diterapkan pada masa kini tidak pernah dapat berubah setiap saat
seperti alat pelacak cuaca. Oleh karena itu, hukum ilahi semacam itu saja dapat melayani
kemanusiaan pada hari ini dan masa depan secara internasional. Hal ini terjadi karena hukum
Allah, yang dimaksudkan untuk manusia dalam keadaan matangnya evolusi, pasti telah dibingkai
oleh-Nya dengan mempertimbangkan apa yang pada akhirnya baik atau buruk bagi manusia
setelah memperhitungkan spesifikasi lengkap ciptaan dan kehidupan mereka dalam semua aspek
waktu, materi dan ruang yang hanya diketahui sendiri oleh Tuhan, penciptanya.
Selanjutnya, hari ini ketika manusia telah mencapai kematangan mental, mengapa tidak
seharusnya hukum mengenai nilai-nilai sosial dan moral dasar juga menjadi standar untuk semua
masa bagi seluruh umat manusia, sehingga yang tersisa adalah tidak perlu lagi untuk
mengubahnya agar sesuai dengan persyaratan lokal yang dianggap perlu oleh keinginan
individu? Standar seperti ini hanya dapat dicapai apabila tindakan-tindakan manusia dilakukan
berlandaskan kepada nilai-nilai rohaniah serta aturan-aturan dan hukum yang penerapannya
harus berasal dari kitab suci yang diturunkan pada masa ketika manusia telah matang secara
mental. Hukum dan aturan yang tidak akan lekang oleh waktu seperti ini dapat disebut sebagai
hukum Tuhan yang paling benar.
Akan tetapi, pendapat serta kesimpulan-kesimpulan di bab akhir buku ini merupakan
interpretasi saya sendiri yang berlandaskan pada pemikiran-pemikiran nasional dan internasional
zaman mordern, juga berdasarkan dari apa yang telah saya temukan setelah saya mempelajari isi
kitab berbagai agama. Tentunya, orang-orang dapat memiliki perbedaan dengan pendapat,
pandangan, dan kesimpulan saya sendiri. Tetapi, merupakan suatu hal yang tidak adil untuk
langsung menentangnya begitu saja karena temuan saya berdasar pada logika, sains, dan
kenyataan. Contohnya seperti, tidak ada situasi dimana hanya sebagian kecil aturan-aturan moral
dan sosial dari kitab suci yang diterima sesuai dengan kemauan pribadi dan mengabaikan aturan
lain yang tidak diinginkan dengan alasan aturan-aturan lain ini tidak bersifat logis dan tidak
sesuai dengan nalar zaman sekarang. Jika ada kitab suci yang diperlakukan seperti ini, maka
kitab itu tidak dapat dinyatakan sebagai kitab suci akhir yang paling benar. Hanya ada dua
kemungkinan untuk keseluruhan isi kitab suci: harus ditolak semua atau diterima semua.
Menurut pandangan kaum fundamental, kriteria untuk menentukan bahwa jika memang kitab itu
yang paling suci dan diturunkan sebagai pedoman hidup umat manusia, seluruh isi kitabnya
harus mampu untuk diterapkan dimanapun dan di masa apapun, baik di masa sekarang maupun
di masa depan nanti. Sehingga, jika suatu cara hidup tidak sesuai dengan kerangka internasional,
maka cara hidup itu tidak dapat diterima sebagai suatu standar.
Islamic Online University Aqidah 301
17
Dalam sejarah masa lalu manusia, khususnya setelah abad ke-8 M, banyak kejadian
dimana reformis yang berada di bawah pengaruh agama mereka berkesempaan untuk
membandingkan agama lain yang lebih bersifat dinamis dibanding agama mereka sendiri.
Setelah menemukan bahwa falsafah-falsafah agama mereka sendiri yang selama ini diterima
selama berabad-abad memiliki cacat yang menjadikannya tidak lagi relevan dengan zaman,
mereka kemudian meluncurkan pergerakan reformasi untuk membuat agama mereka menjadi
lebih saintifik, lebih dinamis, dan lebih disukai oleh kaum generasi modern dengan menerapkan
beberapa aspek-aspek yang dinilai bagus dari agama lain kedalam agama mereka sendiri. Di saat
yang sama, dibawah pengaruh ego dan untuk mencegah lenyapnya agama mereka, mereka
kemudian menghabiskan seumur hidup mereka untuk menyuarakan bahwa semua agama
menuntun manusia pada tujuan yang sama. Mereka tidak menyadari kenyataan dasar bahwa
banyaknya cara hidup belum tentu akan berakhir menuju akhir yang sama. Perkembangan
peradaban yang awalnya terdiri hanya dari satu pria dan satu wanita, selama lebih dari ribuan
tahun, berkembang dari peradaban primitif menjadi peradaban masa sekarang dengan populasi
mencapai kurang lebih 5 miliyar. Dengan proses perkembangan peradaban seperti ini, suatu
pedoman yang benar-benar suci seharusnya juga mengikuti perkembangan peradaban intelektual
manusia dengan proses bertahap selangkah demi selangkah. Maka merupakan suatu pendapat
yang logis untuk berpikir bahwa aturan-aturan dan hukum yang telah diterapkan oleh generasi-
generasi terdahulu memang benar membutuhkan modifikasi untuk diterapkan kepada manusia-
manusia peradaban modern. Konsep inkarnasi dalam falsafah Hindu dan konsep penurunan
wahyu yang disampaikan melalui berbagai macam nabi dalam paham falsafah Yahudi, Kristiani,
dan Islam merupakan aspek penting dalam hubungan rohaniah antara Tuhan dan manusia. Juga,
bukanlah rahasia bahwa para cendekiawan agama-agama kuno, berdasarkan dari kitab dan
dokumen suci agama mereka, meyakini bahwa “Sang Kalki”, “Sang Pelipur”, atau “Sang Imam
yang dijanjikan belum tiba membawa penerangan yang akhirnya akan menuntun umat manusia.
Tetapi, kapan tibanya sang penyelamat ini tidak diketahui oleh mereka. Ada banyak contoh
kejadian yang menunjukan bahwa cara hidup dan paham-paham filsafat kuno telah terbukti tidak
lagi sesuai dengan generasi-generasi penerus atau tercemar oleh perkembangnya zaman memang
membutuhkan perubahan besar-besaran untuk diterapkan di masa yang akan datang. Sehingga,
merupakan suatu hal yang logis untuk menyimpulkan bahwa tiap kali hukum-hukum baru
diturunkan, hukum terdahulu menjadi tidak berlaku lagi dan proses bertahap ini tentunya terjadi
dari masa ke masa sejak tibanya manusia ke bumi. Maka, merupakan suatu hal yang alami untuk
menduga bahwa pedoman yang utuh pastinya akan diturunkan pada umat manusia dalam bentuk
wahyu terakhir yang dapat diterapkan di segala masa untuk menuntun perkembangan sosial,
moral, dan perkembangan rohaniah manusia karena kecerdasan manusia telah berkembang
seutuhnya sedari dulu. Jika kita dapat mengenali penerangan akhir ini, mengapa tidak
menerimanya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, daripada terus melakukan
perbaikan yang lambat dan tidak sempurna pada paham yang ada? Tetapi, alih-alih berusaha
mencari tahu perihal adanya hukum, falsafah, dan cara hidup baru universal yang mungkin
sesuai untuk diterapkan pada umat manusia zaman modern dan yang telah dibawakan oleh sang
Islamic Online University Aqidah 301
18
Kalki, sang Peilipur, sang Imam yang ditunggu-tunggu seperti yang tertulis dalam kitab salah
satu agama modern terkemuka, para reformis ini malah mencoba usaha sia-sia untuk
memodifikasi cara hidup dan falsafah kuno mereka dengan menerapkan bagian-bagian dari
agama-agama modern lain. Reformis-reformis ini menghabiskan seumur hidup mereka untuk
menciptakan sebuah masa Renaisans dengan cara melakukan penyaduran dari agama-agama lain.
Pada akhirnya, para reformis ini akan meninggalkan dunia dengan pencapaian tidak lebih dari
sekedar menjadikan diri mereka sesembahan untuk dipuja oleh pengikut mereka. Perbuatan
reformis-reformis ini tidak menyatukan umat ke dalam satu agama yang benar, tetapi malah
menciptakan kesenjangan lebih jauh lagi dalam masyarakat.
Maka dari itu, janganlah kita mengulangi kesalahan yang sama. Kebenaran hanya satu,
sehingga jalan menuju kebenaran juga hanya ada satu. Siapapun yang menentang jalan yang
benar dan mencoba untuk mencapai kebenaran melalui jalan lain, kemungkinan hanya akan
melewati banyak penderitaan sebelum kembali ke jalan yang benar di kemudian hari atau bahkan
tidak akan mencapai tujuannya sama sekali. Pendekatan yang lebih memilih untuk berusaha
mengubah cara hidup yang ada dengan mencoba menghilangkan inkonsistensi, kontradiksi, atau
konsep-konsep yang tidak sesuai di dalamnya demi membuat cara hidup tersebut lebih benar,
daripada memilih untuk menerima satu cara hidup ideal yang benar merupakan pendekatan yang
sempit dan yang akan berujung kepada kegagalan karena sejarah dapat terulang lagi. Toleransi
merupakan hal yang jauh berbeda dengan menerima pandangan cara hidup yang sudah tidak
sesuai lagi. Tetapi, toleransi yang berlebihan juga dapat berujung pada bencana karena bukankah
itu hal yang sama dengan perbuatan menghimpun dan mengembangkan persenjataan nuklir yang
dilakukan oleh negara adidaya dengan mengatasnamakan toleransi untuk hidup damai
berdampingan. Padahal pada kenyataannya, kedua jenis falsafah hidup ini saling membenci satu
sama lain dan kedua pihak ini pun sadar akan konsekuensi dari pandangan mereka bahwa tidak
ada dua pendapat yang benar. Sehingga, pencarian untuk menemukan falsafah dan cara hidup
ideal harus dilakukan tanpa henti.
Risalah ini merupakan sebuah produk penguatan dan penyusunan kembali Materi yang
ada dalam banyak catatan-catatan yang dibuat penulis dalam masa penelitian dan studinya
mengenai berbagai agama abad ini selama lebih dari tiga dasawarsa yang dilakukan murni hanya
untuk kepuasan penulis. Sebelum itu, karena penulis dibesarkan di lingkungan masyarakat
agama ortodoks bertempat di Malabar, India Selatan yang terkenal akan toleransi beragamanya
dan pada saat itu berada dibawah kekuasaan Inggris pada dekade ke-3 dan ke-4 abad ini, dan
juga karena penulis berkesempatan memiliki jenjang pendidikan yang berkualitas bersama para
pelajar dari berbagai agama lainnya, maka penulis pun mendapatkan kesempatan langka untuk
mempelajari pengetahuan dasar falsafah-falsafah dari berbagai agama seperti agama Budha,
Kristen, Hindu, Yahudi dan Islam melalui kitab-kitabnya, buku-buku, dan tulisan-tulisan karya
ahli teologi, serta kumpulan informasi tentang berbagai cara hidup sebagaimana yang
disampaikan oleh pemuka falsafahnya dan pengikutnya masing-masing. Pada tahun-tahun
berikutnya, penulis mengamati secara langsung bagaimana pertumbuhan tajam liberalisme,
Islamic Online University Aqidah 301
19
komunisme, sifat permisif, sekularisme dan “hipisme” telah merasuk ke dalam gaya hidup anak
muda dan remaja seluruh dunia karena penolakan nilai-nilai rohaniah. Akibat dari cara berpikir
materialistis ini, kesatuan keluarga, rasa hormat pada orang tua dan nilai-nilai moral lainnya
sudah hampir lenyap, menyebabkan pergeseran dimana-mana. Segala ide dan pendapat yang ada
dalam buku ini merupakan buah pemikiran penulis yang risau dengan kondisi dunia yang
memburuk.
Selanjutnya, tindakan Gereja Anglikan Inggris yang melelang atau menjual gereja-gereja
demi mendapatkan pemasukan untuk keperluan lain yang mereka rahasiakan dari umatnya
menunjukkan bahwa Gereja Anglikan ini telah ikut terkalahkan oleh efek materialisme. Hal ini
membuat penulis semakin khawatir perihal hilangnya nilai-nilai rohaniah serta dampak buruknya
apabila gaya hidup tersebut tersebar ke seluruh dunia seperti penyakit. Hal ini mendorong
penulis untuk mengumpulkan semua catatan-catatan dan pengetahuan yang ia miliki untuk
membentuk risalah ini dengan harapan bahwa pikiran dan pendapatnya dapat menjadi bahan
pemikiran untuk orang-orang sejamannya di abad ke-20, orang-orang yang banyak di antara
mereka masih mengawang-awang mencari falsafah dan cara hidup yang benar untuk
menyelamatkan diri mereka dari kesengsaraan karena tertelan oleh materialisme dan hampa dari
nilai-nilai rohaniah. Seperti yang Uskup Butler bayangkan bahwa apabila seluruh bangsa
menjadi gila, apakah mungkin untuk membayangkan sejumlah besar umat manusia abad ini akan
menjadi sangat materialistis, mengabaikan Sang Maha Kuasa, yaitu Tuhan? Karena, jika hal itu
terjadi, lantas hukuman apa yang dapat menjadi peringatan bagi kebanyakan manusia abad
kemajuan ini yang tidak bersyukur kepada Tuhan?
Seperti apa yang dapat dilihat dari daftar pustaka di akhir buku ini, penulis berusaha
keras untuk menyediakan referensi dari banyak buku dan literatur selama lebih dari satu dekade
untuk mengumpulkan berbagai macam informasi ke dalam buku ini. Beberapa referensi yang
digunakan merupakan milik pribadi penulis, sebagian lainnya dipinjamkan oleh teman-
temannya, dan sebagian referensi lainnya berasal dari banyaknya waktu dihabiskan untuk
membaca selama kunjungannya ke Inggris ke tempat buku-buku langka yang ada di
perpustakaan Inggris, perpustakaan British Council, serta di Pusat Informasi Amerika Serikat di
berbagai negara. Sebagian buku-buku langka ini tidak akan dapat ditemukan ditempat lain
karena sudah lama tidak dicetak lagi.
Pastinya, beberapa pandangan dan intisari dari banyak penulis, seperti yang dapat dilihat
dari bagian daftar pustaka akhir buku, memiliki tempat khusus dalam studi ini sebagai kutipan.
Penulis merasa bersyukur mendapat kesempatan untuk menambah pengetahuannya karena
banyaknya informasi terkandung dalam referensi-referensi yang digunakan. Merupakan sebuah
fakta bahwa, tanpa adanya buku-buku referensi tersebut, mustahil bagi penulis untuk menulis
sebuah buku seperti ini.
Penulis menjanjikan para pembaca bahwa ia menghargai seluruh agama-agama besar
yang ada saat ini karena semua agama-agama ini cenderung untuk menyatakan dengan caranya
Islamic Online University Aqidah 301
20
masing-masing tentang keberadaan TUHAN YANG MAHA ESA dan tentang konsep
universalisme sebagai akar pahamnya, meski terdapat ada sedikit ciri-ciri politeisme dalam
hampir semua agama ini. Alasan penulis menulis buku ini ialah karena menulis sebuah studi
komparatif merupakan suatu perbuatan yang dilakukan untuk kebaikan bersama, bukan untuk
kepentingan pribadi. Menulis studi komparatif seperti ini berarti menyusun semua falsafah dan
cara hidup kedalam satu buku demi memberikan akses bagi semua orang untuk mempelajarinya
secara kritis. Sehingga, penulis berusaha dengan penuh perhatian untuk melandaskan
penjelasannya perihal berbagai agama dan cara hidup hanya berdasarkan kepada kitab-kitab yang
telah dianggap sah dan pada tulisan-tulisan karya penulis kitab-kitab tersebut. Meskipun penulis
telah berusaha dengan baik dan jujur, karena penulis juga manusia, maka ketidakakuratan kecil
yang dilakukan tanpa sengaja akan mungkin ada. Jika kesalahan-kesalahan ini ditemukan dan
terbukti ada, penulis akan dengan senang hati untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut
di cetakan edisi selanjutnya.
Islamic Online University Aqidah 301
21
Bab 2
Agama Buddha
Orang-orang Hindu dan kitab suci mereka menganggap Buddha sebagai inkarnasi ke
sembilan dari salah satu dewa tritunggal mereka, Wisnu. Seperti Jainisme dan Sikhisme, agama
Buddha juga dapat dianggap sebagai adaptasi Hinduisme karena beberapa konsep dasar filsafat
Hindu seperti Samsara, Karma, Yoga, Nirvana, dan seterusnya terdapat dalam agama Buddha
juga. Oleh karena itu, tidak diragukan jika banyak filsuf Hindu menganggap Buddha sebagai
pembaharu Hinduisme yang datang sebagai Buddha, inkarnasi Wisnu yang dilahirkan sebagai
seorang Hindu, mati sebagai seorang Hindu, dan menjalani kehidupan seorang Hindu. Namun,
Agama Buddha juga memiliki beberapa aspek penting yang secara radikal berbeda dari filsafat
Veda dan Epik Hindu dalam bentuk hampir sebagai suatu negasi dari Tuhan dewa, sistem kasta,
pengorbanan dan sebagainya, dan dalam hal bersahabat dengan filsafat regional lain atau cara
hidup yang dimilikinya dengan mengembangkan budaya yang berbeda yang terpisah dari cara-
cara Hindu bagi sebagian besar orang di Sri Lanka, Burma, Malaysia, Thailand, Kamboja,
Vietnam, Cina, Korea, Jepang dan bahkan India.
Seperti yang akan dilihat dari sejarah kehidupan Buddha, bagian utama dari hidupnya
adalah perjuangan, pertama untuk menemukan "Kebenaran Mulia" atas penyebab dan
penghentian rasa sakit di satu sisi dan untuk menemukan cara untuk menyingkirkan lingkaran
Samsara (reinkarnasi) yang tak berujung, yang merupakan satu-satunya cara Hindu untuk
memurnikan jiwa dari dosa-dosa yang dilakukan melalui Karma yang sesuai dengan Bhagavat
Geetha, "Bahkan Tuhan tidak mampu berubah karena ini adalah hukum yang ditetapkan oleh-
Nya tergantung pada tugas (Dharma) dari empat kasta, lahir dari alam.” Setelah perjuangan tujuh
tahun, yang pada periode itu Buddha Gautama menundukkan diri pada penolakan yang
dianjurkan oleh Geetha dan bahkan penyiksaan oleh Veda, akhirnya ia kembali dengan
kekecewaan setelah jatuh ke dalam sakit yang cukup parah. Namun, saat berusaha untuk
mendapatkan kembali kesehatannya, sebagai hasil dari penolakan lebih lanjut dan meditasi yoga
di bawah pohon bodhi, dia mampu menemukan tidak hanya "Kebenaran Mulia," tetapi juga cara
penebusan lengkap yang disebut Nirvana (penyatuan jiwa dengan Esensi Tertinggi) melalui
Islamic Online University Aqidah 301
22
proses Samadhi (meniup). Namun demikian, pada akhirnya ia masih tidak memiliki jalan keluar
selain menarik diri kepada filsafat lama reinkarnasi (Samsara) dalam kasus-kasus di mana
Nirvana tidak tercapai karena dosa-dosa yang dilakukan selama masa hidup tertentu. Dengan
kata lain, pada dasarnya, itu adalah penerimaan dari dua filsafat yang saling bertentangan, yang
satu adalah bahwa Tuhan menebus salah satu dosa sebagai hasil dari penolakan, penebusan dosa
dan perbuatan yang baik, dan yang lainnya adalah bahwa penebusan tidak mungkin kecuali
melalui penderitaan yang pada waktunya, ruang dan pengaruh yang merupakan hasil Karma,
penebusan akhir hanya mungkin melalui siklus hidup yang bersih, di mana pengaruh penuh dari
dosa masa lalu harus dilahirkan kembali, sama dengan filsafat Samsara Hindu itu sendiri.
Mungkin, karena kebingungan inilah Buddha tidak dapat secara spesifik menegaskan atau
menyangkal keberadaan Tuhan atau bahkan kehidupan setelah kematian, seperti yang akan
terlihat nanti di halaman-halaman selanjutnya.
Kehidupan Buddha
Tradisi mengatakan bahwa Buddha Gautama, pendiri agama Buddha, lahir dan
dibesarkan di sebuah keluarga kerajaan yang mewah dan makmur sebagai pewarisnya,
memisahkan dari kesengsaraan hidup secara hati-hati juga dari kasta Hindu yang lebih rendah
dan benar-benar diindoktrinasi sebagai seorang Ksatria (prajurit) yang merupakan kasta tertinggi
dari masyarakat Hindu, kasta yang berada langsung di bawah Brahmana yang suci. Dia
tampaknya telah menjadi terobsesi oleh pemandangan orang sakit, lelaki tua dan mayat, masing-
masing untuk pertama kalinya dalam hidupnya membuatnya menyadari fakta kehidupan bahwa
bagaimanapun juga setiap orang dapat menjadi sakit dan semua akan menjadi tua dan mati. Abad
keenam sebelum Masehi menandai masa yang luar biasa dengan keresahan spiritual dan
kemerosotan intelektual di banyak negara di dunia. Konfusius dan Lao Tzu telah
mengkhotbahkan filosofi mereka sendiri di China, Mahavir dan Buddha juga menyebarkan
filosofi mereka di India, Zarathustra di Iran dan Parmenides serta Empedocles di Yunani,
semuanya mencoba untuk membuat sistem filosofis mereka sendiri untuk mengembangkan
kesetaraan yang harmonis di antara manusia, alam semesta dan Entitas Tertinggi, yaitu Tuhan,
Alam, atau Hakekat Tertinggi sebagaimana masing-masing menyebutnya. Dari sini tampak
bahwa dakwah turun-temurun oleh para nabi dari Nabi Musa ke Yehezkiel dari Perjanjian Lama
semuanya telah dilokalisasikan di daerah Palestina dan sekitarnya, diarahkan kepada anak-anak
Israel dan belum menembus lebih jauh dari daerah Aram atau Ibrani. Dengan demikian, Buddha
Gautama muda mencoba untuk mereformasi masyarakat Hindu dengan caranya sendiri dengan
menyingkirkan pemujaan berhala kuno, kasta yang berorientasi Dharma dan Filosofi Karma
yang mengatur penebusan dari dosa, mempersembahkan sesaji kepada berbagai dewa dan,
mungkin, akar pokok filsafat inkarnasi. Secara alami terlahir dalam kasta Hindu yang tinggi dan
dihadapkan dengan banyak doktrin kitab suci yang tidak masuk akal dan bertentangan dari
Hinduisme, Gautama muda harus berlindung di hutan untuk mempraktikkan kehidupan
Vanaprastham (kehidupan hutan) dan Sanyasam (penebusan dosa dengan penyangkalan) tahap
Islamic Online University Aqidah 301
23
(Ashramam) yang ditentukan oleh Veda khususnya untuk dua kasta yang lebih tinggi. Setelah
menerima pencerahan dan kebijaksanaan, Buddha menjadi aktif terlibat dalam merancang
program kehidupan monastik yang ketat bagi murid-muridnya untuk mendapatkan pelatihan
yang diawasi dalam tindakan menuju kehidupan yang meninggalkan keduniawian. Para murid
berlatih yoga untuk memperoleh kebijaksanaan dan pengetahuan untuk memungkinkan mereka
menjalani kehidupan tanpa cela yang ditujukan untuk pencapaian Nirvana atau penebusan
dengan memotong siklus reinkarnasi sama sekali melalui "persatuan dengan Esensi Tertinggi"
atau "Samadhi." Setelah memimpin umat pengikutnya yang besar, Buddha meninggal pada usia
delapan puluh tahun, mendesak murid-muridnya "untuk berjuang setelah keselamatan dengan
penuh semangat karena semua yang dikomposisikan dapat rusak." Menurut tradisi serta Sang
Dipavasma, sebuah kronik Pall abad ke-4 M yang berisi kisah-kisah raja-raja Magadha India dari
Buddha ke Ashoka, kematian Buddha dinilai antara tahun 544 dan 483 SM. Kepergiannya untuk
menjalani kehidupan di hutan dikatakan pada usia dua puluh sembilan tahun dan ia seharusnya
telah menerima pencerahan pada usia tiga puluh lima tahun. Selama empat puluh lima tahun ia
dikatakan telah berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan doktrin Dharma
(kewajiban) kepada para biarawan, biarawati dan masyarakat pada umumnya dan dikatakan telah
mengizinkan perempuan untuk bergabung dalam ordo biarawati, pada status yang sama dengan
laki-laki, untuk pertama kalinya dalam kehidupan sosial dan agama di India.
Ajaran Buddha
Ajaran Buddha tampak pada awalnya telah tersimpan dalam memori para biksu Buddha
selama berabad-abad. Ini telah dimasukkan ke dalam bentuk tulisan suci sekarang setelah
perpecahan umat Buddha menjadi dua sekte, Mahayana (Kendaraan Besar) dan Hinyana
(Kendaraan Kecil). Salah satu koleksi ini, yang dikenal sebagai The Canon of Theravidins (The
School of the Elders) tampaknya sekarang ada di Pali, bahasa yang hidup dari Sri Lanka (Old
Ceylon) diperkenalkan pertama kali ke negara itu oleh para misionaris Buddha dari abad ketiga
SM dan selama penyebaran agama Buddha ke Burma dan Siam; Dikatakan bahwa penulisan
dalam Ceylon telah dikurangi selama abad pertama Masehi. Di semua aliran lama Agama
Buddha, Normanya ada dalam bentuk "Tripitaka" (The Three fold Basket/Tiga Keranjang), yang
terdiri dari:
Vinaya Pithaka, berisi 227 aturan disiplin yang dikenal sebagai Vinaya. Yang
paling penting dari aturan-aturan disiplin ini, yang bertentangan dengan apa yang
dapat menyebabkan pengusiran penganut dari tatanan Buddha, adalah melakukan
ketidaksucian, pencurian atau pembunuhan, menghasut seseorang untuk
melakukan bunuh diri, dan mengaku-aku memiliki kekuatan supranatural.
The Sutta Pitaka tentang Dharma (tugas), diatur dalam lima kumpulan wacana
yang disebut Nikayas atau Agamas di mana yang pertama ini umum untuk semua
aliran. Ini adalah khotbah-khotbah yang dikaitkan dengan Buddha sendiri dan
Islamic Online University Aqidah 301
24
mencakup puisi, legenda, dialog dan komentar yang beberapa di antaranya
dianggap berasal dari para murid Buddha dengan cara yang mudah untuk
dihafalkan. Sutta Pitaka ini terdiri dari: Digha Nikaya, Majjima Nikaya, Samyutta
Nikaya, Angutara Nikaya, dan Khuddaka Nikaya. Akan tetapi Pitaka yang kelima
ini, tidak diakui oleh semua sekolah. Kanon Pali terdiri dari lima belas karya,
yang paling penting dari karya-karya tersebut adalah "Dhammapada" (Karya
Ajaran), yang merupakan kumpulan dari 423 ayat; ''Sutta Nipada,” yang terdiri
dari lima buku sutta (ayat); "Jatake" (kisah Buddha dalam kelahiran sebelumnya;
dan dua koleksi ayat yang dikaitkan dengan murid-muridnya), "Theragatha" (ayat
para tetua), dan ''The Theregitta” (ayat dari para tetua perempuan.)
Abhidhamma (Doktrin yang Lebih Tinggi), berhubungan dengan etika psikologis
dan terdiri dari tujuh karya dalam Kanon Pali.
Kanon-kanon lain yang ada di aliran-aliran Buddha di India utara dikenal dalam
terjemahan dalam bahasa Cina dan Tibet dari teks Sanskrit yang sekarang hilang. Ada beberapa
perbedaan antara Kanon aliran India bagian utara dan aliran-aliran Pali selatan, yang terakhir saat
ini di Siam, Kamboja, Burma, Thailand, dan Sri Lanka. Di satu sisi, ini bisa menjadi hasil dari
penyebaran ajaran secara lisan dalam masyarakat yang terpisah secara luas dan di sisi lain karena
perbedaan budaya antara ras yang berbeda, sehingga perbedaan muncul, ketika mereka akhirnya
ditulis oleh para pemuka agama dengan perbedaan karakteristik dalam interpretasi mereka.
Doktrin Buddha
"Dhamma Kakka-Pavathna-Sutta" (ayat-ayat untuk memutar roda doktrin), ditujukan "kepada
dia yang telah meninggalkan dunia," berisi ajaran yang diajarkan oleh Buddha Gautama. Ini
adalah keyakinan bahwa kehidupan dunia tidak dapat memberikan kebahagiaan tertinggi dan
bahwa seseorang harus mengambil jalan tengah antara kehidupan tanpa nafkah dari kesenangan
dalam kenikmatan indrawi dan cara penyiksaan diri yang sama-sama tanpa keuntungan,
keduanya adalah perbedaan besar yang telah dipraktekkan oleh orang-orang kontemporer
masyarakat Hindu di mana dia dilahirkan dan dibesarkan. Buddha mengajarkan bahwa berpikir
benar, hidup benar dan penyangkalan diri harus memungkinkan jiwa manusia untuk mencapai
Nirvana, yang merupakan pelepasan akhir dari keberadaan duniawi serta dari rasa sakit,
keinginan dan kesedihan. Kehidupan pertapaan ketat yang ditentukan olehnya untuk murid-
muridnya bertujuan untuk memperoleh pelatihan yang diperlukan dan penting serta
mengendalikan pikiran dengan tujuan akhir dari doktrin ini. Buddha menyadari bahwa pikiran
dan tindakan manusia dapat disalurkan menjauh dari umpan kehidupan duniawi hanya di bawah
pengaruh pelatihan disiplin ketat, dan oleh karena itu upaya untuk menemukan kebenaran
penebusan dan Nirvana akhir yang terbaik hanya mungkin terjadi melalui kehidupan disiplin
seorang pertapa. Meskipun menurut anggapan Buddha bahwa ia telah menemukan jalan kepada
Islamic Online University Aqidah 301
25
penebusan jiwa manusia yang jauh lebih baik daripada apa yang diajarkan oleh filosofi Hindu
kasta modern, bagaimanapun, karena ia bukan seorang nabi Allah yang dengan sendirinya dapat
mengetahui melalui wahyu Allah apa tujuan dan takdir manusia dan seberapa baik penebusan
yang diinginkan dapat diperoleh, tidak mengherankan bahwa pada akhirnya dia juga bingung
pada masalah ini. Dia tidak mengklaim sebagai inkarnasi atau nabi. Bahwa menjalani kehidupan
pertapa dan menyangkal dunia sama sekali tidak bisa menjadi jalan yang tepat bagi manusia
harus jelas dari fakta bahwa jika setiap orang di dunia memilih jalan ini sebagaimana ditentukan
oleh Buddha untuk mencari penebusan, seluruh dunia pasti menemui jalan buntu, termasuk yang
menyangkut aktivitas manusia sejak lama! Sebaliknya, ia dapat dengan mudah mengakui bahwa
filsafat yang tepat bagi umat manusia harus menjadi satu-satunya yang dapat memperpanjang
harapan penebusan jiwa melalui kehidupan di tengah-tengah dunia karena, bagaimanapun juga,
setiap orang harus tinggal di bumi untuk waktu yang ditentukan demi melakukan tugasnya dan
memutar roda waktu untuk kepentingan masyarakat. Namun demikian, pencarian Buddha pada
kebenaran meyakinkannya pada filsafat hidup praktis bahwa Jalan Tengah adalah satu-satunya
cara untuk mencapai Nirvana oleh Thathagata-Sang Buddha- dan bahwa cara untuk menerima
pencerahan menurutnya terdiri dalam pengetahuan dari empat Kebenaran berikut:
Kebenaran pertama adalah kebenaran mulia dari rasa sakit: kelahiran adalah rasa
sakit, usia tua adalah rasa sakit, penyakit adalah rasa sakit dan kematian adalah
rasa sakit, lima kelompok dari rasa sakit yang dirasakan.
Kebenaran kedua adalah kebenaran mulia dari penyebab rasa sakit dan ini adalah
keinginan Tanha (kehausan) yang mengarah pada reinkarnasi: nafsu keinginan,
keinginan untuk eksistensi, keinginan untuk ketiadaan.
Kebenaran ketiga adalah kebenaran mulia dari lenyapnya rasa sakit, yang terdiri
dari sisa-sisa penghentian nafsu keinginan, pengabaian dan penolakan, emansipasi
dan kebebasan dari dukungan.
Tiga kebenaran mulia yang disebutkan di atas adalah kebenaran mulia dari pengetahuan yang
membentuk keadaan Arhat (murid yang disempurnakan), yang telah mencapai tujuan
Penghentian rasa sakit.
Isi kebenaran keempat terdiri atas kedatangan kebenaran-kebenaran semua ini
yang sebenarnya, yaitu: “Jalan Utama Berunsur Delapan”: Pengertian yang Benar;
Pemikiran yang Benar; Daya-upaya yang Benar; Ucapan yang Benar; Perbuatan
yang Benar; Pencaharian yang Benar; Perhatian yang Benar; Konsentrasi yang
Benar.
Gambaran Jalan Kebenaran ini mencakup seluruh pelatihan para penganut Budha yang
sebagaimana yang dikembangkan dalam Sutta, terhubung dengan konsep-konsep teoritis
pemikiran benar, sistem norma kesusilaan, dan metode pelatihan mental yang ditunjukkan dalam
perbuatan yang benar, perhatian yang benar, dan konsentrasi yang benar.
Islamic Online University Aqidah 301
26
Sedangkan perihal wejangan ajaran Buddha ini, tiap individu terbagi ke dalam lima
kelompok unsur & atau lima agregat, yaitu: Bentuk Pikiran, Perasaan, Persepsi, Bentuk Mental,
dan Kesadaran. Berbeda dengan Hinduisme dan Jainisme, Agama Buddha menolak adanya diri
yang permanen (Atman) dan juga menolak akan adanya sesuatu diluar dari lima unsur
pembentuk diri. Akan tetapi, ajaran Buddha tidak berdamai dengan pandangan bahwa realitas
kehidupan ini terdiri atas pikiran dan tubuh jasmani, seperti yang dianggap sebagai kebenaran
oleh agama-agama lain, termasuk agama induk Budha itu sendiri, yaitu Hinduisme. Ajaran
Hinduisme khususnya, menegakkan konsep “Atman Rupa” (jiwa-raga) ini, sebuah teori yang
mengatakan bahwa jiwa dan raga merupakan entitas yang berbeda, karena jika tidak demikian
adanya, maka keberadaan raga jasmani tidak akan dapat dijelaskan. Selanjutnya, agama Budha
menolak doktrin agama Hindu mengenai konsep karma dan transmigrasi jiwa, dimana menurut
Bhagavad Gita, “konsep ini berlaku pula bahkan untuk dewa.”
Meskipun demikian, penganut
paham falsafah Buddha menerima teori tentang transmigrasi jiwa dari satu raga ke raga yang lain
sampai semua unsur jiwa lenyap oleh proses disintegrasi dengan hilangnya rasa nafsu dan untuk
mendapatkan Nirwana. Konsep ini dapat disandingkan dengan falsafah Hindu yang mengatakan
bahwa transmigrasi jiwa terjadi dari raga ke raga sampai jiwa tersebuut benar-benar terbebaskan
oleh Nirwana melalui karma dan yoga.
Empat pertanyaan yang enggan dijawab oleh Buddha, dengan alasan bahwa pertanyaan-
pertanyaan ini tidak bermanfaat:
- Apakah alam semesta kekal atau tidak?
- Apakah alam semesta ini terbatas atau tidak?
- Apakah jiwa sama dengan badan jasmani?
- Apakah Tathāgata ada setelah meninggal?
Keempat pertanyaan ini merupakan hal yang penting dalam semua agama atau falsafah hidup,
khususnya dalam Agama Buddha yang mendefinisikan tujuan manusia sebagai Nirwana
(pembebasan akhir atau pemadaman akhir) dimana pada babak terakhir hidup ini nanti, semua
keinginan atau nafsu akan punah. Pencapaian Nirwana, menurut apa yang dipercaya oleh
pengikut Buddha, seharusnya dapat dicapai setidaknya oleh sebagian kecil orang dalam seumur
hidupnya.
Doktrin sumber penderitaan, sebagaimana yang dirumuskan dalam Rantai Sebab-
Musabab (Patticca Samuppada), berisikan dua belas rantai sebab-akibat, dimana tiap mata
rantai membentuk mata rantai selanjutnya; kegelapan batin; bentuk-bentuk karma; kesadaran;
rohani-jasmani; enam landasan indria; kesan-kesan/kontak; perasaan; kerinduan/ kehausan;
kemelekatan; proses penjelmaan; kelahiran; usia tua dan kematian.
Setiap dua belas rantai yang dijelaskan dalam doktrin sumber penderitaan ini bermakna
sangat samar dan membingungkan, sehingga tidak ada yang tahu pasti makna sebenarnya. Akan
tetapi, beberapa ajaran para biksu dan pengikut Buddha yang mengajarkan hal-hal seperti untuk
Islamic Online University Aqidah 301
27
tidak menyakiti siapapun, memaafkan siapapun termasuk musuh, dan ramah kepada semua,
memiliki banyak nilai-nilai kesusilaan di dalamnya.
Dalam Agama Buddha, nilai-nilai moral merupakan bagian terpisah dari ajaran dasar
yang semata memiliki signifikansi ritual. Niatlah yang menjadi penanda utama untuk menilai
moral suatu perbuatan, bukan dengan menilai semata-mata dari perbuatan baik atau buruk yang
dilakukan seseorang untuk menjadi tolak ukur dalam menilai moral perbuatan tersebut. Akan
tetapi, ajaran Buddha sendiri tetap menggunakan doktrin-doktrin seperti Karma, Reinkarnasi,
dan Nirwana yang berasal dari Hinduisme. Para penganut ajaran Buddha fokus untuk mencari
“Samadhi”, konsep yang sangat mirip dengan konsep “Yoga” dalam Hindu. Bagi orang-orang
yang mengenal ajaran Hindu, mereka akan melihat bahwa Agama Buddha merupakan sebuah
adaptasi atau bahkan transformasi ajaran Hinduisme yang menerapkan Samadhi sebagai tujuan
akhir, mungkin dengan alasan bahwa pencapaian Nirwana (penebusan akhir) yang melalui proses
Karma dan reinkarnasi berulang-ulang dengan transmigrasi jiwa tidak dapat menjadi cara terbaik
untuk mendapat kebebasan dari dosa selama masa hidup manusia di dunia yang sulit ini. Oleh
karena itu, daripada terlibat ke dalam urusan duniawi dan teracuni oleh pemikiran, perkataan,
dan perbuatan yang buruk, Budha menemukan bahwa meditasi pada pengetahuan dan alam
melalui Samadhi, jauh dari segala urusan sia-sia, merupakan cara yang lebih baik untuk
mencapai Nirwana. Sehingga, lingkaran transmigrasi jiwa pun dapat lenyap. Tetapi, seperti yang
telah dibahas sebelumnya, sebelum itu terjadi, tentu kiamat sudah akan duluan tiba sejak dari
dulu!
Yoga dan Samadhi memiliki banyak kemiripan dengan hipnotisme, dimana keduanya
merupakan bentuk swa-hipnotisme dengan cara memokuskan semua perhatian pada satu obyek
atau titik tertentu (di antara dua mata dan dua alis, menurut Gita), sehingga pikiran hanya akan
berkontemplasi pada satu obyek saja. Meskipun empat tingkatan masuk ke alam bawah sadar
(Dhyanas) telah digambarkan dalam Sutta-Sutta kuno, lima tahap yang disebut sebagai cara,
pencapaian, dan subyek meditasi telah terelaborasi dalam tulisan-tulisan pasca kanon, terutama
dalam literatur Budhagosa “Jalan Kesucian”. Meskipun di dalam Agama Buddha Pali Modern,
lima tahap ini tidak lagi digunakan, tetapi perkembangannya dalam Agama Buddha Sansekerta
tetap dilestarikan di Cina dan Jepang. Secara keseluruhan, terlepas dari usaha ajaran Buddha
untuk menjauh dari cara menyembah seperti agama Hindu, temuan-temuan arkeologi (di
Lopburi, Chiang, Mai, Tails, serta tempat-tempat pameran lain di museum-museum Jepang,
Cina, India, Pakistan, dan Siam) dan tema-tema Buddha yang ditemukan dalam lukisan-lukisan
Oriential dinasti Ashikaga, Ming, Kamakura, dan Tang [Cina], serta lukisan-lukisan Jepang dan
Siami dari abad ke-7 dan ke-14 menunjukkan bahwa praktek yang menempatkan Buddha sebagai
sosok pemujaan belum ditinggalkan oleh para penganut ajaran ini. Hal ini karena pengaruh
Hindu Sansekerta yang menganggap Buddha sebagai inkarnasi ke-9 dewa Wisnu. Kesimpulan
lainnya ialah karena para pengikut Buddha mengklaim bahwa Buddha memiliki kemampuan
supranatural, terlepas dari fakta bahwa menurut “Vinaya Pitaka” (Tiga Keranjang), mengaku
memiliki kemampuan supranatural merupakan pelanggaran besar terhadap salah satu dari empat
Islamic Online University Aqidah 301
28
falsafah utama ajaran Buddha, dan hal ini dapat berujung pada penyimpangan pengikut dari
ajaran Buddha itu sendiri.
Delapan jalan utama merupakan bentuk pencampaian Nirwana melalui Samadhi
(meditasi tegak). Tetapi, untuk melenyapkan seluruh rasa haus dari dalam diri melalui latihan ini,
seseorang harus meninggalkan seluruh kehidupan rumah tangganya dan bergabung dengan
Persaudaraan Sangha para biksu. Ada dua upacara penting Persaudaraan Sangha, yang pertama
adalah pengumpulan Uposatha, dimana “Pathimokkha” atau daftar kesalahan-kesalahan kita
diberikan. Dalam upacara ini, “Vinaya” diucapkan tiap malam dan dilakukan pengakuan atas
segala bentuk perbuatan pelanggaran. Upacara kedua ialah pengasingan (Vassa) selama tiga
bulan pada musim hujan ketika bepergian dilarang. Bagian kedua “Vinaya” berisi aturan-aturan
anggota, kebijakan internal monastri, dan orde para biksu.
Agama Buddha lahir pada masa dimana pada masa itu, orang-orang di seluruh dunia
sedang marak-maraknya mempertanyakan hal-hal rohaniah. Di India sendiri, kitab-kitab
Hinduisme yang dibawa oleh para penjajah Arya yang terdiri dari Veda dan Brahma, dengan
campur tangan pendeta-pendeta Brahmana, berkembang menjadi aturan untuk mendukung
sebuah sistem pengorbanan dan ritual-ritual yang terhubung dengan sistem penetapan kasta-kasta
dalam masyarakat. Penetapan kasta-kasta ini tidak dilandaskan hanya dengan berdasarkan
pekerjaan saja, tetapi utamanya dilandaskan dengan berdasarkan posisi kasta lahir tertentu dari
orang yang bersangkutan serta pembagian pekerjaan turunan pada suatu kelas tertentu yang
memiliki posisi tidak tersentuh, serta penyembahan dewa-dewi yang tidak terhitung jumlahnya,
yang disembah sebagai Sang Pencipta. Reaksi dari sistem yang tidak logis ini pun muncul dalam
perkembangan Upanisad selama tahun 600-500 S.M., dimana Upanisad ini menyebarkan paham
filsafat panteisme, yang mencari Kenyataan sebenarnya dibalik konsep berbagai macam dewa
dan menjadi paham filsafat yang bertujuan unruk membebaskan jiwa melalui penyatuan kembali
pada Kenyataan ini. Meskipun Agama Buddha merupakan hasil pemberontakan melawan
Hinduisme Vedik ortodoks, beberapa doktrin dalam Agama Buddha itu sendiri jelas berasal dari
konsep-konsep Hindu. Seumur hidup Buddha Gautama dihabiskan untuk melakukan pencarian
demi mendapatkan pengetahuan mengenai Esensi Sebenarnya, dimana dengan melalui esensi ini,
jiwa dapat lepas dari lingkaran reinkarnasi dan penderitaan-penderitaan lainnya melalui
penebusan dosa, perbuatan baik, dan penyesalan diri. Pencarian ini pada akhirnya membawa
Buddha kembali pada kesimpulan lebih dalam dan penerimaan bahwa yoga dan lingkaran
reinkarnasi itu sendiri merupakan satu-satunya solusi untuk penebusan jiwa. Ini karena Budha
melakukan meditasi dan pencariannya dengan cara yang pada dasarnya sama dengan apa yang
filsuf-filsuf intelek lakukan. Memfokuskan pikiran dan akal kepada suatu masalah spesifik dan
menemukan solusi yang dianggapnya merupakan solusi terbaik. Dia tidak pernah mengaku
bahwa dirinya diberkati oleh Tuhan dengan tugas setingkat dengan tugas seorang nabi yang
menurunkan firman-firman suci. Seperti yang dapat dibuktikan dari fakta sejarah hidupnya,
Budha tidak pernah mengaku bahwa dirinya memiliki sifat kenabian atau bahwa dirinya adalah
nabi. Dia bahkan tidak menyebutkan paham tentang Tuhan Satu-satunya yang dengan
Islamic Online University Aqidah 301
29
kekuasaan-Nya sendiri, membuat, menjaga, menghancurkan serta menciptakan segala hal di
alam semesta ini sesuai dengan waktu dan kemauan-Nya sendiri, paham yang berlawanan
dengan falsafah banyak Tuhan seperti ajaran Veda dan Upanisad yang membingungkan serta
tidak masuk akal. Maka, bukanlah suatu hal yang membingungkan mengapa Buddha tidak dapat
memberikan jawaban mengenai kehidupan setelah kematian atau bahkan mengenai takdir alam
semesta ini.
Agama Buddha sepeninggal Buddha
Sebagaimana yang dilaporkan dalam Riwayat Pali, tidak lama setelah kematian Buddha
sekitar tahun 483 S.M, sidang pertama dilaksanakan dimana pembacan kitab-kitab Dhamma dan
Vinaya dilakukan. Sidang kedua dilakukan sekitar satu abad kemudian ketika telah muncul faksi-
faksi akibat dari perpecahan. Sidang ketiga dilaksanakan pada tahun 24-7 S.M. selama masa
kekuasaan Asoka, raja India beragama Hindu yang menjadikan Agama Buddha sebagai paham
pemujaannya. Dalam tulisan-tulisan Sansekerta, nama Asoka disebutkan beberapa kali; tetapi
dalam Kanon Pali sendiri, namanya tidak disebutkan sama sekali. Mungkin, salah satu yang
dapat menjadi alasan tidak adanya nama Asoka disebutkan ialah karena adanya persaingan Arya-
Dravidia yang dibahas dalam Ramayana antara raja Rama berkasta Ksatria yang mewakili kasta
tinggi Hindu Arya dengan Rahwana yang mewakili orang asli India berkasta rendah,
terutamanya ras Dravidia, dimana pada persaingan ini, raja Rama mengusir Rahwana ke selatan
lalu ke Lanka (Sri Lanka). Meskipun demikian, Riwayat Pali mengatakan bahwa Mahinda, anak
dari Asoka lah yang menyebarkan ajaran Buddha ke Srilanka pada abad ke-3 S.M.
Sejarah bangsa Theravidi (atau kah Dravidia?) yang tercakup ke dalam Srilanka.
Kesaksian dari pengembara Cina Fa Hien (abad ke-4 S.M.) dan Hiun Tsiang (abad ke-7 S.M)
menunjukkan bahwa Agama Buddha tersebar bahkan sampai ke Asia Tengah, kesaksian ini juga
menunjukkan bahwa pada masa itu, terdapat delapan belas aliran ajaran Buddha yang berbeda-
beda, dimana aliran Kendaraan Besar (Mahayana) dan aliran Kerajaan Kecil menjadi dua aliran
utama ajaran Buddha; aliran Kendaraan Besar (Mahayana) menamakan aliran-aliran lain yang
lebih tua sebagai aliran Kendaraan Kecil pada masa abad pertama S.M. Kanishka, Raja India
penganut ajaran Buddha (abad pertama S.M), karena merasa tidak senang dengan banyaknya
aliran di antara penganut ajaran Buddha, kemudian melaksanakan sidang besar penganut Buddha
dan menjadikan tiga Pitaka Buddha dan sebuah tafsiran menjadi standar utama. Aliran
Theravada lah yang menyebarkan Agama Buddha ke selatan sampai ke Srilanka dibawah
kekuasaan raja Asoka (274-232 S.M.). Aliran lain, Sarvastivada, menerjemahkan kitab-kitab
ajaran Buddha kedalam bahasa Sansekerta dan menyebarkan ajaran tersebut sampai ke India
Barat, Tibet, dan Cina. Status Kanon Pali yang dijadikan sebagai kitab utama di Srilanka, Burma,
Thailand, Laos, dan Kambodia menunjukkan bahwa ajaran Agama Buddha aliran Pali
Theravidia yang tersebar ke negara-negara Asia Tenggara dari Srilanka di kawasan timur India
merupakan agama masyarakat minoritas bahkan sampai saat ini.
Islamic Online University Aqidah 301
30
Merosotnya Agama Buddha
Kemerosotan Agama Buddha di India mungkin disebabkan oleh deifikasi Buddha, memuja
Bodhisattva sebagai pemberi kebahagiaan dan harmoni. Secara bertahap pula, anggapan bahwa
Budha dan Boshisattva memiliki kemampuan supranatural berujung pada perbuatan memuja
mereka sebagai dewa, dimana perbuatan ini merupakan suatu bentuk pelanggaran aturan Vinaya
Pitaka, dengan hukuman dikeluarkan dari ajaran Buddha. Pergerakan baru pun secara bertahap
terasimilasi ke dalam ajaran Hinduisme yang lebih besar, yang juga menganggap Buddha
sebagai inkarnasi dewa Wisnu. Di negara-negara kawasan timur jauh pun, Agama Buddha
termodulasi dengan kultus pemujaan lokal di negara-negara tersebut. Pada akhirnya, hasil dari
peranakan ini pun menjadi identitas negara-negara tersebut.
Retakan mulai muncul di Sangha (masyarakat) dari umat Buddha di India pada awal abad
pertama setelah kematian Buddha ketika setidaknya tiga aliran yang berbeda bergabung di antara
mereka. Sementara yang konservatif menyebut diri mereka sebagai Aliran para Sesepuh, atau
Theravidins dalam bahasa Pali (Apakah istilah ini berasal dari Dravida, penduduk asli India,
yang kebanyakan dianggap sebagai kasta rendah Hindu dan yang dikejar-kejar oleh invasi Arya
ke selatan?), kaum liberal, yang dikenal sebagai Majelis Agung (Mahasanghika) menafsirkan
doktrin dengan lebih bebas. Namun gerakan lain, yang disebut Mahayana (The Great Vehicle),
disebut aliran yang lebih tua, Hinayana (The Little Vehicle), inferior dan elementer. Namun, itu
adalah aliran tua para sesepuh; atau aliran Pali Theravidia di Hinayana, dan aliran Sanskrit
liberal Mahayana yang selamat. Sekali lagi, ini terlihat seolah-olah mereka didasarkan pada
persaingan rasial antara penutur Sanskrit India utara yang berbicara dengan penjajah Arya dan
orang-orang Dravida berbahasa Pali yang dianggap sebagai kelas Hindu bawah dan didorong ke
selatan selama penaklukan Aria atas dataran Indo-Gangga. Perbedaan antara Aliran Tua dan
Aliran Liberal dapat ditemukan dari literatur Pali tentang Theravidin dan literatur Sanskerta
tentang Mahayanas. Sementara Theravidin memiliki penghormatan yang besar untuk pribadi
Buddha Gautama historis, ajarannya dan Ordo Buddha yang ia dirikan, Mahayana mengingatnya
sebagai salah satu dari banyak perwujudan Buddha dari sifat Buddha purba yang seharusnya
diajarkan secara berbeda menurut kebutuhan berbagai usia, mereka muncul, yang berarti bahwa
ada banyak Buddha sebelumnya. Ini tentu saja adalah doktrin yang diadopsi dari Buddha, untuk
menerimanya sebagai salah satu dari Avatar (inkarnasi) dari dewa Hindu Wisnu. Dalam timbal
balik pada doktrin Hindu yang dikembangkan kemudian bahwa Buddha adalah Avatar ke-9
Wisnu, seperti Krishna. Sekali lagi, sementara Theravidin berpegang pada pandangan bahwa
seorang penganut Buddha yang ideal adalah pengikut sejati dari jalan berunsur delapan yang
diucapkan oleh Buddha, para Mahayana percaya bahwa Buddha yang ideal adalah orang yang
telah bersumpah untuk menjadi Buddha yang diilhami untuk bekerja demi kebaikan orang lain
melalui enam kebajikan dari kedermawanan, moralitas, kesabaran, kekuatan, konsentrasi dan
kebijaksanaan. Gerakan Mahayan telah memasukkan ke dalam banyak sastranya kecenderungan
yang tumbuh dari tradisi India Utara selama abad pertama Sebelum Masehi dan abad kelima
Masehi, seperti yang dibuktikan dari literatur Sanskerta, Cina, dan Tibet. Meskipun ini tetap
Islamic Online University Aqidah 301
31
diklasifikasikan di bawah Vinaya (aturan monastik), Sutra (diskursus) dan Shastra (risalah
filosofis), subjek sering berbeda dari apa yang ditemukan dalam karya Pali. Wacana ini
merencanakan Buddha sebagai guru yang hebat dan dalam Sutra Mahayan yang khas, ia
digambarkan sebagai makhluk transenden dan abadi yang berkhotbah kepada para Buddha,
Bodhisattva, dewa, dan setengah dewa yang tak terhitung jumlahnya, bersama dengan para
murid manusia, di Shastra, berbagai argumen berputar di sekitar konsep-konsep realitas tertinggi
seperti kehampaan yang tidak dapat diungkapkan, kesadaran idealistik yang metafisik dan benar-
benar sangat berkualitas. Narasi-narasi Mahayan juga mengembangkan banyak mukjizat,
legenda, dan elemen lain dalam kehidupan pribadi Buddha.
Dari abad ketujuh Masehi hingga seterusnya asimilasi doktrin rahasia yang disebut
Tantrisme menjadi terkait dengan pengikut Buddha. Tantrisme muncul pertama di antara
pemeluk Hindu India sebagai ritual marjinal menggunakan Matra (mantra), Dhavani (suku kata
mistik), Mandala (diagram okultisme) dan Mudra (gerakan simbolik) untuk memperkuat
penghambaa para penyembah Hindu melalui keadaan mistis simbolis persatuan dengan dewa
dewa tertentu, dengan penekanan pada permaisurinya sebagai bagian dari kultus Shakti. Di
tempat dewa-dewa dan dewi-dewi Hindu mereka, umat Buddha menggantikan Buddha dan
Bodhisattva dengan mitos dewi mereka. Meditasi simbol itu dimaksudkan untuk mengarah pada
penyatuan batin dengan keilahian yang dianggap kebahagiaan spiritual tertinggi. Simbolisme
persatuan seksual digunakan untuk menunjukkan realisasi mistis utama. Hal ini membawa tidak
hanya kutukan dari kelompok-kelompok agama pada Agama Buddha, tetapi juga jatuhnya akhir
dari kultus agama Buddha menjadi induk Hindu itu sendiri melalui penerimaan bersama konsep
Buddha sebagai inkarnasi ke sembilan dewa Hindu Wisnu yang sebagian besar menjadi
berasimilasi dengan kultus daerah lainnya untuk mengembangkan budaya nasional dan cara
hidup bersama.
Islamic Online University Aqidah 301
32
Bab 3
Agama Kristen
Salah satu agama utama saat ini dengan pengikut melebihi satu seperempat miliar jiwa yang
hidup di hampir semua negara di dunia, agama Kristen yang muncul menjadi agama yang
berbeda jauh setelah kepergian Nabi Isa atau Yesus Kristus (‘alaihissalam), seorang nabi Allah,
dari dunia ini. Orang-orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus (‘alaihissalam) adalah putra
Allah yang kekal dengan alasan kelahirannya yang menakjubkan kepada Bunda Maria; bahwa
dia setara dengan Tuhan, yang adalah ayahnya; bahwa Tuhan, sementara menjadi satu dalam
Esensi adalah tiga dalam konsep pribadi Trinitas, dalam hubungan Bapa, Anak dan Roh Kudus;
dan bahwa Yesus (‘alaihissalam) dikirim ke bumi sebagai putra perwakilannya untuk hidup,
menderita sebagai manusia, dan mati di atas Salib di tangan lawan-lawannya demi menebus
dosa-dosa para pengikutnya. Menurut catatan yang ada, Yesus (‘alaihissalam) lahir di
Bethlehem Palestina pada masa pemerintahan Herodes Romawi, dan memberitakan Injil di
antara orang Yahudi lebih dari 2.000 tahun yang lalu. “Jangan berpikir bahwa aku telah datang
untuk menghapus hukum dan para nabi; Aku datang bukan untuk menghapuskan mereka tetapi
untuk memenuhinya," katanya menekankan bahwa dengannya rantai para nabi dan hukum tidak
dihapuskan, tetapi hanya menjadi terpenuhi. Yesus Kristus (‘alaihissalam) memberitakan
Injilnya selama sekitar tiga tahun hanya sebelum dia diangkat oleh Sang Pencipta pada usia awal
tiga puluh tiga tahun.
Kehidupan Yesus (‘alaihissalam)
Informasi utama tentang kehidupan Yesus (‘alaihissalam) terkandung dalam catatan
empat penginjil awal Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, dikenal dan diterima oleh Gereja
Kristen sebagai Injil, ditemukan di bagian awal dari Perjanjian Baru dari Alkitab Kristen.
Beberapa kilasan pendek ke dalam kehidupan awal Yesus (‘alaihissalam) hanya ditemukan di
dua dari mereka, yaitu Injil menurut Matius dan Lukas. Namun, ada versi kelima dari Injil oleh
Barnabas, yang menurutnya ia sendiri adalah salah satu dari dua belas murid Yesus
(‘alaihissalam) selama masa hidupnya. Tetapi ini tidak diterima sebagai kanonik oleh Gereja-
Islamic Online University Aqidah 301
33
Gereja Kristen. Versi ini berisi lebih banyak informasi tentang hari-hari awal Yesus
(‘alaihissalam) daripada yang lain.
Namun demikian, ada satu kontradiksi yang tidak bisa dianggap remeh antara laporan
Matius dan Barnabas di satu sisi dan kisah Lukas di sisi lain. Kedua penginjil pertama
menyebutkan pelarian Joseph, suami Maria, dengan dia dan bayi suci Yesus (‘alaihissalam) ke
Mesir segera setelah kelahiran anaknya, meskipun Lukas tidak menyebutkan kejadian ini sama
sekali. Menurut Matius dan Barnabas, atas dasar wahyu ilahi setelah kelahiran Yesus
(‘alaihissalam) bahwa bayi itu mungkin akan dibunuh oleh Herodes, maka Joseph membawanya
beserta bayinya dari Bethlehem ke Mesir untuk tinggal sementara dan bahwa mereka kembali ke
Nazareth di Galilea hanya setelah kematian Herodes. Di sisi lain, Lukas melaporkan bahwa
setelah kelahiran Yesus (‘alaihissalam) di Bethlehem, keluarga Joseph kembali ke Nazaret untuk
tinggal di sana.
Sementara Injil menurut Matius dan Lukas menjelaskan secara singkat keadaan yang
menuntun pada konsepsi yang menakjubkan tentang Yesus (‘alaihissalam) kepada Perawan
Maria dan juga kisah kecil dalam hidupnya, mereka membahas secara lebih detail dengan
peristiwa-peristiwa dan mukjizat yang menyertai hidupnya selama pelayanan kenabiannya
sekitar tiga tahun, termasuk penyaliban, kebangkitan, dan (dugaan) kenaikannya; namun, Injil
menurut Markus dan Yohanes hanya menyinggung peristiwa pada masa periode kenabiannya.
Injil menurut Barnabas di sisi lain, sementara memberikan penjelasan singkat tentang konsepsi
yang menakjubkan, kelahiran dan kehidupan awal Kristus (‘alaihissalam) juga berkonsentrasi
dengan sangat rinci pada peristiwa yang terjadi selama misi kenabiannya serta pada pesannya.
Namun, ada perbedaan besar antara "Injil Kanonik" dan "Injil Barnabas” dalam hal itu,
sementara keempatnya tidak hanya menyandarkan kepada Yesus (‘alaihissalam) sifat keilahian
dan kesatuan dengan Tuhan tetapi juga tegas pada peristiwa-peristiwa penyaliban, sementara
Injil Barnabas, menyangkal semua kejadian itu dan menegaskan bahwa orang lain-lah yang
disalib, bukan Yesus (‘alaihissalam) dan bahwa Yesus bahkan menegur mereka yang mencoba
untuk menyandarkan sifat keilahian kepadanya.
Secara umum diterima bahwa keadaan kelahiran Yesus (‘alaihissalam) oleh ibunya,
Perawan Maria, dan kehidupannya sebelumnya serta selama misi kenabiannya penuh dengan
mukjizat. Injil mengatakan bahwa Yesus (‘alaihissalam) dikandung oleh ibunya secara ajaib
sebelum pernikahannya dan bahwa suaminya, Joseph sang tukang kayu, yang baru mengetahui
kehamilannya ini hanya setelah pernikahan, memutuskan untuk menerima sepenuhnya tanpa
menyebabkan celaan dan mempermalukan dirinya sendiri, kepada dia dan keluarga mereka,
sebagai hasil dari wahyu ilahi bahwa konsepsi bayi telah terjadi sebelum pernikahan melalui
kehendak ilahi dan tanpa proses kontak normal dengan manusia. "Tidak diragukan lagi
keyakinan yang kuat di antara ribuan manusia di masa-masa sulit itu dan juga di antara jutaan
orang yang pernah ada adalah kesaksian yang luas akan kebesaran Yesus (‘alaihissalam) sebagai
nabi Allah dan iradah Allah. Juga diterima bahwa bahkan setelah kelahiran mukjizat-mukjizat
Yesus (‘alaihissalam) yang dikaitkan dengannya sepanjang masa hidupnya yang pendek sekitar
Islamic Online University Aqidah 301
34
tiga puluh tiga tahun yang hanya sepersepuluh yang dihabiskan dalam kenabian. Namun,
mukjizat-mukjizat itu sejalan dengan misi pengajaran dan pengabarannya sebagai sarana untuk
meyakinkan orang Yahudi akan kekuatan supernya sebagai nabi Allah. Ini adalah mukjizat yang
berbicara saat masih bayi di buaian; penyembuhan; membangkitkan orang mati untuk hidup;
menyediakan makanan dalam waktu singkat kepada sejumlah besar orang; dan seterusnya, tentu
saja semua dengan pertolongan ilahi.
Ajaran Yesus (‘alaihissalam)
Bahwa Yesus Kristus (alaihissalam) tidak membawa agama baru, tetapi hanya datang untuk
mengumpulkan domba yang hilang di antara para pengikut Musa (‘alaihissalam) yang telah
meninggalkan hukum dan perjanjian, bukan menghapuskan tetapi hanya memperkuat beberapa
hukum Allah yang ditetapkan oleh Musa, dan nabi-nabi lain sebelum dia (‘alaihissalam)
diperkuat oleh khotbah utama nabi itu sendiri: "Janganlah kamu berpikir bahwa Aku telah datang
untuk menghapuskan hukum dan para nabi; Aku datang bukan untuk menghapusnya, tetapi
untuk memenuhinya.'' Selanjutnya, kenyataan bahwa Perjanjian Lama, yang merupakan bagian
pertama dari Alkitab Kristen diadopsi dari Pentateukh Yahudi, yang seharusnya menjadi
kumpulan Hukum Musa dan Perjanjian yang diketahui sebagai Taurat, menunjukkan bahwa pada
dasarnya tidak ada hukum baru yang secara radikal berbeda dari hukum spiritual, moral dan
sosial yang telah diberikan kepada bangsa Yahudi yang disebut anak-anak Israel yang ditentukan
oleh Yesus (‘alaihissalam). Dari Injil juga terlihat bahwa selain menunjukkan cara-cara untuk
menghindari sebab-sebab yang mendorong perbuatan jahat dan dosa terlarang yang hukumannya
ditentukan dalam Taurat, Yesus Kristus (‘alaihissalam) tidak memperkenalkan perubahan apa
pun di dalam Taurat yang sudah ada Hukum Musa yang mengatur kehidupan sosial dan konsep
spiritual para pengikutnya. Pada dasarnya, oleh karena itu, Yesus Kristus (‘alaihissalam) tetap
menjadi nabi terakhir atau Mesias yang dijanjikan dari orang-orang Yahudi dalam rantai nabi
dari Musa (‘alaihissalam) ke bawah. Dalam Injil tidak ada Yesus Kristus (‘alaihissalam) yang
mengklaim bahwa ia adalah seorang nabi bagi seluruh dunia. Sebaliknya, seperti yang ditemukan
dalam Yohanes 15: 25-26; 15: 26-27 dan 16: 7-11, dan lebih khusus lagi dalam Injil Barnabas,
Yesus (‘alaihissalam) telah meramalkan kedatangan seorang "Penasihat yang akan meyakinkan
dunia akan dosa dan kebenaran serta penghakiman... Ketika roh kebenaran datang, dia akan
membimbing kalian ke dalam semua kebenaran; karena dia tidak akan berbicara dari pikirannya
sendiri tetapi apa pun yang dia dengar maka akan dia sampaikan dan dia akan menyatakan
kepada kalian tentang hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan
menerima apa yang disampaikan padaku dann memberitakan kepada kalian…” Ini jelas
menunjukkan Yesus (‘alaihissalam) memaksudkan akan datangnya nabi lain setelahnya untuk
meyakinkan dunia agar mengikutinya akan datang dan bahwa " jika (Yesus) (‘alaihissalam)
tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang sehingga akan lebih baik bagi mereka jika ia pergi.”
Baik Injil yang telah dianggap sah maupun Injil Barnabas, keduanya menjabarkan aturan-aturan
religius yang sama dengan aturan-aturan Yahudi perihal kehidupan bermasyarakat, peribadatan,
Islamic Online University Aqidah 301
35
dan lain-lain. Injil juga tidak menyebutkan bahwa Yesus Kristus (‘alaihissalam) pernah
mengisyaratkan cara beribadah yang berbeda selain dari apa yang telah digambarkan dalam
Matius. 7:6-13. Selanjutnya, isi Matius. 19:16-20 mengatakan bahwa Yesus tidak hanya sekedar
bersabda “jika engkau mau hidup selamanya, engkau harus taat pada hukum-hukum itu”, tetapi
dia juga menjelaskan “hukum-hukum” yang ia maksud tersebut: “Jangan engkau membunuh,
jangan engkau berzina, jangan engkau mencuri, jangan engkau berdusta terhadap orang lain,
hormatilah ayahmu dan ibumu, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Sebagaimana yang diketahui oleh penganut Perjanjian Lama, hukum-hukum ini bersifat penting
dalam menjalankan kehidupan sosial yang sesuai dengan Hukum Musa (‘alaihissalam). Matius
22:37-40 meriwayatkan bahwa Yesus (‘alaihissalam) pernah berkata “Pada kedua hukum inilah
tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”. Riwayat ini, serta apa yang dikatakan
dalam Matius 5:17-18, dimana Yesus diriwayatkan pernah berkata ketika Khotbah di Bukit;
“Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” dan apa yang
ditunjuk sebagai “Hukum Baru” dalam Matius 5:21-48, semuanya secara jelas menunjukkan
bahwa Yesus (‘alaihissalam) tidak membawa “Hukum Baru” apapun setelah meniadakan hukum
Taurat yang diturunkan oleh Tuhan untuk umat Israil melalui Musa (‘alaihissalam), tetapi yang
sebenarnya dilakukan oleh Yesus (‘alaihissalam) ialah menguatkan dan menjelaskan beberapa
hukum sebelumnya yang masih belum jelas. Lebih jauh lagi, peringatan yang diriwayatkan telah
disampaikan oleh Yesus (‘alaihissalam) dalam Matius 23:1-36 kepada orang-orang Farisi dan
kaum terpelajar, menunjukkan bahwa intelegensi kaum Yahudi berasal dari tulisan serta
semangat ajaran Musa (‘alaihissalam) dan para nabi. Sehingga, sudah jelas bahwa menurut
Perjanjian Baru itu sendiri, misi utama Yesus sebagai utusan Tuhan ialah untuk menuntun umat
Israil kembali kejalan dengan moral, rohani, dan cara bermasyarakat yang benar. Misi ini hanya
ditujukan untuk kaum Yahudi semata dan bukan ditujukan untuk seluruh dunia, seperti yang
ditunjukkan setelah konversi Saul (Paulus) sekitar abad 33 M.
Dituliskan dalam Kisah Para Rasul 11:21-26, bahwa di Antiokhia-lah, pengikut Kristus
(‘alaihissalam) yang untuk pertama kalinya dipanggil dengan sebutan “Kristen”. Demikian pula,
deretan pengikut Yesus membuka diri pada orang-orang (non-Israil) dan orang-orang kafir,
bahkan membebaskan mereka dari penyunatan. Mereka melakukan hal ini dengan berlandaskan
kepada deklarasi Santo Petrus, yang dibuat berdasarkan dari kesimpulan yang ia temukan setelah
mendapatkan penglihatan dalam mimpinya dimana Roh Kudus jatuh kepada dirinya ketika ia
sedang berkhotbah (Kisah Para Rasul 10:44-48). Perintah umat kristen untuk dapat memakan
makanan apapun termasuk makanan yang dilarang dalam ajaran Yahudi, juga berasal dari ilham
yang di dapat Santo Petrus dalam keadaan lapar, dimana dia melihat “dari langit turun selembar
kain yang amat lebar. Di atas kain itu terlihat aneka jenis bintang. Bintang berkaki empat,
binatang melata, dan jenis burung" dan selama tiga kali, terdengar suara memerintahkan Petrus
“untuk menyembelih dan memakan hewan-hewan ini karena Tuhan telah menghalalkannya”
(Kisah Para Rasul 10:10-16). Riwayat dan kesimpulan yang didapatkan dari Markus 7:19
sepertinya telah dijadikan asumsi oleh gereja untuk membuktikan bahwa pengikut Yesus
(‘alaihissalam) memiliki perintah untuk memakan semua makanan yang dilarang dalam hukum
Islamic Online University Aqidah 301
36
Musa dan bahwa ajaran Yesus (‘alaihissalam) juga ditujukan untuk orang-orang kafir non-
Yahudi. Tetapi, apa yang tertulis dalam Markus 7:19 dan Kisah Para Rasul 10:10-16 perihal
makanan terlarang, bertentangan dengan apa yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 15:28-29
dimana dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa Konsili Yerusalem telah mengizinkan kaum kafir
non-Yahudi dalam Antiokha, Suria, dan Kilika untuk dapat memakan semua makanan selain
yang berasal dari hewan yang mati dicekik serta yang dikorbankan untuk dewa dengan darah.
Sehingga jelas bahwa, bahkan Konsili Yerusalem pun tidak menghalalkan semua makanan untuk
pengikut Yesus. Pembebasan kaum kafir dari kewajiban sunat serta izin untuk memakan
makanan terlarang yang digambarkan dalam Ulangan 14:3-21 Perjanjian Lama, berasal dari
mereka sendiri, bukan dari Yesus Kristus. Selanjutnya, membaca Markus 7:14-18 dengan teliti
akan menunjukkan bahwa yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut bukan merujuk pada
makanannya, tetapi kepada “segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan yang
timbul dari hati orang”, Markus 7:19. Hal ini juga dibuktikan dari penjelasan Yesus
(‘alaihissalam) sendiri, seperti yang dapat ditemukan dalam Markus 7:20-23. Sangat
disayangkan bahwa mimpi yang dialami Petrus dalam keadaan lapar, diinterpretasi salah sebagai
larangan untuk memakan hewan-hewan terlarang, bukan sebagai anjuran untuk menyembelih
dan memakan hewan-hewan tersebut seperti yang diperbolehkan dalam Hukum Musa.
Seperti yang tertulis dalam Injil, banyak ajaran Yesus tertulis dalam bentuk perumpaan
yang tidak terlalu jelas. Selain perumpaan-perumpaan ini, dalam Injil juga berisi aturan-aturan
berupa instruksi dan peringatan serta ceramah, contohnya seperti Khotbah di Bukit. Beberapa
ajaran ini mengklarifikasi dengan jelas Hukum-Hukum Musa terdahulu yang ada dalam
Perjanjian Lama, seperti ajaran perihal perzinaan (Matius 5:27-30), mengumpat (Matius 5:33-35)
cinta dan benci (Matius 5:43-48), ketaatan dan memberi bantuan (Matius 6:1-4), berdoa,
memaafkan, dan berpuasa (Matius 6:7, 14-18), dan lain-lain. Meskipun demikkian, kerangka
utama Hukum Musa dalam Perjanjian Lama masih berlaku pada beberapa pengikut Yesus
(‘alaihissalam), tidak hanya selama masa kenabiannya tetapi juga beberapa dekade setelah
kebangkitannya. Inilah yang mungkin menjadi alasan mengapa Yesus memerintahkan
pengikutnya untuk hanya melakukan “Doa Tuhan” umum sesuai dengan apa yang ada dalam
Matius 6:9-13, bukan doa baru yang terpisah sendiri.
Status Injil
Meski keempat versi Injil dalam Perjanjian Baru dan Alkitab dianggap sebagai Kanon
oleh Gereja, semua versi injil ini tidak dapat membuat orang mampu menghadapi masalah-
masalah semasa hidup Yesus (‘alaihissalam) secara beruntutan, juga tidak memberikan
gambaran mengenai apa cara hidup yang benar dan berbeda secara rohaniah dengan hukum-
hukum Musa yang mengatur cara hidup Yahudi. Selama hidup Yesus (‘alaihissalam), dia tidak
pernah memberikan perintah untuk membangun gereja atau tempat ibadah yang khusus untuk
pengikut dan umatnya saja. Yesus (‘alaihissalam) sendiri melakukan doanya secara diam-diam
Islamic Online University Aqidah 301
37
dan jauh dari para pengikutnya. Ketika melakukan khotbah di Yerusalem serta di tempat lain
pun, dia melakukannya di daerah sekitar sinagoga Yahudi. Bahkan riwayat empat penginjil
perihal beriman pada Yesus (‘alaihissalam) serta pada Tuhan pun, masih belum jelas.
Contohnya, dalam Markus 14:62, Yohanes 10:37, dan Matius 16:13-17, Yesus (‘alaihissalam)
diriwayatkan menyebut dirinya sebagai “anak Tuhan”, dalam Lukas 22:70-71, bantahan Yesus
(‘alaihissalam) pada hakim: "Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah."
menunjukkan bahwa bukan dirinya yang mengaku sebagai anak Tuhan. Dalam ayat-ayat lain,
testimoni Yesus (‘alaihissalam) yang mengatakan bahwa surga adalah “Bapamu” (Matius 5:16,
6:6, 7:11); “Bapaku” (Matius 7:21); serta Berbahagialah orang yang membawa damai, karena
mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9); semua ini menunjukkan bahwa bahkan
menurut Injil pun, Yesus hanya sekedar mengemukakan sebuah konsep universal yang umum
saja, yang ada dalam Ulangan 14:1 : “Kamulah anak-anak TUHAN, Allahmu”. Kata Tuhan
disini memiliki makna yang sama dengan ajaran filsafat-filsafat Yunani yang menempatkan
Tuhan sebagai pencipta segalanya. Maka, Tuhan merupakan Bapa dari Yesus (‘alaihissalam)
yang juga berarti bahwa Tuhan adalah Bapa segala hal dalam alam semesta ini. Perkaataan ini
merujuk pada makna filosofis akan kecintaan dan kasih sayang Tuhan pada umat manusia yang
sama bagaikan Bapa pada anaknya, bahkan melebih dari itu, karena Dialah satu-satunya pencipta
dan pengatur alam semesta. Perlu diketahui, banyak contoh kejadian dimana Injil mengakui
bahwa Yesus Kristus (‘alaihissalam) merujuk dirinya sebagai “anak Manusia.”
Sehingga, Injil menunjukkan dua pesan yang saling berlawanan dimana dalam satu sisi
mengatakan bahwa Yesus (‘alaihissalam) adalah “anak Tuhan” tetapi di sisi lain mengatakan
bahwa Yesus (‘alaihissalam) hanyalah “anak Manusia”. Gambaran-gambaran Injil tentang Yesus
Kristus (‘alaihissalam) patut untuk diragukan “Aku Anak Allah” (Yohanes 10”37); "Aku dan
Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30); “Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi,
orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan
kamu salibkan” (Matius 23:34); “Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yohanes 10:38);
ketidakkebaratan Yesus (‘alaihissalam) ketika dipanggil oleh Tomas dengan panggilan “Tuanku
dan Tuhanku” (Yohanes 20:29); balasan Yesus (‘alaihissalam) yang menandakan
persetujuannya terhadap panggilan tersebut “Terberkatilah dirimu Barjona”, kemudian Simon
Petrus membalas lagi pada Yesus (‘alaihissalam), “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang
hidup!” (Matius 16:15017) dan seterusnya. Semua ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Yesus
Kristus (‘alaihissalam) telah menobatkan dirinya menyatu dengan Tuhan Sang Maha Kuasa,
suatu hal yang sangat bertentangan dengan konsep “Satu-Satunya Tuhan Angkuh”, yang
merupakan bentuk pelanggaran yang telah berulang-ulang dibahas dalam Perjanjian dan Taurat
dimana kaum Israil telah diperingatkan untuk selalu menjauhi larangan itu, seperti apa yang ada
dalam Ulangan 5:9 Perjanjian Lama, yang juga merupakan bagian Alkitab Kristen. Jadi, identitas
Yesus apakah dia manusia biasa atau anak Tuhan atau nabi atau bahkan apakah dia adalah
Tuhan itu sendiri tidak dapat diketahui dengan jelas melalui keempat Injil ini, menyebabkan
para pembaca kebingungan.
Islamic Online University Aqidah 301
38
Selanjutnya, pembahasan dalam Markus 10:11-12; "Barangsiapa menceraikan isterinya
lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si
isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah." dan dalam
Markus 7:18-19; “Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.” (termasuk daging
mayat, darah, babi, dan makanan-makanan lain yang diharamkan dalam Hukum Musa), kedua
pembahasan ini tidak sejalan dengan perkataan Yesus (‘alaihissalam) sendiri: “Janganlah kamu
menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku
datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:31-32).
Bahkan perbedaan riwayat juga terjadi dalam pembahasan perihal urusan perceraian, dalam
Matius 6:31-32, Yesus (‘alaihissalam) diriwayatkan bersabda bahwa “Tetapi Aku berkata
kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan
isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.”
Bagian pengecualian “kecuali karena zinah” ini tidak ada dalam riwayat Markus 10:11-12.
Karena banyaknya kontradiksi yang terjadi, terasa sulit untuk percaya bahwa empat versi Injil
dalam Alkitab adalah kebenaran dari Tuhan yang sesungguhnya, seperti yang disabdakan oleh
Yesus (‘alaihissalam), yang memang adalah rasul Allah.
Dari gaya penulisan empat Injil ini serta dari ayat pembukanya dan berdasarkan dari
riwayat Lukas dan Kisah Para Rasul Perjanjian Baru, terlihat bahwa keduanya atau mungkin
seluruh isi Injil ditulis oleh orang yang sama, yang ada bersama dengan Paulus dan pengikutnya,
atau mungkin oleh Teofilus. Pastinya hal ini tidak terjadi sebelum tahun 62 S.M., karena
keberangkatan Paulus menuju Roma bersama dengan si penulis untuk membujuk Caesar secara
langsung mengenai hukuman Paulus untuk ke Yerusalem, terjadi pada tahun yang sama, juga
karena berbagai surat tulisan Paulus, Petrus, Judas dan Yanis untuk kaum kafir dan Yahudi yang
ditemukan dalam bagian terakhir Perjanjian Baru, terbukti ditulis beberapa tahun kemudian
setelah kejadiannya. Sehingga, kemungkinan waktu kepenulisan Perjanjian Baru terjadi pada
tahun 70 M. atau jauh setelahnya. Dari surat Santo Petrus untuk Romawi, ditemukan bahwa surat
tersebut ditulis oleh Tertius yang sepertinya menjadi tamu Gaius bersama dengan Paulus dan
seluruh gereja. Tidak ada tanda apapun yang menunjukkan estimasi waktu kapan ditulisnya
Perjanjian Baru tersebut Tetapi dalam Fragmen Murotori tulisan Ludovico Antonio Muratori
yang diterbitkan dalam bahasa Latin, menunjukkan nama-nama buku yang dibaca Gereja
Romawi sekitar pada tahun 200 M. Dikatakan bahwa Markus, yang menyusun Injil, adalah
murid Santo Petrus, serta bahwa Lukas adalah murid Santo Paulus. Terdapat kesalahpahaman
bahwa penyusun Injil lain, Matius dan Yohanes merupakan bagian dari 12 murid Yesus. Hal ini
tidak benar adanya karena Injil versi Matius merujuk pada Matius, salah satu murid Yesus yang
sebenarnya, sedangkan Injil versi Yohanes merujuk pada seorang pengikut biasa: Simon, anak
Yohanes. Selain itu, Markus diriwayatkan telah menulis Injil versinya sendiri dalam bahasa Latin
sekitar tahun 65-70 S.M., Injil versi Lukas ditulis sekitar tahun 80-90 S.M., versi Matius sekitar
tahun 80-100 S.M, dan versi Yohanes sekitar tahun 100-140 S.M.
Islamic Online University Aqidah 301
39
Telah diketahui bahwa masih ada lebih banyak lagi versi Injil lain yang telah ada jauh
sebelumnya. Menurut Lukas, apa yang tertulis dalam paragraf pembuka Injil, merujuk pada
Teofilus sebagai penulisnya. Surat-surat Paulus yang ditulis untuk jemaat di Korintus (Korintus
1:10-17; 4-15-17; dan 7:17-18) serta surat-suratnya untuk jemaat di Galatia (1:6-13) dimana
surat-surat ini dipenuhi dengan frasa-frasa bermakna kuat dan empatik seperti: “Jadilah
pengikutku”, “tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan
kepadamu”, “Ini adalah aturanku untuk semua gereja”, “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas
berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti
suatu injil lain.” dan frasa-frasa lainnya membuktikan bahwa memang terdapat lebih dari satu
versi Injil yang saling bertentangan satu sama lain dan bahkan sudah ada pada masa-masa awal
evangelis. Hal ini tidak mengejutkan, karena kenaikan derajat Paulus yang awalnya pengikut
biasa menjadi rasul kristus berlandaskan pada mimpinya tentang Yesus Kristus (‘alaihissalam),
dimana dia mendapat mimpi ini setelah ia melakukan pengumuman di Damaskus mengenai
Yesus (‘alaihissalam): “Dia adalah anak Tuhan. Namun, juga terdapat beberapa murid Yesus
(‘alaihissalam) yang pergi bersamanya dan dijadikan rasul oleh Yesus (‘alaihissalam) sendiri
secara pribadi karena mereka menyebarkan ajarannya. Ajaran yang pastinya berbeda dengan
ajaran yang diterima oleh Paulus melalui mimpinya, yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Pada tahun 200 Masehi, tiga puluh empat Alkitab dan seratus tiga belas surat yang semua dalam
bahasa Yunani, diketahui telah dimasukkan dalam buku-buku agama pada masa itu. Namun
demikian, sebagaimana dinyatakan lebih lanjut dalam bab ini, pada tahun 325 Masehi, Konsili
Nicea menyatakan bahwa semua yang ditemukan dalam Perjanjian Baru adalah pemalsuan,
kecuali keempat versi Injil dan surat-surat yang sekarang; sisanya diperintahkan untuk
dihancurkan, termasuk Injil Barnabas.
Tidak seorang pun boleh yakin sama sekali apakah versi Injil yang diatribusikan kepada
Barnabas adalah Injil Yesus yang sebenarnya (‘alaihissalam) karena alasan yang sama seperti
yang dijelaskan di atas. Namun, bagi orang yang berpikiran tidak memihak, ada beberapa poin
penting di dalamnya yang mungkin memberinya status lebih tinggi. Ini adalah dokumen yang
lebih logis dan terus-menerus menyentuh pada keadaan yang menyebabkan konsepsi Yesus oleh
Bunda Maria, kelahiran Yesus (‘alaihissalam), hari-hari awal, pelayanan kenabiannya, dan
pengangkatannya secara pribadi untuk Allah. Dalam istilah yang tegas, sementara dokumen ini,
yang menurut pengarangnya adalah hasil dari yang telah didiktekan oleh Yesus (‘alaihissalam)
dalam kapasitasnya sebagai salah satu dari kedua belas murid tuannya sendiri, menyangkal
keilahian Yesus (‘alaihissalam) serta penyaliban-nya, dan juga menegaskan bahwa ia adalah
seorang anak mukjizat yang dikandung dan dilahirkan di bawah kehendak Allah (seperti dalam
kasus Adam (‘alaihissalam) yang tentu saja, tidak memiliki ayah atau ibu) bahwa ia adalah
seorang nabi yang ditugaskan untuk membimbing anak-anak Israel yang berdosa ke dalam
wilayah Hukum Musa, dimodifikasi untuk "pemenuhan" sesuai dengan waktu tetapi di dalam
yurisdiksi Hukum dan para nabi. Kenyataannya, ketika seseorang membaca versi Injil ini, itu
memberi kesan bahwa Yesus Kristus (‘alaihissalam) berkhotbah kepada umat Yahudi bahwa dia
telah tiba untuk menghidupkan kembali iman kepada Satu Tuhan dan ketaatan pada Perintah
Islamic Online University Aqidah 301
40
Tuhan dalam surat dan jiwa yang telah mereka abaikan di banyak waktu dalam sejarah lama
mereka, dan oleh karena itu mereka harus menjadi orang beriman sejati melalui pertobatan
karena Kerajaan Tuhan sudah dekat. Tetapi sangat disayangkan, versi Injil ini ditolak oleh
gereja-gereja.
Meskipun demikian, cukup aneh bahwa di mana pun dalam Injil yang diakui oleh Gereja
tidak ada yang menyebutkan bahwa informasi yang terkandung di dalamnya didasarkan pada
konsensus dari sepuluh atau sebelas murid Yesus (‘alaihissalam) yang baik dan tentu saja tidak
pada dua yang paling awal dari mereka. Simon, dipanggil Peter, dan Andrew. Khususnya
demikian karena pelayanan kenabian Yesus (‘alaihissalam) terbatas pada periode yang sangat
singkat dari tiga tahun saja. Sekali lagi, mengingat bahwa setidaknya sepuluh dari dua belas
muridnya adalah benar dan seperti yang dilaporkan dalam Mat. 6:20, Markus 8: 2730 dan Lukas
9:21 dari Injil, kemudian Yesus (‘alaihissalam) sendiri telah memerintahkan murid-muridnya
"untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang dia (menjadi Kristus)," tampaknya cukup misterius
bagaimana murid sejatinya yang pernah berani mengungkapkan informasi rahasia ini kepada
orang lain melawan arahan tegas dari tuannya untuk tidak melakukannya. Juga tidak dipahami
bagaimana begitu banyak laporan yang bertentangan bahkan pada masalah iman dan
kepercayaan kepada Tuhan dan Kristus (‘alaihissalam) dapat menjalar ke empat atau lima
informasi yang tersedia tentang Yesus (‘alaihissalam) dan ajaran-ajarannya dalam waktu yang
singkat. Ini juga cukup misterius bagaimana Injil Yesus, nabi Allah (‘alaihissalam), yang
merupakan wahyu yang tidak lain dari Tuhan, tidak dapat dipertahankan setidaknya dalam
ingatan beberapa muridnya yang telah lama bersamanya ketika Injil telah diwahyukan selama
periode kenabian singkatnya selama tiga tahun untuk ditranskripsikan paling tidak segera setelah
periode kenaikannya secara kata demi kata pada orang pertama. Alih-alih para ahli tulis di antara
para pengikutnya mempersiapkan mereka selama hampir satu abad kemudian sebagai kisah-
kisah yang berbeda dalam kisah-kisah dari orang ke orang bahkan dalam masalah iman. Jadi,
keaslian laporan Injil yang tersedia saat ini tampaknya sangat diragukan secara logis.
Perbandingan antara Hukum Lama Taurat dan Hukum Baru Injil
Keyakinan bahwa Yesus Kristus (‘alaihissalam) telah membawa "Hukum Baru"
menggantikan Hukum Lama Taurat, sebagaimana ditafsirkan dalam Injil (Mat. 5: 21-48; Markus
7: 19-23; 10: 11-12, dan seterusnya), tampaknya telah didasarkan pada kesalahpahaman yang
serius. Paling baik, ajaran Yesus (‘alaihissalam) dapat dianggap sebagai amplifikasi dari
beberapa Hukum Lama tetapi tentu saja tidak sebagai amandemen apapun. Injil pergi jauh ke
dalam penghapusan sebab-sebab melakukan dosa-dosa di mana Torah telah menjatuhkan
hukuman. Mereka adalah amplifikasi yang lebih baik dari Sepuluh Perintah Allah, yang
berhubungan dengan cara menghindari melakukan dosa dalam pikiran, kata-kata, tindakan atau
bahkan memungkinkan suatu alasan untuk tetap. Injil mengesankan kebutuhan untuk mencintai
Tuhan dan tetangga, untuk menghormati orang tua; untuk melakukan perbuatan baik bukan
Islamic Online University Aqidah 301
41
untuk pamer kepada dunia, tetapi semata demi Tuhan; bukan untuk beribadah, berpuasa, dan
melakukan amal kebaikan sehingga orang lain harus melihat mereka; tidak hanya untuk
menjauhi perzinahan, tetapi bahkan tidak melihat atau memikirkan tindakan semacam itu dan
jika perlu untuk menghilangkan bagian tubuh yang mungkin menggoda seseorang untuk
melakukan dosa seperti itu; tidak menimbun kekayaan ketika saudara-saudara membutuhkannya;
untuk menahan diri dari kemunafikan dan mencari-cari kesalahan pada orang lain daripada
mencoba menjadikan diri sendiri sempurna dan seterusnya. Sebenarnya, ini adalah beberapa
Hukum Musa tentang pembentukan nilai-nilai moral dan spiritual. Dengan demikian, pandangan
yang benar adalah bahwa Injil Kristus (‘alaihissalam) telah mengklarifikasi modus operandus
dari hukum-hukum umum Perjanjian Lama. Sebaliknya, sangat disayangkan bahwa segera
setelah kepergian Kristus (‘alaihissalam), para pengikutnya termasuk anak-anak Israel serta
orang-orang non-Yahudi jatuh ke dalam penghujatan yang lebih dalam, setelah terlibat dengan
orang-orang kafir, Romawi, Yunani dan agama lain, serta filosofi. Meninggalkan monoteisme
yang ketat - "Hanya Satu Tuhan" yang diperintahkan pada anak-anak Israel - mereka memilih
kultus Trinitas, dimana Yesus (‘alaihissalam) tidak hanya disebut anak Tuhan tetapi
diperlakukan sebagai satu dengan Tuhan, dengan demikian menghapuskan Hukum dan
menentang Injil-Nya yang paling penting: "Janganlah kamu berpikir bahwa Aku telah datang
untuk menghapuskan hukum dan para nabi; Aku tidak datang untuk menghapusnya tetapi untuk
menggenapi mereka" (Mat 5:17); "Lebih mudah bagi langit dan bumi untuk berlalu, daripada
satu dari sedikit hukum yang gagal" (Lukas 16:17); "Karena ada tertulis bahwa kamu harus
menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya dia yang kamu sembah" (Matius 4:10); dan "Mengapa
kamu menyebut aku baik? Tidak ada yang baik, kecuali satu, itu adalah Tuhan" (Lukas 18:19).
Dengan demikian terlihat bahwa misi nyata dari Kristus (‘alaihissalam) adalah untuk
menghidupkan kembali cinta pada Allah serta pada tetangga dalam anak-anak Israel dan ketaatan
yang ketat terhadap perintah-perintah nyata yang diberikan oleh Allah kepada mereka melalui
Musa (‘alaihissalam) dalam surat dan jiwa, atau singkatnya, "untuk mengumpulkan domba yang
hilang kembali ke dalam kawanannnya sebagai gembala" dalam kapasitas nabi lain dan Mesias
Israel dalam hubungannya dengan yang terdahulu.
Sejarah Injil Saat Ini
Bahwa keempat Injil Perjanjian Baru yang ada bukan satu-satunya yang ada bahkan
selama masa Lukas terbukti dari pengenalan Injilnya (1: 1-4) dan bahwa semua itu terjadi bahkan
selama periode tiga tahun singkat dari misi kenabian Yesus (‘alaihissalam) belum tercatat dalam
Injil dilihat dari Yohanes 20:30. Ketika seseorang melihat ke dalam pertanyaan ini lebih dalam,
ditemukan pada Penurunan dan Kejatuhan Gibbon dari Kekaisaran Romawi bahwa 2048 uskup
telah dihimpun di bawah kepemimpinan Kaisar Konstantin pada tahun 325 M untuk memutuskan
masalah-masalah teologis dan juga untuk memilih buku-buku dari koleksi besar manuskrip yang
dalam penilaian mereka merupakan firman resmi dari Tuhan. Setiap orang dari keuskupan
Islamic Online University Aqidah 301
42
mencoba untuk melihat bahwa konsepnya yang telah ditentukan sebelumnya berlaku. Tetapi
Konstantinus menggunakan otoritas kekaisarannya dan mendiskualifikasi 1730 uskup agar tidak
memiliki suara apa pun dalam memutuskan pertanyaan itu. Langkah ini mengurangi semangat
para uskup yang tersisa yang dipilih oleh kaisar untuk tidak didiskualifikasi, dengan
pertimbangan bahwa mereka setuju dengan gagasan-gagasan yang diprakarsai oleh penguasa,
yang pada waktu itu bukan seorang Kristen. Ini disebut Konsili Nicea. Sekali lagi, dalam
bukunya Age of Reason, Thomas Fain mengatakan di halaman 92 bahwa Konsili Nicea dan
Laodicen diadakan sekitar tahun 350 Masehi dan bahwa buku-buku yang menyusun Perjanjian
Baru kemudian dipilih dengan "Yeas" dan "Nays," dan banyak sekali buku-buku yang
ditawarkan ditolak atas dasar mayoritas "Nays." Dikatakan bahwa dari sekitar lima puluh Injil,
hanya Matius, Markus, Lukas dan Yohanes yang dipilih dan sisanya dibakar. Kaisar Konstantin
kemudian memutuskan bahwa keputusan di atas dianggap sebagai sanksi oleh Kehendak Tuhan,
bahwa keempat Injil harus diyakini secara implisit sebagai firman Allah dan bahwa setiap orang
yang menemukanya baik memiliki atau menyembunyikan apa yang terkandung dalam salinan
Injil selain empat versi resmi akan dihukum mati karena memberitakan sesuatu selain dari firman
Tuhan. Dengan demikian, tunduk pada otoritas kekaisaran, para uskup bersumpah untuk
menghasilkan salinan pertama dari Perjanjian Baru. Selanjutnya, semua salinan kitab suci Ibrani
juga diperintahkan untuk dihancurkan. H.G. Wood mengatakan, "Materi dalam Injil sinoptik
sebagian besar tidak terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa pada tahun 79 M. Itu telah mengambil
bentuk dalam pengalaman generasi pertama orang Kristen sebelum kejatuhan Yerusalem. Urutan
di mana cerita-cerita tentang Yesus yang diceritakan dalam Injil jelas dalam ukuran besar dan
bervariasi dari satu Injil ke yang lain" (H.G. Wood, 14 7, Did Christ Really Live). Namun, tidak
ada keraguan bahwa Yesus Kristus (‘alaihissalam) adalah fakta dan bukan fiksi.
Mungkin karena orang Kristen awal percaya dan mengharapkan akhir. Segera dari dunia,
seperti yang terlihat dari I Kor. 7:26 31, Injil muncul sebagai literatur biasa yang tidak
metodologis untuk melayani hanya untuk periode singkat sementara saja dan khususnya karena
nubuatan: “Karena waktunya sudah dekat.” Sangatlah penting untuk menunjukkan di sini bahwa
Klemens Roma (tahun 97 Masehi) dan Polycorp (tahun 112 Masehi) mengutip perkataan Yesus
(‘alaihissalam) dalam bentuk yang berbeda dari yang ditemukan dalam Injil Kanonikal yang ada.
Dalam surat ketujuhnya, Polycorp banyak menentang "orang-orang yang memutarbalikkan
firman Tuhan dengan keinginan mereka sendiri," yang tampaknya merujuk pada tradisi lebih
awal dari Injil.
Injil Barnabas
Referensi telah dibuat sebelumnya untuk Injil Barnabas. Sangat menarik untuk mengetahui apa
itu dan di mana letaknya. Dikatakan bahwa versi Injil ini diterima sebagai kanonik di gereja-
gereja di Aleksandria sebelum keputusan Konsili Nicea pada tahun 325 M. Juga dinyatakan
bahwa Iranaeus (130-200 M) adalah pendukung monoteisme murni dan menentang Paulus yang
Islamic Online University Aqidah 301
43
memasukkan dokumen agama Roma kafir serta filsafat Platonis dan ia juga mengutip secara
ekstensif dari Injil Barnabas untuk mendukung pandangannya. Hal ini menunjukkan bahwa Injil
Barnabas beredar selama abad pertama dan kedua Masehi. Namun, seperti yang dikatakan
sebelumnya, Konsili Nicea telah memutuskan untuk menghancurkan semua Injil dan naskah
Ibrani asli selain dari empat yang berwenang, dekrit dikeluarkan bahwa siapa pun dalam
kepemilikan versi lain dari Injil harus dihukum mati. Meskipun demikian, salinan Injil Barnabas
diamankan pada tahun 383 Masehi oleh Paus yang menyimpannya di perpustakaan pribadinya.
Selama tahun 478 Masehi, selama pemerintahan Kaisar Zeno, sisa-sisa Saint Barnabas
ditemukan dan salinan Injil di tangannya ditemukan di dadanya, sebagaimana dicatat dalam Acia
Sanctorum Boland Junii Tbm II (Antwerp, 1698). Alkitab Vulgata yang terkenal tampaknya
didasarkan pada Injil ini. Selanjutnya, Fra Marino, seorang teman Paus Sixtus (1585-1590)
menemukan salinan Injil Barnabas di perpustakaan pribadi paus. Marino secara alami tertarik
padanya karena dia telah membaca tulisan-tulisan Iranaeus, yang mana Barnabas telah banyak
dikutip. Naskah Italia ini melewati tangan yang berbeda sampai mencapai "seseorang yang
memiliki nama dan otoritas besar" di Amsterdam yang dalam masa hidupnya, telah sering
mendengar harga tinggi untuk bagian penting sejarah ini. Setelah kematian "orang dengan nama
dan otoritas besar," yang ingin tetap anonim karena alasan yang jelas sejauh menyangkut Injil
ini, naskah tersebut kemudian menjadi milik J.E. Cramer, seorang anggota dewan Raja Prusia
pada tahun 1713. Cramer mempresentasikan manuskrip ini kepada seorang ahli buku terkenal,
Pangeran Eugene dari Savoy. Pada tahun 1738, bersama dengan perpustakaan pangeran itu
akhirnya menemukan jalannya ke Hofbibliothek di Wina, yang menjadi tempat manuskrip itu
tersimpan sekarang. Teks Latin ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Tuan dan
Nyonya Rogg, dicetak di Clarendon Press di Oxford dan diterbitkan oleh Oxford University
Press pada tahun 1907. Namun, terjemahan bahasa Inggris ini secara misterius menghilang dari
pasar. Akan tetapi dua salinan terjemahan ini, diketahui ada, satu di British Museum dan yang
lainnya di Library of Congress, Washington.
Dalam Miscellaneous Works-nya (diterbitkan setelah wafatnya pada tahun 1747) Toland
menyebutkan bahwa Injil Barnabas masih ada, (hlm. 380, Jilid I) Dalam bab lima belas ia
mengacu pada Keputusan Glasian tahun 496 C.E di mana "Injil Barnabas" termasuk dalam daftar
buku terlarang. Sebelum itu juga telah dilarang di tahun 465 Masehi oleh Paus Innocent serta
oleh Keputusan Gereja-gereja Barat yang dikeluarkan pada tahun 382 Masehi Barnabas juga
disebutkan dalam stichomythia dari Nicephorus, serial no. 3, Epistles of Barnabas, baris 1.300
serta dalam daftar Sixty Books: serial no. 17, Perjalanan dan Ajaran Para Rasul; no serial 18,
Epistles of Barnabas, serial no. 24, Injil menurut Barnabas.
Penjelasan singkat tentang Baranabas mungkin sesuai untuk dibahas di sini. Barnabas
pertama kali disebutkan dalam Perjanjian Baru dalam Kisah Para Rasul 4:32-37, dimana
disebutkan bahwa dirinya termasuk ke dalam salah satu jemaat awal Yesus Kristus
(‘alaihissalam). Ia seorang Yahudi suku Lewi dari Siprus yang diberi nama baru, Barnabas, yang
berarti “Putra Penghiburan” atau “Putra Pendorong” yang menjual semua ladang yang ia miliki
Islamic Online University Aqidah 301
44
dan memberikan seluruh uangnya pada para rasul demi menegakkan jalan Tuhan. Saulus saat itu
adalah seorang Yahudi berkebangsaan Romawi dari Tarsus dan menjadi jaksa pengikut Yesus
(‘alaihissalam). Dia berpindah agama menjadi Kristen (merubah namanya menjadi Paulus dan
kemudian menjadi Santo Paulus) setelah mendapat ilham penglihatan dimana ia melihat Kristus
dekat Damaskus menginginkan dirinya untuk bergabung menjadi pengikutnya. Saulus pergi ke
Yerusalem dan di sana ia berusaha bergabung dengan pengikut-pengikut Yesus (‘alaihissalam).
Tetapi mereka takut kepadanya, sebab mereka tidak percaya bahwa ia benar-benar telah menjadi
pengikut Yesus (‘alaihissalam). Tetapi Barnabas pun menerimanya dan membawanya kepada
rasul-rasul dan dari situ membantu dia ke Tarsus (Kisah Para Rasul 9:26-30). Mereka mengirim
Barnabas dari Yerussalem ke Antiokhia dan berangkat ke Tarsus untuk mencari Saulus. Ketika ia
menemukan Saulus, Barnabas membawanya ke Antiokhia (Kisah 11:19-26). Masing-masing
pengikut di Antiokha memutuskan untuk mengirimkan sebanyak-banyaknya yang dapat
diberikannya untuk membantu saudara-saudara seiman di Yudea. Mereka mengumpulkan uang
dan memberikannya kepada Barnabas dan Saulus. Kemudian Barnabas dan Saulus membawanya
kepada tua-tua di Yerusalem (Kisah 11:30). Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem,
setelah mereka menyelesaikan tugas pelayanan mereka. Mereka membawa Yohanes, yang
disebut juga Markus (Kisah 12:25). Kemudian, diriwayatkan bahwa: Pada waktu itu dalam
jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut
Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah
Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa,
berkatalah Roh Kudus: "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah
Kutentukan bagi mereka." Setelah berpuasa dan berdoa mereka meletakkan tangan ke atas
Barnabas dan Saulus lalu mengutus mereka berdua. Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas
dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus (Kisah 13: 1-4).
Ketika banyak orang di Listra menyebut Baranabas sebagi Zeus dan Paulus mereka sebut
Hermes dan ingin mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-
rasul itu. Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka, lalu terjun ke
tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru: "Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat
demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk
memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik
kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya ... dan
mencegah orang banyak mempersembahkan korban kepada mereka. (Kisah 14:11-18).
Kemudian, Paulus merujuk kepada ayat yang berbunyi "...Barnabas--tentang dia kamu telah
menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu"(Kolose 4:10), dan ayat yang
berbunyi "Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus,
Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan
dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak
bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;" (Galatia 2:9). Sehingga Barnabas,
sama seperti Saulus (Paulus), juga memiliki kedudukan penting sebagai rasul diantara pengikut-
pengikut awal Yesus (‘alaihissalam). Tetapi, dalam Injil versinya, Barnabas menyatakan bahwa
Islamic Online University Aqidah 301
45
dirinya merupakan salah satu dari 12 murid Yesus (‘alaihissalam) serta diperintahkan oleh Yesus
(‘alaihissalam) sendiri untuk menulis Injil dan hidupnya sendiri. Bahkan, nama-nama murid
pengikut Yesus (‘alaihissalam) (kecuali Tomas dan Simon orang Kanani) yang ditemukan dalam
Injil versi Matius dan Markus, sama dengan apa yang ada di dalam Injil versi Barnabas. Akan
tetapi, dalam Injil versi Barnabas, kedua murid Yesus (‘alaihissalam) (Tomas dan Simon)
diganti dengan Yudas (bukan Yudas Iskariot, sang pengkhianat) dan dirinya sendiri, Barnabas.
Dalam Injil versi Lukas, nama Yudas yang ada dalam Injil versi Barnabas juga ada dalam Injil
versinya, menggantikan nama Simon orang Kanani. Tetapi, nama Barnabas telah diganti dengan
Tomas. Sehingga, keputusan Konsili Nicea yang tidak mengakui Injil Barnabas merupakan suatu
keputusan yang cukup mengejutkan, melihat bahwa Injil Barnabas memiliki kedudukan yang
hampir sama dengan Injil-Injil lain di kalangan penganut ajaran Yesus (‘alaihissalam).
Jika kita membaca Injil Barnabas dengan teliti, kita dapat menemukan bahwa Injil
tersebut melingkupi hampir seluruh cerita hidup Yesus (‘alaihissalam), mulai dari proses
kelahirannya yang ajaib sampai pada pengangkatannya. Hal-hal yang dibahas dalam Injil
Barnabas memiliki banyak kemiripan dengan apa yang sebelumnya telah disebutkan dalam Injil-
Injil lain, khususnya dalam Injil versi Matius, termasuk kejadian Pelarian Joseph membawa
Maria dan bayi Yesus (‘alaihissalam) dari Bethlehem ke Mesir. Meskipun begitu, perbedaan
besar antara Injil Barnabas dengan Injil-Injil lain yang diakui oleh gereja ialah Injil Barnabas
secara kategoris mengatakan bahwa Yesus (‘alaihissalam) hanyalah seorang utusan Tuhan, dan
bahwa Yesus (‘alaihissalam) menegur pengikutnya jika mereka menyebutnya sebagai anak
Tuhan atau bahkan mempertuhankan dirinya. Bahkan, Injil Baranabas tidak membenarkan
riwayat penulis Injil-Injil lain yang mengatakan bahwa Yesus (‘alaihissalam) sendiri yang
menyebut dirinya sebagai anak Tuhan atau bahwa dia memiliki sifat-sifat ketuhanan dalam
dirinya. Dapat disimpulkan dengan jelas bahwa Yesus (‘alaihissalam) menyebut dirinya sebagai
utusan Tuhan untuk umat Israil dengan tugas menuntun mereka kembali kepada hukum yang
benar, sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh nabi-nabi pendahulunya. Apa yang tertulis
dalam Yohanes 14:25-26, 15:7-15, dan 15:26-27, membuktikan ramalan Yesus (‘alaihissalam)
tentang kedatangan utusan Tuhan yang akan menjadi “Sang Kebenaran”, “Sang Penghibur”,
“Sang Penasihat”, yang tidak akan hanya membenarkan Kristus, tetapi juga akan mengajarkan
pada seluruh dunia tentang dosa dan segala sesuatunya dan tentang apa yang akan datang nanti,
dan ajarannya bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi dari apa yang ia dengar (dari Tuhan).
Topik ini akan dibahas lebih jauh lagi dalam bab Studi Komparatif. Sangat disayangkan apa
yang dilakukan oleh pengikut Yesus (‘alaihissalam) terhadap ajaran-ajarannya. Setelah
diangkatnya Yesus (‘alaihissalam) ke langit, pengikut Yesus (‘alaihissalam) menuhankan
dirinya, menjadikan Yesus (‘alaihissalam) sebagai anak Tuhan yang memiliki kemampuan
Tuhan. Doktrin Trinitas mengabaikan perjanjian suci yang Tuhan telah turunkan untuk umat
Israil melalui nabi Musa: "Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang
pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat... dan ia membujuk: Mari
kita mengikuti allah lain ... dan mari kita berbakti kepadanya ... maka janganlah engkau
mendengarkan perkataan nabi itu ... sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui,
Islamic Online University Aqidah 301
46
apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu. TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu
harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu
berbakti dan berpaut. Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak
murtad terhadap TUHAN, Allahmu, ..." (Ulangan 13:1-5). Akibatnya, konsep Tuhan yang Esa
tidak dianggap lagi. Sangat disesalkan bahwa di masa sekarang ini, pengikut Yesus Kristus
(‘alaihissalam) menjadi penyembah salib dan menuhankan Yesus (‘alaihissalam), Bunda Maria,
dan santo-santo.
Perjanjian Lama
Bagian pertama Alkitab, yaitu Perjanjian Lama, disebut oleh Yahudi sebagai Kelima
Kitab Musa (Pentateukh) dan kitab-kitab lain seperti Kitab Zabur, diasosiasikan dengan sejumlah
nabi umat Israil antara Musa dan Yesus (‘alaihissalam). Ini menjadi bukti yang menunjukkan
bahwa Yesus (‘alaihissalam) adalah nabi utusan Tuhan yang diturunkan untuk menuntun umat
Israil, serta menunjukkan bahwa Hukum Taurat juga berlaku untuk pengikut Yesus Kristus
(‘alaihissalam).
Septuaginta adalah terjemahan tertua Perjanjian Lama, yang merupakan alkitab
terjemahan bahasa Yunani dari bahasa Ibrani yang dibuat pada abad ketiga sebelum Masehi.
Semenjak penemuan mesin cetak pada abad kelima belas Masehi, secara perlahan Alkitab pun
diterjemahkan ke hampir semua bahasa, dimana semua versi yang lengkap telah diterjemahkan
ke dalam sekitar 250 bahasa. Tetapi, Gereja Katolik Roma hanya menganggap Vulgata Santo
Hieronimus sebagai terjemahan resmi. Meski terjemahan Alkitab bahasa Inggris pertama dibuat
oleh John Wycliffe pada akhir abad keempat belas M., terjemahan Alkitab versi Raja James 1611
lah yang menyetandarkan semua versi terjemahan Alkitab. Alkitab versi Raja James ini dikenal
sebagai The Auothrized Version yang disusun oleh sejumlah skolastikus. Sejak saat itu, Alkitab
kemudian berkali-kali direvisi oleh dewan skolastikus, dimana versi terjemahan Amerika pun
dicetak di akhir tahun 1970.
Suatu hal yang mengejutkan bahwa, terlepas dari banyaknya riset dan revisi isi dan tema
Alkitab yang dilakukan berkali-kali selama berabad-abad oleh gereja-gereja Yahudi dan Kristen,
tidak ada seorang pun yang mampu mengidentifikasi banyaknya diskrepansi dan kontradiksi
dalam Alkitab, serta kesalahan besar yang dibuat oleh penyusun kitab pada ajaran yang ditujukan
untuk Yahudi dan Kirsten ini, dimana mereka menjadikan Peranjian Lama dan Perjanjian Baru
sebagai firman Tuhan yang tidak akan dapat tergantikan. Analisis dalam paragraf-paragraf di
bawah ini membuktikan bahwa, kedua Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah petunjuk dari
Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Musa dan Yesus Kristus (‘alaihissalam) untuk menjadi
hukum dan pedoman yang diperuntukkan pada umat Israil untuk menuntun mereka kembali ke
jalan yang sesuai. Meskipun begitu, tetap ada alasan untuk menerima bahwa segala hal yang ada
Islamic Online University Aqidah 301
47
dalam Alkitab adalah Firman Tuhan. Meskipun demikian, usaha yang dilakukan oleh para
penyusun di masa lalu untuk menyusun isi Alkitab se-sesuai mungkin dengan aslinya (sampai
saat ini, adalah versi Revised Standard Version yang disunting oleh John Stirling dan diterbitkan
oleh Lembaga Alkitab Britania dan Luar Negeri pada tahun 1952, yang menjadi referensi utama
saya) patut untuk dipuji.
Kepercayaan, Keimanan, dan Cara Hidup Kristiani
Yesus Kristus (‘alaihissalam) tidak pernah mengajarkan pada pengikutnya, kepercayaan
atau aturan-aturan dan cara hidup yang berbeda dengan ajaran Yahudi. Hal ini dapat dibuktikan
dari fakta bahwa Yesus (‘alaihissalam) melakukan khotbahnya di dalam sinagoga Yahudi, bukan
di suatu tempat penyembahan sendiri. Yesus (‘alaihissalam) juga melakukan doanya secara
rahasia dalam ruangannya, dia tidak pernah berdoa dalam gereja seperti yang dilakukan oleh
pengikutnya ketika di Antiokha dan setelah pengangkatannya. Kelahiran Yesus (‘alaihissalam),
penyutannya, dan pembatisannya, semua sesuai dengan apa yang ada dalam hukum dan tradisi
Yahudi. Jika penyunatan bukan merupakan suatu perintah untuk umat, maka Tuhan pastinya
akan memberitahu Bunda Maria sebelumnya untuk tidak menyunat Yesus (‘alaihissalam) karena
telah diriwayatkan bahwa, wahyu-wahyu penting dari Tuhan diturunkan pada Bunda Maria dan
Joseph sebelum dan setelah kelahiran Yesus (‘alaihissalam). Injil juga menyatakan bahwa orang-
orang yang mendengarkan Yesus (‘alaihissalam) (kebanyakan adalah Yahudi), merasa terkesan
dengan perkataanya. Ini jelas terjadi karena mereka berdosa tidak mematuhi “hukum Taurat dan
Perjanjian dengan Tuhan”. Keempat versi Injil serta Injil Barabas menguatkan fakta bahwa
pengikut Yesus (‘alaihissalam) sangat menaati hukum-hukum lama Yahudi. Bahkan, mereka
juga melakukan Sabat pada hari Sabtu, sama seperti Yahudi (Matius 28:1. Markus 16:1-2, Lukas
23:56, 24:1) dan bukan pada hari Minggu seperti yang dilakukan nantinya. Testimoni dalam
Kisah 1:6-7 Perjanjian Baru adalah satu lagi bukti meyakinkan bahwa Yesus Kristus
(‘alaihissalam) adalah utusan Tuhan yang ditujukan untuk Umat Israil. Ketika Kebangkitan
Yesus Kristus (‘alaihissalam), murid-muridnya bertanya, "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini
memulihkan kerajaan bagi Israel?" jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu,
yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.”, dimana setelah itu, Yesus (‘alaihissalam)
diriwayatkan telah terangkat selamanya. Bukti konkrit apa lagi yang diperlukan untuk
membuktikan bahwa Yesus (‘alaihissalam) adalah utusan Tuhan terakhir yang ditujukan untuk
umat Israil untuk mendirikan ulang hukum-hukum Taurat yang benar melalui ajarannya karena
hukum Taurat sudah sangat tercemar sehingga tidak lagi menjadi wahyu Tuhan.
Selama beberapa tahun setelah pengangkatan Yesus Kristus (‘alaihissalam), kaum
Yahudi berkerja sema dengan kaum kafir, khususnya kaum Romawi untuk terus menghukum
pengikut ajarannya. Ajaran Yesus Kristus (‘alaihissalam) yang berfokus untuk menyembah
Tuhan yang Maha Esa dan menaati hukum Taurat, bertentangan dengan kepercayaan dan
perilaku kaum kafir pada saat itu. Yahudi yang telah rusak oleh banyaknya abominasi sekte-sekte
Islamic Online University Aqidah 301
48
kafir karena fraternisasi dan lemahnya orde petinggi agama yang menjual hukum demi
keuntungan kecil, seperti yang dikatakan Yesus (‘alaihissalam) sendiri dalam Matius 23: 1-39
bahwa mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Yesus Kristus (‘alaihissalam) diutus
oleh Tuhan untuk membereskan kesalahan-kesalahan ini melalui ajarannya. Antara abad pertama
dan kelima S.M., Kristen menjadi agama kebangsaan Romawi, sehingga Kristen pun tersebar
sampai ke daerah Mediterania, Afrika Utara, Timur Tengah, dan India Barat melalui para
evangelis awal. Sekitar tiga dekade setelah kepeninggalan Yesus Kristus (‘alaihissalam), salah
satu lawannya, Saulus, yang merupakan warga Tarsus berkebangsaan Romawi, bergabung
menjadi murid Yesus (‘alaihissalam). Untuk merekapitulasi, seperti yang dinyatakan
sebelumnya pada otoritas Kisah Perjanjian Baru, pertobatan Saulus adalah akibat dari
ketidaksadaran diri, di mana ia seharusnya telah diinstruksikan di dekat Damaskus oleh Yesus
sendiri (damai baginya) untuk bergabung dengan barisan rasul-rasulnya dan menyebarkan
pesannya. Sejak kejadian ini, Saul menjadi Paulus dan kemudian Santo Paulus, dan memulai
misi injilinya, mempertuhankan Yesus (‘alaihissalam) dan memanggilnya "Anak Allah." Sampai
saat itu, ajaran Yesus (‘alaihissalam) dan murid-muridnya berpusat pada Sepuluh Perintah
Hukum Taurat Musa, yang memerintahkan orang Yahudi untuk bertobat dan kembali ke praktik
hukum dalam surat dan roh.
Juga jelas dari Kisah 4:20; bahwa setelah kenaikan Yesus (‘alaihissalam), murid-murid
mula-mula seperti Petrus, Stefanus dan Yohanes digunakan untuk memproyeksikan beliau
sebagai "hamba Allah yang kudus," melalui Kerajaan Allah yang dapat dicapai dengan cara
pertobatan, cinta dan doa. Namun, setelah pertobatan Saulus konsep tersebut mulai berubah dari
"hamba Tuhan yang kudus" menjadi "Anak Allah" dan bahkan "Tuhan sendiri," dan pesan Yesus
(‘alaihissalam) diperpanjang untuk diterapkan pada orang bukan Yahudi yang memercayainya.
Akibatnya, orang-orang beriman dan orang bukan Yahudi yang mendengarkan khotbah
“dipenuhi oleh Roh Kudus”, karena mereka terlalu bersemangat, hal ini diartikan bahwa Yesus
(‘alaihissalam), tuan mereka, menginginkan agar mereka juga berkhotbah di antara orang bukan
Yahudi dan orang kafir (Kisah pasal 10 dan 11). Selanjutnya, terlihat bahwa institusi Trinitas
Bapa, Anak dan Roh Kudus dengan Yesus Kristus (‘alaihissalam); bertindak sebagai dan atas
nama Allah sendiri serta mengarahkan semua tindakan Ilahi, juga dikembangkan sebagai doktrin
pemandu Kekristenan. Cepat atau lambat, terlihat juga bahwa tampaknya telah berkembang
perpecahan antara kelompok yang dipimpin oleh Paulus dan Silas di satu sisi, dan kelompok
yang dipimpin oleh Barnabas dan Markus di sisi lain, dan mereka memisahkan jalan mereka,
mungkin karena perselisihan tentang penyunatan, mempertuhankan Kristus dan membuka
kedudukan kepada orang bukan Yahudi (Kisah 15: 2, 28, 29, dan 36-40).
Paulus tidak senang dengan murid-murid dan pengikut-pengikut lain mengikuti Injil yang
berbeda dari versinya sendiri, jelas dari suratnya kepada jemaat di Galatia (1:6-17; 2:1,14;
5:1,2,10,11,12; dan 6:12-15). Namun, dengan kedatangan Paulus di arena, pesan itu diperluas ke
orang-orang non Yahudi termasuk para kafir dan memakan semua makanan termasuk apa yang
dilarang oleh Hukum. Teologi Paulus didasarkan pada pengalaman pribadinya melalui "suatu
Islamic Online University Aqidah 301
49
penglihatan" sebagaimana dengan orang lain juga dan ia tampaknya telah menafsirkannya dalam
cahaya pemikiran Romawi dan Yunani kontemporer. Barangkali ia merasa bahwa massa, di
mana cara hidup orang Romawi dan paganisme Roma memiliki pegangan yang kuat, dan kaum
intelektual di bawah pengaruh Plato dan Aristoteles, tidak dapat tertarik pada teorinya tanpa
membuat penyesuaian timbal balik. Teori Penebusan dan Tritunggal dimana Yesus
(‘alaihissalam) ditentang sebagai putra Tuhan - persamaan Tuhan, Anak dan Roh Kudus, adalah
anak-anak dari otak Paulus, dan merupakan filsafat yang asing bagi pesan nyata dari Yesus
(‘alaihissalam) dan tidak diketahui oleh murid-murid pribadinya: Sosok dinamis dan ekstremis
seperti dia, Paulus, yang tidak mengenal Yesus (alaihissalam) muncul di tempat kejadian dalam
preferensi untuk murid Yesus (‘alaihissalam) sendiri, yang telah bersama dengan beliau selama
periode singkat pemerintahannya. Roma menjadi pusat kegiatan Kristen, bukan Yerusalem, di
mana sinagog utama Yahudi berada. Alih-alih menjadi gerakan renaissance dalam Yudaisme,
sejak saat itu Kristen menjadi agama yang terpisah secara nyata, dengan para pengikut Kristus
(‘alaihissalam) yang disebut "Nasrani." Sebuah istilah yang tidak pernah digunakan oleh Yesus
(‘alaihissalam) setelah itu, menjadi lebih dikenal oleh orang Kristen daripada Kristus sendiri
(‘alaihissalam). Seperti yang dikatakan sebelumnya, menjadi warga negara Romawi yang agresif
dan seorang Yahudi dari Tarsus, serta penganiaya dan pembunuh para pengikut Kristus
(‘alaihissalam) sebelumnya, pada pertobatan Ekstremisme Paulus disalurkan ke dalam
penyebaran Kristen yang kuat dengan kekaisaran Romawi sebagai pusatnya. Mungkin
oportunisme memaksanya untuk melakukan penyesuaian dengan politeisme kaum non Yahudi,
Roma, Yunani, dan kafir pada umumnya serta orang Yahudi yang korup, sehingga
mempertuhankan Yesus (‘alaihissalam) pada konsep Trinitas menjadi pastor dari Gereja Kristen,
didirikan untuk pertama kalinya di bawah naungan Paulus.
Telah dikatakan bahwa keyakinan Paulus bahwa Yesus (‘alaihissalam) adalah putra
Tuhan yang didasarkan pada penglihatannya ketika ia berada di bawah sadar tentang Yesus
(‘alaihissalam), yang ia tafsirkan sebagai pesan yang disampaikan kepadanya oleh Roh Kudus.
Pendewaannya terhadap Yesus (‘alaihissalam) memberikan jembatan penting untuk rekonsiliasi
antara pikirannya sendiri dan Hellenis serta kebiasaan penyembahan dewa-dewa oleh orang
kafir, yang telah berlaku selama masa di Yunani, Romawi, Mesir dan India. Lebih jauh lagi,
persaudaraan universal diadopsi sebagai batu penjuru Kristianitas oleh Paulus dan para
pengikutnya ketika mereka membuka kedudukan Kristen kepada orang-orang Ibrani dan orang
kafir, berbeda dengan hukum yang terbatas pada tingkat dan catatan dari dua belas suku anak-
anak Israel sendiri yang memberi gerakan Kristen yang baik di atas Yudaisme dan agama-agama
lain yang ada. Begitu pula, diskriminasi sosial yang didasarkan pada kelahiran ke dalam klan
atau kasta tertentu seperti yang duulunya ada di masyarakat kafir dan penyembah berhala Afrika
dan Asia membuat gerakan baru ini menjadi tamu yang disambut di antara banyak orang yang
tertindas di komunitas di mana para penginjil memberitakan pesan Kristen. Bagi mereka,
pemujaan terhadap Trinitas saja, yang ditekankan oleh Yesus (‘alaihissalam), sang putra, adalah
kejahatan yang lebih rendah daripada ibadah dan juga persembahan korban kepada beberapa
Islamic Online University Aqidah 301
50
dewa dan dewi untuk tujuan yang berbeda. Dengan demikian, penyebaran iman Kristen
menangkap momentum besar di tahun-tahun berikutnya.
Penyaliban
Iman Kristen sangat luas, berdasarkan pada peristiwa penyaliban. Perjanjian Baru
konklusif pada peristiwa penyaliban Yesus (‘alaihissalam) serta kebangkitannya sebelum
penghilangan terakhirnya. Orang Kristen percaya bahwa itu adalah pemenuhan Kitab Suci dan
untuk penebusan semua orang yang percaya kepada Kristus (‘alaihissalam) bahwa ia disalibkan.
Fungsi pendamaian, yang dikelola oleh imam pada saat kematian seorang Kristen, dianggap
sebagai inisiasi ke dalam pembagian kematian Yesus (‘alaihissalam) oleh para pemujanya.
Faktanya, kepercayaan Kristen adalah bahwa Yesus (‘alaihissalam) mati di kayu salib untuk
menyelamatkan para penyembahnya dan menghapuskan "dosa asal" yang dilakukan oleh Adam
(‘alaihissalam) dan bahwa iman yang tulus dalam Yesus sebagai anak laki-laki Allah bertindak
sebagai dan atas nama Allah melalui ikatan suci Tritunggal saja akan membebaskan mereka dari
segala dosa. Namun, pada pemeriksaan ketat terhadap Perjanjian Baru ditemukan bahwa hal ini
berhubungan dengan kemunculan kembali Yesus Kristus (‘alaihissalam) dalam daging dan darah
di depan para murid dan pengikutnya segera setelah kematiannya yang diduga melalui
penyaliban. Dia sendiri meminta mereka untuk merasakan melalui sentuhan untuk memastikan
bahwa dia benar-benar hidup, membuktikan dengan pasti bahwa dia tidak disalibkan. Hal ini
dilaporkan dalam Kisah Para Rasul bahwa bukan hanya Yesus (‘alaihissalam) tampak hidup
bagi para murid, tetapi juga muncul untuk mengajar mereka selama empat puluh hari penuh,
berbicara tentang Kerajaan Allah (Kisah Para Rasul 1:3,4) dan bahwa mereka bahkan berbincang
dengannya. Petrus serta Paulus juga telah bersaksi tentang fakta ini dalam Kisah 2:32 dan 23, 24,
meskipun Paulus tidak melihat Yesus (‘alaihissalam) secara pribadi baik sebelum atau setelah
kejadian di kayu salib.
Pertanyaan-pertanyaan penyaliban dan kebangkitan Kristus (‘alaihissalam) berikutnya
adalah tonggak iman dan keyakinan Kristen. Meskipun demikian, logika dan sejarah memiliki
banyak hal, lebih banyak untuk diungkapkan daripada iman yang buta ini. Pertama, untuk
menyaksikan tuduhan penyaliban Kristus (‘alaihissalam), tidak ada murid-muridnya dilaporkan
hadir. Sementara Yudas Iscariot mengubah seorang pengkhianat, Peter yang bahkan menyangkal
mengetahui Kristus (‘alaihissalam) tiga kali "memohon pada dirinya sendiri dan bersumpah"
(Markus 14: 66-71), dan yang lainnya semua menghilang dari sekitarnya untuk menyelamatkan
diri. Sebagaimana dinyatakan dalam Markus 15: 40,41 dan Mat. 28: 66,66, hanya beberapa
wanita termasuk ibunya, Maria, yang mungkin, menyaksikan tindakan tersebut dan itu juga dari
tempat yang jauh dimana dari tempat itu akan sulit untuk betul-betul mengenali siapa sebenarnya
orang yang disalibkan di tiang. Berbeda dengan laporan dalam Injil Matius dan Markus tentang
insiden itu, Injil Lukas menyatakan (Lukas 23:49) bahwa "semua kenalannya dan para wanita
yang mengikutinya (Yesus) dari Galilea berdiri di kejauhan" dan melihatnya sekarat. Injil
Islamic Online University Aqidah 301
51
Yohanes (Yohanes 19: 25,27) menyatakan bahwa "Maria, ibunya, saudara perempuan ibunya,
dua Maria lainnya dan seorang murid yang dia cintai melihat Yesus mati di sisi mereka," di kayu
salib. Juga dinyatakan bahwa tidak ada laki-laki yang pernah mendekati tempat yang hanya
diketahui olehnya bahkan untuk mengumpulkan mayat sampai malam, kecuali satu yaitu Joseph,
seorang anggota dewan yang dihormati (Markus 15:43), yang mengatur pemakaman Yesus
(‘alaihissalam) secara rahasia di sebuah makam di batu karang, tempat yang hanya diketahui
olehnya, Maria Magdalena dan Maria, ibu Yesus (Markus 16:46, 47).
Pada tema atau apa yang disebut sebagai kebangkitan Yesus (‘alaihissalam) dari
kuburan, dua laporan yang bertentangan ditemukan dalam Injil Matius, Lukas, Markus dan
Yohanes. Sementara laporan Matius menyatakan bahwa pada hari Minggu pagi ketika Maria
Magdalena dan Maria ibu Yesus, pergi ke makam di mana Yesus (‘alaihissalam) seharusnya
dikuburkan beberapa hari sebelumnya, mereka menemukan makam tersebut kosong dan bahwa
malaikat dalam kemuliaan memberi tahu mereka bahwa Yesus (‘alaihissalam) telah bangkit dari
kubur untuk muncul kembali di Galilea; Yesus (‘alaihissalam) muncul kembali pada mereka
dalam perjalanan kembali seperti yang diinstruksikan olehnya, mereka melaporkan hal ini
kepada murid-murid Yesus (‘alaihissalam) (Mat; 28: 1-10). Lukas melaporkan bahwa dua pria
(dan bukan satu malaikat dalam kemuliaan) yang ditemukan di kuburan mengatakan kepada
sejumlah wanita yang telah pergi untuk meminyaki tubuh pada hari pertama minggu itu, bahwa
Yesus (‘alaihissalam) telah bangkit dari kubur dan bahwa merekalah yang pada gilirannya
memberi tahu kesebelas rasul dan yang lain yang tidak mempercayai mereka (Lukas 24: 4-11).
Versi Markus mengatakan bahwa sehari setelah Sabat, ketika para wanita dan Maria pergi ke
kubur untuk memberi minyak pada Yesus (‘alaihissalam), mereka melihat seorang “pria muda”
duduk di dekat kuburan yang memberi tahu mereka tentang kebangkitan Yesus (‘alaihissalam)
untuk muncul di Galilea dan bahwa meskipun ia telah menginstruksikan mereka untuk memberi
tahu Petrus dan murid-murid lain, mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun karena
mereka takut (Markus 16: 5-8). Namun, versi Yohanes dari insiden itu adalah Dia mengatakan
bahwa ketika Maria Magdalena pertama kali pergi ke makam pada pagi yang masih gelap pada
hari setelah hari Sabat, dia melihat batu itu telah diambil dari makam dan kemudian dia memberi
tahu Petrus dan "murid lain yang Yesus cintai," yang berlari ke kubur. Mereka melihat bahwa
kain kafan telah digulung dan Yesus (‘alaihissalam) tidak ada di dalamnya dan mereka kembali
ke rumah mereka karena mereka tidak mengetahui naskah suci tentang "Yesus harus bangkit dari
kematian." Namun, Maria, sang ibu, sambil berdiri menangis di luar makam, melihat dua
malaikat berpakaian putih sedang duduk di mana tubuh Yesus (‘alaihissalam) terbaring, satu di
kepala dan satu lagi di kaki. Mengatakan bahwa "dia menangis karena mereka telah mengambil
Tuhannya... ketika berbalik dia melihat Yesus (‘alaihissalam) berdiri tetapi tidak tahu bahwa itu
adalah Yesus." Yesus (‘alaihissalam) berkata kepadanya, "Wanita, mengapa kamu menangis?
Siapa yang kamu cari?" Seandainya dia menjadi tukang kebun, dia berkata kepadanya, "Tuan,
jika kamu telah membawanya pergi, katakan padaku di mana Engkau telah membaringkannya
dan aku akan membawanya pergi." Yesus (‘alaihissalam) berkata kepadanya,"Maria" Dia
berbalik dan berkata kepadanya dalam bahasa Ibrani, "Rabboni" (Guru), dan seperti yang
Islamic Online University Aqidah 301
52
diarahkan olehnya, dia pergi dan berkata kepada para murid, ''Aku telah melihat Tuhan.”
(Yohanes 20: 1-18).
Selanjutnya, apa yang dilaporkan dalam Mat. 27:46 dan Markus 15: 34,35, bahwa Yesus
Kristus (‘alaihissalam) mati di kayu salib dalam keadaan menyedihkan, berteriak dalam bahasa
Ibrani, "Ya Tuhan, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" sangat menyentuh bahwa itu
di luar pemahaman manusia untuk percaya: seorang nabi Allah yang dipilih, yang dipercayai
orang Kristen tidak hanya "putra tunggal-Nya, tetapi bertindak sebagai dan atas nama Bapa-Nya,
Tuhan" mati di kayu salib diabaikan secara menyedihkan oleh Tuhan di tangan musuh-
musuhnya, beberapa di antaranya meludahi beliau. Bahkan lebih sulit untuk percaya bahwa
seorang nabi Allah yang terpilih berperilaku dengan hina, membantah suatu tindakan dan
kehilangan semua harapan dalam rahmat Allah daripada menerima situasi dengan kepercayaan
dan kesabaran sepenuhnya sebagai kehendak dari Tuhan Yang Mahakuasa dan Maha
Mengetahui. Namun, menarik untuk dicatat bahwa sementara Lukas melaporkan dalam Injilnya
secara berbeda bahwa Yesus (‘alaihissalam) mati di salib sambil menangis dengan suara keras:
"Bapa, ke dalam tanganmu aku menyerahkan jiwaku" (Lukas 23:45 ), permohonan yang dapat
diterima dari seorang nabi Allah - agak aneh bahwa Yohanes tidak pernah menyebutkan insiden
penting ini sama sekali dalam versi Injilnya.
Dengan demikian, hal itu adalah teka-teki rumit yang tidak dapat dipecahkan bahkan oleh
komputer. Seorang malaikat ditemukan duduk di makam Yesus (‘alaihissalam) sesuai laporan
satu dan dua malaikat menurut yang lain; putra dan malaikat tidak mengenali dan menghormati
ibunya tercinta (dari ungkapan aneh, "wanita," dalam Yohanes 20:15); Ibu yang bersemangat
tidak mengenali putranya, Yesus (‘alaihissalam) dan sebaliknya, hanya beberapa hari setelah dia
melihatnya terakhir; Maria dan para wanita lainnya "tidak menceritakan" kejadian itu kepada
orang lain menurut satu versi dan "menceritakan" kejadian itu kepada orang lain menurut versi
lain; dua versi kontradiktif dari insiden yang sama - teriakan putus asa dan kesedihan Yesus
(‘alaihissalam) di kayu salib di satu sisi dan menangis penuh harapan dan puas di sisi lain -
semuanya sangat tidak meyakinkan pada dua aspek yang paling penting dalam iman Kristen itu
sendiri bahwa sementara di satu sisi mereka membuat keraguan keaslian dari empat versi Injil
yang diterima oleh Gereja sebagai Kitab Suci dan di sisi lain mereka mengajukan sejumlah
pertanyaan tentang iman yang berkembang pada penyaliban dan kebangkitan Yesus
(‘alaihissalam) yang sampai sekarang diyakini resmi menurut peraturan gereja.
Apakah insiden penyangkalan mengenai Yesus (‘alaihissalam) yang dilakukan oleh Petrus di
bawah sumpah selama tiga kali terjadi karena adanya kemungkinan bahwa orang yang ditangkap
dan disalib itu bukanlah Yesus (‘alaihissalam) utusan Tuhan, melainkan seorang penipu yang
diubah oleh Tuhan menjadi mirip dengan Yesus (‘alaihissalam) karena hipokritas dan kejahatan
yang ia lakukan? Apakah Yudas harus mengidentifikasi Yesus (‘alaihissalam) kepada orang-
orang Yahudi dengan cara mencium kedua tangan Yesus (‘alaihissalam) karena penipu itu, yang
telah dicabut nyawanya sesuai dengan aturan Yahudi karena mengaku-ngaku sebagai anak
Tuhan, tidak dikenali oleh mereka orang-orang Yahudi? (sementara mereka seharusnya
Islamic Online University Aqidah 301
53
mengenal Yesus (‘alaihissalam) karena ia sering berkhotbah dalam sinagoga Yahudi selama
lebih dari tiga tahun). Apakah “kebangkitan” Yesus (‘alaihissalam) beberapa hari setelah
penyaliban dan kenaikannya, memang benar merupakan kehendak Tuhan yang dilakukan untuk
meyakinkan murid dan pengikut Yesus (‘alaihissalam) bahwa sebenarnya Yesus (‘alaihissalam)
tidak disalib, tetapi diangkat ke surga sebagai bentuk keajaiban Yesus (‘alaihissalam), sama
dengan kelahirannya yang juga merupakan suatu keajaiban? Pertanyaan ini dan pertanyaan-
pertanyaan lainnya (seperti mengapa murid atau bahkan Yesus (‘alaihissalam) sendiri tidak
membahas hal-hal penting terkait keimanan pada saat kemunculannya kembali di hadapan para
pengikutnya beberapa hari setelah dia disalib, ketika ia berkhotbah, makan bersama murid-
muridnya, dan bahkan mengajak pengikutnya menyentuh dirinya untuk membuktikan kepada
mereka bahwa dia masih hidup; ketika ia bersama mereka selama empat puluh hari sebelum
kenaikan akhir) masih menjadi misteri nyata bagi siapapun. Ini adalah suatu misteri, khusunya
karena seorang nabi yang hidup dan kelahirannya adalah suatu mukjizat (Kristaini juga meyakini
bahwa dia adalah satu-satunya anak kesayangan Tuhan), malah ditelantarkan oleh Tuhan untuk
mati di tangan orang-orang Yahudi penghujat ketika ia sedang menjalankan tugasnya sebagai
utusan Tuhan dan dipercaya akan diangkat ke surga nantinya. Kenaikan Yesus (‘alaihissalam)
dapat diangap sebagai suatu keajaiban untuk meyakinkan orang-orang Yahudi dengan pasti
bahwa Yesus (‘alaihissalam) memang benar adalah utusan Tuhan yang diutus untuk mereka.
Sehingga, pertanyaan mengenai hari-hari terakhir Yesus (‘alaihissalam), apakah Yesus
(‘alaihissalam) disalib oleh Yahudi, atau apakah dia diangkat ke surga oleh Tuhan, atau apakah
seorang penipu yang disalib – serta pertanyaan perihal status Yesus (‘alaihissalam) sebagai anak
Tuhan dan perihal apakah Yesus (‘alaihissalam) mengajarkan hukum baru atau apakah ia hanya
bertugas sebagai nabi lain untuk umat Israil, semua pertanyaan ini pun masih menjadi spekulasi
dalam empat Injil yang telah diakui oleh Gereja. Maka tidak perlu diragukan lagi bahwa,
menurut Injil Barnabas, semua pertanyaan ini telah terjawab dengan jelas: bahwa Yesus
(‘alaihissalam) adalah seorang nabi lain utusan Tuhan yang bertugas untuk menghidupkan
kembali hukum Tuhan yang diturunkan untuk umat Israil melalui Taurat dan meminta mereka
untuk bertobat karena “Kerajaan Allah sudah dekat”; bahwa Yesus (‘alaihissalam) lahir karena
kehendak ajaib Tuhan; bahwa Yesus (‘alaihissalam) mengajarkan Injil dan tumbuh diberkati
dengan mukjizat Tuhan; bahwa Yesus (‘alaihissalam) tidak menganggap dirinya sebagai anak
Tuhan atau satu dengan Tuhan; dan yang terpenting, bahwa Yesus (‘alaihissalam) tidak disalib,
melainkan ia diangkat ke surga oleh Tuhan. Tetapi, seperti yang telah dibahas sebelumnya, Injil
versi Barnabas ini tidak diakui oleh gereja Kristen. Jika Injil ini diakui oleh gereja, sejarah umat
manusia setelah masa Yesus Kristus (‘alaihissalam), akan jauh berbeda dengan yang kita ketahui
sekarang!
Islamic Online University Aqidah 301
54
Kepercayaan dan Ibadah Kristen
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Injil tidak memberikan bukti konklusif bahwa
Yesus Kristus (‘alaihissalam) mengajarkan agama baru. Bahkan, tugas Yesus (‘alaihissalam)
selama tiga tahun masa kenabiannya adalah untuk meyakinkan kaum Yahudi bahwa mereka
telah menjauh dari jalan Tuhan akibat hipokritas orang-orang Farsi dan ahli-ahli Taurat yang ada
dalam kaum Yahudi, dan untuk memberitahu bahwa mereka harus kembali kepada jalan yang
benar dengan tobat, rasa saling mencintai, keadilan dan yang terpenting dengan mengikuti dan
menerapkan hukum ajaran Injil yang ditunjukkan oleh Tuhan, sebagaimana yang telah dijelaskan
dalam “Khotbah di Bukit” dalam Matius ayat 5,6, dan 7. Sehingga, merupakan suatu hal yang
pasti bahwa semua penjelasan di atas adalah inti Hukum Perjanjian Lama yang juga dikenal
sebagai Lima Kitab Musa, dimana penjelasan-penjelasan ini diperkuat dalam Injil yang
mengatakan bahwa orang dapat menjauhi dosa dengan cara mengendalikan pikiran, indera, dan
perilakunya. Selanjutnya, dalam Perjanjian Baru, dijelaskan bahwa Yesus (‘alaihissalam)
beribadah secara rahasia dan ia memerintahkan murid-muridnya: “jika engkau berdoa, masuklah
ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat
tersembunyi.” (Matius 6:6-13), juga dijelaskan bahwa kapanpun Yesus (‘alaihissalam)
berkhotbah di hadapan orang-orang Yahudi dan murid-muridnya, dia selalu beribadah sendiri
secara rahasia. Maka, apakah masuk akal untuk berpikir bahwa Yesus (‘alaihissalam), utusan
Tuhan yang Esa, akan berbuat dosa besar dengan menganggap dirinya sebagai anak Tuhan atau
mengangap dirinya adalah satu dengan Tuhan atau bahkan menganggap dirinya memiliki
kemampuan yang sama dengan kemampuan Tuhan, dimana menurut hukum Taurat, semua ini
adalah pelanggaran yang pantas menerima hukuman mati?
Pengikut Yesus (‘alaihissalam) tidak memiliki tempat ibadah sendiri dan identitas
terpisah sendiri selama beberapa dekade setelah kenaikan Kristus. Hal ini dibuktikan dari fakta
sejarah yang mengatakan bahwa pengikut Yesus (‘alaihissalam) pertama kali mulai disebut
sebagai “Kristiani” ketika persekutuan murid Yesus (‘alaihissalam) juga dibuka untuk kaum
kafir, utamanya orang-orang Yunani dan orang-orang kafir di Antiokha dan ketika Barnabas juga
telah membawa Paulus ke Antiokha. Tetapi, setelah peristiwa pembuka zaman baru sekitar
dekade kelima M. dan selama perjalanan misionaris, Paulus, Yohanes, dan Baranabas
“memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi.” (Kisah 13:5).
Kejadian yang sama juga terjadi di Antiokha, Pisidia (Kisah 13:16-44). Tetapi, karena Yahudi
membantah apa yang dikatakan oleh Paulus, mereka pun berpaling kepada bangsa-bangsa lain
sebagai perlawanan akhir melawan musuh (Kisah 13:45-50) yaitu evangelis-evangelis yang
datang dari Yudea ke Antiokhia, sehingga Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari
jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal
itu (Kisah 15:1-5). Terlihat bahwa kenaikan yang berkembang hampir membuat ajaran ini
terbuka untuk semua orang kafir non-Yahudi yang tidak disunat, sedangkan orang Yahudi wajib
disunat, serta menghalalkan makanan yang dilarang dalam Hukum Musa, dilarang karena
makanan tersebut tidak bersih. Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk
Islamic Online University Aqidah 301
55
membicarakan soal itu, dan Yokobus menyarankan untuk membebaskan orang non-Yahudi dari
kewajiban untuk disunat dan mengizinkan mereka semua makanan kecuali makanan yang
dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari
percabulan (Kisah 15:6-29). Sepertinya dikarenakan permasalahan ini, Barnabas dan Markus
berpisah dengan Paulus dan Silas setelah “hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam” (Kisah
15:36-40). Setelah kejadian ini, anehnya, Perjanjian Baru tidak menyebutkan adanya rekonsiliasi
terjadi antara kedua kelompok dan Barnabas dan Markus juga tidak lagi disebutkan setelah itu.
Bagaimanapun juga, berdasarkan penjelasan diatas, sudah jelas bahwa pada awal dekade ke-6
M., Gereja Kristen, yang baru saja terbentuk beberapa tahun terakhir, sudah mulai membagi
ajaran kedalam kelompok-kelompok. Ini terjadi akibat adanya penyimpangan dari jalan yang
ditunjukkan Yesus Kristus (‘alaihissalam), jalan yang menunjukkan bagaimana dan kepada siapa
firman Tuhan ditujukan. Maka dapat disimpulkan bahwa, Yesus (‘alaihissalam) dan rasul-rasul
serta murid-murid terdahulunya tidak menunjukkan ataupun mengajarkan cara hidup,
pembaktian, dan penyembahan yang berbeda dengan ajaran Taurat sesunguhnya, serta mereka
juga tidak mengajarkan untuk beribadah di tempat lain selain sinogoga Yahudi. Sehingga,
bahkan menurut Perjanjian Baru pun, inti dari apa yang Yesus (‘alaihissalam) sebenarnya hanya
ingin ajarkan untuk umat Israil dalam masa singkatnya sebagai nabi ialah ajaran untuk tobat dan
memperbaiki penyimpangan-penyimpangan dari Hukum Musa.
Berdasarkan dari penjelasan dalam paragaraf di atas, dapat disimpulkan bahwa karena
persekutuan murid-murid Yesus (‘alaihissalam), yang pada mulanya terbatas hanya untuk kaum
Yahudi saja, menjadi terbuka untuk orang non-Yahudi setelah mereka bebas dari kewajiban
untuk disunat. Sebuah gereja terpisah dan tempat ibadah khusus untuk Kristiani pun dibuat
pertama kali di Antiokha. Sejak saat itu, landasan pemahaman yang mendeifikasi Paulus ke
dalam persekutuan Tritunggal, dimana Yesus (‘alaihissalam) berperan sebagai dan mewakili
Tuhan melalui konsep Bapa, Putra, dan Roh Kudus dalam memaafkan dosa-dosa pengikutnya,
menjadi jangkar kepercayaan Kristen dan ibadah pelaksanaan upacara yang disebut Baptisme.
Perlu diketahui bahwa, selama abad ke-4 M., sebuah pertentangan juga terjadi antara
gereja ajaran Antiokha dan gereja ajaran Iskandariyah perihal “inspirasi” dan “inkarnasi” dari
“kehadiran ilahi melalui Roh Kudus” dalam gereja. Sebelumnya, di akhir abad pertama, pengikut
Yesus (‘alaihissalam) telah terpisah menjadi dua kubu utama, kubu pertama meyakini Yesus
(‘alaihissalam) sebagai “anak seorang manusia yang tidak memiliki kemampuan ilahi apapun
selain keajaibannya sebagai nabi utusan Tuhan”, sedangkan kubu kedua meyakini bahwa Yesus
(‘alaihissalam) adalah “anak Tuhan”, kubu yang ini dipelopori oleh Paulus. Merupakan suatu isu
sejarah yang kritis mengenai bagaimana pemisahan yang diperburuk menjadi suatu konfrontasi
antara kedua kubu ini, berujung pada keberhasilan propagator perpecahan yang percaya bahwa
“Tuhan adalah satu secara esensi, tetapi adalah tiga dalam wujud Bapa, Putera, dan Roh Kudus”
dan meyakini adanya “keunikan Ilahi dalam Yesus Kristus (‘alaihissalam)”. Semenjak belasan
abad, keyakinan ini menjadi ajaran Gereja yang tidak dapat diganggu-gugat. Ini karena
keyakinan tersebut telah ada di dalam “Pernyataan Kredo” yang telah disahkan oleh semua
Islamic Online University Aqidah 301
56
pengikut pada masa itu, masa dimana inisiasi baptisme ke dalam gereja Kristen merupakan
bentuk penyimpangan besar dari monoteisme hukum Taurat yang diajarkan oleh nabi-nabi umat
Israil mulai dari Musa hingga Yesus Kristus (‘alaihissalam).
Terlepas dari penjelasan di atas, tidak ada yang dapat mengabaikan fakta sejarah yang
mengatakan bahwa hingga abad ke-4 M, terdapat juga sebuah kelompok dalam ajaran Kristen
bernama Hipsistarian, yang meyakini bahwa Yesus (‘alaihissalam) hanyalah seorang nabi utusan
Tuhan dan tidak percaya kepada Tritunggal ataupun kepada status Yesus (‘alaihissalam) sebagai
anak Tuhan. Mereka menganggap Tuhan bukan sebagai “Bapa”, tetapi sebagai pengatur dunia
yang maha kuasa, yang tidak dapat ditandingi. Sebelumnya, seperti yang dibuktikan dalam Injil
Barnabas, Barnabas dan Markus serta pengikut-pengikutnya juga tidak meyakini Yesus
(‘alaihissalam) sebagai anak Tuhan. Dalam Injilnya, Baranabas bahkan meriwayatkan bahwa
Yesus (‘alaihissalam) menegur siapapun yang menganggapnya ilahi serta Yesus (‘alaihissalam)
sendiri juga mencamkan bahwa dia hanyalah utusan Tuhan, sama dengan para pendahulunya
seperti Musa, Ibrahim, dan yang lain.
Juga telah diketahui beberapa tahun kemudian bahwa, Paulus Dari Samosata, yang
merupakan uskup Antiokha, memiliki pandangan bahwa Yesus (‘alaihissalam) bukanlah Tuhan,
tetapi hanya seorang nabi dan manusia suci, dan Tuhan tidak mungkin menjadi manusia.
Lukianos, uskup Antiokha, yang dikenal karena ketaatannya dan yang disiksa pada tahun 312
M., juga sangat menentang konsep Tritunggal. Dikatakan bahwa dia telah menghilangkan semua
penyebutan Tritunggal dari kanon Gereja karena menurutnya, konsep Tritunggal ini adalah
interpolasi yang tidak ada dalam Injil-Injil awal. Selanjutnya, Arius, murid Lukianos
berkebangsaan Libia (250-336 M) yang memiliki pengikut berjumlah besar, juga percaya bahwa
“tidak peduli seberapa tinggi derajat Yesus (‘alaihissalam) diatas mahluk ciptaan lainnya, dia
sendiri tidak memiliki zat yang sama dengan Tuhan, tetapi merupakan manusia seperti yang
lainnya.” Bahkan, Arius menggiyahkan fondasi pemahaman Gereja Paulus ini. Tetapi, pada 325
M., Konstantinus Agung, yang merupakan pendukung ajaran Kristen tetapi bukan seorang
Kristiani, demi melanjutkan masa kekuasaannya, dan karena berkeinginan untuk menyatukan
berbagai faksi-faksi yang berbeda, khususnya kedua faksi terkuat Kristen, yang satu di bawah
uskup Arius dan yang satunya berada di bawah uskup Iskandar, melaksanakan sidang untuk
semua aliran Kristen di Nicaea. Karena Konsantinus bingung tetapi tetap menginginkan
dukungan Kristen, dia pun mensponsori mereka yang ada di bawah Atanasius, yang berhasil
menggantikan posisi Uskup Iskandar sebagai kepala Gereja Paulus dan mengasingkan Arius dari
kerajaan. Setelah itu, kepercayaan kepada Tritunggal pun resmi menjadi keyakinan Kristen
Kerajaan dan pembantaian pun dilakukan terhadap umat Kristiani yang tidak meyakini konsep
Tritunggal tersebut Juga, kepemilikan Injil versi apapun yang tidak diakui Gereja, merupakan
suatu bentuk pelanggaran pindana di Kerjaan Romawi. Diketahui bahwa ada lebih dari 270 versi
Injil, termasuk Injil versi Yahudi, yang dibakar. Konsili Nicaea telah menetapkan bahwa
Perjanjian Baru seperti yang diketahui saat ini, adalah satu-satunya versi Injil yang diakui Greja
Kristen. Meskipun demikian, runtutan peristiwa berubah di 336 M., akibat emperor menerima
Islamic Online University Aqidah 301
57
kepercayaan saudarinya, Konstantina dan Arius. Kemudian Arius dibunuh. Karena Kaisar telah
mengetahui apa yang terjadi, Kaisar pun mengusir Athanasius dan kedua uskupnya dari kerjaan,
dan Kaisar Konstantinus pun memeluk ajaran Kristen Arius, dimana monoteisme menjadi agama
resmi Kekaisaran Romawi. Pada saat kematian Konstantinus di 337 M., kaisar baru, Konstantius,
yang juga memeluk kepercayaan Arius, mengadakan persidangan di Antiokha pada 341 M.
dimana monoteisme sekali lagi diterima sebagai ajaran Kristen yang benar. Keputusan ini
dikonfirmasukan kembali oleh konsili lain yang dilaksanakan pada 351 M. di Sermium.
Bagaimanapun, St Jerome menulis ini pada tahun 359 Masehi bahwa "seluruh dunia mengerang
dan kagum untuk menjadi Arian."
Pembunuhan sesama umat Kristen masih segar dalam ingatannya, Paus Honorius ingin
pada awal abad ketujuh untuk menemukan solusi atas penyebab perselisihan tersebut dan dia
mencoba untuk mendukung doktrin "satu Tuhan" karena dia percaya bahwa jika Tuhan memiliki
tiga pikiran independen, hasilnya akan menjadi kekacauan. Meskipun konsep Tuhan yang satu
ini tidak ditantang oleh siapa pun dalam waktu yang cukup lama, pada tahun 680 M di Dewan
Gereja-Gereja lain yang diadakan di Konstantinopel, Honorius dihujat, sebuah tindakan unik
dalam sejarah Kepausan ketika seorang paus dikecam oleh seorang paus yang menggantikannya.
Namun demikian, lama setelah kejadian ini, pada tahun 1547 Masehi, L.F.M. Sozzini, yang
berasal dari Siena (1525-1565 CE) yang berada di bawah pengaruh Camillo, mistik Sisilia,
menantang Calvin pada doktrin Trinitas, memperkuat doktrin Arius dan menyangkal keilahian
Kristus serta menolak doktrin dosa asal dan penebusan dosa. Menurutnya, satu-satunya objek
pemujaan adalah satu-satunya Tuhan. Dia diikuti oleh keponakannya F. P. Sozzini (1539-1604),
yang menerbitkan sebuah buku tentang Injil St. Yohanes yang menyangkal keilahian Yesus.
Dengan bantuan dan kolaborasi orang lain seperti dia, seperti John Sigismund, penguasa
Transylvania, yang merupakan antagonis dari doktrin Trinitas, dan Uskup Francis David (1510-
1579 CE), juga seorang anti Trinitarian, Sozzini dibentuk pada tahun 1578 Masehi sekte yang
dikenal sebagai ''Katekismus Rocovian” setelah kota Racow di Polandia, yang merupakan
benteng iman Arius.
Saat ini, ada sejumlah besar pria dan wanita di antara orang Kristen yang percaya hanya
pada Satu Tuhan, menyangkal keilahian Kristus (‘alaihissalam) serta doktrin Trinitas. Namun,
mereka tidak bersuara dan tidak berdaya di bawah kekuatan Gereja yang kuat. Bahkan
Athanasius, sang pemenang doktrin trinitas, dilaporkan telah mengatakan bahwa terlepas dari
semua usahanya untuk menengahi keilahian Yesus (‘alaihissalam), usahanya yang keras dan
tidak terhindarkan itu meremukkan diri mereka sendiri, membuatnya tidak mampu
mengekspresikan pikirannya, yang membuatnya mengucapkan, "Tidak ada tiga, tetapi Satu
Tuhan!" Dari hubungan dekatnya dengan banyak pengikut Kekristenan, penulis buku ini telah
menemukan bahwa karena kontradiksi serupa antara iman yang disebarkan oleh Gereja dan
Penalaran inheren hadir dalam individu khususnya dalam generasi terdidik saat ini, banyak orang
modern yang tercerahkan tidak terlalu peduli dengan apa yang pendeta gereja tekankan agar
Islamic Online University Aqidah 301
58
mereka percaya, meskipun dia sendiri lahir, diberi nama, dibaptis, dibesarkan dan bahkan akan
menyebut dirinya seorang Kristen.
Perkembangan Agama Kristen
Pada abad kelima Masehi, agama Kristen akhirnya muncul sebagai agama negara
Kekaisaran Romawi dari mana ia menyebar ke daerah-daerah Mediterania Afrika Utara, Timur
Tengah dan Pantai Barat India melalui pengabar injil. Hanya Katolik yang ada saat itu. Monoteis
di antara para pengikut Kristus harus menyembunyikan iman mereka karena takut akan
kemungkinan penganiayaan setelah Konsili Nicea dan keputusan Konstantinus. Filosofi Pauline
tentang pendewaan Kristus (‘alaihissalam) melalui pemujaan terhadap Trinitas menjadikan
Kekristenan dapat diterima oleh kafir-kafir politeistik, Roma, Romawi, pagan dan Hindu karena
agama Kristen dalam Trinitas adalah kejahatan yang lebih rendah daripada pemujaan dan doa
untuk Tuhan yang beraneka ragam, dewi dan dewa. Lebih jauh lagi, persaudaraan universal yang
tidak hanya diadvokasi tetapi juga dipraktekkan di antara orang-orang Kristen terlepas dari
kedudukan sosial seorang individu, memberikan tepi yang besar bagi gerakan baru atas
pemujaan yang kemudian lazim di antara orang-orang di Timur Tengah, Afrika, India, dan Timur
Jauh. Selama sepuluh abad berikutnya, ini menyebar ke Eropa pada umumnya. Meskipun
demikian, sejak abad ketujuh Masehi ketika Islam muncul di Arabia dan mulai menarik lebih
banyak orang-orang Afrika Utara dan Asia pada umumnya dan khususnya bagi orang-orang di
subbenua India, agama Kristen wajib memberi jalan besar dan lebar ke cara hidup yang lebih
baru. Namun demikian, akibat penaklukan Eropa atas Afrika dan Asia serta penaklukan rakyat
mereka oleh kekuatan-kekuatan Kristen, terutama Belanda, Portugis, Prancis, Jerman dan
Inggris, agama Kristen menyebar lebih jauh, tidak hanya ke daerah-daerah kafir di Afrika, tetapi
juga ke koloni timur dari penakluk di bawah perlindungan kerajaan.
Sebelum abad kedua Masehi, kegiatan penginjilan Kristen mula-mula dibatasi dan
ditujukan pada penyebaran pesan dan ajaran Yesus Kristus, (‘alaihissalam) seperti yang dia
lakukan selama tiga tahun atau lebih singkat dari tudung kenabiannya, tanpa dogma-dogma
khusus selain dari bertobat dan kembali ke hukum Musa dalam surat dan roh. Bahkan setelah
gerakan itu dilemparkan terbuka kepada orang-orang kafir yang tidak bersunat dan para kafir
sebagai hasil dari "Roh Kudus" yang dipenuhi oleh semua orang yang hadir, termasuk orang-
orang non Yahudi, dalam kumpulan pengabaran para rasul Yohanes, Petrus, Stefanus dan yang
lain sebagai seorang yang paling menyimpang dari cara Yesus Kristus (‘alaihissalam) misi
keinjilan para rasul dilanjutkan, bahkan selama masa Paulus, mempertahankan "Kesatuan Roh"
hanya tanpa dogma, bentuk ibadah dan sebagainya yang berbeda dari cara-cara hukum Musa
sebagaimana terbukti dari surat Paulus kepada orang Efesus: ''Ikatan damai ... sama seperti Anda
dipanggil untuk satu harapan yang menjadi milik panggilan Anda, Satu Tuhan, Satu iman, Satu
baptisan, Satu Tuhan dan ayah dari semua dan melalui semua dan di semua." Sangat jelas dari
Kisah Para Rasul Perjanjian Baru bahwa selama masa awal, semua rasul dan bahkan Paulus
Islamic Online University Aqidah 301
59
harus melawan tuduhan orang Yahudi bahwa itu adalah untuk menghapuskan hukum dan para
nabi bahwa Yesus Kristus (‘alaihissalam) telah datang. Sebaliknya mereka memiliki waktu dan
sekali lagi untuk menyatakan kembali kepada orang-orang Yahudi bahwa misi Yesus
(‘alaihissalam) dan diri mereka sendiri adalah untuk membangun kembali hukum sejati orang
Yahudi dalam surat dan roh melalui pertobatan dan bergabung dengan Kerajaan Allah di sisi-
Nya, meskipun selama pada zaman Paulus, perpecahan "Pendewaan Kristus melalui doktrin
Trinitas" sebenarnya telah dimulai. Namun, "Esensi Kekristenan," yang berkembang di tahun-
tahun kemudian, tidak muncul dalam Perjanjian Baru, yang ditujukan kepada "domba yang
hilang" di antara orang-orang Farisi dan ahli Taurat orang Yahudi; untuk mengumpulkan orang-
orang yang kembali ke kawanan-kawanan yang memiliki Gembala Yesus (‘alaihissalam) datang
dengan panggilan gemuruh, "Bertobatlah untuk Kerajaan Allah sudah dekat," dan "Pikirkan aku
tidak datang untuk menghapuskan hukum dan para nabi, aku datang bukan untuk menghapus
mereka tetapi untuk memenuhi mereka." Itu terjadi pada abad pertama Masehi, pada masa
Ignatius, uskup Antiokhia, bahwa cara-cara Kristen, sangat berbeda dari cara orang Yahudi
berevolusi, meskipun Kristus (‘alaihissalam) maupun murid-murid dan rasulnya tidak diketahui
telah mengadopsi bentuk ini. Orang yang sedang sekarat dibaptis ke dalam kematian Yesus
Kristus (alaihissalam) dan dibebaskan oleh ulama dari operasi hukum dosa dan kematian
sebagai iman yang bersemangat. Iman Kristen segera berevolusi menjadi "iman kepada Allah
diserap ke dalam monoteisme yang khas di mana sosok putra, Yesus Kristus (‘alaihissalam)
membayangi sosok Tuhan, ayah, dan dengan demikian menyebabkan yang terakhir menghilang,
Tuhan Sang Pencipta dan Sang Pemelihara mundur di belakang sosok kejayaan dari Kristus
penebus, yang, untuk semua tujuan, diyakini bertindak atas nama Bapa Allah, setiap saat. "Jadi
hari ini, bagi seorang Kristen, adalah kultus yang dimensinya oleh keyakinan dan iman kepada
Yesus Kristus (‘alaihissalam) sebagai perwakilan penuh dari Allah yang hidup dalam tujuan dan
niat melalui kultus Tritunggal, yang adalah Bapa, Anak dan persamaan Roh Kudus, secara
radikal berlawanan dengan hukum Musa, dan beberapa kilasan ke dalam ajaran Yesus sendiri
(‘alaihissalam) pada iman di dalam Satu-satunya Allah, seperti yang ditemukan dalam Perjanjian
Baru itu sendiri.
Satuan klerus dari hampir semua sekte Kristen tidak hanya menghubungkan satu-satunya
ayah dari Yesus (‘alaihissalam) kepada Tuhan, tetapi bahkan sampai pada tingkat menyebut
Yesus (‘alaihissalam) sebagai obyek pertimbangan ilahi dan ibadah melalui Kultus Trinitas,
yang mana beberapa klerus Kristen dan filsuf Hindu modern dengan mudah membandingkannya
dengan konsep trinitas Hindu Brahma, Wisnu dan Siwa sebuah konsep yang bahkan tidak
dipahami oleh filsafat Pauline. Pada studi yang lebih dekat yang bahkan tentang Injil resmi,
orang yakin bahwa Yesus (‘alaihissalam) hanya mengklarifikasi beberapa hukum Musa dengan
membuat para pengikutnya memahami bagaimana sebenarnya hokum surat dan roh dapat diikuti,
seperti dalam kasus perzinahan, dosa, perceraian, doa nyata, perbuatan baik, kelemahlembutan,
belas kasihan, kasih sayang hati, amarah, pembunuhan, pengampunan, kesalehan, puasa, cinta
kasih dan sebagainya seperti yang ditemukan dalam Injil Matius di bawah "Khotbah di Bukit,
Dalam Injil, seseorang tidak dapat menemukan hukum baru selain beberapa klarifikasi Sepuluh
Islamic Online University Aqidah 301
60
Perintah, yang pada dasarnya, seperti yang diajarkan oleh Yesus (‘alaihissalam).Bagaimana pun
juga, penekanan utama yang dibuat oleh Yesus (‘alaihissalam) adalah dengan iman pada Satu
Tuhan, Kerajaan Tuhan, pertobatan, cinta Tuhan, cinta sesama dan hormat orang tua.
Selanjutnya, propagator dari ide "Agama Publik dan Swasta," yang dikembangkan di
Eropa selama abad ketujuh belas dan kedelapan belas setelah mengikuti revolusi Lutheran,
bagaimanapun tetap bertanggungjawab untuk memberikan dimensi baru pada nilai-nilai Kristen
dengan mendefinisikan "Esensi Kekristenan" dan menekankan pentingnya kehidupan spiritual,
religius dan moral di hadapan Tuhan, berbeda dengan definisi dogmatis sebelumnya dari para
teolog yang termasuk dalam gereja yang sah secara hukum sampai saat itu. Namun demikian,
dogma abad kedua puluh yang terlibat atas dasar "kebenaran absolut dari Kekristenan" Toelstch
(1902) bahwa Konsepsi Keselamatan melalui ''keunikan Tuhan dalam Yesus Kristus,” untuk
bersaing dengan beberapa agama lama lainnya, sebenarnya, bertanggungjawab untuk mengingat
Yesus Kristus (‘alaihissalam) sebagai sebuah objek dari tidak hanya penghormatan tetapi juga
penyembahan sebagai Tuhan dengan cara yang sama seperti yang dikatakan dalam agama Hindu.
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa eksponen Kristen "kelompok koeksistensi, yang
merupakan ahli teologi di India, bahkan melangkah jauh untuk membandingkan Yesus Kristus
(‘alaihissalam) dengan "inkarnasi Vishnu Krishna” dari mitologi Hindu, untuk mendapatkan
kesimpulan bahwa mereka berdua adalah orang yang sama, meskipun pertentangan seperti itu
secara historis nampak konyol karena Krishna adalah tokoh historis yang ada sekitar 3000 tahun
yang lalu, yang seribu tahun sebelum Kristus (‘alaihissalam) hidup. Namun demikian,
kenyataannya tidak dapat disamarkan bahwa upaya ini adalah untuk memberikan kepercayaan
kepada pandangan bahwa seperti Krishna dan Avatar lainnya dari kitab suci Hindu, yang
dianggap oleh umat Hindu sebagai inkarnasi dari Wisnu dari Trinitas Hindu, Yesus Kristus
(‘alaihissalam) adalah putra Tuhan dari Trinitas Kristen, keyakinan yang menghujat yang,
menurut hukum Musa dan Perjanjian, harus dihukum mati.
"Yesus Kristus adalah satu-satunya putra Allah yang hidup; Dia disalibkan oleh orang-
orang Romawi atas desakan orang-orang Yahudi atas tuduhan menuntut status anak dan
Kesatuan dengan Satu-satunya Allah, yang dapat dihukum, sesuai dengan Perjanjian antara anak-
anak Israel dan Tuhan, dengan kematian. Yesus mati di kayu salib untuk menyelamatkan para
pengikutnya dari dosa asal dan kepedihan kematian, dan oleh karena itu, keyakinan dan iman
kepada Tuhan, Sang Pencipta dan Hakim yang menyatakan diri-Nya dalam Perjanjian Lama dan
hidup di antara laki-laki sebagai Yesus, anak laki-laki dan yang dibangkitkan, dengan hubungan
Roh Kudus antara ayah dan anak laki-laki akan membebaskan orang beriman pada Kristus dari
segala dosa dan duka." Dengan keyakinan inilah, pada saat kematian imam Kristen mengatur
''Pengurapan Ekstrem” (penyembuhan Sakramen) kepada semua orang Kristen dengan iman
yang sepenuhnya bahwa "ketika seseorang dibaptis ke dalam kematian Yesus (partisipasi dalam
kematian dan kebangkitan Yesus), ia juga “dibebaskan dari hukum dosa dan maut. Sungguh
iman yang secara radikal berbeda dari apa yang Yesus (‘alaihissalam) nyatakan ketika hidup!
Islamic Online University Aqidah 301
61
Namun demikian, di samping Komunisme, Kekristenan memerintahkan pengikut terbesar
orang-orang hari ini, terdiri dari lebih dari 800 juta anggota Gereja (Katolik) Roma, 133 juta
Gereja Ortodoks Timur (Katolik), 50 juta jiwa Gereja Anglikan, 42 juta ke Gereja Lutheran, dan
lebih dari 260 juta gereja dan sekte lain seperti Baptis, Koptik, Kongregasionalis, Penginjil,
Saksi-Saksi Yehuwa, Metodis, Presbyterian, Protestan lain, Quaker dan sebagainya, terlepas dari
fakta apakah mereka semua benar-benar percaya kultus, dan pada kenyataannya, benar-benar
mengetahui apa misi Yesus Kristus (‘alaihissalam), apa status Alkitab, apa perbedaan
sesungguhnya antara monoteisme absolut dari Hukum perjanjian dan konsep Trinitas dan
sebagainya, kecuali melalui apa yang ditafsirkan dan diajarkan kepada mereka oleh para juru
bicara gereja-gereja Kristen yang tak terbantahkan. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa
sejumlah besar penganut iman Kristen telah menjadi mangsa doktrin Komunis, benar-benar
percaya bahwa Kekristenan tidak mencukupi sebagai kode lengkap untuk pencapaian negara
kesejahteraan dan pragmatis dalam menjelaskan supremasi Tuhan. atas semua ciptaan.
Islamic Online University Aqidah 301
62
Bab 4
Komunisme
Pengantar
Sampai saat ini, suatu negara sejahtera yang memberikan kedamaian, ketentraman,
kebebasan berpikir, dan berekspresi, dimana rasa persaudaraan universal berada di atas
segalanya, yang mampu memberikan peluang yang sama bagi seluruh rakyatnya untuk
mendapatkan penghasilan dan hak-hak dasar dalam hidup seperti makanan, tempat berlindung,
pakaian, pendidikan, kesehatan, hiburan, dan yang terutama, perawatan lansia untuk diri sendiri
dan keluarga, masih menjadi cita-cita materialistis semua orang. Tetapi, karena manusia juga
memiliki naluri inheren sebagai binatang yang melandaskan perilakunya berdasarkan nalurinya,
maka manusia pun cenderung untuk bersikap egois, dimana dalam situasi parah, sifat egois ini
dapat menyebabkan manusia berisfat tidak adil dan akan mengeksploitasi atau bahkan rela
membunuh demi mengambil hak orang lain. Sehingga, cita-cita negara kesejahteraan pun, masih
sangat sulit dicapai oleh sebagian besar populasi umat manusia. Sudah menjadi fakta umum
bahwa opresi dan eksploitasi tidak akan dapat dihentikan hanya dengan mengandalkan kekuatan
belaka. Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa Sang Pencipta alam semesta, karena cinta-
Nya terhadap umat manusia sebagai “sebaik-baiknya ciptaan-Nya”, tidak pernah gagal dalam
menuntun seluruh manusia. Kebaktian ini diturunkan pada umat manusia dalam bentuk pedoman
ilahi dan melalui nabi-nabi yang menyampaikan pedoman ilahi tersebut langsung dari Tuhan.
Sehingga, pengutusan nabi-nabi dari masa ke masa, mulai dari masa manusia pertama hingga ke
masa dimana manusia telah berkembang menjadi diri terakhirnya dapat disimpulkan sebagai
suatu sistem pedoman bertahap berdasarkan Kehendak ilahi. Kebaktian atau pertolongan seperti
ini hanya mampu dilakukan oleh sang perencana, perancang, dan penyokong segala hal dalam
semesta.
Jika seseorang tidak berpikir secara mendalam untuk mencari arti kehidupan di dunia ini
dengan melihat segala hal yang ada di sekelilingnya dan dengan melenyapkan ego dan cara
hidup materialistis, maka orang tersebut tidak akan dapat menemukan rahasia arti hidup ini.
Ketika seseorang memusatkan pikirannya untuk mempelajari bagaimana milyaran ciptaan yang
Islamic Online University Aqidah 301
63
beragam, kecil dan besar, dapat bekerja dalam keharmonisan yang sempurna dan saling
melengkapi satu sama lain untuk membentuk semesta sebagai suatu kesatuan yang menakjubkan,
maka dia pun akan percaya seberapa agungnya sang Pencipta dan seberapa inferior dirinya.
Bahkan dalam peristiwa yang terlihat tidak teratur pun, pasti ada sebab, cara, tujuan, dan yang
utama, ada sang perancang dibalik peristiwa itu. Sang Perancang yang menciptakan dan menjaga
peristiwa-peristiwa dalam keharmonisan dan keteraturan. Fakta ini akan terlihat jelas bagi
mereka yang berpikir secara obyektif, logis, dan sistematis, dan mereka pun akan mengalami
kesadaran rohani. Supaya manusia mencapai pertumbuhan yang seimbang, aspek raga dan
rohaninya harus berfungsi bersama-sama. Sistem yang mengabaikan satu aspek pun di dalamnya
akan menjadi sistem yang tidak utuh. Bukanlah suatu masalah jika yang dipercaya sebagai Tuhan
oleh orang-orang beriman, disebut sebagai “alam” oleh orang-orang yang tidak beriman, karena
pada dasarnya, esensinya sama saja. Segala hal di alam semesta ini berada dibawah pengaturan
Sang Pencipta yang esa, dan Hukum Sang Pencipta adalah hukum Tuhan atau hukum “alam”.
Tetapi hukum alam pun perlu untuk diatur agar dapat digunakan oleh manusia untuk kebaikan
maupun keburukan, contohnya, pisau dapat digunakan untuk memotong sayuran maupun buah-
buahan, tetapi juga dapat dugunakan untuk melukai orang. Tata cara mengelola penggunaan
sesuatu dengan benar dan cara mencegah penggunaan sesuatu yang salah atau destruktif ini lah
yang ada dalam pedoman yang diberikan Tuhan melalui wahyu ilahi yang diturunkan kepada
nabi-nabi dalam suatu proses evolusioner. Sehingga, hukum-hukum ilahi cenderung untuk
mengatur naluri hewaniah manusia kedalam norma-norma yang benar agar masyarakat manusia
sebagai satu kesatuan berkembang selama masa hidupnya di dunia untuk melanjutkan perjalanan
hidup di masa depan setelah kematian.
Ketika pandangan masyarakat dan negara menurut Marxis dan Komunis dilahirkan
selama abad ke-19 dan diterapkan oleh Soviet Rusia di tahun 1917, ada beberapa agama nasional
dan internasional berkembang di dunia pada saat itu. Pengikut tiap ajaran menyatakan bahwa
ajarannya lah yang terbaik, bukan hanya yang terbaik untuk mencapai negara kesejahteraan yang
damai, tentram, kaya, dan bahagia, tetapi juga yang terbaik untuk keselamatan rohaniah.
Setidaknya salah satu dari ajaran-ajaran ini, yaitu Kristen, adalah ajaran yang dianut sebagian
besar populasi dunia dan yang hampir menjadi satu-satunya ajaran yang dianut oleh perancang
kepemimpinan Marxis dan Komunis Bolshevik negara Soviet Rusia. Penting untuk kita
simpulkan kembali bahwa Kristen adalah agama pengikut Yesus Kristus, utusan Tuhan yang
bertugas “bukan untuk menghilangkan hukum dan nabi sebelumnya, tetapi untuk
menyelesaikannya” dengan cara menunjukkan kepada umat Israil jalan untuk melenyapkan
sebab-sebab berbagai pelanggaran yang dalam hukum Taurat, hukuman pelanggaran-
pelanggaran ini telah dijelaskan. Sepeninggalan Yesus, Santo Paulus melebarkan ajaran ini
kepada orang non-Yahudi, juga dengan alasan yang sama untuk menyebarluaskan “semangat dan
nilai-nilai Kristen” di seluruh dunia, dan khususnya, di Eropa. Bukan hanya ini saja: selama
masa ini, Islam (agama kedamaian) telah muncul, tetapi tidak diketahui oleh sebagian besar
masyarakat Eropa dan bahkan oleh pimpinan Marxisme, sosialisme, dan Komunisme. Islam
adalah agama yang berusia 700 tahun lebih muda daripada Kristen dengan jumlah pengikut
Islamic Online University Aqidah 301
64
terbesar kedua setelah Kristen. Islam mengandung aturan-aturan yang sesuai untuk diterapkan
secara internasional. Islam bertujuan bukan hanya untuk membebaskan manusia secara individu,
kolektif, regional, maupun internasional atas dasar disertasi seimbang secara materialistis,
rohaniah, dan logis, tetapi Islam juga bertujuan untuk realisasi nyata cita-cita negera
kesejahteraan satu dunia di bumi atas dasar rumusan gagal yang telah dicoba, dimana rumusan
ini sekedar menjadi utopia teoritis rancangan sosialisme, Marxisme, dan Komunisme belaka.
Karl Max dan Friedrich Engels, yang karena tidak mengetahui secara mendalam dan menjauhi
pengaruh agama apapun, kemudian mengembangkan teori Marxis Komunis mereka sendiri.
Negara dan sosialisme yang berlandaskan kepada kebencian, revolusi, dan konfrontasi kelas.
Dengan mempelajari secara mendalam sejarah hidup perancang ideologi Komunis dan kondisi
masyarakat Eropa pada masa itu, diketahui bahwa akibat dari ketidakmampuan sebagian besar
pemimpin Marxisme dan Komunisme untuk keluar dari kemisikinan meski telah memiliki
pendidikan yang tinggi dan akibat dari ketidakpedulian mereka terhadap nilai-nilai rohaniah
(Karl Marx sendiri mewarisi keduanya), agama-agama kontemporer pun harus menciptakan
gagasan baru mereka sendiri. Seperti yang dapat dilihat nantinya, ideologi baru pun diciptakan
bukan untuk emansipasi kaum pekerja dan kaum tani (proletar), tetapi untuk memuaskan hasrat
egois pemimpin terdahulu untuk mengeksploitasi dan mengambil keuntungan dari penguasaan
sebuah mesin yang dapat menciptakan kebencian abadi antara kaum proletar dan borjuasi para
majikan, kapitalis, dan antek-antek mereka dengan menciptakan ketidakpuasan di antara
keduanya. Ini jelas bagi mahasiswa sejarah ideologi Komunis bahwa pada kenyataannya,
kelompok yang dipimpin oleh pemimpin Menshevik L. Martov, yang menentang Lenin, yang di
awal tahun 1903, takut akan "kediktatoran partai Bolshevik yang diusulkan oleh Lenin dapat
mengubah partai pekerja menjadi partai yang mengungguli mereka.” Hal ini seratus persen benar
terjadi dalam hampir enam tahun setelah Soviet Komunis Bolshevik didirikan di Rusia karena
seperti yang disadari Lenin menjelang kematiannya, Stalin telah mengumpulkan begitu banyak
kekuatan, hingga hampir mustahil untuk mengurangi tendensi yang terjadi. Saat ini, mitos
tersebut benar-benar menjadi kenyataan, seperti yang terlihat di Polandia, dimana para pekerja
dari negara blok Komunis merdeka, dengan kejam ditekan untuk menyuarakan keluhan mereka
melawan rezim militer Komunis totaliter yang ditempatkan di sana oleh pasukan bersenjata
Presidium Soviet Rusia! Tindakan tersebut adalah bentuk dari kepicikan, ketidaktahuan,
pengabaian kesadaran rohaniah. Karena Lenin tidak belajar dari filosofi agama lain saat itu, dia
pun menerapkan teori utopis Komunisme Bolsheviknya di Rusia pada tahun 1917, dengan
harapan untuk mengubah negara itu menjadi negara kesejahteraan. Hal yang sebenarnya telah
dicapai semenjak lebih dari enam dekade setelah peristiwa bersejarah tsb pun terbukti terjadi.
Penerapan Komunisme Bolshevik di Rusia yang diikuti dengan perluasannya ke Eropa Timur
dibawah kediktatoran totaliter dan pengawasan ketat tim spesialis khusus berisi ideolog,
perencana, militeris, ilmuwan, ekonom, administrator, dan orang-orang intelijen dimana
semuanya bekerja di bawah satu kesatuan rezim selama enam puluh lima tahun dengan
dukungan penuh angkatan bersenjata tanpa sama sekali memperhitungkan nilai-nilai rohaniah,
telah menjadikan Rusia terus-menerus berada dalam krisis kekurangan sumber pangan, dimana
Islamic Online University Aqidah 301
65
pada tahun ini dapat mencapai jutaan ton, belum termasuk sektor produksi lainnya. Satu-satunya
hal hebat yang sejauh ini berhasil dicapai ialah bahwa dalam praktek penghimpunan stok
persenjataan yang ditujukan untuk kehancuran peradaban ini, cita-cita kesejahteraan Marxisme,
Komunisme, dan Sosialisme masih jauh dari kenyataan.
Namun demikian, dengan melihat kegagalan upaya 65 tahun Rusia dan Eropa Timur
sebesar 400 juta, yang dilakukan demi menciptakan negara sejahtera dan masyarakat bebas
konfrontasi yang digambarkan oleh doktrin Marxis-Komunis, kita dapat berpendapat bahwa, jika
pada saat sebelum evolusi doktrin 150 tahun yang lalu oleh Karl Marx dan Fredrich Engles
karena "salah membaca sejarah manusia" terjadi, dan sebelum penerapan Komunisme Bolshevik
di Uni Soviet oleh Lenin dan rekan-rekannya enam puluh lima tahun lalu yang melenyapkan
jejak kapitalisme dan agama apa pun dilakukan, jika saja pada saat itu mereka mempelajari
secara mendalam filsafat-filsafat berbagai macam agama yang ada, khususnya Islam, untuk
menguji apakah ada filsafat dan cara hidup yang mengakui keberadaan Tuhan Maha Pengasih,
Sang Perencana, Sang Pencipta dan pada saat yang sama, filsafat tersebut juga mengandung
sebuah disertasi untuk evolusi menuju negara kesejahteraan yang bebas dari konfrontasi antar
kelas, bukan hanya untuk suatu negara atau daerah tertentu, tetapi untuk seluruh umat manusia
selamanya, dan tentunya lebih baik daripada konsep Marxis-Komunis, maka dalam kurun waktu
beberapa dekade, mereka pasti akan berhasil mendirikan sebuah kerangka yang benar, yang
berlandaskan bukan pada konfrontasi, tetapi pada cinta dan kedamaian. Tetapi pada
kenyataannya, mereka malah memilih untuk mengembangkan konsep mereka sendiri di bawah
pengaruh sejarah manusia. Mereka menganggap bahwa sejarah manusia pada dasarnya akan
selalu mengenai konfrontasi kelas masyarakat dan bahwa agama merupakan suatu halangan
untuk mencapai emansipasi masyarakat sejahtera!
Marxisme, Komunisme, dan Sosialisme
Masyarakat Komunis semestinya sudah terbentuk dalam tahapan-tahapan komunitas
sosialis selanjutnya ketika barang-barang menjadi begitu berlimpah sehingga barang-barang itu
didistribusikan atas dasar kebutuhan, bukan atas dasar usaha keras. Penulis asal Prancis, Francois
Marie Charles Fourier (1772-1837) serta Comte Henri de Saint-Simon (1760-1825), dan Penulis
asal Inggris, Robert Owen, dan yang lain, sebenarnya adalah penggagas pemikiran sosialis Barat
yang dimodifikasi oleh kaum sosialis utopis pada abad ke-19 untuk menyebarluaskan falsafah
sosialisme sebagai ideologi yang dapat diterapkan. Menurut Simon, melalui penghapusan sumber
kekacuan publik, unsur perusak dalam institusi negara dapat dilenyapkan. Sehingga, kemunculan
industrialisasi kontemporer seharusnya menjadi pembuka jalan untuk kepemimpinan para ahli.
Dia berpendapat bahwa, meskipun semua manusia tidak dilahirkan dengan naluri yang sama,
tetapi dengan memberikan peluang yang setara pada semua orang untuk menaikkan derajatnya
berdasarkan kerja kerasnya, maka yang terbaik pun dapat dicapai sepadan dengan bakat individu
Islamic Online University Aqidah 301
66
tersebut. Dengan demikian, keuntungan terbaik dari revolusi industri dapat diperoleh melalui
keikutsertaan pengetahuan ilmiah dan teknologi dalam industri.
Sintesis Fourier mengatakan bahwa aturan atas orang-orang harus diganti dengan
“administrasi hal-hal.” Pengikut Fourier melebarkan ide ini dan menyatakan bahwa konsep
kepemilikan properti pribadi tidak sesuai dengan sistem indsutri baru dan bahwa kepemilikan
yang turun-temurun tidak kondusif terhadap tatanan masyarakat nasional. Mereka bahkan mulai
membentuk Gereja Santo-Simon untuk menguatkan dan menyembunyikan anggapan mereka
bahwa properti borjuasi atau kapitalis tidak bersifat sakral. Fourier sendiri, yang telah gagal
menjadi seorang pedagang karena dihadapkan dengan persaingan keras, adalah orang yang
cerdas tapi murung. Secara alami, dia telah mengembangkan visi anti-kapitalis dan merupakan
orang yang memiliki imajinasi luas. Dia bahkan merenungkan bahwa di masa depan,
transformasi sosial dan sosiologis dapat terjadi di mana “lautan bisa menjadi limun dan hewan
liar dapat menjadi anti-singa dan anti-harimau untuk melayani manusia!” Pada asumsi dasar
yang mencurigakan ini, dia mulai merencanakan utopia masyarakat sosialis. Untuk melayani
sebagai "sel germinal" dari masyarakat model masa depan, komune akan terbentuk di mana,
daripada dipaksa untuk melakukan pekerjaan yang tidak sesuai, manusia akan bekerja dalam
irama dengan kecenderungan dan temperamen mereka untuk melakukan pekerjaan apa pun yang
mereka suka selama berhari-hari dan berbulan-bulan, bahkan sering mengubah jos di hari yang
sama, sebuah konsep baru di mana diri manusia tidak dikendalikan oleh kekuatan arah dan
regulasi eksternal tetapi tindakan didikte oleh cinta dan semangat, mengikat masyarakat secara
harmonis tanpa paksaan.
Robert Own (1771-1858), seorang pemilik pabrik tekstil di Skotlandia yang dikenal
karena kebaikannya kepada para pekerjanya, adalah seorang reformator pendidikan dan pabrik
yang telah beralih ke persatuan buruh setelah mengembangkan kebencian pada sesama kapitalis
lainnya karena kerasnya mereka terhadap pekerja mereka. Dia berpikir bahwa manfaat
industrialisasi dapat lebih baik dicapai dengan menambah industri dan pertanian melalui gerakan
koperasi untuk standar hidup yang lebih baik serta untuk meningkatkan kesehatan pikiran dan
fisik melalui pengaturan fasilitas rekreasi kolektif di setiap pemukiman. Meskipun beberapa
permukiman masyarakat yang didirikan di Amerika sebagai percobaan lapangan dari teorinya
semua gagal, filsafatnya masih tetap merupakan kontribusi paling penting bagi ideologi sosialis
di barat.
Pada paruh pertama abad ke-18, doktrin sosialis diperkaya oleh teori kesukarelaan dan
kebajikan tindakan revolusioner serta usulan Louis Blanc untuk membentuk lokakarya nasional
dengan modal pemerintah yang dikelola oleh para pekerja dan tanpa kendali pemerintah,
persetujuan Etienne Cabet dengan pandangan Fourier dan visi anarkis Pierre Joseph Proudhon
menyerang properti pribadi. Hal ini diikuti oleh Manifesto Komunis Karl Marx (1848) yang
berisi filosofinya yang ia sebut "sosialisme ilmiah," pencampuran filsafat idealis Jerman,
ekonomi politik Inggris dan sosialisme Prancis, sehingga berkembang "sosialisme praktis" untuk
melawan utopia dari para pendahulunya, meskipun setiap ide sosialis ini masih tetap murni
Islamic Online University Aqidah 301
67
teoritis dalam pendekatan. Marx tidak menemukan sejarah sebagai perjuangan terus-menerus
antara yang kaya dan yang miskin, tetapi sebuah konfrontasi untuk eksistensi di antara kelas-
kelas berbeda dari orang-orang yang berbagi posisi bersama dalam proses produktif untuk
merealisasikan kepentingan bersama. Dengan demikian, ia membayangkan sejarah sebagai
perjuangan antara kelas-kelas masyarakat dan membayangkan keseimbangan akhir yang
dibangun antara pengusaha kapitalis dan pekerja untuk mengembangkan masyarakat berdasarkan
produksi koperasi tanpa pembatasan ekonomi dan sosial, mengakhiri perang kelas. Manifesto
Komunis dari Marx, bagaimanapun, tidak meninggalkan kesan yang mendalam pada revolusi
Eropa abad ke-19 dan, seperti halnya dengan setiap sosialis pada masa-masa sosialisme, adalah
kepercayaan yang sebagian besar hanya dimiliki oleh orang-orang buangan yang terisolasi. Perlu
dicatat bahwa Marx juga hidup sebagai pengasingan bersama dengan rekannya, Friedrich Engel,
yang dikeluarkan dari gerakan buruh Eropa.
Teori Marxis adalah penemuan Karl Marx dan rekannya, Friedrich Engel. Dipengaruhi
oleh teori Marxis, teori Komunis berkembang pada tahun 1833 oleh G.V. Plekhanov dan P.B.
Axelrod, yang mendirikan kelompok untuk emansipasi tenaga kerja. Melepaskan diri dari
Norodiniki yang lebih tua, yang mengandalkan revolusi tani sebagai sumber emansipasi Rusia,
kelompok itu mengajarkan doktrin bahwa poros utama keberhasilan revolusioner haruslah kelas
pekerja yang terorganisasi dan penekanannya pada struktur kelas masyarakat dapat
menjadikannya dianggap sebagai organisasi Marxis pertama Rusia. Teori ini dimasukkan ke
dalam praktik sebagai percobaan lapangan dengan kekuatan penuh di Rusia, oleh Lenin.
Adalah menarik untuk mendapatkan catatan sejarah dari tokoh-tokoh dan peristiwa-
peristiwa utama dalam usaha Marxis-Komunis, setelah mengetahui apa itu Komunisme dan
Marxisme.
Karl Marx
Karl Heinrich Marx, salah satu dari tujuh anak dari orangtua Yahudi, ayah yang menjadi
pengacara, lahir pada tahun 1818 di Prusia, bagian dari Jerman. Heinrich, sang ayah, setelah
masuk Kristen pada tahun 1817, putra Karl juga dibaptis sebagai orang Kristen delapan tahun
kemudian. Selama periode sekolah menengah, tulisan-tulisan Karl menunjukkan rasa pengabdian
Kristen dan keinginannya untuk pengorbanan diri bagi kemanusiaan. Di Universitas Bonn, ia
lulus, pada tahun 1835, dalam bidang kemanusiaan, terutama mitologi Yunani dan Romawi dan
sejarah seni. Di sekolah dia berpartisipasi dalam kegiatan siswa dan dipenjara selama sehari
karena mabuk dan menjadi bajingan. Pada tahun 1836 ia bergabung dengan Universitas Berlin
untuk mempelajari hukum dan filsafat. Sementara di Berlin ia terkena doktrin-doktrin idealis
Hegel dan ia kemudian bergabung dengan Klub Dokter Bruno Bauer, seorang dosen teologi yang
mengembangkan gagasan bahwa Injil-injil Kristen adalah fantasi manusia yang dikembangkan
untuk kebutuhan emosional manusia dan bukan pada kronik dari Yesus (‘alaihissalam) yang
Islamic Online University Aqidah 301
68
bersejarah. Generasi yang lebih muda, dipengaruhi oleh doktrin Hegelian dan ide-ide Bauer
segera menjadi condong ke arah ateisme dan rasa revolusi melalui tindakan politik untuk
mengubah masyarakat korup yang ada. Marx, bagaimanapun, berhasil menerima gelarnya pada
tahun 1841. Dalam tesisnya, Karl mengatakan bahwa dia menganggap Prometheus yang telah
berkata, “Dalam kesungguhan semua dewa yang aku benci,” sebagai orang-orang kudus dari
para santa dan martir yang dikenal dengan filsafat.
Dari tahun 1842, selama satu tahun, ia mengedit sebuah surat kabar tetapi, setelah ditunda
oleh pemerintah, ia pergi ke Paris untuk mempelajari Komunisme Prancis. Di Paris, setelah
berhubungan dengan masyarakat Komunis pekerja Perancis dan Jerman, Marx menjadi lebih
terlibat dalam meningkatkan seruan untuk “pemberontakan proleteriat,” dengan pernyataannya
bahwa “agama adalah candu rakyat.” Setelah diusir dari Prancis di bawah tekanan dari
pemerintah Prusia, Marx berangkat ke Brussels, meninggalkan kewarganegaraan Prusianya. Di
sana ia berhubungan dengan Friedrich Engels, yang telah diinisiasi ke dalam ideologi Komunis
oleh Yahudi Musa Hess, yang dikenal sebagai "Rabi Komunis." Di Brussels, pandangan
materialistik umum tentang Marx dan Engels, yang diperkuat oleh Robert Owen dari Inggris,
menjadi mengkristal. Mereka bersikeras bahwa tahap masyarakat borjuis tidak dapat dilompati,
bahwa kaum proletariat tidak bisa begitu saja melompat ke dalam Komunisme dan bahwa
gerakan buruh memerlukan basis ilmiah dan bukan frase-frase moralistik. Buku-buku dan risalah
utama periode ini adalah The Holy Family, yang diterbitkan aslinya pada tahun 1845, dan The
German Ideology, yang ditulis pada tahun 1845-1846. Marx bahkan menyerang pandangan-
pandangan Pierre Joseph Proudhon, yang ingin menggabungkan yang terbaik dari persaingan dan
monopoli dengan menerima apa yang baik di masing-masing dari mereka sementara
menghindari aspek-aspek buruk mereka.
Manifesto Komunis (1848) adalah yang berikutnya. Pada tahun 1847, Marx dan Engels
bergabung dengan The League of the Just, sebuah perkumpulan rahasia yang terdiri dari para
pekerja dan pengrajin Jerman yang emigran yang didirikan di London; namanya diubah menjadi
The Communist League. Program dari League ini dikembangkan oleh Marx dan Engels yang
menyatakan bahwa sejarah manusia masa lalu telah menjadi sejarah perjuangan kelas dan bahwa
kemenangan proletariat harus menjadi perjuangan terakhir yang mengakhiri masyarakat kelas
untuk selamanya. Ia mengkritik semua bentuk sosialisme yang didirikan di atas jaring laba-laba
sebagai pengasingan dan menolak segala jenis "utopia sosial" yang didasarkan pada eksperimen
komunitas kecil sebagai "sekte reaksioner" yang meniadakan perjuangan kelas.
Pada tahun 1848, ketika revolusi pecah di Prancis, Italia dan Austria, Marx menyeberang
ke Paris, di mana ia bahkan menentang sebuah proyek yang ditujukan untuk menyerang Jerman
guna membebaskannya. Ketika revolusi mencapai Austria dan Jerman, ia kembali ke Rhineland,
di mana ia menyukai koalisi proletariat dan borjuis demokratik, dan bersekutu dengan Engels,
mengesampingkan Manifesto Komunis, bahkan membubarkan Liga Komunis. Namun, setelah
konfrontasinya dengan pemerintah, ia dibuang pada tahun 1849 dari Jerman dan menjadi
terasingkan lalu kemudian, karena diusir juga dari Paris, ia pergi ke London, sebagai akibat
Islamic Online University Aqidah 301
69
kegagalan terus-menerus mereka di masa lalu untuk mencapai kerja sama dan akomodasi dengan
kaum sosialis dan borjuis, maka Marx dan Engels akhirnya memutuskan untuk mengembangkan
kebijakan independen mereka sendiri untuk tidak tunduk kepada orang lain, untuk membuat
revolusi tetap dengan menghindari sikap tunduk kepada partai-partai borjuis, dan untuk mengatur
pemerintah pekerja revolusioner mereka sendiri berdampingan dengan setiap orang borjuis baru.
Mereka berpendapat bahwa kaum proletariat mungkin harus menjalani hingga lima puluh tahun
perang saudara dan perang nasional tidak hanya untuk mengubah kondisi tetapi bahkan untuk
mengubah diri mereka sendiri dan memenuhi syarat untuk kekuasaan politik, daripada berharap
untuk mencapai kekuasaan dengan segera.
Dari tahun 1850 hingga 1864, dalam keadaan hampir tidak memiliki pekerjaan, Marx
harus mengalami kesengsaraan dan kemiskinan akut di mana ia hidup hanya dengan roti dan
kentang selama enam tahun, dan melihat tidak hanya kematian beberapa anak-anaknya tetapi
bahkan pengusirannya dari rumah sewaannya. Namun, Engels tetap menjadi teman sejati
baginya untuk bantuan keuangan. Dalam karyanya, Critique of Political Economy tahun 1859,
bisa didapati bagaimana Marx sampai pada konsepsi materialistiknya tentang sejarah. “Modus
produk dalam kehidupan material menentukan karakter umum dari proses kehidupan sosial,
politik dan spiritual. Bukan kesadaran manusia yang menentukan eksistensi mereka, tetapi
sebaliknya keberadaan sosial mereka adalah apa yang menentukan kesadaran mereka.” Teori ini
180 derajat keluar dari fase dengan konsep agama, Marx telah menyamakan manusia secara jujur
dengan dunia hewan, tidak memberikan sedikit pun penghargaan atas kelebihan manusia karena
kendalinya terhadap kesadaran moral, yang pada gilirannya dikendalikan oleh bimbingan
spiritual.
Hingga tahun 1864, Marx tinggal di London dalam isolasi politik tetapi dengan
didirikannya Asosiasi Pria Pekerja Internasional ia bergabung dengan organisasi tersebut. Ketika
perang Franco-Prussia pecah pada tahun 1870, Marx dan Engels mendukung upaya perang
Prusia, menyatakan bahwa itu adalah perang pertahanan Jerman. Pada kekalahan Prancis, ketika
pemberontakan Paris pecah memprotes syarat-syarat perdamaian, keduanya bergabung dengan
sisi para pemberontak, menyatakan bahwa istilah-istilah Jerman berjumlah “pembesaran” dengan
mengorbankan orang-orang Perancis. Meskipun pemberontakan diremukkan, Marx memuji
penyebabnya, dengan mengatakan, “Sejarah tidak memiliki contoh yang sebanding dengan
keagungan seperti itu .... Para martirnya diabadikan selama-lamanya di jantung kelas buruh.” Dia
dan Engels menganggapnya sebagai contoh pertama dari “kediktatoran proletariat.”
Das Kapital-nya (1867), yang merupakan publikasi utama yang selalu disebut oleh kelas
pekerja (proletariat), menjelaskan secara mendetail antara lain tentang kesengsaraan kelas
pekerja Inggris, yang ia percaya akan meningkat ke titik di mana monopoli dari modal hampir-
hampir mencekik produksi sampai "pertanda buruk dari properti pribadi kapitalis terdengar. Para
perampas dirampas ”
Islamic Online University Aqidah 301
70
Dia mengklaim bahwa setiap fase perkembangan produksi dikaitkan dengan perjuangan
kelas yang sesuai, yang mengarah pada kediktatoran proletariat dan akhirnya masyarakat tanpa
kelas berevolusi. Ini tidak ada apa-apanya selain tali tanpa ujung tanpa harapan untuk mencapai
yang ideal. Tanpa adanya sintesis program yang konkrit (kecuali memanfaatkan situasi apa pun
yang menguntungkan proletariat) untuk membangun kediktatoran proletariat, ideologi Marx
tidak menekankan gagasan yang berguna untuk solusi sistematis bahkan masalah kelas pekerja.
Dalam proses ini ia secara keseluruhan melupakan teori dasar evolusi alamiah yang terlepas dari
bersama dengan pegunungan, dataran, laut dalam dan kosmos yang dibentuk oleh ciptaan yang
tak terhitung banyaknya, hidup dan mati, yang terkuat akan bertahan hidup sesuai dengan
rencana alam dan melalui kemauan untuk hidup, meskipun makhluk lain dan kekuatan alam
dalam banyak kesempatan tidak menguntungkan. Lebih lanjut, tidak ada dua hal di alam yang
tampak sama dalam segala hal dan bahkan jika seluruh kekayaan dunia diberikan kepada
seseorang, kecuali kesadarannya mengembangkan pandangan bahagia, ia tidak bisa benar-benar
bahagia atau puas. Bukan soal-soal kelas yang sebenarnya penting, tetapi penyesuaian yang
mungkin terjadi di antara kelas-kelas untuk membentuk masyarakat persaudaraan yang seragam.
Kelas berdasarkan profesi akan selalu ada dalam masyarakat tetapi penyesuaian mental saja
dapat menyingkirkan perbedaan sosial antara yang tinggi dan rendah. Bahkan menurut doktrin
Marx dan Engels, masyarakat tanpa kelas hanya dapat muncul ketika kaum proletar menganggap
kediktatoran pada akhir perjuangan abadi atau bahkan perang melawan borjuis. Tetapi "rasa
puding itu sedang dimakan," dan kita sekarang telah melihat operasi uji coba lapangan
sebenarnya dari teori Komunis di soviet-soviet Rusia, di mana selama enam puluh lima tahun
terakhir ini bukan proletariat yang merupakan diktator tetapi orang lain yang tidak ada
hubungannya dengan kelas pekerja.
Sekali lagi, apa yang disebut telah menjadi kediktatoran kelas pekerja tampak jelas dalam
adegan Inggris, di mana bahkan pemerintah tidak berdaya melawan keputusan unilateral untuk
menyerang, yang dibuat sesuai dengan keinginan para pemimpin persatuan buruh, yang bekerja
di Rolls-Royces untuk menghasut kelas pekerja, meminta lebih banyak upah bukan untuk
kebutuhan pokok tetapi untuk minum dan perjudian, sehingga membuat apa pun yang diproduksi
di negara itu lebih mahal daripada di tempat lain di dunia dan memaksa pabrik seperti baja,
otomotif dan sejenisnya bahkan di perusahaan milik negara - yang pernah tercatat karena
efektivitas biayanya, disiplin dan kerja yang efisien - harus tutup karena menderita kerugian,
membuat jutaan pekerja pengangguran dan meninggalkan keluarga mereka yang tertekan dan
miskin.
Sangat disayangkan bahwa pada saat Marx dan Engels menyusun bagian teoritis
Komunisme Marxis, mereka tidak dapat memahami bahwa ada solusi lain yang lebih baik untuk
mencapai status kesejahteraan ideal selain dari solusi mereka yang melibatkan seluruh umat
manusia dalam konfrontasi abadi dan perang kelas yang bertujuan membentuk suatu kaukus
partai yang bukan berasal dari kalangan petani dan kelas pekerja yang sesungguhnya, melainkan
merupakan sebuah perkumpulan kaum intelek yang berasal dari luar kelas proletar dan yang
Islamic Online University Aqidah 301
71
berperan sebagai diktator di balik layar untuk memastikan satu kelas masyarakat tetap berada di
bawah penindasan dan supresi kelas lain. Dengan kepintaran dan pendidikan yang mereka miliki,
seharusnya mereka dapat memformulasikan alternatif yang lebih baik menuju pencapaian negara
sejahtera yang memberikan kesempatan setara untuk semua kelas masyarakat untuk maju
bersama-sama, yang secara kokoh bersandar pada fondasi cinta sesama manusia, keadilan dan
persaudaraan universal dimana tiap kelas saling berkontribusi dan saling melengkapi yang
terbaik untuk kemakmuran keseluruhan tanpa penindasan sama sekali dan yang melenyapkan
segala kemungkinan terjadinya persaingan antar kelas. Sayangnya, karena teori Marxisme
disusun berdasarkan pemahaman dan latar belakang terbatas penulisnya, maka teori itu pun tidak
dapat menjadi implikasi nyata dari apa yang ditakuti oleh L. Martov dari kelompok Menshevik
yang melawan Lenin di tahun 1903. Setelah kemenangan kelas proletar, banyak pesaing muncul
dengan harapan untuk naik ke kursi utama kekuasaan dan para diktator ini pun akan dapat
"mengubah partai pekerja menjadi partai di bawah kekuasaan mereka," seperti yang terjadi di
hari-hari terakhir Lenin, ketika Stalin mengumpulkan begitu banyak kekuatan, sehingga Lenin
pun tidak dapat membalikkannya. Dengan demikian, rantai penindasan seperti yang terjadi
dalam rezim komunis, yang terakhir terjadi di Polandia, akan terus berlangsung selamanya.
Friedrich Engels
Sosialis Friedrich Engels, bersama dengan Karl-Marx, adalah pendiri teori Komunisme
Marxist. Sebagai rekan Karl Marx, dia bekerja di belakang Karl dan mengembangkan teori
sosialisme dan komunisme Marxist untuk menyebarkan pergerakan sosialis di Eropa. Di kota
Bremen, Engels menulis risalah The German Ideology dan The Condition of the Working Class
in England yang berlandaskan dari pengalaman sebelumnya. Dia tinggal di kota Brussel, Paris,
dan London. Engels lah yang berperan mengubah Liga Keadilan menjadi Liga Komunis. Setelah
gagalnya Revolusi Jerman pada tahun 1848, Marx dan Engels kembali ke London untuk
mengatur ulang Liga Komunis, dimana mereka menyusun instruksi teknis kepada kaum
Komunis dengan harapan revolusi di Jerman dapat terjadi lagi.
Karena alasan ekonomi, Engels kemudian bergabung sebagai pegawai ke dalam
perusahaan ayahnya di Mancester. Engels menjadi pemilik perusahaan Ayahnya dan pada saat
yang sama, juga ikut menyebarkan ideologi Komunis bersama Marx. Kehidupan Engels ini
mendemonstrasikan hidupnya yang hipokrit dan ironis, karena ia menjalani hidupnya sebagai
seorang kapitalis dengan mendapatkan keuntungan dari perusahaannya. Ia terus membantu Marx
secara finansial dan pada akhirnya, ia menjual saham miliknya dalam perusahaan kapas di
Mancester. Engels telah memiliki cukup uang untuk menghidupi dirinya dan untuk mendanai
rekan kerjanya. Bahkan, Engels menjadi penasihat Marx perihal urusan eknomi, bisnis, praktek
industri, kebangsaan, militer, hubungan internasional, dan sains. Sementara Marx berperan
sebagai teoritisi, Engels memasarkan gagasan yang ia miliki melalui tulisan-tulisannya. Karena
Engels-lah, kaum Komunis menjadikan Das Kapital karya Marx sebagai “Kitab” Marxisme.
Islamic Online University Aqidah 301
72
Setelah kematian Marx di tahun 1883, Engels tetap menjadi pendiri Marxisme. Dia juga telah
menyelesaikan catatan-catatan Marx dan menambahkan beberapa jilid dalam Das Kapital serta
tulisan-tulisan lainnya. Engels meninggal akibat kanker di London pada tahun 1895.
Lenin
Vladimir Ilyich Ulyanov dilahirkan di Simbirsk pada tahun 1870. Dia mengganti
namanya menjadi “Ulyanovask” dan memakai nama palsu “Lenin” di tahun 1901 setelah
pengasingannya di Siberia karena pekerjaan partai bawah tanah. Di usia 16 tahun, Lenin sudah
mulai cenderung mengikuti Ateisme. Sebagai satu dari lima bersaudara anak inspektur berpikiran
liberal, Lenin dan saudara-saudaranya yang berpendidikan tinggi, bergabung ke dalam
pergerakan revolusioner karena kaum cendekiawan dan orang-orang berpendidikan tinggi pun
pada masa itu tidak mendapatkan hak politik dan hak kewarganegaraan mereka di masa Ketsaran
Rusia. Bahkan, tidak lama sebelum meninggal, ayah Lenin diancam akan mendapatkan pensiun
dini karena pemerintahan sipil tsar takut pendidikan akan tersebar di masyarakat. Saudara tertua
Lenin digantung karena terlibat dalam konspirasi kelompok teroris yang berencana untuk
membunuh Kaisar Aleksandr III Rusia. Di usia 17 tahun, Lenin mulai memberi reaksi pada
kebijakan politik masa itu. Dia belajar di Santo Petersburg dan universitas-universitas
Kekaisaran Kazan. Namun, selama masa penganggurannya (akibat dari penolakan Lenin untuk
kembali ke universitas dengan alasan bahwa ia dikeluarkan dari universitas sebelumnya karena
ikut berpartisipasi dalam pertemuan mahasiswa ilegal), ia mulai berasosiasi dengan kaum
revolusioner yang diasingkan dan dengan orang-orang generasi terdahulu yang berpikiran sama
dengannya di Kazan dan di tempat lain. Setelah membaca Das Kapital, dia menjadi pengikut
Marxist di tahun 1889. Karena telah diizinkan untuk mengikuti ujian universitas di tahun 1891,
dia pun lulus ujian hukum dengan peringkat pertama di semua pelajaran. Pada tahun 1892,
karena ia diterima bekerja dalam ruang sidang, Lenin pun bekerja di bidang Hukum mewakili
rakyat jelatah dan seniman selama dua tahun. Pindah ke Leningrad di tahun 1893, ia bekerja
sebagai pembela umum dan disana Lenin berhubungan dengan revolusioner-revolusioner Marxis
yang kemudian mengutusnya pada tahun 1895 untuk bertemu dengan korban-korban
pengasingan Rusia di Eropa Timur dan pemikir Marxis, Gregory Plekhanov. Sekembalinya dari
Eropa Timur, di tahun yang sama, L. Martov (yang nantinya menjadi pemimpin kaum
Menshevik dan menentang kaum Bolshevik yang dipimpin oleh Lenin) dan kaum Marxis lain
berhasil menyatukan penganut Marxis untuk membentuk The Union for the Struggle for the
Liberation of the Working Class, dimana setelah menyelusup ke dalam kelas pekerja untuk
mendidik mereka tentang Marxisme, mereka kemudian menyebarkan pamflet dan proklamasi
mewakili kelas pekerja dan mendukung mogok kerja. Sepulangnya di tahun 1900, Lenin pergi ke
Munich dimana ia menjadi penyunting surat kabar Iskra bersama komrad Plekhanov dan Martov,
dengan harapan untuk menyatukan seluruh kelompok-kelompok sosialis dan Marxis Eropa ke
dalam satu Partai Sosial Demokrat dengan tujuan revolusioner yang sama.
Islamic Online University Aqidah 301
73
Sebelumnya, Lenin telah menulis beberapa literatur yang mengajak para pekerja untuk
mogok kerja dan untuk mengguncang kepatuhan mereka terhadap kekuasaan Tsar karena
kekuasaan imperialis membantu para kapitalis untuk menyusahkan hidup kelas pekerja. Lenin
juga mengkritik orang-orang Sosial Demokrat yang hanya berfokus untuk mendapatkan
penambahan gaji dan pengurangan jam kerja untuk para pekerja, mengabaikan permasalahan
politik. Akibatnya, kaum burjois-lah yang menguasai dunia politik. Lenin juga banyak
memikirkan masalah-masalah kaum proletar. Hingga tahun 1890, Lenin menganut pandangan
Plenkhanov bahwa kaum tani dan kaum buruh harus terlebih dahulu membawa revolusi burjois
di Rusia, membangun republik demokratik dan kapitalisme yang kuat dari kaum proletar yang
kemudian akan mengantarkan sosialisme penuh untuk pencapaian organisasi politik tingkat
tinggi, kesadaran sosialis, dan budaya di antara kaum proletar. Namun, sejak tahun 1894 dan
seterusnya, pandangan Lenin berubah karena dia merasa bahwa meski seluruh pertanian di Rusia
telah dibagi di antara komune, sosialisme masih belum dapat terbangun karena pasar produksi
dan penjualan masih ada dibawah kendali kapitalis dalam sistem pasar bebas. Lenin takut bahwa
beberapa komune akan mengutamakan kepentingan dirinya sendiri dan akan menciptakan
pertumbuhan mini-kapitalis. Alhasil, komunis pun pada akhirnya akan menjadi “demokrat
burjois picik.” Sehingga, Lenin pun meyakini bahwa sosialisme sesungguhnya tidak dapat
dicapai kecuali seluruh kepemilikan pribadi, sarana produksi, dan sistem pasar dilenyapkan.
Namun, gagasan Lenin tidak diterima oleh sebagian besar pemimpin Marxis dalam kongres
pertama mereka yang diadakan di Minsk tahun 1898. Kongres kedua dilaksanakan pada tahun
1903 di Brussels, namun karena adanya intervensi polisi, lokasi kongres pun dipindahkan ke
London. Dalam kongres ini, sebagaimana yang ada dalam pamflet tahun 1902 nya, gagasan
Lenin tentang organisasi partai yang “karena meski para pekerja terlibat untuk bersatu sebagai
proletar melawan kapitalisme dapat mengkompromikan perihal urusan upah dan jam kerja,
hanya satu partai saja lah, yang terbentuk dari pengikut yang berdedikasi, sadar, jujur, disiplin,
dan percaya pada Marxisme, yang harus mengarahkan proletar tentang bagaimana cara
menciptakan revolusi pekerja melawan kaum kapitalis dan yang harus terus mengemban
tugasnya untuk waktu lama, bahkan setelah kekuasaan telah dicapai oleh kelas proletar, ini
dilakukan agar setiap kecenderungan pihak kaum kapitalis atau kaum minikapitalis untuk
bangkit kembali dapat dihancurkan sampai sosialisme yang sesungguhnya menjadi sebuah kunci
dalam seluruh masyarakat, pertama-tama masyarakat di negara sendiri dan kemudian hari di
seluruh dunia.”, juga ditolak oleh kelompok dibawah kepemimpinan Pelkhanov-Martov-Leon
Trotsky dengan alasan bahwa “gagasan ini dapat mengubah partai untuk proletar menjadi
kediktatoran bagi proletar.” Namun, sebagai langkah awal pertama yang damai, di bawah alibi
kebutuhan, "sebuah partai jenis baru," yang meski dipandu oleh "sentralisme demokratik" atau
disiplin partai absolut atas dasar badan yang sangat tersentralisasi yang diatur oleh revolusioner-
revolusioner berpengalaman dan profesional, yang homogen secara ideologis dan yang dipilih
oleh komite pusat, tetap dipimpin oleh hierarki organisasi-organisasi partai bawah yang
menikmati dukungan dan simpati kaum proletar dan semua kelompok penentang Tsarisme yang
telah berevolusi. Meskipun demikian, kelompok saingan yang dipimpin oleh Pelkhanov, Martov,
Islamic Online University Aqidah 301
74
dan Trotsky menuduh bahwa usulan Lenin ini tidak cocok untuk kaum proletar, melainkan hanya
akan mendukung kediktatoran. Mereka juga mengindikasikan bahwa alih-alih akan menjadi
partai kaum proletariat, sistem ini malah dapat berujung pada terbentuknya kediktatoran.
Meskipun telah kalah karena kelompok “Bundi” keluar dari kongres kedua akibat terdominasi
oleh partai Sosial Demokrat Yahudi, Lenin pun ditinggalkan dengan sedikit mayoritas tersisa
untuk kelompoknya dalam partai, sehingga ia mulai bekerjasama dengan partai baru Sosial
Demokrat Rusia. Kedua kelompok ini saling berseteru dalam partai, sampai pada tahun 1912
dalam konferensi Praha, Lenin pun memutuskan untuk memisahkan partainya, Partai Bolshevik
(Mayoritas), dari Menshevik (Minoritas).
Setelah kegagalan revolusi 1905, Lenin diasingkan hingga tahun 1917. Salah satu alasan
utama terjadi kekalahan revolusi ialah akibat dari terpisahnya Lenin dan Plekhanov. Namun,
kegagalan revolusi ini melahirkan sebuah campuran represi dan reformasi kecil yang dilakukan
oleh pemerintahan Tsar, yang menutup kemungkinan terjadinya revolusi lagi di masa depan,
sebagai akibat dari kontroversi perihal falsafah dan strategi dalam kedua kelompok. Pada tahun
1914, akibat dari pecahnya Perang Dunia Pertama, kaum sosialis dimana-mana mulai ikut
membantu imperialis dalam perang di Eropa, mereka mengabaikan sumpah yang mereka buat
dalam kongres kedua untuk melawan kapitalis. Sehingga, Lenin menganggap rekan-rekan
sosialisnya yang membantu perang sebagai “sauvinis sosial” yang mengkhianati Kongres
Komunis Internasional Kedua. Dengan mendapat sedikit bantuan, Lenin berhasil menyebrang ke
kawasan netral Swiss, dimana pada tahun 1914, ia bertemu dengan beberapa pekerja imigran
Bolshevik dan Menshevik yang sepemikiran dengannya. Dalam kongres anti-perang sosialis
yang dilaksanakan di Swiss pada tahun 1915 dan 1916, pertimbangan Lenin “untuk mengubah
perang imperialis menjadi perang sipil” tidak diterima. Kongres kemudian mengangkat slogan,
“Kedamaian secepatnya tanpa aneksasi atau ganti rugi dan hak rakyat untuk menentukan nasib
mereka sendiri.” Dengan semangat yang tidak pernah padam, Lenin tetap melanjutkan usahanya
untuk mendidik opini publik melalui pamfletnya seperti Imperialism: The Highest Stage of
Capitalism (1917), dimana ia menekankan dan membuktikan bahwa perang yang terjadi adalah
akibat dari “Sifat ekspansionis yang tak pernah puas dari imperialisme yang merupakan produk
dari monopoli keuangan korporat.” Bank-bank kapitalis yang telah membawa ekonomi dunia di
bawah kendali mereka baik secara langsung atau tidak langsung, dengan bantuan imperialis,
telah mengumpulkan kekayaan luar biasa dari koloni-koloni dan menciptakan persaingan antara
kekuasaan imperialis kolonial untuk menguasai koloni-koloni. Ini tentunya adalah kesimpulan
yang benar dari apa yang dapat dilihat terjadi dalam sejarah penjajahan dunia.
Pada tahun 1917 keberuntungan akhirnya menyingsing pada nasib Lenin. Di awal tahun
tersebut, pasukan yang kelaparan, kedingingan, dan kecewa dari Petrograd Garrison berhasil
dalam penggulingan kaisar dengan bantuan Jerman, Lenin dan pasukannya berencana untuk
melewati Rusia melalui Swedia. Sebulan kemudian, kaisar dipaksa untuk bertekuk lutut. Sebuah
pemerintahan sementara telah dibentuk di petrograd oleh sekelompok pemimpin kaum partai
liberal burjuis dengan persetujuan dari Petrograd Soviet, sebuah dewan deputi pekerja yang
Islamic Online University Aqidah 301
75
terpilih di perusahaan ibu kota, serta dewan pekerja yang serupa begitu pun dengan dewan
tentara dan petani telah menyebar di kota-kota dan desa lain di negara tersebut. Dewan ibu kota
telah membelokkan kekuatannya pada pemerintah sementara ibu kota yang terdiri dari kaum
Menshevik dan para pemimpin revolusi sosialis dari partai petani yang menganggap revolusi
seperti kaum burjuis, mereka percaya bahwa rezim baru harus dipimpin oleh mereka yang
berasal dari partai burjuis. Lenin menyerahkan hidup yang baru pada pasukan Bolsheviknya
yang menerima otoritas dari pemerintah sementara, meskipun dia menganggapnya juga sebagai
imperialis dan non-sosialis berdasarkan filosofi Bolsheviknya karena itu tidak dapat memenuhi
keinginan mendesak dari para pekerja, tentara, dan petani untuk membagi dan menempatkan
lahan dan perusahaan di antara mereka. Sebagai pemerintah Soviet yang sebenarnya yang dapat
melaksanakan pekerjaan besar ini, Lenin berteriak, “Seluruh kekuatan untuk Soviet”. Hingga
tahun 1917, kaum Bosheviks dari Lenin menjadi minoritas di Soviet; meski begitu, karena
kelelahan dalam perang dan kehancuran ekonomi, para pekerja, petani, dan tentara yang
mendapat tagihan pajak terlalu tinggi meminta sebuah perubahan dan pemimpin sosialis
moderat, Aleksander Kerensky telah kehilangan dukungannya tetapi ketika lenin menyarankan
bahwa Kerensky masih memiliki kemampuan untuk menyelesaikan revolusi, tantangan
setelahnya yaitu hanya majelis konstitusi bebas yang terpilih setelah kembalinya orde yang akan
memiliki kekuatan untuk memutuskan masa depan politik Rusia. Meski begitu, perintah Lenin
untuk perdamaian, tanah, dan roti tanpa penundaan telah menerima dukungan yang meningkat di
kalangan para pekerja, petani, dan tentara. Lenin sendiri tetap bersembunyi hingga pertengahan
1917, setelah disalahkan oleh pemerintahan Kerensky karena menjadi agen Jerman, hingga kaum
Bolshevik mayoritas memberikan dukungan pada Petrograd Soviet di akhir 1917. Lenin percaya
bahwa sebuah “ pemerintahan diktator dari kaum tani,” atau pemerintahan langsung dari pasukan
petani, pekerja, dan tentara sendiri dapat membersihkan masyarakat kapitalis dan imperialis
Soviet dan bahwa dalam waktu dekat aturan pasukan ini akan secara bertahap berkembang
menjadi sebuah “masyarakat yang tanpa paksaan, tanpa kelas, negara komunis tanpa bagian” di
seluruh dunia, seperti yang telah diuraikan secara rinci dalam pamphlet Negara dan Revolusi,
yang ditulis selama masa persembunyiannya, sebuah filosifi yang telah dibuktikan sejarah
selama 65 tahun yang mahal hanya sekadar menjadi “Utopia”. Sementara itu, Lenin juga sedang
mempersiapkan kaum Bolsheviks untuk memulai revolusi dalam waktu dekat dengan kekuatan
pasukan pengambil alih di seluruh negara dengan memasukkan tentara, petani, pelaut dan
pekerja kaum Bolsheviks menjadi “Militer pekerja”, melatih mereka dibawah bimbingan
“Penjaga merah” untuk pertahanan kota Petroguard Soviet, dengan kolaborasi Trostsky, yang
menyuarakan pemimpin baru dari kaum Bolshevik. Pada tanggal 7 dan 8 November 1917, dua
anggota penjaga merah, tentara dan pelaut kaum Bolshevik dipecat tanpa pembelaan pemerintah
sementara, mengklaim bahwa kekuatan telah jatuh pada bangsa Soviet. Hingga sekarang, kaum
Bolsheviks telah memperoleh mayoritas dari seluruh Kongres Soviet Rusia serta para
delegasinya sehingga tidak mendapatkan kesulitan dan memilih Lenin yang saat itu berusia 47
tahun sebagai pemimpin pertama dari “Komisaris rakyat”, pemerintah Soviet yang baru yang
Islamic Online University Aqidah 301
76
telah mengukuhkan titahnya pada perdamaian dan tanah. Lenin membawa pemerintahan menuju
konsolidasi kekuatan dan negosiasi untuk perdamaian.
Pada tahun 1918, konstituen yang dipilih secara bebas oleh masyarakat Soviet bertemu
dan ketika kaum Menshevik dan revolusioner kaum sosialis yang mengangkat kalangan
mayoritas menolak Sovietisme Lenin, dia memecat majelis dan merundingkan perdamaian, yang
menghinakan tentunya, dimana bagian besar dari bagian barat Rusia akan dibagi-bagi. Meskipun
lawan-lawannya juga kaum komunis menolak untuk setuju, Lenin tetap mampu untuk
memenangkan dukungan dari komite pusat untuk menerima Perjanjian Brest Litovsk, menjamin
perdamain, karena Rusia sudah tidak dapat lagi bertarung dalam perang.
Segera setelahnya, ketika pemerintahan Lenin memutuskan untuk tidak mengakui
pinjaman asing yang diambil dari kaum Tsar dan pemerintah sementara: sama halnya untuk
menasionalisasikan properti asing di Rusia tanpa kompensasi, perang sipil meledak, para saingan
memutuskan untuk menjatuhkan pemerintahan. Perang sipil di tahun 1918-1920, dimana otoritas
kaum Bolshevik di bangun kembali oleh Lenin, telah bertarung dengan harga jutaan nyawa,
penghancuran dan penderitaan manusia. Tujuan dibuat dalam hidup Lenin, dimana ia lari dari
kematian. Selain bantuan aktif dalam bentuk uang, dukungan pasukan dan materi dari sekutu
kaum kapitalis dari lawan (orang kulit putih), yang terdiri dari mantan Jenderal , komandan dan
pendukung kaum Tsar, Lenin mampu untuk menekan pemberotakan, tanpa ampun dengan
bantuan tentara merah dibawah komando Bolshevik Leon Trotsky. Langkah selanjutnya dari
Stalin adalah untuk menyediakan makanan bagi para pekerja; karna kekurangan uang dia mulai
untuk memaksa mengambil kelebihan padi dari para petani dengan tidak membayar. Setelah
kekalahan terakhir dari golongan kulit putih, dikarenakan pertahanan dari para petani sendiri
yang mengancam akan pemberontakan massal, Lenin dipaksa untuk mengatur kembali
langkahnya sekali lagi menuju kapitalisme, mengumumkan bahwa kebijakan ekonomi yang baru
tidak hanya menghentikan pengambil-alihan padi tetapi juga mengijinkan penjualan kelebihan
padi dari para petani untuk dipasarkan secara terbuka. Kesuksekan Lenin yang lain berasal dari
front politik internasional, ketika di tahun 1921 dia memenangkan pengakuan akan pemerintah
Soviet barunya dari seluruh kekuatan kaum imperialis dan kapitalis kecuali Amerika Serikat.
Meski begitu, Lenin gagal dalam harapan untuk memajukan persatuan revolusi petani di luar
negri dalam pola gerakan sosialis dunia seperti yang digambarkan olehnya ketika ia memiliki ide
utopia dalam pandangannya. Hal ini umumnya dikarenakan, dengan hal berbahaya yang belum
pernah terjadi sebelumnya dari perjanjian ekonomi internasional yang sepenuhnya tidak diakui
nasionalisasi unilateral properti asing di Rusia, bahkan dalam tahap persiapan dari model
pertama pola politik-ekonomi komunis, dunia kapitalis telah melingkari Uni Soviet,
mengisolasinya dalam luas tertentu sehingga menjadi hampir mustahil bagi Bolsheviks untuk
mengusahakan ekspor dari revolusi petani ke negara lain untuk menciptakan kekacauan seperti
yang terjadi di Rusia. Meski begitu, ketakutan akan dunia kapitalis dalam mengambil
komunisme aktif jika mereka menyimpulkan secara aktif dalam pilitik Bolshevik di Rusia, juga
memaksa mantan pemerintah agar tidak membiarkan tangannya mencampuri hubungan internal
Islamic Online University Aqidah 301
77
pemerintahan Lenin. Meskipun hal tersebut menjadikan Rusia terisolasi dari dunia kapitalis, hal
tersebut memberikan waktu bagi Lenin untuk bernafas dan merundingkan kekuatan Bolshevik di
Rusia. Untuk menghentikan isolasinya, Lenin mendesak para revolusioner dunia untuk
membentuk partai di seluruh dunia yang dalam menyamai satu-satunya revolusi kaum tani di
dunia- revolusi Bilshevik Soviet. Sebelumnya, untuk menandai dan menggarisbawahi
pergerakannya dengan internasional kedua 1903, Lenin juga telah membentuk komunis
internasional ketiga 1919, dimana afiliasi yang diterima hanyalah partai yang telah menerima
keputusan dari partainya secara mengika., menentukan disiplin yang ketat dalam partai dan
menghentikan dengan jelas dari sudut pandang internasional kedua. Sebelum ini, pada tahun
1918, dia juga telah mengubah nama partainya menjadi Partai Komunis Rusia (Bolsheviks).
Program dari internasional ketiga memiliki dampak yang patut dipuji dalam dunia kolonial Asia
dan Afrika dan khususnya di anak benua Indian, yang mengambil petunjuk dari revolusi rusia
dan ide lokalnya sendiri, mulai dari pergerakan nasional itu sendiri segera setelah perang dunia
pertama memerlukan kemerdekaan dari kolonial Inggris, mencapai dengan lambat dan kokoh
hingga menjadi merdeka pada tahun 1947, menciptakan dua negara bagian India dan Pakistan.
Setelah perang dunia II, yang berakhir dengan kekalahan Jerman, Italia, dan Jepang oleh sekutu,
termasuk Komunis Rusia dibawah kepemimpian Stalin dan kekuatan kapitalis, pada umumnya,
Inggris (dan kerajaannya), Perancis, dan Amerika Serikat, Komunis Bolshevik Rusia telah
disaingi oleh seluruh negara eropa timur, seperti Albania, Czecholovakia, Hungaria, Jerman
Barat, Polandia, Yugoslavia dan Romania. Hal ini juga diikuti di daratan utama China, dikenal
dengan Orang Cina”, Korea Utara, Manchuria dan Vietnam di timur dan Cuba di Amerika,
yang memiliki penduduk sepertiga dari penduduk dunia.
Menuju hari akhir bagi Lenin, ketika ia masih ketua partai, dia sendiri menjadi sadar
bahwa utopia tentang sebuah dunia sosialis (Komunis) tidak akan pernah terwujud. Menjelang
tahun 1922, hanya dalam waktu lima tahun penerapan pemerintahan diktator Bolshevik atas
nama revolusi kaum tani, inefisiensi dan korupsi telah terjadi di dalam pemerintahan Soviet dan
segera setelah penunjukan Stalin sebagai sekretaris Jenderal Partai Komunis Soviet, Lenin
sendiri harus melihat dengan putus asa bahwa Stalin telah melalui mengakumulasi dan
mengkonsentrasikan terlalu banyak kekuatan ke tangannya sendiri. Tidak diragukan, Lenin harus
menjadi sepenuhnya disilusi dan bahkan harus mengalami mimpi buruk atas apa yang telah
diperingatkan oleh lawan lamanya, kaum Mesheviks, di bawah kepemimpinan Pelkanov-Martov
sama awalnya dengan kongres London kedua 1903: bahwa partai diktator yang telah
dikhotbahkan Lenin dengan dedikasi akan membuat partai kaum tani menjadi sebuah partai
para diktator” meskipun Lenin bahkan menginginkan untuk menggantikan Stalin, waktu telah
habis, meninggalkan Lenin yang lumpuh untuk mendengarkan suara dari lutut yang mati dari
harapan utopia panjang akan sebuah masyarakat komunis dunia yang pernah bersemai di tangan
Stalin sang diktator, yang telah mendapatkan semua kekuatan yang dibutuhkan untuk
membersihkan segala bentuk konspirasi untuk menghentikannya. Oleh karena itu, meski
kebanyakan bertentangan dengan kehendaknya sendiri untuk berkuasa di dunia ini; pada tahun
1924 dia akhirnya menyerah untuk tunduk pada keputusan akhir dari Tuhan yang Berkuasa dan
Islamic Online University Aqidah 301
78
mengawasi yang keberadaannya telah disangkal oleh Lenin dan pasukannya dan mengambil
jalan untuk menghadapi akibat dari kemurtadannya dan pendurhakaannya pada Sang Pencipta,
suka atau tidak, bukan sebagai seorang yang sehat tetapi seorang yang lumpuh dan penyakitan!.
Penerusnya, Stalin, seperti yang dijelaskan sebelumnya, menambah terlalu banyak
kekuatan diktator untuk dirinya sendiri, pada kenyataannya, ia bertindak sebagai seorang diktator
atas partai dan kaum tani sejalan dengan doktrin Lenin, dengan kejam menekan dan
membersihkan semua oposisi. Dia bahkan merawat apa yang dikenal dengan “Stalinisme” yang
pada gilirannnya melihat musuh-musuhnya selama masa kepemimpinannya, Nikita Khrushchev.
Bagaimana negara-negara Eropa timur dibawah kekuasaan kepemimpinan Moscow dikenal
dalam sejarah dan hari ini bagaimana Polandia, ramalan ketakutan dari Plekhanov dan Martov
dari kaum Mesheviks melawan Lenin, kepemimpinan diktator partai oleh para professional
akhirnya dapat mengubahnya dari sebuah “partai kaum tani untuk satu diatas mereka” telah
dipenuhi melalui penindasan dari persatuan dagang pekerja bebas oleh kalangan pemerintah
diktator di rumah dibawah dukungan aktif dari Moscow dengan bantuan pasukan.
Karena mengalami kekurangan dalam banyak hal termasuk makanan, lima puluh ton
harus di impor setiap tahun, negara kaum komunis utopia dari para pemikir sosialis, merupakan
bentuk sebuah proyek percobaan dengan membayar harga ratusan ribu jiwa manusia, waktu, dan
uang di Rusia dalam jangka waktu enam puluh tahun, hanya menyisakan percobaan lapangan
dan kegagalan hari ini. Blok komunis mampu mengembangkan dengan sempurna hingga
kecukupan pada pemenuhan diri seperti halnya dengan pembiayaan perang yang menghancurkan
selama lebih dari enam setengah dekade. Percobaan sebuah teori mungkin baik tetapi sekali teori
terbukti tak dapat dipraktikkan tanpa mengabaikan arah dedikasi dari para professional diktator,
kalangan militer, politisi, ekonomi, filsuf, ilmuwan dan apa yang bukan untuk selama lebih dari
enam puluh tahun, bukanlah sebuah kemalangan dan sesuatu yang memalukan sehingga
pemimpin komunis kaum tani masih cenderung menghabiskan hidup yang berharga dari ras
manusia di era teknologi dan keilmuwan ini untuk selanjutnya mencambuk kuda mati yang
dijaga tetap hidup sebagai hasil dari harapan mistis dari pencapaian kesejahteraan negara,
bukannya menundukkan kepala pada hukum alam dan menerima kekalahan terhormat pada
akhirnya? Tetapi siapa yang akan melawan orang kuat? Sudahkah manusia belajar dari sejarah
masa lalu?
Ketika Stalin, Nikita Khrushchev dan Brezhnev menginjakkan jejak diktator dari Lenin
sebagai penguasa kaum tani, tanpa banyak kontribusi doktrin pada teori sosialis dan komunis
utopia dari diri mereka sendiri, kita tinggalkan mereka dalam sejarah sebagai diktator politik
yang tidak jauh berbeda dengan kaisar dari bangsa Tsars.
Islamic Online University Aqidah 301
79
Mao Tse-Tung
Mao Tse-Tung, atau Mao Ze-Dong pemikir revolusi Cina dan pemimpin tak terbantahkan
dari seribu juta rakyat Cina sebelum kematiannya, merupakan seorang arsitek utama dari Cina
baru. Mao lahir pada tahun 1893 di provinsi Hunan Cina di sebuah keluarga miskin. Ayahnya
menjadi kaya setelah menjadi pedagang padi. Masuk sekolah desa pada usia delapan tahun, Mao
mempelajari konfusian klasik. Pada usia tiga belas tahun dia harus meninggalkan sekolah untuk
bekerja di pertanian keluarganya atas keinginan ayahnya. Karena dia tidak menyukai cara kerja
tradisional keluarganya, sebagai sebuah bentuk pemberontakan terhadap keluarganya, dia pergi
belajar di sebuah sekolah lanjutan di kota lain, kemudian melanjutkan ke sekolah menengah atas
di Changsa, ibu kota provinsi. Di sinilah Mao belajar ide-ide barat dari para pembaharu revolusi
seperti Sun Yat-sen dan Liang Chi’chao. Setelahnya, revolusi oktober 1911 yang meledak
melawan pemimpin Manchu menyebar pula ke Changsha. Meninggalkan sekolah, Mao, yang
mengagumi para kaisar, Napoleon dan George Washington, mendaftarkan diri di pasukan
revolusi Hunan. Enam bulan kemudian, Republik Cina baru lahir dan mengakhiri layanan militer
Mao. Selama setahun, dia berpindah dari sekolah polisi, ke sekolah hukum, institut pembuatan
sabun, sekolah bisnis dan sekolah tinggi. Dikarenakan perubahan tiba-tiba dari metode timur dan
metode barat di sekolah-sekolah, generasi muda memiliki kesulitan dalam memutuskan garis
yang terbaik untuk mempersiapkan diri mendapatkan karir yang bagus dan Mao muda saat itu
juga memiliki masalah yang sama. Pada tahun 1918, dia lulus di tingkatan yang lebih tinggi dari
yang kedua dari sekolah biasa Changsa dalam sejarah Cina, literatur, ide dan filosofi barat. Di
sekolah, Mao mengambil bergabung dalam aktivitas organisasi mahasiswa, dia telah membentuk
kelompok belajar orang-orang baru” pada tahun 1917-1918 dengan beberapa teman yang
mengikuti kepemimpinannya melalui kemenangan kaum komunis di tahun 1919. Setelah itu,
Mao melanjutkan studinya di universitas Peking dimana ia dipengaruhi oleh Li Ta-chao dan
Chen Tu-hsiu yang merupakan dua figur dalam pergerakan komunis Cina. Keikutsertaannya di
Universitas sejalan dengan permulaan Gerakan Empat Maret 1919, gerakan mahasiswa besar-
besaran memprotes keputusan Konferensi Damai Paris untuk menyerahkan kekuasaan Jerman
sebelumnya di Shangthung ke Jepang dari pada mengembalikannya ke pemilik aslinya; Cina.
Para kelompok radikal Cina tidak mendapatkan dukungan untuk liberalism barat, menyuburkan
marxisme dan lenisme sebagai sebuah solusi atas masalah di Chiba. Hal ini mengantarkan pada
pendirian partai komunis Cina pada tahun 1921. Meski begitu, Gerakan Empat Mei, yang
digagas oleh Chen Tu-hsiu, segera menjadi gerakan dimana banyak siswa Cina yang ikut serta.
Ketika di Universitas, Mao bertanggung jawab untuk mengumpulkan siswa, pekerja, dan
pedagang melalui beragam organisasi yang bertujuan untuk memaksa pemerintah melawan
Jepang. Setelah melarikan diri dari Hunan ke Peking karena memimpin kampanye melawan
militer pemerintah, Mao yang merupakan pengagum dari revolusi Rusia menjadi seorang
komunis penuh pada tahun 1919/20, diyakinkan dengan sejarah interpretasi Matrxist”. Pada
tahun 1920 dia menjadi kepala sekolah di provinsi asalnya di Changsa, dimana ia mengelola
kelompok komunis. Pada tahun 1921 dia menghadiri sebuah pertemuan perwakilan dari
kelompok-kelompok komunis lain di hina, yang juga di hadiri oleh dua perwakilan dari
Islamic Online University Aqidah 301
80
Internasional Komunis Moscow dan mendampingi dalam pembentukan partai komunis Cina
seperti yang di sebutkan di awal.
Hal Ini diikuti oleh pembentukan aliansi antara Partai Komunis Muda dan Partai
Nasionalis (Kuomintang) dari Sun Yat-sen untuk melawan pemerintahan Peking yang korup,
menindas dan tidak efisien. Sebagai konsekuensinya, Mao meninggalkan pekerjaan mengajarnya
untuk menjadi seorang revolusioner dan politisi profesional. Pada tahun 1924-l925, ketika
sedang beristirahat di desa asalnya, Shaoshan, setelah melihat badai besar demonstrasi petani
yang memprotes penembakan beberapa orang oleh polisi asing di Shanghai tahun 1925, Mao
mulai mengatur jaringan asosiasi petani dengan menyalurkan gerakan protes spontan mereka.
Mao segera dipaksa melarikan diri dari Hunan, dikejar oleh gubernur militer, dan setelah itu dia
tinggal di Kanton, yang merupakan basis Kuomintang dari Sun Yatsen. Pada kematian Sun,
kepemimpinan Kuomintang diteruskan ke Chaing Kaishek. Setelah menjadi editor Political
Weekly di penerbit Kuomintang, dan menghadiri kongres Kuomintang kedua pada tahun 1926,
Mao juga menjabat sebagai kepala dari Kursus Pelatihan Pegawai Kuomintang keenam di
Kanton. Meskipun Chiang Kai-shek tetap berkomitmen pada "Revolusi Dunia Komunis" dan
menginginkan bantuan ekonomi serta bantuan Rusia lainnya, agar menjadi tuannya sendiri ia
membersihkan Kuomintang dari Komunis, terutama mereka yang melihat ke arah kepemimpinan
Rusia di dunia Komunis. Namun demikian, Mao, yang juga seorang Komunis, terus menikmati
kepercayaan dari Chiang dan Kuomintang dengan hasil bahwa sejumlah petani yang telah dilatih
oleh Mao di Kanton menjadi berguna baginya untuk memperkuat Komunisme di Kuomintang
melawan kebijakan Chiang Kai-shek, pemimpinnya.
Pada tahun 1927, meskipun Mao mengharapkan revolusi Komunis spontan dengan jutaan
petani turut andil di dalamnya, sebagai hasil dari kecerdasan Chiang untuk bersekutu dengan
para pemilik properti di kota-kota (dia sendiri telah bertanggungjawab atas pembantaian para
pekerja Shanghai yang telah membuat kota itu berpihak padanya selama ekspedisinya yang
bertujuan untuk menyatukan Tiongkok di bawah kepemimpinannya setelah menggulingkan
pemerintah Peking yang penuh tekanan, menindas dan tidak efisien) gerakan Komunis
mengalami kemunduran besar melalui penghancuran Komunis di kota-kota dan fragmentasi
orang-orang di pedesaan. Selain itu, strategi Stalin untuk melaksanakan revolusi Cina dalam
persekutuan dengan Kuomintang Chiang Kai-shek juga runtuh. Tidak terpengaruh oleh
kebalikan besar ini, Mao mengumpulkan beberapa ratus petani dan memulai jenis perang
revolusioner baru di pedesaan dari pangkalan di pegunungan Ching-Kang, berharap Tentara
Merah akan memainkan peran sentral. Bahkan, ketika perang sipil revolusioner benar-benar
meledak, dengan bantuan jutaan petani Cina di pedesaan yang bersimpati dengan gerakan Mao,
ia mampu mengepung kota-kota, mengalahkan Chiang Kai-shek dan memenangkan perang sipil.
Membutuhkan waktu dua puluh dua tahun bagi Mao Tse-tung dan Chu Teh, panglima
angkatan bersenjata, untuk menguasai pemerintahan Cina. Dimulai pada tahun 1927, sebagai
perang gerilya dari pedesaan, ketika komite Kuomintang di Shanghai memerintahkan Tentara
Merah untuk menduduki beberapa kota-kota besar di selatan dan tengah Cina dengan harapan
Islamic Online University Aqidah 301
81
memulai revolusi pekerja utama; Mao tidak menaati perintah dan mengundurkan diri pada 1930
ke pangkalannya di Kiangsi selatan, meninggalkan pertempuran karena ia takut kehilangan
nyawa yang mahal. Ini diikuti oleh formasi pada tahun 1931 dari Republik Soviet Cina di bagian
provinsi Kiangsi dengan dirinya sendiri sebagai ketua. Tentara Merahnya dengan kekuatan
200.000 orang telah mengendalikan wilayah beberapa juta orang. Namun, meskipun Mao
mampu mengalahkan pasukan Chiang dalam empat pertempuran besar, ia tidak tahan terhadap
serangan pertempuran lain di mana milisi khusus Chiang harus bersanding melawan Tentara
Merah. Karena itu pada 1934, Mao memutuskan untuk mundur bersama istrinya yang sedang
hamil dan Tentara Merah ke Cina barat laut, meninggalkan basis Kiangsinya, dimana operasi
tersebut dikenal sebagai "Long March". Beberapa ribu pasukan yang selamat dari kerasnya
pawai fatal ini tiba di barat laut Cina pada musim gugur 1935. Pada bulan Agustus 1935,
Komintern, pada kongres Moskow ketujuh, dan Komunis Tiongkok, di salah satu dari
pemberhentian "Long March" mereka, setuju pada pembentukan front persatuan melawan fasis.
Tahun berikutnya melihat Komunis China setuju untuk menerima Partai Nasionalis di bawah
pimpinan Chiang Kai-shek sebagai konstituen "Front Bersatu". Pada bulan Desember 1936
penculikan Chiang sendiri oleh pimpinan militer Cina timur laut yang ingin melawan Jepang
untuk pemulihan bagian Cina di bawah pendudukan mereka daripada Komunis Tiongkok,
mempercepat persatuan antara Kuomintang dan Komunis. Ketika tahun 1937, Jepang telah
memulai usahanya untuk mencaplok seluruh Cina. Perjanjian perdamaian Kuomintang-Komunis
untuk menentang Jepang telah berakhir pada bulan September 1936. Tentara Tiongkok telah
dimobilisasi untuk mencapai antara setengah dan satu juta orang pada saat penyerahan Jepang
dilakukan dengan kerja sama aktif dari tentara Tiongkok dan para petani Cina yang bekerja
bergandengan tangan. Pada saat itu ideologi komunis terpuruk di antara populasi besar pekerja
pedesaan dan petani.
Antara tahun 1936 dan 1940 Mao menghasilkan sejumlah buku dan pamflet, seperti On
Practice, On Contradiction; Strategy Problems of China's Revolutionary War, On Protracted
War, On the New Stage, The Chinese Revolution and the Chinese Communist Pary, dan On New
Democracy. The Socialist High Tide diterbitkan sebanyak tiga jilid pada tahun 1915-1956 dan
disunting oleh Mao sendiri.
Walaupun Mao Tse-Tung juga meyakini bahwa terjadinya revolusi Cina merupakan
bagian dari revolusi internasional proletar melawan imperialisme dan kapitalisme, dia memiliki
perbedaan sikap dari Moskwa, dimana menurut Mao, tiap negara berhak untuk diatur atas dasar
sistem yang sesuai dengan masing-masing kondisi lokalnya, bukan dengan menggunakan pola
Marxist dimana sistem diatur oleh satu Komintern pusat di Moskwa. Sejauh Cina bersangkutan,
dia merasa bahwa, secara internal Cina harus diperintah oleh “kediktatoran gabungan beberapa
pihak” dari front anti-Jepang. Mao meyakini bahwa kerjasamanya dengan Kuomintang dalam
persekutuan “Front Persatuan” hanya bersifat sementara dan bahwa selama tujuan partai
Komunis bertepatan dengan partai Kuomintang, kaum komunis seharusnya tidak terburu-buru
menuju sosialisme dan merusak Front Persatuan. Namun, Mao juga yakin akan perlunya untuk
Islamic Online University Aqidah 301
82
mengambil kekuasaan penuh dari Komunis suatu saat nanti demi mencapai sosialisme
seutuhnya. Mao harus berjuang dalam Front Persatuan melawan partai Kuomintang, juga
berjuang di dalam partai Komunis itu sendiri untuk melawan rival-rivalnya, Wang Ming dan
Chang Kuo-Tao, yang pada awalnya tidak setuju dengan kepemimpinan politik dan militer Mao.
Setelah kampanye "Signifikasi" pada tahun 1938 dimana Mao mengadvokasikan penerapan
Marxisme tidak hanya diterapkan pada kondisi Cina saja, tetapi juga pada mentalitas serta tradisi
budaya rakyat Cina. Akibatnya, Mao pun diakui sebagai Partai Komunis Cina.
Mao tidak mengetahui bagaimana cara kerja Komunisme Soviet Rusia sebenarnya, dia
juga tidak memiliki kemampuan untuk membaca tulisan-tulisan Marx dan Lenin. Tetapi, Mao
menganggap dirinya mengerti Cina dan rakyatnya dengan baik. Sehingga, pada tahun 1942,
selama “Kampanye Ratifikasi”, ketika tulisan-tulisan Marx, Lenin, Stalin, dan pemimpin Marxist
Komunis Eropa lainnya saat itu sedang dipelajari, Mao bersikeras untuk melenyapkan semua
“dogmatisme asing” yang ia sebut sebagai tiruan pengalaman Soviet Rusia dan Rusia perihal
Komunisme. Pemimpin Rusia menganggap apa yang dilakukan Mao sebagai suatu percobaan
untuk menghilangkan Partai Komunis Cina dari “Internasionalisme proletar”, atau dengan kata
lain, menghilangkan “pengabdian pada arahan-arahan Moskwa”. Ketika hal ini sedang
berlangsung, perpecahan antara Moskwa dan Peking semakin melebar dan kemudian memuncak
menjadi ketidak-antusiasan pihak Stalin ketika Maois menang dalam perang saudara melawan
Kuomintang, dimana pada puncak perpecahan Sino-Rusia di tahun 1962, Mao menganggap apa
yang dilakukan pihak Stalin sebagai suatu “tindakan untuk menghalangi Revolusi Cina di tahun
1945.” Kendati perpecahan yang terjadi, tidak lama setelah kemenangan Komunis, ketika Mao
menjadi ketua Republik Rakyat Cina pada bulan Desember tahun 1949, dia mengunjungi
Moskwa dimana dia dan Stalin menyimpulkan perjanjian bantuan timbal balik dan bantuan
ekonomi terbatas setelah menimbang selama dua bulan. Tak lama setelah kejadian ini, dengan
bantuan Rusia dan perencanaan terpusat, terlepas dari kurangnya kemampuan mereka untuk
pengembangan ekonomi besar-besaran; Cina mulai menerapkan praktek industri berat, lalu
mereformasi daratannya, melakukan pertanian kolektif, serta hal-hal lainnya yang mengikuti
metode Rusia untuk penyesuaian lokal tertentu. Namun, pada tanggal 31 Juli 1955, Mao
memutuskan untuk mempercepat pembentukan koperasi agrikultur dengan mendesak rakyat
Cina untuk megimplementasikan rencana dan kebijakannya sendiri, meskipun kawan-kawan
Mao sendiri pun seringkali menolak kebijakan-kebijakan tersebut, pada tahun 1956, setelah
Nikita Khrushchev menggantikan posisi Stalin sebagai sekretaris partai di Rusia dan mengakhiri
penyingkiran Partai Komunis Soviet di Rusia sejak tahun 1934, Mao kemudian mengumumkan
kebijakannya yang mengizinkan rakyat Cina untuk bebas berpendapat atau dengan kata lain
“membiarkan ratusan bunga bermekaran” demi mencegah perkembangan yang terjadi di Cina
menjadi era pemerintahan yang opresif seperti era pemerintahan Stalin. Meskipun ini adalah
taktik untuk mendapatkan persetujuan kaum-kaum intelek dan ahli terhadap kebijakan-kebijakan
Mao, taktik ini terbukti tidak berhasil karena saat ini, para kritikus kebijakan mempertanyakan
kepemimpinan bangsa yang masih bersama dengan Partai Komunis. Karena kurangnya
kerjasama dari kaum intelek dan para ahli, pada tahun 1957, Mao berencana untuk bergerak
Islamic Online University Aqidah 301
83
menuju “Lompatan Jauh Kedepan” yang terkonsentrasi pada pembangunan ekonomi bangsa
melalui unit-unit usaha produksi kecil berbasis buruh yang memerlukan tingkat inisiatif lokal,
berbeda dengan industri-industri berat berbasis modal. Pada tahun 1958, kebijakan-kebijakan
baru Mao yang berbasis “komune rakyat” diterapkan dan kebijakan-kebijakan ini pun dengan
cepat tersebar sampai ke area pedalaman. Berbeda dengan model Lenin dimana kaum intelektual
dan spesialis yang memimpin kaum buruh dan kaum buruh yang memimpin kaum tani, Mao
menyerahkan kendali urusan politik dan ekonomi kepada para sekretaris partai di tingkat
komune, yang kebanyakan dari mereka adalah petani. Sayangnya, kebijakan baru Mao menjadi
bumerang bagi dirinya sendiri karena produksi industry yang menderita akibat pengenalan
komune yang terburu-buru di area pedesaan. Ini karena sistem ini sebelumnya belum diuji secara
lapangan di lingkungan Cina. Bencana alam juga berperan dalam berkurangnya produksi biji-
bijian, yang kemudian menyebabkan terjadinya kekurangan pangan. Karena oposisi terhadap
kebijakan Mao meningkat, Mao pun terpaksa menerapkan solusi konvensional seperti
perencanaan terpusat dan pemberian intensif untuk mengatasi permasalahan ekonomi.
Apa yang terjadi di Cina sejak kematian Mao Tse-tung adalah mungkin sebuah realisasi
kenyataan hidup. Kepemimpinan komunis Cina setidaknya telah, mungkin, menyadari selama
tiga puluh tiga tahun percobaan mahal bahwa bukanlah penghapusan properti pribadi sendiri
sehingga prinsip masyarakat sosial berkembang. Sayangnya, pemerintahan komunis Rusia belum
menyadari kenyataan mendasar ini bahkan setelah enam puluh lima tahun. Selain itu, di tempat
lain di dunia ini banyak sekali contoh yang telah menempatkan orang-orang yang sepenuhnya
sejahtera, pekerja keras dan serius kedalam sebuah ekonomi yang terus mengecil, kemalasan dan
sikap “tidak peduli” disebabkan oleh penggantian aturan kapitalisme (burjuis) oleh aturan kelas
pekerja (proletariat). Apa yang sebenarnya terjadi dalam model komunis ini adalah pergantian
telah dibuat dari pribadi” ke aliran “sosialis”, administrasi yang totaliter, lalim dan kejam dari
kalangan kapitalis telah diambil alih oleh administrasi Komunis”, bahkan kebebasan untuk
menyampaikan gagasan dengan bebas juga kritik akan metode administrasi yang buruk oleh
individual, yang telah disediakan oleh orang terdahulu, menjadi kejahatan yang pantas
mendapatkan hukuman oleh orang kemudian. Jika manusia dipaksa untuk bekerja dan hidup
bertentangan dengan sifat alamiahnya, bagaimana mungkin ia bisa sukses dalam misinya?.
Egoism menjadi kualitas yang dibangun dalam ciri manusia, pengendalian egoism dalam
tingkatan sosial yang diterima oleh negara dan menyediakan insentif bagi individu untuk
memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaannya adalah dua dari metode alamiah yang
penting dalam mencapai tingkat pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan negara.
Konsep marxisme dan komunisme berdasar pada perang kelas yang berkepanjangan
dimana kelas kaum tani akan pada akhirnya menang atas kelas burjuis dan kemudian harus
menahan untuk mengangkat kepalanya pada prinsip akhir menentukan segalanya”. Sementara
itu nilai moral yang dibimbing oleh konsep spiritual tidak mengijinkan manusia untuk
mengambil jalan yang salah merupakan sebuah prinsip dari atheis, yang percaya bahwa setiap
ciptaan adalah pencipta bahkan tidak dapat menghargai prinsip seperti itu. Hanya cinta yang
Islamic Online University Aqidah 301
84
dapat mengikat jutaan manusia menjadi satu dunia yang bersaudara, dan cinta itu berkaitan
dengan egoisme sendiri. Perasaan sesuatu adalah milik saya, saya mencintainya” sendiri dapat
menjadikan seseorang tergiur untuk hidup dan ini merupakan sebuah keegoisan. Tidak
diragukan, tanpa cinta, apapun itu, ayah, anak, istri, keluarga, teman, saudara tidak akan dapat
bertahan!. Prinsip yang sama benar selama kepemilikan menjadi hal yang dikhawatirkan. Jika
sesuatu adalah milikku, saya akan bekerja untuk itu atau tidak sama sekali. Jika rasa kepemilikan
ini dihilangkan, siapa lagi yang akan peduli? Tetapi masyarakat manusia membatasi wilayah
egoism ini pada kuantitas dan nilai sehingga sebagian manusia terlalu menikmati hidup pada
jumlah yang masuk akal.
Tidak ada yang lebih dibutuhkan, mungkin, daripada sebuah contoh bahwa
Komunisme” bukanlah obat mujarab bagi penyakit politik, ekonomi, dan sosial manusia. Partai
kaum tani yang mengabaikan individu mencoba untuk menciptakan masyarakat komunis di
Rusia dibawah pengawasan ketat dari tim khusus yang terdiri atas ideologis, perencana, militer,
ilmuwan, ahli ekonomi, ahli teknik, administrator dan pelayanan rahasia yang semuanya bekerja
dalam kesatuan yang teratur selama 65 tahun menekan pendapat publik dan tak memperdulikan
nilai-nilai spiritual, hari ini telah membawa komunis Soviet Rusia dan pengikutnya dalam situasi
yang tidak menguntungkan. Selain dari barang-barang konsumen yang lain, bahkan dalam
bidang produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan populasinya, yang hanya sepertiga dari total
populasi dunia. Pemenuhukan kebututan apa yang mereka berikan selain perang materi dan
senjata mematikan?
Enam puluh lima tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk sebuah jejang
kehidupan yang berguna bagi manusia dewasa ini dan berapa banyak waktu yang harus
dihabiskan dalam ujian singkat ini ketika negara sejahtera kaum sosialis yang hanya utopia hasil
dari Marxisme dan Komunismi masih jauh di luar cakrawala?
Islamic Online University Aqidah 301
85
BAB 5
Konfusianisme
Bukanlah cara memuja atau agama dalam Istilah yang mengikat, Konfusianisme dapat
disebut sebagai sebuah pergerakan budaya dengan filosofi yang mendasar untuk mengatur
kehidupan manusia dan merupakan hasil pemikiran dari seorang guru bernama konfusius Cina,
yang hidup di antara, mungkin, 551-497 sebelum masehi. Dipanggil “ju” dalam Bahasa Cina
berarti orang yang lembek”, pengikut dari cara memuja ini pada mulanya merupakan ahli
dalam perayaan, musik, memanah, kereta tempur, sejarah, dan angka. Konfusius adalah,
mungkin, orang pertama di Cina yang menganjarkan enam seni yang mencakup kehidupan
aristokrat juga kehidupan masyarakat awam juga menerapkannya dalam pemerintahan dan
perkembangan sosial. Pengikutnya, para ju”, disebut demikian karena kelembutan hatinya.
Konfusius yang merupakan pendiri cabang dari sebuah sekolah ini, pada kenyataannya, ingin
mengubah “kelemahan” Ju menjadi sebuah kelompok yang moderat, jika tidak terlalu kuat,
dimana alasan ini yang membuat gerakan dimulai. Ajarannya dirangkum dalam kata dalam
Bahasa Cina “Jen” , yang berarti cinta manusia, manusia yang punya hati, dan kebaikan. Inti dari
ajaran Konfusius dibagi dalam dua kelompok: yang pertama adalah setia pada moral sendiri dan
yang kedua adalah memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri. setelah
kematian Konfusius, ajaran ini terbagi kedalam dua kelompok yang berbeda: “Pelajaran Agung”
yang bersifat sosial dan politik dan “Ajaran Takdir” yang bersifat metafisik dan religious..
kelompok pertama berfokus pada “membentuk karakter yang jela, memperbaiki manusia dan
melakukan hal yang terbaik” melalui delapan tahapan investigasi: penambahan pengetahuan,
ketulusan niat, menata hati dengan baik, pengembangan diri, keharmonisan keluarga, aturan
alam dan kedamaian dunia. Kelompok kedua, yang mungkin digagas oleh cicit dari Confusius
(483-402 SM), mendefinisikanny sebagai “Hukum universal dunia”; realisasi keduanya
menghasilkan konsepsi semesta menjadi kosmos, mengantarkan pada pencapaian pertumbuhan
sempurna dan perkembangan dalam segala hal. Dasar dari konsep ini bersifat mutlak, cerdas,
serta benar, tulus, atau kebenaran yang tak dapat dihancurkan. Hanya mereka yang dirinya nyata
dapat memenuhi sifat dasar mereka sendiri, sifat dasar orang lain, benda dan mereka yang
mengambil bagian dalam kerja cerdas langit dan bumi.
Islamic Online University Aqidah 301
86
Selama abad ketiga dan keempat SM, perkembangan lebih lanjut dilakukan oleh satu
kelompok dibawah ajaran Mencius “menyuburkan pikiran dan menggunakan pikiran
sepenuhnya”, sementara kelompok lain dibawah ajaran Hsun Tzu melalui perayaan, musik,
upacara keagamaan, hukum, dan pembetulan nama. Hsun Tzu menganut aliran naturalistik,
berdekatan dengan aliran Taoism. Tahun-tahun berikutnya dilihat sebuah pergerakan dari
Taoism eke Konfusianisme dengan filosofi Yin-Yang tentang kekuatan negatif kosmik (Yin) dan
kekuatan positif Kosmik (Yang), menghasilkan perkembangan dalam teori Tung tentang
hubungan antara alam dan manusia disetiap kejadian dalam hidup manusia seharusnya memiliki
hubungan dengan alam, begitupun sebaliknya. Dalam skema ini, penguasa terhubung dengan
surga, keduanya menjadi YANG, ayah dan suami menjada patokan tetapi ibu dan istri menjadi
penghubung.
Pada tahun 18 S.M, dinasti Han menyatakan konfusianisme sebagai doktrin negara dan
dikarenakan perlindungan negara, ajaran ini mendominasi etika, pendidikan, pemerintahan Cina
serta menjadi, kedalam jangkauan tertentu, agama di Cina. Meski begitu, selama abad Sembilan
Masehi, ketika Taoisme dan Buddha mengancam Konfusianisme, sang konfusian, Han Yu
menyiksa pengikut dari dua ajaran yang bersaingan, yang telah menunjukkan penolakan sejak
awal. Pada waktu itu, pengikut ajaran dan jalan Buddha dan Taoist yang tetap popular telah
masuk jauh ke dalam ajaran konfusianisme juga jalan hidup. Sebagai hasilnya, neo-
konfusianisme mendominasi kehidupan Cina selama periode dinasti Ming (1368-1644 M), yang
menekankan pada penerapan praktikal pengetahuan serta penggunaan metode ilmiah . modifikasi
yang berkelanjutan dan sintesis dengan konsep logika barat telah berlanjut, khususnya melalui
upaya filsuf abad ke-19 dan ke-20 seperti Sun Yat Sen, Liang Shu-Ming, Fung Yu-Lan dan
Hsiung Shih-Li. Oleh karena itu, ajaran konfusianisme masih banyak terdapat di masyarakat
Cina hari ini.
Tema sentral dari konfusianisme adalah Jen yang berarti cinta, kemanusiaan, manusia
yang punya hati, kasih sayang dan lain-lain, di sisi lain, serupa dengan kebajikan yang
sempurna”, khususnya ketiga kebajikan universal confusion dari kebijaksanaan, cinta dan
keberanian, serta kelima kebajikan konstan dari cinta, kebenaran, kesopanan, kebijaksanaan dan
keimanan yang baik, kebaikan umum menjadi sumber dan pondasi dari segala kebaikan.
Singkatnya, Jen adalah dimana manusia menjadi manusia dengan kebaikan yang sebenarnya
sesuai dnegan sifat dasarnya, yang diberkahi oleh langit. Karakteristik agung dari langit dan
bumi menurut konfusianisme adalah untuk menghasilkan dan menghasilkan kembali, sebuah
ekspresi cinta, dan dalam pengambilan peran dalam proses, manusia mewariskan kebajikan ini.
Dengan kata lain, ekspresi filisofi dari “langit adalah ayahku, bumi adalah ibuku, semua manusia
adalah saudaraku dan benda-benda adalah kawnku” dari neo-konfusianisme Chang Tasi pada
kenyataannya menjelaskan tujuan etis dari konfusianisme untuk membentuk satu keharmonisan
menyeluruh dengan langit dan bumi. Pada kehidupan sehari-hari saat ini, etika konfusianisme
berfokus pada kewajiban moral yang diwariskan dalam hubungan atar para penguasa, menteri ,
ayah dan anak, yang tua dan yang muda, suami istri begitupun dengan teman. Kebajikan sikap
Islamic Online University Aqidah 301
87
baik anak kepada orang tua adalah yang paling diutamakan dan semua kebajikan dan kewajiban
ini dianggap dalam dasar hubungan timbal balik.
Konfusious menghindari pembahasan mengenai jiwa dan kehidupan setelah mati.
Meskipun dia mengajarkan manusia untuk menghargai jiwa, dia menasihati agar menjaga jarak
dengan jiwa. Dia pernah berdoa ke langit, hingga ia percaya pada kekuatan langit dan
perintahnya. Karena hasil dari penyembahan kepada langit, penghormatan kepada nenek moyang
dan peringatan kematian manusia hebat oleh penganut konfusianisme. Upacara nenek moyang
dilakukan dengan tulus, bukan karena nenek moyang akan membalas mereka dengan kebaikan
atau menghukum mereka atas balasan kebaikan dan kejahatan, tetapi untuk meneruskan
hubungan manusia, yang tidak seharusnya diputuskan oleh kematian, sehingga untuk
menyediakan pondasi untuk kehidupan moral juga untuk mengenang asal-usul kehidupan, karena
sikap baik orang tua kepada anak adalah kebajikan yang pertama. Kuil dibangun untuk orang-
orang hebat dan upacara musiman yang dilaksanakan untuk mereka, bukan sebagai tuhan, tetapi
untuk menghormati mereka. Konfusius juga, dihargai sebagai sebuah kesempurnaan yang agung,
orang bijaksana yang utama, guru yang terkemuka, tetapi tidak pernah dipertuhankan.
Konfusious tidak menyatakan dirinya nabi, juga tidak menyebutkan Tuha. Konfusianisme
tidak memiliki kitab, gerja, pendeta, atau dekrit sehingga ini bukanlah sebuah agama
institusional dalam artian agama yang memiliki konsep.
Karena konfusianisme adalah jalan hidup yang bertujuan pada kehidupan yang penuh
kebajikan dan sebuah masyarakat yang mempertahankan kedamaian di dalam komunitas, negara
dan dunia. Sama sekali tidak memiliki apa yang disebut aspek spiritual dalam hidup, dimana
negara disamakan dengan sebuah keluarga yang dipimpin oleh penguasa yang disamakan
perannya dengan ayah. Pemerintah harus berkasih sayang, bertujuan untuk memberikan
kesejahteraan rakyatnya, yang lebih penting bagi negara daripada penguasa atau wilayah.
Penguasa tidak menguasai, tetapi memimpin dengan mandate langit dan hal ini akan
diperhitungkan berdasarkan bahagia tau tidaknya rakyat serta ketertarikan orang luar terhadap
negara. Seorang pemimpin yang gagal dalam mandate harus melepaskan jabatan demi kebaikan
seorang manusia atau dijatuhkan oleh revolusi, jika diperlukan. Penguasa harus baik hati dan
setia. Teladan moral dan bukan pemaksaan harus menjadi alat utama dalam pemerintahan.
Hukum harud dibuat oleh orang-orang baik dan hukum pemerintahan harus sedikit dan hukuman
ringan. Dengan kata lain, pemerintahan harus berada ditangan orang-orang yang baik dan
berpendidikan. Pada masyarakat konfusinisme yang lama, pemilihan pegawai negri sipir
dilakukan melalui ujian yang kompetitif dan pasukan militer merupakan penghubung bagi
pelayanan masyarakat. Layaknya sebuah keluarga, negara merupakan sebuah unit yang tidak
dapat dipisahkan sebagai sebuah kesatuan , aspek moral konfusianisme senyata itu.
Konfusianisme sendiri tidak pernah menyebutkan Tuhan, juga kehidupan setelah
kematian, juga hukuman dan ganjaran kebajikan setelah kematian, tidak juga penebusan jiwa,
tidak juga ampunan Tuhan, sehingga tidak terdapat kitab agamawi yang dihubungkan
Islamic Online University Aqidah 301
88
dengannya, jalan hidup yang ditunjukkannya bukanlah sebuah agama sebagai sebuah kenyataan.
Oleh karena itu, ia berperan sebagai kekuatan besar dalam mengatur rumah, masyarakat, institusi
negara dan perilaku manusia pada dasar moral tinggi dan, tentu saja, untuk penghapusan
animism dan paganisme beragam benda-benda alam melalui sebuah konsep unik dari doa yang
tujukan pada langit, yang sangat penting dalam pengaturan manusia yang sangat banyak di
masanya.
Islamic Online University Aqidah 301
89
Bab 6
Agama Hindu
Hindu, dalam berbagai bentuknya saat ini beserta banyaknya pengikutnya di India dan
minoritas yang baik di Sri Lanka, Bangladesh, Malaysia dan Indonesia, dapat dengan mudah
mengklaim populasi dunia yang totalnya lebih dari 600 juta. Ini dapat dianggap sebagai cara
hidup dan budaya yang didominasi oleh campuran dari banyak bentuk penyembahan benda-
benda alam yang berbeda, dikenal dan tidak dikenal, dalam bentuk dewa; dipraktekkan oleh
penduduk negara-negara yang disebutkan di atas dan dimodulasi oleh aliran Veda yang awalnya
dibawa ke dataran Indo-Gangga India oleh orang-orang Arya yang bermigrasi selama perjalanan
mereka dari Asia Tengah ke timur melalui Turkistan, Iran dan Afghanistan, pada 3000 -4000
tahun yang lalu. Selama periode Veda dan Epik awal, kehidupan Hindu dari dua kasta atau
eselon tertinggi dari masyarakat, di bawah sanksi tertulis, telah dibagi menjadi empat tahap
berbeda yang disebut Ashramas, yaitu, Brahmacharyam, Grahastham, Vanaprastham dan
Sanyaaam. Agama Hindu tampaknya telah menyebar dari India ke Timur Jauh dan Sri Lanka
selama zaman kuno.
Evolusi Agama Hindu
Meskipun tanggal yang pasti tidak dapat ditentukan, evolusi Hindu mungkin dapat
dikategorikan ke dalam tiga divisi besar berikut:
Periode Veda 1.500 SM. hingga 600 SM.
Periode Epik 600 SM. hingga 200 SM.
Periode dari enam sistem 200 SM.
Periode dan Literatur Veda
Literatur Veda terdiri dari:
Islamic Online University Aqidah 301
90
Empat Veda, Rg, Yajr, Sama dan Adharva, yang paling penting adalah yang pertama berisi
nyanyian pujian, mantra dan doa yang ditujukan kepada dewa-dewa serta banyak petunjuk
kepada para penyembah;
Para Brahmana, yang merupakan risalah ritual;
Aranyakas, yang merupakan risalah hutan; dan
Upanishad, yang merupakan teks-teks religio-filosofis, atau dikenal sebagai Vedantha,
yang merupakan doktrin-doktrin suci.
Tampak bahwa literatur Veda adalah kumpulan dari berbagai strata pemikiran dari
generasi pemikir masa lalu yang berurutan. Hal ini dianggap oleh umat Hindu sebagai yang
abadi, tidak diciptakan atau diungkapkan oleh Tuhan, untuk mendukung inspirasi dari orang-
orang berbakat yang dikenal sebagai "Rshis" (Orang Bijak) agar memungkinkan mereka untuk
melihat kebenaran abadi secara langsung tanpa indera duniawi melalui pengajian "Mantras"
(Pujian-pujian Rahasia), yang dianggap sebagai cara yang efektif untuk melakukan kontak
dengan yang tidak terlihat. Adalah aman untuk mengasumsikan bahwa banyak persamaan pada
garis pemikiran pertama nabi Ibrahim tentang Sang Pencipta, Arya awal juga pasti telah
memikirkan tentang benda-benda bumi dan langit yang perkasa dan menakjubkan tetapi, tidak
seperti Ibrahim yang berakar dalam monoteisme dalam Satu-satunya Tuhan Yang Maha Kuasa,
Mahahadir dan Mahatahu, hanya politeisme dan panteisme yang berkembang di dalam dirinya.
Dengan demikian, dewa-dewa ditugaskan untuk setiap objek dan fenomena alam yang kuat
seperti angin, guntur, laut, petir, sungai, gunung, batu, api, matahari, bulan, planet dan seterusnya
dan mereka disembah. Namun, dewa-dewa seperti Indra dan Varuna (penguasa tatanan fisik dan
moral), yang tampaknya tidak memiliki hubungan dengan objek alam seperti itu, juga ada.
Kemudian dewa-dewa seperti Prajapathi (penguasa makhluk), Sradha (keyakinan) dan Manyu
(murka) juga muncul. Seiring berjalannya waktu, gugus dewa dan dewi menjadi
membingungkan dimana Tuhan Yang Maha Esa diidentifikasikan pada waktu dengan Prajapathi,
kadang-kadang dengan Hiranyagarbha dan pada waktu lain dengan Brahaspathi. Dengan
demikian, ada kebutuhan besar untuk penyatuan dan oleh karena itu, dalam ayat-ayat selanjutnya
dari Rg Veda, gagasan tersebut berkembang bahwa "Yang Nyata adalah panggilan arif oleh
berbagai nama; pendeta dan penyair dapat dibuat banyak dengan kata-kata, Realitas
Tersembunyi; hanyalah Satu!"
Kosmologi Rg Veda berfluktuasi di antara dua teori sejauh ciptaan alam semesta yang
bersangkutan, yang satu adalah bahwa hal itu merupakan karya seorang arsitek besar dan yang
lain adalah bahwa itu adalah hasil dari generasi alami. Menurut teori pertama, hamparan bumi
dan kubah surga dibuat oleh Indra dengan mengukur enam wilayah. Dia dan dewa-dewa lain
membangun rumah kosmik dari kayu yang dibingkai di tiang-tiang, tetapi tanpa rakit (mengapa
langit tidak jatuh adalah sebuah misteri). Bumi telah dibuat cepat dengan tangan Savithri, Vishnu
memperbaikinya dengan pasak dan Brahaspathi menyokongnya di ujungnya. Dalam bingkai,
Indra memperbaiki udara; cahaya pagi masuk oleh portal timur, dan seterusnya. Namun, menurut
Islamic Online University Aqidah 301
91
teori kedua generasi alami, fajar (Ushas) lahir dari malam yang menghasilkan matahari dan
pengorbanan pagi. Surga dan bumi yang berisi segalanya berperan sebagai orangtua universal,
dimana langit berperan sebagai ayah, bumi sebagai ibu, dan fajar sebagai anak; Bayu (angin)
menjadi penguasa dewa petir, Soma menjadi penguasa tanaman, dan Saraswati menjadi
penguasa sungai-sungai; dewa-dewa merupakan anak dari keabadian dan keahlian. Agni adalah
anak sang malam, Pushan sang kebebasan, Indra sang kebenaran. Pada bagian terakhir Rg Weda,
dunia digambarkan sebagai suatu raksasa, dimana organ-organ badan raksasa ini kemudian
melahirkan alam semesta. Dari mulut raksasa ini lahir lah Indra dan Agni (sang api) yang juga
menjadi Brahmana (kasta pendeta); dari tangan raksasa kemudian Rajanya (kasta kesatria) lahir;
dari tulang paha raksasa, Waisya (pedagang, seniman, dan petani) lahir; kepala raksasa ini
kemudian menjadi langit, pusarnya menjadi udara, dan kakinya, yang juga melahirkan Sudra
(pekerja kasar), menjadi bumi. Semua dewa, khususnya Baruna, memiliki sifat yang bermoral,
jujur, dan ramah. Rg Weda juga mengatakan bahwa Purusa merupakan gabungan dari sosok
Narayana dengan Prajapati, yang menjadi penguasa mahluk dan pelindung penciptaan. Sehingga,
bagi Hindu ritualis, Prajapati berada di garis depan sebagai dewa penciptaan tertinggi, bahkan
menjadi ayah segala dewa. Sebagai satu kesatuan yang kompleks, Prajapati diidentifikasi sebagai
dewa tertinggi. Sesuai dengan apa yang ada di dalam Rg Weda, Prajapati, dengan membagi
dirinya, menciptakan alam semesta serta semua makhluk. Kemudian, dia memecah belah dirinya
dan dijadikan sebagai "SEGALANYA" dalam dunia yang dapat dilihat. Dia kemudian
meletihkan dirinya untuk mempersiapkan fase kreativitas baru melalui ritual pengorbanan
dimana dia yang menjadi ritual itu sendiri. Sehingga, dengan menganggap dirinya satu dengan
ritual, seorang pengurban untuk sementara dapat mengintegrasikan kembali Prajapatbi dalam
dirinya sendiri melalui pemulihan kesatuan dan totalitas antara dirinya dan alam semesta, yang
merupakan tema spiritual esensial di balik ritual pengorbanan seorang penganut ajaran Hindu.
Secara umum, dewa-dewa Weda tidak memiliki individualitas dan garis besar yang jelas. Mereka
juga tidak tertarik dengan penalaran. Rg Weda merekognisi lebih dari tiga puluh tiga dewa, tetapi
jumlah sosok yang diidentifikasi terus meningkat nantinya. Dewa-dewa Weda terkenal akan
ketidakjelasan dan yurisdiksi tumpang tindihnya yang membingungkan. Meskipun semua dewa
memiliki atribut yang mirip antara satu sama lainnya, tidak ada satupun dewa yang memiliki
monopoli absolut. Selain dewa, dewi-dewi juga ada mendampingi para dewa. Rg Weda
menyiratkan bahwa kehidupan setelah mati hanya tersedia bagi orang-orang yang telah bertobat,
para pahlawan, dan para pengurban. Meskipun nyanyian pujian terdahulu menyebutkan proses
penguburan bagi orang mati, proses kremasi lebih disukai karena melalui kremasi, jiwa dapat
naik ke atas surga dengan asap.
Menurut beberapa filsuf ajaran Hindu, Weda, yang dapat diterjemahkan sebagai
“pengetahuan”, merupakan dokumen paling pertama yang kita miliki, yang membahas tentang
pikiran manusia. Dari keempat Weda Hindu, Rg Weda lah yang mengandung beberapa potongan
puisi yang diduga dibuat oleh penyair dan pelindung dari kalangan pendeta dan bangsawan.
Dalam sepuluh buku, terkandung di dalamnya sebanyak lebih dari sepuluh ribu kumpulan puisi
yang sebagian besar adalah nyanyian pujian ditujukan baik untuk suatu dewa tertentu ataupun
Islamic Online University Aqidah 301
92
untuk sekelompok dewa. Alih-alih berisikan narasi yang rinci, buku-buku ini mengandung alusi
mitos-mitos seperti kemenangan dewa-dewa melawan naga dan sumber kejahatan lainnya.
Sebagian besar nyanyian pujian ini bertujuan untuk melayani ritual pengorbanan tanpa
menspesifikkan jenis ritual yang bersangkutan. Dalam Rg Weda, semua dewa bersifat umum,
tanpa adanya deitas-deitas lokal. Sama Weda adalah kumpulan prosa dan puisi khusus untuk
penyembahan dan ritual umum. Meskipun sebagian besar kumpulan prosa dan puisi ini juga
terdapat dalam Weda Rg, himne-himne independen dalam Sama Weda tidak memberikan
pelajaran apapun. Himne-himne ini diatur untuk dinyanyikan dalam pengurbanan. Di dalam
Yajur Weda, prosa dan puisi diatur sesuai dengan urutan yang digunakan untuk pengorbanan.
Prosa-prosa dan puisi Yajur Weda tidak memiliki tujuan lain selain untuk penggunaan ritual.
Atharva Weda adalah sebuah kumpulan yang berisikan konten-konten independen dan
berdasarkan dari Roh akomodasi yang ditemukan di dalamnya, Weda ini sepertinya adalah
produk bangsa Arya era India belakangan yang bersikan dewa, iblis, dan roh-roh baru yang
disembah oleh penduduk asli dataran Indo-Gangga dan daerah utara India yang dijajah oleh
bangsa Arya.
Beberapa umat Hindu yang berpengetahuan menyatakan bahwa nyanyian-nyanyian
dalam Rg Weda bukanlah hasil dari upaya perseorangan atau bahkan hasil susunan orang-orang
dari satu generasi saja, melainkan nyanyian-nyanyian ini diturunkan secara oral dari generasi ke
generasi sampai sekitar tahun 1500 S.M., orang-orang mulai mengumpulkan, menyunting, dan
merekamnya menjadi seperti bentuknya saat ini. Filsuf-filsuf Hindu seperti Dayanand
Saraswathi, Tam Mohan Roy, Arobindo Ghos, Dr. Radhakrishnan, serta orang-orang lainnya
yang telah mempelajari literatur-literatur Weda secara mendalam, menyatakan bahwa bangsa
Arya era Rg Weda terdahulu memiliki sistem kepercayaan monoteisme, terlepas dari seberapa
samarnya dan primitifnya sistem tersebut; bahwa interpretasi-interpretasi berbeda para ahli
naskah kuno tentang roh dalam nyanyian-nyanyian Weda sebenarnya adalah representasi
alegoris sifat-sifat Deitas tertinggi; bahwa nyanyian-nyanyian Rg Weda adalah “susunan
pengorbanan yang dilakukan ras primitif”; bahwa kandungan Weda dipenuhi dengan sugesti-
sugesti doktrin rahasia serta filsafat mistik dimana penggambaran dewa-dewa di dalamnya hanya
menjadi simbol fungsi-fungsi psikologis saja. Namun demikian, kita tidak boleh menutup mata
dari kesimpulan akhir bahwa setelah mempelajari semua ini, intepretasi-interpretasi filosofis
mengenai pengarang-pengarang terdahulu sudah tidak beralasan lagi. Ini karena konsep-konsep
Weda bersifat kontradiktif.
Hal ini tentu saja merupakan sebuah konsep dari ras primitif yang belum dikaruniai sama
sekali oleh wahyu melalui nabi Tuhan. Hal ini tentu saja mengagumkan karena, dalam Yoga,
seperti hipnotisme, ketika perintah tertinggi dari konsentrasi dapat dicapai dengan atau tanpa
objek apapun untuk dikonsentrasikan secara fisik, mengapa orang yang meyakini Weda tidak
bangkit melalui meditasi Tuhan yang sangat penting secara langsung tanpa ada setengah dewa
diantaranya?. Pertanyaan ini menjadi sia-sia ketika bahkan manusia modern dengan kecerdasan
sempurna dan ilmu pengetahuan menganggap bahwa kekuatan mutlak dan hak istimewa dari
Islamic Online University Aqidah 301
93
Tuhan diwakilkan pada keinginan mereka yang patuh kepada mitos apapun diwakili oleh bahkan
seorang idola yang tidak dapat menolong dirinya sendiri, apapun alasan ditugaskan dalam proses
ini!
Setiap Weda terdiri dari tiga bagian: Mantra, Brahmana, dan Upanishad, dimana mantra
juga disebut sebagai Samhittas. Brahmana mencakup ajaran dan tugas keagamaan dan
Upanishads aspek filosofi.
Satu aspek penting dari keyakinan yang tidak ditemukan dalam Weda, tetapi
diperkenalkan sesudah itu melalui Epik khususnya Geetha dan Upanishads, adalah ajaran
tentang perpindahan jiwa , yang menonjol sejak filosofi spiritual Hindu. Fakta bahwa Buddha
didewakan oleh konsep Hindu ketika avatar ke sembilan dari Wisnu setelah kematiannya,
memberikan sebuah petunjuk tertentu bahwa konsep ini seperti halnya doktrin transmigrasi
diperkenalkan sejalan dengan konsep Rama-Krisna kedalam filosofi Hindu selama kompilasi
dari Epik dan Upanishad-s mungkin pada masa penolakan Budha di India –khususnya karena
sejarah tidak memiliki rekaman meyakinkan tentang periode pasti dan penulis dari Epik juga
Upanishads juga bahkan keenam sistem.
Peribadahan Weda Hindu
Pada penulisan kitab Weda dan himne Upanishad, ini sejalan dengan penganut Hindu
bahwa ia tidak hanya menyembah banyak dewa, tetapi juga istri dan anak-anaknya. Bahkan
kendaraan tunggangan yang legendaris pun di sakralkan dan dipuja. Dewa tertinggi dalam
bentuk Bhagwan, Vasudevan, Brahman dan banyak konsep lain, sejalan dengan penjelmaan
Wisnu (Pencipta dan Pemberi rejeki) dan Shiva (aspek penghancur) merupakan objek pemujaan
tertinggi. Terdapat beberapa dewa, dewi, manusia setengah dewa serta objek-objek yang lain
seperti Bhadra Kali, Bhagwathi, Chandi, Durga, Chamundi, Ganapathi (bentuk gajah), Ganesha,
Hanuman (Kera), Kali, Krisna, Laksmi, Lingam (penciptaan organ pria), Parvati, Skanda,
Paupatbi, Rudra, Sapi, elang, merak, ular, sungai tertentu, gunung, pohon, tanaman dan lain-lain
baik itu untuk disembah ataupun di sakralkan bagi penganut agama hindu.
Vishnavite dan Shivites merupakan dua aliran agama Hindu utama yang nampaknya
bergabung sebagai hasil dari peleburan Harappa Phallus dan Pushupati, yang merupakan
pemujaan Rudra dan Shiva, begitupun dengan banyak ajaran Weda Shiva dari berbagai bagian
India yang diketahui dibawah nama regional yang berbeda. Penyembahan Wisnu kembali pada
masa Weda dan Shiva bahkan lebih awal lagi. Sebagai bukti dari penggalian Lingam dan
Pashupathi, budaya Harappa didapati berhubungan dengan penyembahan Shiva dan aspek dewa
sapi secara berturut-turut sejak dari masa pra-Weda, karena Shiva tidak mendapat tempat di masa
awal Weda. Weda sebagian besar menyebutkan sifat dewa-dewa seperti dewa petir, Rudra. Shiva
hanya disebutkan sesudah itu. Weda menyebutkan Wisnu sebagai dewata kecil tetapi hanya
sebagai aspek dari dewa matahari. Dewa-dewa Weda yang penting Mitra, Varuna, Radra, Indra,
Islamic Online University Aqidah 301
94
Agni, Prajapathi dan Savidar secara bertahap kehilangan pentingnya sementara beberapa Uke
Wisnu dan Vanura mengubah karakternya keseluruhan. Akhirnya, trinitas Brahma, Wisnu, dan
Shiva menggantikan sisanya. Brahma, yang tidak muncul dalam Weda, nampak diambil oleh
kaum Brahmana dan Ksatria yang merupakan kalangan atas dari empat kasta dalam sistem
Hindu. Meski begitu, saat ini Brahma telah kehilangan kepentingannya, menjadikan Shiva dan
Wisnu sebagai dua dewata yang penting, seperti dewa dewi yang terkenal lainnya seperti
Parvathi, Ganesha, Skanda, Krisna, Laksmi, Hanuman, Ganapathi, dan lain-lain. Meski begitu,
terdapat tujuan untuk menyatukan beragam dewa menjadi satu dan hasilnya adalah munculnya
Trimurni tiga kepala untuk menjembatani perbedaan dan persaingan aliran Shiva dan Wisnu. Hal
ini merupakan fenomena yang menarik bahwa selain dari dua penjelmaan Wisnu dalam bentuk
manusia, yakni Rama dan Krisna yang merupakan sosok utama dalam epik Ramayana dan
Mahabarata, hanya nama yang kedua yang selalu disembah sebagai dewa.
Penyembahan alam dimanifestasikan melalui Weda digantikan secara bertahap oleh
filosofi Upanishads (Ajaran sakral), yang menduduki tema seperti sifat alami alam semesta dan
takdir jiwa manusia. Ketika identitas Atman dan Brahma dibangun oleh Upanishads,
pengetahuan yang sebenarnya akan diri sendiri dan realisasi dari identitas melalui meditasi
digantikan untuk metode ritual Weda. Dalam Upanishads, meskipun terdapat prasangka yang
mendominasi dalam penjelasan tentang panteisme mengenai alam semesta, gagasan teistik dan
dualistik menemukan expresi didalamnya. Penjelmaan Brahma dalam aspek Wisnu sebagai
Avatar dari waktu ke waktu seperti yang disebutkan dalam Weda dan kitab lain diakui oleh
Bhagavat Geetha. Meski demikian, Geetha tidak menyebutkan penjelmaan lain selain Krisna.
Tulisan selanjutnya, seperti Narayaniya dan Moksha Darma yang mengikuti Bhagavata Geetha,
menambahkan ajaran Vyuha (Ekspansi), menurut Wisnu hadir dalam empat bentuk selama
kenaikannya menjadi Brahama. Wisnu dicirikan dengan permulaan, yang ditarik dari Rahim ibu
dan ditempatkan di Rohini. Vasudeva dicirikan dengan Krisna. Sementara Narayaniya juga
menyebutkan sepuluh Avatar dari Wisnu, tulisan lain, Anugeetha, disebutkan hanya enam kali.
Upanishads
Dikembangkan sekitar abad ke-5 S.M di lembah Indo-Ganges oleh kalangan Ksatria,
yang menduduki kasta kedua dalam tingkatan sosial Hindu setelah kalangan Brahmana,
Upanihads (dokumen-dokumen sakrat) memperkenalkan Wisnu dan Shiva sebagai dua symbol
Brahman, dewa Hindu yang tertinggi. Mereka mengajarkan bahwa pengetahuan dan
kebijaksanaan dapat memberikan pencerahan yang mengantarkan pada penyatuan dengan Tuhan,
sebuah keadaan yang dapat memberikan ketengan jiwa dari segala penderitaan reinkarnasi, yang
juga merupakan tujuan utama dari kalangan Buddha Samadhi. Terdapat banyak Upanishads
seperti: Aithereya, Brahadaranyaka, Chandogya, isha, Jaiminiya, Katha, Kena, Maitrayani,
Maitri, Madukya, Mandukya, Mundaka, Prashna, Radha, Svedasvatara, Taittiriya dan lain-lain.
Islamic Online University Aqidah 301
95
Himpunan hukum dan pelanggaran yang lain dalam etika sosial, politik, ekonomi, dan
agama serta moral yang memiliki tingkat kepentingan yang sama dengan Weda, Upanishads,
Geetha, dan Brahma Sutra yakni Manu Smrithi’ dari kalangan bijak Manu, meskipun yang
kedua, ketiga, dan keempatnya disebut Prasthana-thraya (Aturan rangkap tiga), membawa
otoritas yang hampir sama. Beberapa Upanishads dituliskan oleh banyak pemikir yang telah
padam.
Literatur Epik
Ramayana dan Mahabarata merupakan dua epik agama yang dianggap sebagai tulang
punggung kitab Hindu. Sementara Ramayana berhubungan dengan kehidupan Rama, ksatria
Aryan, Raja India, yang dianggap sebagai satu dari jelmaan (Avatar) dari dewa Wisnu dalam
bentuk manusia, Maha-Bharata, merupakan sebuah narasi dari Arya-Vartha di India timur
selama periode sekitar 400 S.M berfokus pada kehidupan Krisna, dianggap oleh penganut Hindu
sebagai bentuk manusia sempurna dari kesepuluh jelmaan Wisnu. Bhagavat Geetha. Terkadang
dianggap yang sebagai sebuah kitab yang terpisah, pada kenyataanya, merupakan sebuah bagian
dari MahaBarata dan dianggap sebagai tuturan pribadi dari Krisna sendiri sehingga dinilai sangat
tinggi sebagai kitab agamawi dari Hindu.
Bhagavat Geetha
Diyakini berasal dari sekitar abad keempat S.M, epik Hindu memperkuat keempat kasta
dalam sistem sosial Hindu didistribusikan menurut bawaan lahiriah manusia; ajaran penjelmaan
yang bersifat ketuhanan dimana Krisna merupakan jelmaan yang paling penting dan sempurna
dalam bentuk manusia; dan perputaran proses karma dari jiwa melalui Samsara (perpindahan
jiwa dari satu tubuh ke tubuh yang lain setelah kematian) hingga jiwa yang sepenuhnya suci dan
tanpa pamrih mencapai nirwana (penyatuan sempurna dengan kebenaran yang bersifat
ketuhanan, menghentikan reinkarnasi); yang didukung oleh Upanishads disebutkan dalam
Geetha secara lebih filosofi, baik, dan akomodatif. Meskiput Bhagavat Geetha mencoba untuk
menyoroti ajaran monoteisme, menjadi lebih mirip dengan tujuan dengan mencampurkan dengan
keyakinan politeistik yang terdapat dalam Weda dan Upanishads, Samkhya dan ajaran
penjelmaan ketuhanan, mengantarkan pada penyembahan dan kepatuhan dari semua jelmaan
seperti itu, langsung atau tidak langsung sebagai Dewa sendiri sebagai tambahan dari dewa-
dewa, dewi-dewi, dan manusia setengah dewa yang lain yang merupakan tindakan animis dan
Politeis. Selain itu, Geetha mengijinkan penyembahan dewa-dewa yang lain selain Brahma,
Dewa tertinggi, dengan mengarahkan Arjuan untuk menyembah jelmaan Krisna melalui istilah
Sembahlah aku” dan kelemahan yang diberikan untuk menyembah dewa-dewa yang lain selain
dirinya, seperti yang terdapat pada Bab IX:20,21,23,25 dan lain-lain. Meski demikian, pada
Islamic Online University Aqidah 301
96
sebuah studi terfokus dan teliti dari Geetha, tidak seorang pun yang dapat kehilangan satu pesan
penting; yakni bahwa tiak tidak ada, selain dari satu-satunya Tuhan yang tertinggi yang
Menciptakan dan Memberikan rejeki kepada seluruh semesta, yang harus disembah dan dicintai
sebagai Tuhan, meskipun penulis dan pujangga yang menyelesaikan literatur telah
menggambarkan Krisna sebagai sebuah jelmaan Tuhan dalam bentuk manusia yang dimasukkan
dalam pemikiran dan pengajaran Weda, ia tidak dapat disalahkan sendirian karena bahkan hanya
dalam pandangan sekilas kedalam konsep mulia tentang satu Tuhan pastilah sangat sulit dimasa
politeisme akut kala itu. Meski begitu, jika Krisna Bhagavat Geetha dianggap sebagai seorang
nabi dalam rantai nabi yang tak terhitung jumlahnya telah dikirim ke dunia sejak dari penciptaan
manusia, dan Geetha diambil sebagai pesan Tuhan kepada dunia, nabi hanya menyampaikan
sebagai ‘tangan kanan’ Tuhan, sehingga aspek penjelmaan sepenuhnya menghilanga, konsep
penjelmaan dianggap sebagai sebuah pemisahan diciptakan oleh pengikut yang terlalu antusias
yang terus menetap pada lingkaran politeisme seperti pada kasus pengikut yang menuhanan
Kristus (semoga kedamaian tercurah kepadanya) setelah kematiannya lebih atau kurang serupa
dengan trinitas. Menurut Geetha, ketaatan, penyembahan, dan pengorbanan dibuat untuk Krisna,
yang merupakan jelamaan Tuhan dalam bentuk manusia. Empat sistem kasta seperti halnya
penyembahan dewa-dewa, kelahiran kedua, guru dan orang-orang bijak yang diakui dalam Weda
juga dikonfirmasikan oleh Geetha. Pengorbanan hewan di dalam Weda, dijadikan oleh Geetha
menjadi pengorbanan hanya kepada Krisna. Geetha menyatakan bahwa tidak terdapat penciptaan
dibumi ataupun antar dewa-dewa di langit terbebas dari ketiga mode kelahiran alam, yakni
aktivitas dipisahkan sejalan dengan kualitas kelahiran sifat dasarnya dan bahwa tugas Brahmana,
Ksatria, Waisa, dan Sudra di lahirkan dengan sifat-sifat dasarnya. Hal tersebut juga menyatakan
bahwa pemujaan Tuhan melalui pelaksanaan tugas seseorang membuat seseorang dapat
mencapai kesempurnaan dan peningkatan menjadi Brahmana. Meskipun Geetha tidak
mengadakan pembagian pada ajaran Weda dari keempat kasta, hal tersebut menjadikan
seluruhnya terbuka lebar tanpa pertunjukan. Seperti yang mungkin banyak disebutkan dalam
aspek, sistem kasta Weda tetap kokoh dengan rintangan yang tak terkalahkan antar keempatnya
seperti yang disetujui atau dibuktikan oleh Geetha, tidak terdapat mekanisme praktis yang
dinasehatkan oleh Geetha seperti bagaimana kalangan Sudra dapat meningkatkan derajat
menjadi Waisa, Ksatria, dan Brahma dalam tatanan masyarakat.
Geetha merupakan sebuah peningkatan dalam konsep Weda tentang keberagaman dewa-
dewa dan dewi-dewi yang harus dipuja, disembah dan dipuaskan dengan pengorbanan hewan
sesuai dengan hukumnya masing-masing, dibuktikan sepenuhnya dari instruksi kokoh
didalamnya merupakan cara terbaik untuk mendapatkan keselamatan, seperti yang disebutkan
dalam Bab IX:34, adalah untuk “ Penuhi pikiran dengan pikiran akan Ku, patuh padaKu, berikan
Aku penawaranmu, bersujud kepada Ku, jadikan Aku sebagai tujuan tertinggimu sehingga kamu
harus datang kepadaKu sendiri”. Geetha menyarankan cara terbaik untuk mencapai penyatuan
dengan Tuhan tertinggi adalah untuk tugas seseorang tanpa keterikatan, ego, dan nafsu
menyerahkan hasilnya kepada Tuhan, dan terus berjuang untuk pencapaian kebijaksanaan untuk
mengetahui Tuhan seluruh alam melalui meditasi penuh keyakinan (Yogam) dengan diri sendiri
Islamic Online University Aqidah 301
97
menyatu dalam Tuhan. Tanpa keraguan dispensasi seperti itu dengan jelas memberikan
pembatasan antara realisme Tuhan dan bahwa pendirian airan dan filosofi Hindu bahwa Geetha
mengajarkan bahwa manusia adalah bagian dari Tuhan sendiri. Mencari keselamatan dari dunia
nafsu, ego, kesenagan, penderitaan, kecemburuan, dosa dan lain-lain untuk patuh selamanya
dalam damai dibawah kesenangan dari Tuhan yang baik dan pengasih juga sesuatu yang
sepenuhnya berbeda dari metafisik diatas.
Tidak disebutkan di dalam Geetha dalam konfirmasi pentingnya Weda bahwa setiap
ornag harus melalui empat tahap dalam kehidupan (Aahrams)-Brahmacharam, Grahastham,
Vanaprastham dan Sanyasam- digabungkan dalam Weda. Geetha menekankan pentingnya Yoga
(penyatuan kembali) untuk mencapai kebijaksanaan, pengetahuan, tentang Tuhan, pencerahan
dan untuk mencapai kendali disiplin pada pemikiran dan diri seseorang untuk bagaimana
berkonsentrasi juga diindikasikan. Hal ini disebukan bahwa seseorang yang telah mencapai
kebijaksanaan tertinggi melalui Yoga dan menjadi seorang Yogi tidak menggangu hukum atau
pekerjaan, yang berarti bahwa ia mencapai tingkatan pertama super, dia yang, untuk seluruh
tujuan manusia, tidak terlihat berbeda dari fanatik, yang bertindak dan bekerja tanpa tujuan,
sebuah situais yang menyedihkan tentunya. Pertanyaan mengenai perpindahan jiwa orang mati
kedalam beberapa makhluk melalui proses reinkarnasi, satu ke yang lain hingga disucikan oleh
karma ditekankan oleh Geetha sambil menyampaikan bahwa Yogi yang gagal akan terlahir
kembali di keluarga Yogi. Hal ini sama dengan yang disebutkan dalam IV:13 dari Geetha,
aturan rangkap empat (kelahiran alam) diciptakan olehku berdasarkan pembagian kualitas dan
kerja. Meskipun aku penciptanya, mengetahui aku tidak mampu untuk tindakan dan perubahan”
dan tetapi Yogi yang berjuang dengan ketekunan, bersih dari dosa, menyempurnakan dirinya
melalui banyak kehidupan, pria yang bijak beristirahat padaku, tau bahwa Vasuveda (yang maha
tinggi) adalah segalanya” (VI:46; VIII:19), dengan jelas menunjukkan bahwa tidak terdapat
kemungkinan, bahkan untuk Tuhan tertinggi, untuk memaafkan mereka yang patuh atas dasar
pengampunan yang tulus layaknya karma. Oleh karena itu, jalur satu-satunya yang terbuka
bahkan untuk seorang Yogi adalah untuk menjalani perpindahan jiwa untuk hidup hingga akhir
dari lingkaran hidup yang berulang, menjalani penderitaan yang berkelanjutan dan menderita
hingga setiap dosa masa lalu dicuci melalui konsentrasi. Oleh karena itu, kecuali jika seseorang
atau hal hidup dimana dosa dilaksanakan dalam ruang dan waktu jika seperti akibat dari dari
pelakunya sendiri, bagaimana dan kapan hari dari penebusan akhir adalah sebuah pertanyaan
besar dimana tidak seorang pun mampu menjawab. Tetapi seperti yang disampaikan oleh Geetha
,” Jiwa Yogi yang seperti itu sangatlah sulit untuk ditemukan” (VII:19) sehingga, bagaimana
bahkan sebuah bagian yang masuk akal dari kebanyakan mayoritas di antara umat manusia
mungkin mencapai pelipur lara terakhir di kerajaan Tuhan, mengetahui bahwa, manusia harus
hidup di dunia ini berpokok pada sifat dasarnya yang dibangun kedalam ciri dirinya oleh Tuhan
sendiri, tidak dijawab oleh Geetha, yang diklaim oleh penganut agama Hindu sebagai tuturan
pribadi dari penjelmaan tertinggi dari Tuhan yang tinggi dan absolut.
Islamic Online University Aqidah 301
98
Meskipun Geetha menegaskan doktrin Veda tentang inkarnasi (Avathar) Tuhan dalam
bentuk manusia dan lainnya, tampaknya ada kemungkinan untuk mencurigai bahwa konsep Veda
dari sepuluh Avathar termasuk Krishna dan Buddha adalah adaptasi yang nantinya mendukung
penyembahan Krishna yang diperkenalkan setelah Budha. Sebaliknya, tidak dapat dijelaskan
mengapa agama Buddha, yang diperkenalkan di India oleh Buddha Avthar yang datang setelah
era Krishna, tidak dipilih oleh umat Hindu di tempat Hinduisme, jika Buddha telah ditetapkan
sebagai inkarnasi dalam Periode Veda pra-Krishna.
Bhagavat Geetha yang berisi sekitar 700 ayat, dianggap sebagai kitab suci ortodoks
agama Hindu pada otoritas yang sama dengan Upanishad dan Sutra Brahma, tiga yang dikenal
sebagai triple canon (Prasthanathraya). Ini adalah kompilasi dari sebuah wacana, yang sangat
filosofis di alam, antara Krishna yang dianggap oleh Hindu sebagai inkarnasi yang paling
penting dan sempurna dalam bentuk manusia dari aspek Wisnu dari Brahma dan sahabat serta
muridnya, Arjuna, ketika pembentuknya mengendarai kereta dalam perjalanan mereka ke medan
perang untuk perang suksesi epik antara Pandawa yang dipimpin oleh Arjuna dan Kaurava yang
dipimpin oleh Duryodhana. Diyakini bahwa Geetha dikompilasi sekitar tahun 400 B.Masehi oleh
Veda Vyasa, kepada siapa pun yang dikaitkan dengan kompilasi epik religius terpanjang, Maha
Bharatha, yang di dalamnya termasuk delapan belas bab Geetha dimana bab 23 hingga 40 di
bawah Bhishmaparva. Geetha mencoba untuk berdamai dengan banyak aspek yang bertentangan
dari filsafat Hindu kontemporer dan cara hidup seperti pemujaan dan pengorbanan Veda kultus
kepada dewa, dewi dan setengah dewa yang tak terhitung jumlahnya, serta konsep Upanishad
tentang Dewa Brahman yang transenden, pengabdian teistik dari Kultus Bhagavatha, dualisme
Samkhya dan seterusnya. Untuk tingkat yang terbatas, dapat dikatakan bahwa untuk meletakkan
dasar menuju monoteisme, meskipun tidak sepenuhnya dan ketat, dengan menekankan
penyembahan Satu Tuhan Yang Absolut melalui ketergantungan total dari para penyembah pada
Krishna Avathar sendiri, lebih memilih dewa-dewa Veda. Oleh karena itu, para filsuf Hindu
menganggap Geetha sebagai jembatan yang tak terhindarkan untuk evolusi ikatan spiritual
umum dan konsolidasi dari cara hidup yang umum untuk berbagai manusia dan budaya dari
benua India yang luas sehingga dapat dimasukkan ke dalam jemaahnya masyarakat multirasial
yang sangat besar atas nama satu agama tunggal. Meski demikian, karena Geetha juga
memperkuat konsep Veda yang sebelumnya tentang klasifikasi sosial manusia oleh alam yang
dilahirkan ke dalam empat kelas yang berbeda, yaitu, Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra,
secara alamiah, berdasarkan pada literatur doktrinal pra-Geethaik seperti Manusmriti yang
meletakkan aturan ketat perilaku agama dan sosial masyarakat Hindu serta hukuman drastis
karena bertentangan dengan mereka, institusi terkutuk yang tidak dapat disentuh terus
berkembang dengan kekuatan lebih sebagai sanksi oleh Geetha juga, terlepas dari kenyataan
tentang pernyataannya bahwa melalui Dharma, Jnana (pengetahuan), Karma (kerja) dan Bhakthi
(pengabdian) tujuan tertinggi penebusan, tunduk pada hukum Samsara, juga dapat dicapai oleh
perempuan yang lahir dari kelas rendah, Waisya serta Sudras, meskipun itu lebih mudah untuk
para Brahmana dan para santo kerajaan dari Kshatriyas. Dengan demikian, ide-ide yang
terkandung dalam Geetha, sementara sangat filosofis dan cenderung mengarah pada monoteisme
Islamic Online University Aqidah 301
99
terbatas, juga sangat fleksibel di alam sehingga penafsiran spiritual mereka telah disesuaikan
untuk menyesuaikan pandangan yang berbeda dari para pemimpin dari banyak aliran pemikiran
filosofis Hindu.
Dengan demikian, Shankara (788-820 C.E) memandang Geetha, seperti yang
dikembangkan kemudian oleh Anandagiri (abad ketiga belas), Sreedhara (abad keempat belas)
dan Madhusudhana (abad keenambelas) dan yang lainnya, adalah bahwa tindakan itu penting
sebagai sarana untuk pemurnian pikiran, tetapi ketika kebijaksanaan tercapai, tindakan jatuh;
bahwa ritus Veda dimaksudkan bagi mereka yang tersesat dalam ketidaktahuan dan keinginan;
bahwa para aspiran keselamatan harus melepaskan kinerja dari perbuatan ritual dan seterusnya.
Di samping itu; Komentar Ramanuja (abad kesebelas M) atas Geetha, menyanggah doktrin
ketidaknyataan dunia dan juga jalan tindakan penolakan, menyimpulkan bahwa Brahman adalah
realitas tertinggi roh dengan sifat kesadaran diri, pengetahuan tentang dirinya sendiri dan
kehendak sadar untuk menciptakan dunia serta menyelamatkan makhluk-makhluknya. Menurut
dia, para dewa Veda adalah para pelayan Brahman yang ditunjuk di tempat-tempat untuk
melakukan tugas-tugas tertentu yang ditahbiskan. Madbava (1199-1277 C), bagaimanapun,
menafsirkan Geetha pada garis-garis ganda: filsafat stic (dvaitha) dan berpendapat bahwa Yang
Mahatinggi dan jiwa adalah dua entitas yang berbeda satu sama lain, kesatuan sebagian atau
keseluruhan di antara mereka yang tidak dapat dipertahankan. Dia melihat pengabdian sebagai
tema utama yang ditekankan dalam Geetha. Nambarka (1162), bagaimanapun, mengamati
doktrin dual-nondual (dvaida dvaitha) yang mendominasi Geetha dan karena itu, dalam Sutra
Brahmanya, dia berpegang pada pandangan bahwa meskipun jiwa, dunia dan Tuhan berbeda satu
sama lain, keberadaan dan aktivitas dari dua pencipta bergantung pada kehendak Tuhan. Dia
juga menekankan aspek kesalehan dari Geetha. Vallabha (1479) mengembangkan teori pra-
nondualisme (Shudha dvaitha), yang menganggap bahwa jiwa murni dibutakan oleh ilusi dan
Brahman adalah satu dan oleh karena itu pelepasan jiwa yang merupakan partikel Tuhan tidak
dapat diperoleh kecuali melalui rahmat Tuhan, Yang Mahatinggi, yang dapat dicapai melalui
pengabdian sendiri. Ada banyak komentar lain dari Geetha seperti yang ada pada M. K. Gandhi,
Arobindo, B. K. Tilak, S. Radhakrishnan dan lain-lain, yang masing-masing telah menarik
kesimpulannya sendiri dari Geetha untuk mendukung filosofi masing-masing. Meskipun begitu,
satu kesamaan dari semua aliran ajaran yang berbeda-beda ini adalah semuanya meyakini bahwa
tema utama Bhagavad Gita ialah tentang kepatuhan kepada Tuhan Maha Kuasa melalui
penyembahan khusus Avatar Krisna.
Untuk orang-orang yang telah mengkaji Bhagavad Gita secara mendalam, seharusnya
jelas bagi mereka bahwa penulis Bhagavad Gita ingin menyampaikan pesan bahwa dengan
menaati Krisna, membaca Gita, melakukan meditasi Krisna, dan menjadikan Krisna sebagai
tuhan akan dapat memberikan kebijaksanaan dan penerangan dimana kedekatan kepada Tuhan
Maha Kuasa dapat dicapai. Sehingga lingkaran Samsara yang tidak terbatas pun dapat
dihilangkan. Hal ini dapat dianggap sebagai usaha penulis Gita dan Maha-Barata untuk
meningkatkan kultus pemujaan Krisna. Namun, kontradiksi yang ada antara diskursus-diskursus
Islamic Online University Aqidah 301
100
dalam Gita membuatnya menjadi suatu karya filsafat yang dapat diinterpretasikan dalam
berbagai cara. Perihal tema Karma (kerja), ada dua jenis penjelasan dalam Gita yang saling
bertentangan yaitu bahwa setelah mencapai penerangan dan kebijaksanaan, kewajiban untuk
kerja pun hilang, meskipun seseorang bisa saja bekerja dengan tujuan untuk bekerja semata dan
bahwa bekerja lebih baik daripada menyerah. Sehingga, dapat dikatakan bahwa terdapat banyak
kebingungan di dalam konsep-konsep tentang Tuhan yang tetap, tuhan perorangan, Iswara,
Keshava, karma, ruh, jiwa, keadaan tercerahkan, hidup setelah kematian, dan konsep-konsep
lainnya. Ini karena tiap konsep memiliki pengertian yang berbeda-beda untuk tiap situasi yang
berbeda pula. Gita bahkan sampai menyatakan bahwa “Bagi yogi yang telah mencapai
keberhasilan akibat dari meminum nektar kebijaksanaan, dia sudah tidak memiliki tugas apa-apa
lagi; jika masih ada tugas yang tersisa, maka dia bukan pengerti kebenaran sesungguhnya.”
Filsafat-filsafat ini sulit untuk dipahami oleh para penghuni dunia. Jika semua kerja dilenyapkan,
apakah kiamat tidak akan datang?
Pengertian di balik konsep Tuhan dan Avatar-Avatarnya dijelaskan dalam Gita sebagai
berikut:
“Walaupun Aku tidak dilahirkan dan badan rohani-Ku tidak pernah merosot,
dan walaupun Aku Penguasa semua makhluk hidup, Aku masih muncul pada
setiap jaman dalam bentuk rohani-Ku yang asli.” (IV:6)
“Kapan pun dan di mana pun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal
yang bertentangan dengan dharma merajalela-pada waktu itulah Aku Sendiri
menjelma, wahai putera keluarga Bharata.” (IV:7)
“Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan
untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku sendiri muncul pada
setiap jaman” (IV:8)
Meski sepuluh Avatar (inkarnasi) Wisnu dikeluarkan dari Weda dan kitab-kitab lainnya, Gita
sama sekali tidak menyebutkan dewa lain selain Krisna yang menjadi satu-satunya inkarnasi
eksklusif Tuhan Maha Kuasa yang wajib untuk ditaati. Meskipun Weda dan literatur-literatur
lainnya menunjukkan bahwa aspek Wisnu dan Siwa ada dalam Brahmana, inkarnasi Siwa sama
sekali tidak disebutkan, walaupun semua inkarnasi datang untuk menghancurkan sumber-sumber
kejahatan. Bahkan, walaupun Rama dianggap sebagai inkarnasi Wisnu dalam bentuk manusia,
dia biasanya tidak disembah kecuali dalam situasi yang sangat, sangat langka. Nama Rama
bahkan tidak disebutkan sama sekali dalam Gita. Pertanyaan besar yang masih mengganggu saya
ialah apakah untuk menghancurkan sumber-sumber kejahatan, Tuhan Maha Kuasa perlu untuk
mengikarnasikan diri-Nya terlebih dahulu? Tidak bisakah dia memerintahkan segala sesuatunya
menjadi peristiwa alami dan menyelesaikan permasalahan yang ada?
Islamic Online University Aqidah 301
101
Enam Sistem Filsafat Hindu
Dikembangkan oleh filsuf-filsuf Hindu setelah tahun 200 M., enam Sistem Filsafat Hindu
merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan ide-ide dalam Weda dan literatur-literatur epos
lainnya agar sejalan dengan pendekatan metafisika. Keenam sistem ini terdiri atas:
Nyaya (pengetahuan), yang membahas proses pengalaman, induksi, kausasi,
perbandingan, dan metafisika;
Waisesika (kekhususan), yang merupakan klasifikasi objek enam kali lipat;
Samkhya;
Yoga;
Mimamsa; dan
Wedanta (Doktrin suci dan Upanisad)
Enam filsafat ini merupakan usaha para filsuf ajaran Hindu untuk mengembangkan suatu
wadah dimana ajaran-ajaran, kepercayaan, bakti, pandangan, dan norma-norma sosial yang
saling bertentangan ini dapat dilindungi dan dijelaskan untuk memperlihatkan bahwa semua
konsep-konsep ini tidak saling bertentangan melalui tahapan-tahapan proses tibanya Tuhan Yang
Maha Esa, khususnya dalam pergerakan ajaran-ajaran agama baru seperti Agama Buddha,
Jainisme, dan Kristen yang telah dibentuk dari sekitar 600 S.M. Perkembangan enam sistem
filsafat ini sejak saat itu pun berlanjut melalui jasa-jasa pemikir Hindu seperti Shanksra,
Ramanuja, Dayanadi, Ram Mohan Roy, Anne Besant, Arobindo, Tilak, Tagore, Ramanand,
Radha Krishnan, Gandhi, dan yang lainnya, khususnya sejak abad ke-7 M. ketika dampak agama
Kristen dan Islam yang meyakini konsep Tuhan Maha Esa dan persaudaraan universal mulai
masuk ke dalam masyarakat Hindu India yang politeistik dan berkasta. Meski begitu, sedikit atau
banyak, keimanan pada sifat ketuhanan dan pluralitas dewa-dewa dan dewi-dewi untuk tujuan
yang beragam menjadi sangat menarik dikalangan massa dan bahkan kelas berpendidikan dari
kalangan Hindu bahwa hal ini tak dapat dipertimbangkan bahwa Hindu dapat tertinggal tanpa
menyimpan di dalam otaknya kemanjuran dari dewa-dewa dan dewi dewi yang dipercaya
mampu menguasai aspek material seperti hidup, keamanan, kekayaan dan keberuntungan , dan
lain-lain sebagai tambahan Narayana, Keshava, Brahman, Krisna, Paramathma atau Bhagwan
yang tertinggi, begitu pun dengan Wisnu dan Siva yang agung . Tidak ada satupun candi yang
dapat ditemukan dalam luas dan panjangnya India yang tidak memiliki setidaknya figure dewa
atau yang memimpin, atau bahkan keduanya, yang secara pribadi mendamaikan dan ditokohkan ,
dalam kebahagiaan atau dalam kesulitan oleh ketidaktahuan juga pencerahan massa.
Kosmologi dan Keyakinan Hindu
Dewa dalam agama hindu yang tertinggi, Brahman, dijelmakan dalam dua dewa yang
saling bersaingan, Wisnu dan Shiva, yang merupakan dewa penciptaan dan pemberi rezeki
Islamic Online University Aqidah 301
102
sekaligus penghancur. Sebanyak jumlah dari dewa-dewa dan dewi-dewi yang lain dengan istri-
istri dan anak-anak disembah sebagai yang dituhankan untuk tujuan akhir khusus. Penganut
agama Hindu pada dasarnya digolongkan baik itu pengikut Wisnu atau Shiva yang berseteru
dalam pertanyaan akan keyakinan seperti yang manakah yang lebih kuat. Lagi, dalam pertanyaan
mengenai keyakinan, beberapa pengikut Hindu kebanyakan saling bertentangan sehingga mereka
bahkan tidak percaya pada beberapa konsep dasar dalam agama Hindu seperti Karma, seperti
yang terjadi pada aliran Lingayat di India selatan, mereka juga tidak menganggap Weda sebagai
sesuatu yang sacral, tanpa wahty, dan lain-lain seperti aliran Chakravas yang hedonistik dan
cenderung ateistik yang menolak ajaran Hindu tradisional seperti Darma. Masyarakat Hindu
modern telah sejak lama dipaksa oleh kewajiban pada lingkungan dan hal yang tidak dapat
dipraktekkan , seperti, Hindu Dharma serta aturan untuk menerima seperti memakan ikan, telur,
dan (oleh sebuh aliran Brahmana di Bengal) dilarang bagi mereka dan memakan daging, yang
merupakan daging dari Ibu Sapi yag tidak hanya dianggap sakral tetapi juga disembah oleh
mereka. Terdapat pedagang Hindu professional yang tidak boleh pergi atau dibawa keluar negeri
untuk memakan daging melainkan dijatuhi hukuman dalam sebuah pengucilan Hindu dari
masyarakat Hindu, seperti yang dijelaskan di dalam kitab.
Dalam kosmologi Hindu, setiap dewa yang dianggap utama memiliki beberapa
penjelmaan. Sebagai contoh, Shiva juga merupakan Gangadhara, Mahadewa, Iswara,
Neelankanta, Natraja dan lan-lain. Sama halnya dengan Wisnu yang memiliki beberapa jelmaan
juga beberapa bentuk lain, setiap bentuk mengacu pada sebuah persitiwa mistis dimana tanah
atau kualitas khusu memainkan peran. Hal ini dikarenakan Hindu memiliki prasangka pada
pantheisme, pada akarnya mewajibkan penyembahan dan pengambilan hati pada penyembahan
dewata yang tak terhitung. Puranas yang merupakan ayat-ayat Sansekerta lama dianggap sacral
dan menjelaskan secara rinci beragam upacara keagamaan Hindu, memji setiap hal yang bersifat
ketuhanan sebaagai hal yang paling agung,
Dalam Weda dan literature kitab yang lain, ketika Brahma atau “Iswara” merupakan
Tuhan Hindu yang tertinggi, Wisnu juga merupakan tuhan dan pilar alam semesta, dicirikan
dengan pengorbanan dan dia yang tiga tapak kaki atau langkahnya seluruh hal dikatakan
tinggal, tempat tinggalnya menjadi kerajaan surga di langkah ketiga diluar jangkauan keabadian
dan pengetahuan”. Dia juga dihubungkan dengan sepuluh jelamaan dewa Krisna, dan terkadang
Rama, dua jelmaan dalam wujud manusia, disembah dan dikagumi, begitupun dengan istrinya
“Sri”, pada umumnya oleh penganut aliran Vaishanavites sebagai Tuhan tertinggi. Meski begitu,
Svetasvatara Upanishad (sekitar 400 S.M) memulai aliran Shiva, dikembangkan dengan nama
“Rudra” Weda yang juga digambarkan sebagai dewa penciptaan, penjagaan, dan penghancuran
alam semesta, paralel dengan jelmaan Krisna, dewa pribadi dalam budaya Bhagavat Geeta
dengan nama Wisnu. Meski begitu, Bhagavat Geeta dengan empati menyatakan untuk
memperoleh kesenangan Brahma itu lebih mudah melalui penyembahan Krisna yang merupakan
jelmaan dari Wisnu. Perintah ini dan juga perintah lain dalam kitab-kitab untuk mengagumi dan
menyembah dewa-dewa atau dewi-dewi yang lain juga telah dikembangkan menjadi sebuah
Islamic Online University Aqidah 301
103
tradisi yang kuat dengan sanksi lebih dari ribuan tahun dengan kehidmatan dan ketaatan yang
sama pada Satu Tuhan yang tertinggi. Pada kenyataanya, hal ini telah menyediakan otoritas kitab
Hindu yang melimpah, begitupun dengan pendorong untuk menggantikan segala objek yang baik
atas nama dewa dewa pribadi untuk kegiatan yang mungin di tempat Tuhan yang tertinggi.
Selama abad ke-4 hingga ke-8 M, selama Gupta menguasai India, Kaum Tnatrik juga
upacara kepatuhan dan aliran Shakti juga gabungan dari kisah-kisah klasik yang disebut
“Puranas” menjadi hidup. Aliran Tantrik dan Shakti, dijelaskan secara lebih rinci nanti, pada
dasarnya dihubungkan dengan aliran Shiva. Oleh karena itu, persaingan yang kuat antara aliran
Wisnu dan Shiva, yang masing-masing mengklaim mewakili penyembahan dan pemujaan Tuhan
yang tertinggi, tinggal pada Hinduisme, terdapat kemungkinkan tiada penyembahan kepada
Brahma satu tuhan tanpa perantar.
Jenis-jenis Hinduisme
Wedaisme merupakan agama dari penduduk awal bangsa Aryan dari daratan IndoGanges
sekitar 200 tahun S.M, naskah agama asli dikenal dengan Weda. Kemudian Brahmanisme
dikeluarkan, atau mungkin menjadi bagian dan paket dari Wedaisme itu sendiri, dengan sebuah
kalangan elit pendeta dari keturunan Arya atau India (sisa dari keturunan Arya masih dapat
diidentifikasi dalam “Nambudiris Kerala dan mungkin di tempat lain juga) untuk bersedia
memberikan perhatian kepada kelas-kelas yang berkuasa yang disebut sebagai “Ksatria”.
Perintah pendeta, pada umumnya dikenal dengan sebuatan “Brahmana”, pada dasarnya lebih
sering disembah, Brahma Tuhan satu-satunya dan kesamaan pada dua penandaan kepentingan
agung. Hal ini cukup mungkin bahwa kaum Arya yang berimigrasi , dalam perjalanan mereka
menuju daratan Indo-Ganges, pasti melakukan persinggahan di wilah Kaspian selatan dari Iran
dan Irak dimana mereka pasti mendepatkan pengajaran dari Nabi Ibrahim (Keselamatan semoga
tercurah kepadanya) dan bukunya, dan, juga pada ajaran Zoroaster, sehingga memperoleh
beragam filosofi yang merata di area itu. kesamaan kata Ibrahim (alaihissalam), Brahman, dan
Brahmana tidak berarti apa-apa dalam hubungan ini. Tetapi, dulu di benua anak benua India
kedua kateogri ajaran utama sebagai satu Tuhan tertinggi atas segala keinginan dan tujuan tanpa
pemikiran paling sedikit tentang Tuhan Satu yang tertinggi, Brahman selama penyembahan telah
berkembang. Dalam ini Hinduisme Weda yang juga memiliki cukup warisan penyembahan
dewa-dewa dan dewi-dewi dimaksudkan untuk menjelmakan beragam tubuh surgawi menjadi
saling berhubungan dengan animism dan konsep pagan yang menyembah apapun dan segala
yang menginspirasi atau diyakini dapat memberikan manfaat bagi umat manusia atau
menjauhkan kejahatan dari dirnya, praktik ini diperoleh dari timur tengah juga local. Hari ini,
terdapat banyak kelompok di dalam penganut agama Hindu yang tiap kelompok terdiri dari
ratusan ribu orang yang menyembah beragam objek di bumi dan di langit seperti dewa-dewa dan
dewi-dewi yang masing-masing dipercaya oleh mereka yang berdoa mampu menjawab doa-doa
mereka selain Yang Tunggal Brahma atau Iswara. Diantaranya adalah aliran Tantra, Shakti dan
Islamic Online University Aqidah 301
104
Bhakti yang berpusat pada aspek ketaatan, keajaiban,dan hal-hal yang dapat diketahui oleh
orang tertentu saja begitupun dengan ritual-ritual yang dihubungkan dengan Wisnu dan Shiva.
Akhirnya, aliran Hindu, menjadi bercampur dengan aliran-aliran diatas juga dengan keyakinan
masyarakat local tetapi tetap berpusat pada dewi-dewi atau manusia setengah dewa tertentu,
yang dianggap sebagai Tuhan pribadi, keluarga, masyarakat dan lain-lain, khususnya bagi
mereka yang berada di dua kasta terendah dalam ajaran Hindu.
Oleh karena itu, meskipun hal ini mustahil untuk mendefinisikan Hinduisme kedalam
kerangka yang kaku karena tidak terdapat keyakinan atau institusi yang secara mendasar sama
untuk semua penganut agama Hindu, namun hal ini tetap mungkin untuk mengidentifikasi
seorang penganut agama Hindu dari yang lain. Meski begitu, beberapa kepercayaan seperti
Karma: Dharma: keempat sistem kasta yang kokoh namun tak saling berhubungan: Ritual Shati
(Pengorbanan janda dalam kayu bakar pemakaman suaminya yang telah meninggal): Tuhan yang
Satu, Brahman dengan dua dewa yang saling bersaingan Wisnu dan Shiva, yang
penyembahannya menciptakan persaingan akut antara dua penganut faksi Hindu: penyembahan
dewa-dewa dan dewi-dewi yang lain sebagai tuhan baik di rumah maupun di kuil serta
penyerahan kurban kepada mereka untuk mendapatkan kedamaian dan perlindungan dari
kejahatan: serta keyakinan yang tidak dapat dipertanyakan dalam ramalan astrologi juga tanda-
tanda (shadunams) sebagai ramalan pertanda kebaikan atau keburukan merupakan gagasan dan
dasar pemikiran seorang penganut Hindu. Karakteristik yang paling penting dari seorang
penganut agama Hindu, adalah mereka menyembah dewa-dewa dan dewi-dewi yang beragam,
memperlakukan sapi sebagai hewan sacral, mensakralkan sungai-sungai, tanaman, gunung, dan
binatang tertentu sebagai yang hal yang mulia, menerima kalangan Brahmana sebagai sosok
yang sempurna dan mulia serta melekat pada diri mereka kehormatah dalam sistem kasta yang
tak tergoyahkan. Mereka yang tidak peduli pada hal-hal di atas, pada kenyataannya bukanlah
seorang Hindu, melainkan tanpa agama dan keyakinan dalam pohon kehidupan, telah mendapat
begitu banyak faktor lingkungan seperti keyakinan, filosofi, masyarakat bebas , bahkan
komunisme. Suku bukit seperti Santhals, Bhils, Gondas, Nayadis dan Naga, dan lain-lain yang
mengikuti bentuk lama dari agama animism Pra-Weda, meskipun dianggap sebagai kalangan
Sudra yang tak tersentu atas alasan keagamaan, mereka tetapi dianggap sebagai suku dan kasta
yang tetap, juga secara politik.
Wisnu dipercaya turun sebagai avatar (jelmaan) dicirikan dengan motoligi, semi-sejarah,
dan sosok sejarah. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Geetha mengkhususkan bahwa
avatar dan khusunya Krisna merupakan jelmaan dari Tuhan yang tertinggi dan bukan Wisnu
sebagaimana yang dijelaskan dari sebagaian kitab. Juga menurut literature Weda, Wisnu
menjelma ke dalam beragam bentuk untuk mengembalikan kedamaian dan tatanan dunia kala itu
ketika dunia dihancurkan oleh kekuatan jahat serta kesepuluh avatar telah disebutkan. Ikan, kura-
kura, beruang, monster setengah manusia setengah singa, kurcaci, Rama, Rama anak Amadgini,
Krisna, Buddha, dan Kallti. Kesepuluh yakni, Kalki yang merupakan seekor kuda putih
bersayap, dipercaya belum tiba ke bumi.
Islamic Online University Aqidah 301
105
Hal ini mungkin amannya dapat dikatakan bahwa Budaya Hindu merupakan sebuah cara
hidup dari pada sebuah agama karna seseorang tidak dapat menemukan jalan yang mudah untuk
menjadi seorang Hindua melalui perpindahan agama seperti dalam agama Kristen atau Islam,
yang memiliki cara yang telah dijelaskan untuk melakukan hal itu yang sama saja bagi siapapun
yang ingin masuk kedalam agama ini. Dikarenakan keempat sistem kasta nampaknya tidak
terdapat jalan masuk tertentu bagi mereka yang non-Hindu untuk masuk kedalam Hinduisme
karena tidak akan ada yang ingin bergabung dalam tingkatan yang tak terjangkau, dan kasta-
kasta yang lebih tinggi, khususnya kalangan Brahmana, menjadi sacral Terlahir dua kali”,
merupakan penghambat bagi mereka yang baru ingin masuk. Oleh karena itu, untuk
menggabungkan dan menarik perhatian pendatang baru ke dalam ikatan Hinduisme, sistem kasta
yang buruk harus dihapuskan. Hal itu mungkin dikarenakan efek dari agama Islam selama
penguasaan India oleh orang-orang Musim yang terjadi pada sekitar abad ke-15 M, sebuah
adaptasi perpindahan agama dalam Hinduisme yang disebut Sikhism berkembang. Guru Nanak,
yang merupakan seorang pengubah material Hindu dari Punjabi India, menjelaskan sebuah
metode standar perpindahan agama kedalam aliran tanpa kasta dengan tanda dan dogma yang
membedakan serta sebuah kekuatan martial khusus yang bukan hanya bertujuan untuk
menyaingi Kristen dan Islam, tetapi juga untuk mencegah kedua agama baru itu menemukan
jalan masuk kedalam kehidupan budaya Hindu karena mereka lebih rasional, khususnya dalam
hal penciptaan dan tatanan masyarakat. Kebangkitan aliran Sikh hadir untuk menarik perhatian,
dalam waktu singkat, mempertimbangakan kedua kasta terendah untuk masuk dalam
kelompoknya dengan alasan kedua kasta tersebut telah menderita selama berabad-abad yang
ditopang oleh kitab. Namun, fakta sejarah bahwa selama lima abad, aliran tersebut menarik tidak
lebih dari 600 juta masyarakat Hindu, khususnya dari dua kasta terendah, kedalam kelompoknya
telah membuktikan bahwa bahkan usaha yang baru ini tidak dapat memberikan persamaan hak
kepada ratusan juta kasta rendah dalam agama Hindu di India, khususnya kelas Sudra.
Kecuali seseorang melewati empat Weda, Upanishad, kedua epik dan literatur kitab
lainnya seperti Manusmirithi, seseorang mungkin tidak akan dapat gambaran sempurna dari
penghalang budaya yang hampir kaku dan tak tergoyahkan ditunjukkan oleh sistem kasta Hindu
yang disetujui dan dipertahankan dalam undang-undang hukum terhadap konflik, khususnya dari
kelas rendah , begitupun dengan ritual penyucian yang ditangani dengan teliti oleh kasta yang
lebih tinggi karena pengotoran yang dilakukan oleh kasta yang lebih rendah. Hukum kitab
mencapai bahkan sampai pada hukuman dengan menuangkan baja cair kedalam telinga kalangan
sudra dikarenakan ia telah mencuri dengar Weda yang sedang dibacakan oleh kalangan
Brahmana. Di dalam lingkungan yang tidak memiliki kepedulian, bagaimana seorang dari
kalangan Sudra dapat mencapai tujuan tertinggi” dari pnebusan melalui Dhanna dan Kanna
seperti yang digabungkan oleh Bhagavat Geeta hanya menjadi angan-angan belaka. Oleh karena
itu, hal ini hanyalah sekedar sebuah pernyaataan kebenaran bahwa budaya India seperti yang
terlihat hari ini , dibangun selama lebih dari sepuluh abad melalui aliran penyembahan dewa-
dewa dan dewi-dewi sebagai yang dipertuhankan, diatur oleh keempat sistem kasta Arya,
diperlahul dari waktu ke waktu ke dalam kemampuan yang terbaik melalui upaya yang terus
Islamic Online University Aqidah 301
106
menerus dari pengubah patriot yang bangga dan bersemangat untuk mempertahankan identitas
nasional mereka untuk terus menjadi sebuah jalan hidup yang bergabung melalui peleburan
beragam budaya dan bukannya sebuah agama.
Bentuk Peribadatan Hindu
Seperti yang telah dibahas pada halaman-halaman sebelumnya, harus diperjelas bahwa
konsep dasar peribadatan dan ketaatan dalam jalan hidup agama Hindu adalah melalui seorang
dewa atau dewi yang dipertuhankan yang dipuja dan dipuji untuk satu atau lebih aspek dari
Tuhan yang Agung selain dari pada seluruh rahmat yang telah dilihat oleh mereka yang
beribadah. Pengorbanan dan ketaatan juga diberikan kepada yang dipertuhankan ini, seperti
halnya kepada Tuhan yang AGung, terdapat tuhan yang berbeda untuk suku yang berbeda atau
bahkan orang-orang yang berbeda di dalam sebuah keluarga dan untuk tujuan yang berbeda.
Tidak ada satupun di India, Bangladesh, Sri Lanka, Malaysia, Singapura, Indonesia atau tempat
lain di dunia di mana kebudayaan Hindu berada dapat ditemukan sebuah rumah atau kuil
peribadatan dimana apapun selain setengah dewa dalam bentuk baik itu idola atau gambar yang
dihias yang disembah, penyembahan Tuhan yang Satu dan tanpa bentuk ini menjadi sepenuhnya
mitos belaka. Bahkan konsep Brahman yang teringgi atau Bhagwan yang seharusnya ditanamkan
dalam pikiran mereka yang percaya pada Bhagavat Geeta telah diserupakan ukurannya dengan
krisna oleh kitab itu sendiri, serta bahwa selalu seorang idola atau gambaran yang mensugesti
bahwa tuhan pribadi yang disembah lebih baik daripada menyembah Tuhan Yang satu tanpa
bentuk. Bahkan menurut ajaran Byuha, dikembangkan di Narayaniya dan Moksha, Dharma yang
mengikuti Bhagavat Geetha, untuk mencapai Brahman melalui jelmaan Krisna merupakan
sebuah kemustahilan kecuali oleh beberapa Yogi yang sulit untuk ditemukan bahkan menurut
Geetha. Ironisnya, bahkan Geetha menyatakan bahwa sejumlah besar Yogi juga gagal mencapi
tujuan untuk terlahir kembali, mungkin karena di dalam sebuah keluarga atau rumah seorang
Yogi “ suci dan sejahtera”
Namun, agama Hindu, seperti yang dipahami di dalam kitabnya oleh sejumlah besar
massa di India dan di tempat lain hari ini, menemukan ekspresi dalam observasi yang ketat di
dalam sistem kasta melalui aturan pengotoran dan penyucian untuk dijalankan bagi tiap orang
dan semua, dalam melakukan doa dan permintaan juga pengorbanan untuk yang dipertuhankan
secara khusus dan kebanyakan berbeda seperti yang diharuskan dalam tradisi keluarga; dalam
puasa setengah, upacara untuk nenek moyang dan tuhan pribadi atau keluarga seperti dapat
melalui pemberian makanan dan pengorbanan; mendengarkan pembacaan epic Harikatha secara
umum juga kitab serta berziarah dibawah sumpah kuil dan tempat keramat yang disakralkan
dimanapun juga untuk mandi di sungai sakral.
Hal yang sama pentingnya seperti di atas adalah konsultasi seorang peramal dan mencari
kesenangan dari dewa setempat atau dewa keluarga melalui doa, persembahan dan pengorbanan
Islamic Online University Aqidah 301
107
yang tepat sebelum dimulainya tindakan penting tertentu atau selama krisis. Untuk dimulainya
setiap tindakan, waktu yang paling tepat dan menguntungkan diawasi oleh seorang Hindu
melalui tanda-tanda (Shaguna) persetujuan dan tidak ada yang dilakukan terhadap tanda-tanda
yang dianggap bertentangan. Dalam perjalanan kehidupan sehari-hari, hewan-hewan tertentu,
terutama sapi, tanaman seperti Tulsi, reptil seperti ular dan burung-burung seperti burung merak
dan elang selalu dianggap suci dan tidak pernah merugikan. Para intelektual berkonsentrasi
membaca Upanishad, Bhagavat Geetha dan tulisan-tulisan para guru besar (Acharyar) sementara
juga mengikuti ibadah dewa harian serta kebiasaan masyarakat umum yang semuanya hampir
memiliki sanksi suci yang kuat. Namun, praktik Sathi telah lenyap dari masyarakat Hindu, akibat
pelarangannya sejak lama oleh pemerintah India Inggris, tetapi para janda tetap tidak menikah.
Sistem Kasta Hindu
Tidak mungkin untuk melepaskan sistem kasta dari Hinduisme, entah seseorang menyukainya
atau tidak, serta argumen apa pun yang coba diajukan oleh kaum modernis. Faktanya, argumen
bahwa tidak ada perbedaan kasta sebagaimana yang dianjurkan oleh kitab suci Hindu adalah
salah satu ketidaktahuan akan kitab suci. Manusmrithi, yang dikaitkan dengan Manu yang bijak,
menurut Geetha, telah begitu bijak sehingga "yoga yang kekal dinyatakan kepadanya oleh Tuhan
melalui Vivasvan" (IV:1), dan merupakan norma utama hukum sosial, moral dan hukuman
agama Hindu, tegas pada pertanyaan tentang pemisahan kelas yang ketat karena kelas-kelas itu
"lahir dari alam" dan kasta tinggi Hindu lahir dua kali, sedangkan Sudra adalah kelahiran dan
profesi yang tidak bersih dan, karenanya, tidak tersentuh. Hukuman fisik yang ketat ke Sudra
karena mendekat ke dalam jarak sosial yang tidak aman, bahkan bayangan mereka jatuh pada
Brahmana dan menguping pembacaan Veda oleh Brahmana dinyatakan dalam Manusmrithi,
sementara upacara pemurnian yang drastis harus dilakukan oleh yang lebih tinggi untuk
mengembalikan kemurnian orang yang tidak bernoda dan tempat suci juga telah ditunjukkan.
Dalam keadaan itu, argumen kaum reformis Hindu modern tentang Hinduisme yang tidak
menganjurkan perbedaan kasta dan ketidakterbatasan sama dengan tindakan murtad. Sebenarnya,
telah menjadi upaya untuk melawan superioritas yang dimiliki oleh agama Kristen dan Islam atas
Hinduisme dalam hal persamaan ekstrim antara saudara laki-laki dan saudara laki-laki di satu
pihak dan saudara perempuan dan saudara perempuan di pihak lain terlepas dari ras, warna kulit,
kelahiran, keluarga atau profesi. Lebih rinci lagi, ini terlihat dari nyanyian Rg Veda "Purusha
Sukhtha" bahwa keempat kasta (Vama) atau perintah membentuk anggota tubuh manusia purba
(Purusha) yang menjadi korban pengorbanan ilahi yang menghasilkan Kosmos. Brahmana
muncul dari mulutnya, Kshatriya dari lengannya, Vaishya dari pahanya dan Sudra dari kakinya.
Dengan demikian, sistem empat-kasta yang tak tertembus, ketidaksempurnaan akut, penolakan
dari kasta yang lebih tinggi bahkan untuk memungkinkan kasta rendah untuk beribadah di kuil-
kuil serta untuk mandi di sungai dan kolam umum, tanpa menyebutkan makan bersama dan
pencampuran sosial yang bebas, semua telah menjadi kejahatan sosial yang diterima dan
mengakar dalam masyarakat Hindu yang bertentangan dengan perjuangan seumur hidup Gandhi
Islamic Online University Aqidah 301
108
dan, Vonobe Bhave tidak menghasilkan banyak buah selama abad ini. Ini karena fakta bahwa
supremasi Veda telah diterima oleh masyarakat Hindu, mereka mengundurkan diri pada takdir
yang tak terelakkan yang diatur oleh siklus Karma-Samsara yang suci dimana mereka secara
moral takut terlahir kembali dan dilahirkan kembali sebagai yang lebih rendah. kelas-kelas atau
bahkan kreasi untuk menghadapi konsekuensi dari dosa-dosa kitab suci seperti penghancuran
penghalang kasta yang keras. Jadi, tidak ada yang bisa dilakukan oleh siapa pun kecuali kasta
yang lebih rendah berpindah ke agama lain yang menjanjikan kesetaraan antara manusia dan
manusia serta filsafat yang membebaskan mereka dari doktrin Samsara keseluruhan.
Dimensi Baru Filsafat Hindu
Sejak abad kedelapan, Masehi, sejumlah filsuf Hindu telah membedakan diri mereka dalam
memberikan dimensi baru pada pemikiran dan cara hidup agama Hindu, sebagai akibat dari
pemaparan terhadap dampak sains dan teknologi pada masyarakat di satu sisi dan dari dua agama
penting zaman modern, yaitu agama Kristen dan Islam, di sisi lain, kedua agama memiliki
beberapa keunggulan umum atas Hinduisme, khususnya di bidang persatuan dengan Tuhan,
keselamatan dan internasionalisme. Sementara Hinduisme menjadi stagnan setelah menempatkan
masyarakat dalam cengkeraman politeisme panteistik, sistem kasta yang tak tertembus dan siklus
reinkarnasi Karma-Dharma yang berorientasi pada Samsara (transmigrasi jiwa), kedua gerakan
baru itu memiliki cukup banyak hal untuk ditawarkan kepada umat manusia dalam hal
keselamatan melalui amalan yang baik serta pengampunan dari Tuhan yang adil, baik dan penuh
belas kasih, di bidang kesetaraan sosial dan kesempatan yang sama di semua bidang. Para
penganut Hinduisme pun tertarik pada kedua agama ini. Sehingga, demi mencegah Hinduisme
hilang akibat keberadaan kedua agama ini, juga untuk menghilangkan beberapa
ketidakonsistenan dasar, interpretasi ulang doktrin-doktrin dalam Weda, Upanisad, dan kitab-
kitab epos yang kontradiktif dan ketinggalan pun perlu untuk dilakukan. Hal ini pertama kali
disediakan melalui kultus “Shakti” dan kultus “Bhakti”
Kultus Shakti
Meskipun pergerakan revitalisasi utamanya bertujuan untuk menanamkan doktrin-doktrin
Weda, pergerakan ini juga memberikan kesempatan bagi penganut Hindu untuk menunjukkan
kepatuhan mereka kepada dewa-dewa Weda. Akibatnya, kultus Shakti menjadi bentuk pemujaan
prinsip penciptaan alam semesta yang berpersonifikasi wanita. Sehingga, istri Siwa, Parvathi lah
yang disembah oleh kultus Shakti. Mereka menyembahnya dalam beberapa manifestasi Parvathi
seperti Devi, Jagan Matha, Durga, Kali, Bhagawati, dan Chamnudi. Namun, pemujaan yang
berada dalam satu garis keturunan dengan Laksmi, yang merupakan pasangan Wisnu, jarang
ditemukan walaupun dia disembah sebagai dewi kekayaan oleh semua umat Hindu. Kultus Bakti
dijelaskan dalam Tantra, yang dipercaya telah ditulis ulang pada abad ke-6 dan ke-7 M. Kultus
Islamic Online University Aqidah 301
109
ini menyembah lima bentuk Parvathi yang dijelaskan dalam Tantra sebagai lima M, yaitu:
Mamsa (daging), Matsya (ikan), Madya (anggur), Maidhuna (copulation), dan Mudra (lambang
mistis jari). Penyembahan yang mereka lakukan diiringi oleh pengorbanan binatang dan
terkadang pengorbanan manusia di antara beberapa suku ekstrem yang merupakan cabang
Vamachari kultus ini.
Kultus Bhakti
Kultus Bhakti adalah salah satu filsafat Hindu moderen di daerah utara India.
Berdasarkan Vishnavite ajaran Panchathanthra abad ke-12 M., Ramanuja versi kultus ini berasal
dari monisme terbatas (Wisistadwaita). Di daerah utara India, kultus ini hanya diasosiasikan
dengan Wisnu saja, khususnya dengan inkarnasi Krisna. Tetapi di daerah selatan India, kultus ini
diasosiasikan dengan Wisnu dan Siwa. Shankara (785-820 M.), yang merupakan pelopor
monisme ekstrem (Kevala Dvaita), diyakini adalah penulis beberapa ayat yang dinyanyikan
untuk penghormatan Devi, Siwa, dan Wisnu. Namun, kultus-kultus Weda yang memuja berbagai
macam dewa dan dewi ini telah jauh berkurang akibat pergerakan revitalisasi menuju
penyembahan trinitas (Brahma, Wisnu, dan Siwa) yang disertai dengan penyembahan Wisnu
yang diwakili oleh inkarnasi Krisna, penyembahan Siwa, penyembahan istri-istri dewa, serta
penyembahan beberapa keturunan dewa dewi mereka.
Karena adanya interaksi dengan pedagang-pedagang Islam, lalu diikuti oleh interaksi
dengan evangelis Islam dan Kristen, kemudian akibat dari penakluk-penakluk Arab,
Afghanistan, dan Mughal, serta penakluk-penakluk Kristen dari daerah barat India, gerakan
pembersihan Hindu serupa pun terbentuk di India dan dipelopori oleh filsuf-filsuf seperti
Madhava dan Ramanand (abad ke-14 M), Arya Samaj dari Dayanand Saraswathi, Brahma Samaj
dari Ram Mohan Roy dan Masyarakat Teosofi Kota New York yang didirikan oleh Helena
Blavatasky dari Rusia dan yang kemudian bergeser ke India untuk diteruskan oleh Madame
Anne Besant (abad kesembilan belas), Ramakrishna dan Vivekanand, serta banyak filsuf lainnya.
Gerakan ini bertujuan untuk memberikan dimensi baru pada filsafat Hindu dengan tujuan
mengkonsolidasikan masyarakat Hindu dari gempuran agama-agama yang lebih dinamis
khususnya agama Kristen dan Islam dan sebisa mungkin, membawa integrasi dan toleransi di
antara ketiga agama utama India. Meskipun kaum intelektual Hindu, terutama yang berasal dari
kasta atas masyarakat Hindu, pada umumnya antusias terhadap gerakan-gerakan baru ini, kasta
Hindu yang lebih rendah, khususnya Sudra, sama sekali tidak tertarik dengan pergerakan baru ini
karena sistem kasta Hindu telah mengakar dalam massa dan masyarakat dengan rasa takut pada
reinkarnasi. Rasa takut ini berasal dari doktrin Samsara yang tertanam dalam pikiran mereka.
Sehingga, satu-satunya solusi untuk emansipasi masyarakat dan jiwa individu dari balutan masa
lalu hanya dapat dicapai dengan menjadi jemaah Kristen atau Islam. Dengan demikian, gerakan
renaisans Hindu tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Namun, upaya tak kenal lelah
kaum Arya Samej melalui gerakan Shuddi (pembersihan) untuk mendorong insentif sosial,
Islamic Online University Aqidah 301
110
budaya, ekonomi, serta kesejahteraan bagi kasta yang tertekan, dan desakan pribadi dan publik
yang kuat terhadap kasta lebih tinggi untuk memisahkan diri dari sistem kasta, dimana desakan
ini terkadang dilakukan dengan pemaksaan yang ujungnya berkali-kali menyebabkan bentrokan
komunal di India, tidak terbukti berhasil dan hanya efektif selama beberapa jangka waktu pendek
saja.
Keinginan untuk pindah agama masih merupakan sebuah harapan dan merupakan ciri
dari kebanyakan anggota Hindu yang tertekandan pada umumnya telah menemukan realisasi
dengan sangat sering di seluruh bagian India dimana terdapat suasana yang baik. Terdapat masa
dalam ingatan mereka yang hidup dari generasi terdahulu saat ini ketika Harijan, yang sering
disebut sebagai yang tak tersentuh di India, dibawah kepemimpinan Ambedkar, yang telah
mengumpulkan pengikut lebih dari enam juta orang-orang yang menderita, yang terancam
pindah agama ke Kristen atau Islam, dicegah untuk melakukan hal tersebut oleh pemimpin
nasionalis Hindu M.K. Gandhi yang mencoba segala yang dia bisa, termasuk puasa hingga mati,
memaksa Sarvana (Kasta kalangan atas) tidak hanya untuk tidak melakukan pada praktik tak
tersentuh dan diskriminasi di antara mereka dan para Avarna (kasta kalangan rendah), tetapi juga
untuk membuka segala institusi publik seperti tempat mandi, kuil, sekolah dan lain-lain untuk
Avarna tanpa syarat. Pergerakan tersebut, memiliki beberapa pengaruh tetapi tak lama tempo
tersebut menghilang dan hari ini, lagi, sebuah situasi yang sama, pada kenyataannya, kembali
mengancam masyarakat Hindu India. Sejak kemerdekaan pada Tahun 1947, upaya awal oleh
pemerintahan Inggris yang mencakup insentif pendidikan, kesempatan kerja, intervensi dan
skema kolonialisasi administrasi sipil untuk memadamkan penjajahan tak beralasan pada
kalangan Avarna dari kalangan Savarna dipaksakan dengan mendeklarasikan bahka setiap
perbuatan sosial diskriminasi merupakan pelanggaran hukum. Hukum tersebut sekarang
memberikan kesempatan yang sama dan bahkan insentif kepada kasta yang lebih rendah
begitupun dengan kasta yang diatur dalam setiap bagian kehidupan. Namun, masalah sosial dari
diskriminasi agama yang berakar pada persetujuan kitab dibawah ancaman agama untuk terikat
dalam lingkaran jahat Karma-Dharma-Samsara selalu menghantui pikiran yang mengembara
keempat kasta masyarakat Hindu, menjadikannya mustahil untuk mencabut akar dari kejahatan
sosial yang buruk sekali ini sepenuhnya.
Filosofi Hindu
Akomodasi dari pandangan filosofis apapun yang sesuai dengan keadaan apapun dalam
bentuk tuhan pribadi, jika harus melalui interpretasi yang sesuai, telah menjadi ciri dasar dibalik
bertahannya Hinduisme disamping fakta tak terbantahkan bahwa ini merupakan sebuah jalan
hidup yang dibangun di atas politeisme dengan mungkin ribuan dewa-dewa, dewi-dewi dan
manusia setengah dewa yang, bersama dengan jiwa nenek moyang, dipuja dan dipuji sebagai
tuhan untuk kebaikan khusus dan perlindungan dari kekuatan jahat serta disamping kenyataan
praktik diskriminasi sosial akut diatas dasar kerja dan kelahiran. Tidak ada pengampunan dari
Islamic Online University Aqidah 301
111
dosa kecuali melalui hidup sepenuhnya melalui beberapa lingkaran hidup berdasarkan ajaran
Karma dan perpindahan jiwa dari satu tubuh yang mati ke tubuh yang lain hingga masa dimana
buah busuk dari seluruh dosa di rasakan di dunia ini lalu seseorang mencapai penyatuan dengan
Tuhan yang Absolut melalui Yoga untuk membersihkan lingkaran reinkarnasi untuk kebaikan.
Bahkan Tuhan yang Absoluttidak mampu mengubah aliran peristiwa dari hukum yang telah
ditetapkan teruji dengan ucapan Krisna dalam Bhagavat Geetha dengan hasil bahwa Tuhan yang
tertinggi tidak memiliki kasih sayang selema Dharma dan Karma dipertimbangkan. Oleh karena
itu, bagi penganut agama Hindu, tidak ada doa untuk memohon ampun atas dosa. Agama Hidnu
tidak memiliki institusi yang disebut nabi atau utusan Tuhan. Melainkan, meyakini penjelmaan
Tuhan dalam bentuk makhluk hidup, yang bisa jadi dalam bentuk manusia, binatang, atau
bahkan keduanya dengan tugas untuk mengancurkan kejahatan dan ketidakadilan serta
mengembalikan tatanan dunia. Terdapat sepuluh penjelmaan yang disebutkan dalam kitab
(meluas ke dua puluh satu pada abad ke-10 M) dua dari itu dalam bentuk manusia dengan
kehidupan penuh seperti manusia hingga akhir, juga kuda putih, yang belum datang. Ajaran
penjelmaan begitupun dengan Samsara (perpindahan jiwa) memiliki kekuasaan Weda dan
Geetha dan Hindua tidak dapat memiliki hiburan pelipur lara karna konsep Dharma-Karma-
Samsara didukung oleh kitab. Oleh karen aitu, keseluruhan konsep evolusi juga lingkaran
kehidupan, berdasarkan filososfi Hindu, didasarkan pada ketiga lingkaran ini. Dharma
(kewajiban) dari setiap orang diindentifikasi melalui kasta dalam masyarakat dan sehingga
kriteria pekerjaan pun berbeda untuk kelas yang berbeda, yang terbaik telah dibagikan secara
alamiah dan kelahiran kepada yang terlahir kedua sedangkan segala kerja keras diberikan kepada
orang-orang dari dua kasta yang lebih rendah.
Beberapa aspek penting dalam filosofi Hindua yang dihubungkan dengan kehidupan
sehari-hari umat manusia adalah reinkarnasi yang tiada akhirnya melalui ajaran perpindahan jiwa
sebagai makhluk hidup yang berbeda dalam hubungannya dengan Karma (kerja) yang dilakukan
dikehidupan sebelumnya; sistem kasta yang buruk sekali, yang tak terpecahkan dimana bahkan
Tuhan tidak dapat mengubahnya; larangan untuk memakan makanan tertentu, pemberian kelas
dalam masyarakat, kaum Brahmana sebagai kelas pendeta, Ksatria sebagai kelas penguasa dan
petarung serta alokasi khusus untuk pertanian, perdagangan, kesenian, serta Sudra yang
merupakan kelas tak tersentuh: penyembahan ribuan hal yang dianggap Tuhan juga jiwa-jiwa
pada nenek moyang yang telah mati serta waktu-waktu tertentu untuk mengambil hati mereka
agar memberikan keuntungan; anggapan makhluk hidup memiliki kekuatan, pertahanan dan
penghancuran dewa-dew yang bersaing; pengabaian terhadap pemerolehan pengetahuan yang
lebih tinggi untuk kalangan Sudra: larangan untuk keluar negri dengan ancaman pengusiran dari
masyarakat: keyakinan pada ramalan astrologi tentang masa depan yang tak diketahui melalui
dadu yang dilemparkan dan menghitung posisi planet dan kaitannya pada kesimpulan tentang
ancaman yang akan datang; dan yang paing banyak, keyakinan kuat bahwa hal yang
dipertuhankan sebagai dewa atau dewi pasti menolong mereka yang taat untuk mencapai tujuan
yang diinginkan.
Islamic Online University Aqidah 301
112
Bukti yang demikian itulah sehingga untuk manusia maju modern yang ingin
mendapatkan kesamaan hak material dengan memasuka masa kecukupan, kesejahteraan, dan
keadilan sosial bagi seluruh umat manusia, tanpa memandang warna kulit, suku, atau pekerjaan
untuk mencapai penyelamatan jiwa melalui kerja dan kasih sayang Tuhan, Filosisfi Hindu dan
cara-cara yang ditandai dengan ketidakadilan sosial dan konsep mistis dan polities mengenai
Tuhan dan pengampunan tidak sesuai dengan skema seperti itu karena adopsi sebagai sebuah
jalan hidup internasional yang penuh makna menyediakan kepuasan sosial, moral dan spiritual
kepada masyarakat luas yang hidup di muka bumi ini (yang mendekati angka 5 miliar). Hal ini
nampak seperti bahwa dalam realisasi fakta ini yang seawall dengan abad ke-6 dan ke-5 S.M.
dua agama baru, Buddha dan Jainisme, dengan beberapa penyimpangan kecil dari Hinduisme
tetapi tidak banyak dalam hal detail, bergabung di bagian utra India; hal ini juga, setelah
berjuang selama berabad-abad dibawah perlindungan kerajaan dari raja Asoka dan Kanishka,
memudar, hanya orang-orang sebelumnya yang mencari pastur baru di Sri Lanka Burma dan di
bagian selatan Asia, tanpa meninggalkan banyak wariwan di tempat kelahiran mereka di India
kecuali monument arkeologi dan sejarah masa lalu yang gemilang.
Sebuah tujuan dibuat kembali selama abat ke-15 M oleh reformist Hindu dengan nama
Guru Nanak untuk membuat peningkatan dalam aspek spiritual, moral dan sosial Hindua dengan
menemukan jalan hidup Sikh di wilayah Punjab, utara India. Meskipun diketahui sebagai agama
yang terpisah dengan kesatuan yang berbeda dengan agama sumbernya, Hindu, Sikhisme telah
dianggap, sejauh ini, sebagai adaptasi Hinduisme.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, meskipun tujuan yang berulang dalam
beberapa filsuf dan reformist India sejak abad ke-8 M dnegan tujuan untuk memberikan dimensi
baru pada filosofi itab Hindu mula-mula dengan mencoba untuk menginterpretasikan
penyembahan politeistik dan penteistik pujaan yang tak terhitung jumlahnya bertujuan untuk
menggambarkan manusia setengah dewa dan dewi-dewi dalam kitab Hindu sebagai jalan lain
yang mengantarkan pada monoteisme, dan yang kedua dengan mengemukakan bahwa sistem
kasta yang didukung oleh kitab Hindu, bukannya sebuah diskriminasi melainkan sebagai
klasifikasi orang-orang untuk kenyamanan hidup: penghapusan ritual yang diatur dalam kitab,
Sathi yakni pengorbanan diri seorang perempuan di kayu bakar pemakan suaminya oleh
pemerintah India-Inggris sekitar dua abad yang lalu di sisi lain dan baru-baru ini tindakan
pemerintah merdeka inggris dalam melarang ketaatan pada perintah kitab akan pemisahan dan
tak tersentuh, menjadikannya sebagai hal yang melanggar hukum jika mencegah kasta dari
kalangan bawah untuk beribadah di kuil atau makan di restoran atau mandi di sungai dan danau
masyarakat bersama dengan kasta yang tinggi, dan lain-lain, di sisi lain dengan meniru inovasi
dari agama dinamis yang lain dengan keuntungan untuk mencapai kesamaan hak sosial pada
kasta-kasta yang hinakan dalam kitab: hal ini tetap tidak memungkinkan filosofi mistis dan
kontradiktif Hindu dan jalan hidup agama yang tidak rasional dalam Weda, Epik, dan Vedantha
untuk dihubungkan dengan ilmu pengetahuan, logika, dan naral manusia maju hari ini.
Islamic Online University Aqidah 301
113
BAB 7
ISLAM
Agama
Islam, dengan hampir satu miliyar pengikut hari ini, dan umumnya disebut oleh non-
muslim dengan Muhammadianisme” dikarenakan ketidaktahuan mereka, pada kenyataanya
adalah sebuah agama “perdamaian” karena kata dalam Bahasa Arab berarti- damai untuk diri
sendiri, damai untuk masyarakat, damai untuk seluruh duania dan damai untuk kehidupan setelah
mati. Untuk memperjelas situasi, Islam bukanlah agama yang dicampurtangani oleh nabinya,
Muhammad (SAW) juga bukan sebuah temuan atau sebagai inovasinya sendiri, tetapi “Ini
merupakan agama Allah”, seperti yang dinyatakan di dalam Al-Qur’an , yang merupakan kitab
suci umat Muslim yang diyakini diwahyukan kepada Nabi dari Allah melalui malaikat Jibril.
Menyebut Islam dengan sebutan Muhammadianisme” sama seperti menyebut Taurat dan Nabi
Musa (alaihissalam) “Musaisme”. Islam mengakui “Yang Esa” sebagai perencana, pendesain,
pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur seluruh semesta serta segala apa yang ada di dalamnya
dan di luarnya oleh istilah Qurani yang unik dan tak tergantikan oleh Allah, sebuah konsep yang
mungkin seperti konsep taurat yang unik Yahweh”. Untuk alasan sederhana sehingga istilah
“Tuhan”, dengan dengan kesucian dan hormat, itu mungkin digunakan untuk menunjukkan
Tuhan” semesta, karena hal ini juga mungkin digunakan untuk mewakili kemajemukan,
feminitas dan untuk merancang ciptaan dari Tuhan yang satu dari alam semesta”. Hal tersebut
tidak dapat digunakan oleh umat muslim untuk menggantikan atau bahkan untuk mewakili
konsep unik dari Allah dengan apapun. Hal ini merupakan nama yang sesuai dan bahkan
pengganti yang mengacu pada Allah, kata dituliskan dengan kata ganti seperti DIA yang
digunakan untuk mengacu pada Allah. Namun, dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah menyebut
diriNya dengan “Aku” dan “Kami”, untuk mewakili seluruh kedaulatan, keagungan, dan
kekuatan, bukannya di maknai secara plural. Al-Qur’an menyebutkan bahwa Agama di sisi
Allah adalah Islam” (3:19) dan bahwa Kalian (Muslim) adalah umat terbaik yang mengajak
pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang munkar serta beriman kepada Allah” (3:10). Oleh
karena itu Islam adalah “keberserahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah” (3:83) dan
Islamic Online University Aqidah 301
114
“beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan
kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa,
Isa dan para nabi dari Tuhan mereka" (3:84)
Nabi Suci dalam Islam
Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam), nabi Islam yang buta huruf dan yatim yang
dikenal dengan sebutan “Al-Amin” yang berarti jujur” atau “dapat dipercaya”, dan melalui
dirinya misi Allah untuk menyempurnakan agama untuk menjadi petunjuk bagi manusia, lahir di
Mekah di wilayah Hijaaz, sekitar 70 Km ke timur dari kota pelabuhan Jeddah pada Kerajaan
Saudi Arabia saat ini. Ayahnya merupakan anak yang paling disayang diantara anak-anak dari
Abdul Mutalib, pemimpin suku Quraisy yang terhormat di Mekah, dan Ibunya, Aminah, adalah
putri dari Abdul Manaaf, pemimpin dari suku Zuhrah. Abdullah meninggal di Madinah ketika
dalam perjalanan dagang ketika Aminah bahkan belum melahirkan bayi yang kemudian diberi
nama “Muhammad” (terpuji): sebuah nama yang jarang ditemukan dikalangan laki-laki di
Mekah kala itu. Tahun, bulan, dan tanggal atau waktu yang pasti dari kelahiran bayi tersebut
tidak diketahui karena beragam laporan yang tersedia mengenai informasi ini. Namun, pada
umumnya dipercaya bahwa beliau lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal, bulan ketiga dalam
perhitungan Hijriah tahun 570 M, yang dikenal dengan sebutan tahun gajah karena tahun itu
pemimpin Abissianian dari Yaman, Abraham, datang untuk menghancurkan rumah Allah di
Mekah yang dikenal dengan “Ka’bah” yang diyakini telah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan
putranya Ismail (alaihissalam) untuk beribadah kepada Tuhan pemilik seluruh semestasekitar
tahun 2000 S.M dan telah dianggap suci bahkan oleh para penganut paganisme kalangan Arab di
Mekah juga di daerah sekitarnya. Sesuai dengan budaya arab, bayi tersebut dirawat di padang
pasir oleh ibu susuan yang bernama Halimah dari suku Bani Sa’ad selama dua tahun pertama
hingga menyapih, tetapi karena Halimah dan orang-orang merasakan kasih sayang yang besar
pada bayi yang berseri-seri tersebut, dan mungkin dikarenakan tahayul, karena ia dianggap
memberikan keberuntungan kepada keluarga tersebut, dia secara sukarela merawatnya hingga
usia lima tahun. Setelah itu, hingga kunjungan ibunya bersamanya untuk menemui keluarga
dimana ibunya meninggal, ia tinggal bersama kakeknya Abdul Mutalib. Bayi yatim yang telah
kehilangan ayah dan ibunya dirawat oleh kakeknya sebagai permata hatinya hingga ia mencapai
usia delapan tahun.
Namun, atas kematian kakeknya, pamannya, Abu Thalib merawat anak itu dengan baik,
dan pada usia dua belas tahun beliau juga membawa serta anak itu dalam perjalanan bisnis ke
Suriah atas desakannya. Dilaporkan bahwa ketika berada di Suriah, anak itu ditemukan oleh
seorang biarawan Kristen yang bernama Baheerah, orang yang menasihati Abu Thalib untuk
melindungi anak itu dari orang Yahudi, karena ia telah menemukan tanda-tanda kedatangan nabi
pada anak itu dan orang Yahudi mungkin akan mencoba untuk menyakitinya. Kecuali untuk ini
dan beberapa insiden kecil lainnya yang tidak didukung dengan suara bulat, Muhammad muda
Islamic Online University Aqidah 301
115
(Shallallahu ‘alaihi wa sallam) tumbuh di antara orang-orang Arab penyembah berhala di
Mekkah, tanpa mukjizat apa pun yang terkait, baik selama kelahirannya atau selama hari-hari
pertamanya.
Sebagai seorang pemuda, Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) biasanya berpaling
dari pengejaran buruk yang tidak bermanfaat dari anak-anak seusianya. Cara dan tingkah
lakunya begitu sempurna, adil, dan jujur bahwa, dengan benar, beliau mendapatkan julukan dari
penduduk Mekah sebagai "Al-Amin" yang berarti "Yang Dapat Dipercaya" atau "Yang Sejati".
Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) memiliki profesi sebagai penggembala
selama masa mudanya dan seperti yang dilaporkan beliau biasanya mengingat kemudian, dengan
bangga dan penuh sukacita, "Tuhan tidak mengirim nabi yang bukan seorang penggembala...
Musa dan Daud adalah penggembala dan saya juga ditugaskan sebagai nabi sementara saya
menggembalakan sapi keluarga saya di Ajyad." Pada usia dua puluh lima tahun, Muhammad
muda (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menjadi seorang karyawan seorang wanita pedagang kaya
raya bernama Khadijah untuk menjadi wakilnya dalam perdagangan antara Mekah dan Suriah.
Keberhasilan bisnis luar biasa dari pemuda ini membuahkan pernikahannya dengan Khadijah
atas permintaan khadijah, yang ternyata menjadi salah satu kehidupan pernikahan yang paling
bahagia, terlepas Dari perbedaan usia antara keduanya, dimana Khadijah sudah berusia empat
puluh tahun dan beliau masih dua puluh lima tahun saat itu. Persetujuan dan penghormatan
bahwa Muhammad muda (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) disukai di antara suku Quraisy, muda
dan tua, serta suku-suku lain di Mekkah, ditunjukkan oleh insiden yang berkaitan dengan
arbitrase yang dia buat ketika pembangunan kembali Ka'bah sedang dilakukan segera setelah
pernikahannya dengan Khadijah. Dikatakan bahwa ketika saatnya tiba untuk menempatkan batu
hitam suci di tempatnya di dinding timur Ka'bah, masing-masing suku bersikeras, bahkan
beberapa mempertaruhkan pertumpahan darahnya, bahwa kehormatan besar ini harus diberikan
kepada mereka, dan Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menjadi wasit dengan suara
bulat. Dengan kecerdasan yang hebat, kejelian dan kemampuan politiknya, beliau mengatur batu
untuk diangkat bersama oleh perwakilan suku-suku yang bertikai dengan menempatkannya di
selembar jubah dan kemudian menempatkannya pada posisi atas nama mereka untuk persetujuan
bulat dari semua dan mencegah perpecahan suku dan pertumpahan darah.
Wahyu Pertama
Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) memiliki rutinitas untuk mengunjungi
sebuah gua yang bernama gua Hira sesering mungkin yang berada di puncak Gunung Nuur, atau
secara harfiah berarti "Cahaya", beberapa kilometer di pinggiran Mekah dimana beliau bisa
melihat Ka’bah dan daerah sekitarnya untuk bermeditasi dengan damai, gua tersebut mudah
ditemui oleh kebanyakan orang yang memiliki tekad. Sekitar tahun 610 M, ketika Muhammad
(Shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah mencapai usia matang dari empat puluh, satu hari ketika
Islamic Online University Aqidah 301
116
sedang menyendiri di gua, sesosok malaikat, yang kemudian dikenal sebagai malaikat Jibril
(Gabriel), muncul di hadapannya dengan lembaran dan memintanya untuk "Bacalah." Karena
beliau tidak bisa membaca dan menulis, beliau bertanya, "Apa yang harus aku baca?" Malaikat
itu kemudian mendekapnya dengan erat dan mengulang seperti sebelumnya, "Bacalah!" Tetapi
beliau bertanya lagi, “Apa yang harus aku baca? Malaikat itu kembali mendekapnya dengan
lebih erat dan memintanya untuk “Bacalah”, tetapi untuk ketiga kalinya beliau berkata dengan
ketakutan yang luar biasa, “Apa yang harus aku baca ketika aku tidak bisa membaca atau
menulis” menduga akan didekap lebih erat lagi. Malaikat itu lalu berkata; setelah dekapan ketiga
dan jauh lebih erat,"
Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah! dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar
manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya” dan Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengulangi apa yang dikatakan
malaikat itu dan menghafalnya. Demikianlah datang kepada Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi
wasallam) Shallallahu ‘alaihi wa sallam) wahyu pertama sebagai tanda pengutusannya.
Dilanda ketakutan, gemetar, tidak tahu apa artinya dan apa yang harus dilakukan,
Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) bergegas pulang untuk mencari penghiburan dari
istri tercintanya, Khadijah. Beliau dalam kondisi buruk dengan demam tinggi dan kekakuan, dan
beliau meminta Khadijah untuk membungkusnya dengan selimut. Ketika beliau menceritakan
seluruh kejadian kepadanya, Khadijah langsung menghiburnya, mengatakan bahwa beliau
memiliki harapan bahwa beliau akan menjadi nabi dari negara Arab. Namun, saat beliau telah
tidur, Khadijah buru-buru berkonsultasi dengan sepupu Kristennya, Waraqah Bin Naufal, yang
meyakinkannya bahwa itu pasti tidak lain dari Roh Agung yang telah berbicara kepada Musa
(‘alaihissalam), dan bahwa Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) pasti menjadi nabi dari
bangsa Arab. Sesampainya di rumah, Khadijah menemukan suaminya yang tersayang sedang
menggigil, bernapas dalam-dalam dan berkeringat. Ketika beliau membuka matanya, beliau bisa
mendengar malaikat berkata, " Hai orang yang berselimut, Bangunlah, lalu berilah peringatan!
Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan
untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah " Sekali lagi, dia menghiburnya, menceritakan
apa yang dikatakan sepupunya yang beragama Nasrani tentang kejadian di dalam gua. Dia
kemudian menjadi orang pertama yang percaya pada Nabi Muhammad (Shallallaahu ‘Alaihi
Wasallam). Kemudian, ketika Muhammad (Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam) pergi melakukan
tawaf di Ka'abah, Warqah Bin Nowfal, yang juga ada disana, memastikan dukungannya kepada
Muhammad (Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam) dan menyatakan bahwa roh yang mendatangi Musa
(Alaihis Salam), telah mengunjunginya juga dan memberitahunya bahwa Muhammad
(Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam) adalah nabi dari bangsa Arab dan bahwa perjuangan di masa
depan akan sangat sulit. Namun, rasululah telah memulai misinya untuk membersihkan diri,
memperkuat keyakinannya kepada Allah Yang Maha Esa, dan menjauhkan berhala-berhala yang
tidak dapat melihat, mendengar, berbicara, atau bahkan mengurus diri mereka sendiri dari Ka'bah
dan tempat lain. Setelah itu, wahyu tidak turun untuk sementara waktu. Selang beberapa lama
Islamic Online University Aqidah 301
117
ketika nabi berada di gua Hira di "Jabal Nur", ia kemudian menerima wahyu berikutnya, yaitu
surat ke-93 Al-Qur'an, "Surah Ad-Dhuha". Turunnya surat ini merupakan suatu kepastian
kepadanya bahwa "Tuhannya tidak meninggalkannya atau membencinya dan bahwa dia akan
menerima karunia Tuhan .... " Allah kemudian mengajarkan nabi-Nya cara berdoa dan beribadah
(shalat) kepada Tuhannya. Ketika melihat Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam) dan istrinya
Khadeejah berdoa bersama, keponakan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam), Ali Bin Abu
Thalib, yang tinggal bersama Rasulullah (Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam) dan yang nantinya
akan menjadi khalifah keempat, memeluk Islam saat dirinya masih anak-anak. Kemudian, Zaid
Bin Harits, seorang budak yang diadopsi oleh Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam), juga
ikut memeluk Islam. Namun, kaum Quraisy di Mekah menolak inovasi Muhammad
(Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam) karena tindakannya yang menjauhkan dewa-dewa tradisional
leluhur mereka, yang berjumlah sebanyak 360 atau lebih berhala yang telah dipasang di Ka'abah.
Kemudian, Abu Bakar pun menjadi laki-laki pertama yang berasal dari luar kampung halaman
nabi yang memeluk Islam sekaligus menjadi sahabat setia nabi. Abu Bakar kemudian menjadi
khalifah pertama setelah kematian nabi dua puluh tiga tahun kemudian. Setelah pengumuman
publik Abu Bakar perihal pertobatannya, ia mulai mengundang teman-temannya untuk memeluk
Islam dan beberapa orang dari kaum Quraisy serta yang lain pun ikut bergabung dengan mereka
ke dalam Islam, tetapi karena takut akan dimusuhi dan dibenci oleh para penguasa kaum
Quraisy, banyak dari mereka menyembunyikan bahwa mereka telah memeluk Islam. Oleh
karena itu, Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam) dan pengikut-pengikutnya menyebarkan
ajarannya di luar kota Mekkah. Sementara itu, wahyu Al-Qur'an tetap berlanjut turun. Tiga tahun
setelah penurunan wahyu pertama, Allah kemudian memerintahkan Muhammad (Shallallaahu
‘Alaihi Wasallam) untuk memproklamirkan Islam di lingkungan kerabat nabi dan di kalangan
masyarakat secara terbuka (Al-Quran 26:214-216; 15:94).
Kaum Quraisy menentang Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam) ketika ia berinisiatif
untuk menyerang berhala-berhala mereka. Mereka mencela Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi
wasallam) dan menantangnya untuk memperlihatkan keajaiban yang ia miliki seperti yang Musa
dan Isa (Alaihis Salam) pernah lakukan, mereka juga menantangnya untuk mengubah bukit Safa
dan Marwa menjadi emas, dan bahkan menantang Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam)
untuk menurunkan bencana Tuhan kepada mereka. Tetapi Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi
wasallam) tetap tenang bagaikan batu, memberitahu mereka bahwa beliau telah diutus sebagai
nabi untuk memperingatkan mereka melalui firman-firman suci dan bahwa dia diutus sebagai
berkat untuk alam semesta, bukan sebagai pembawa kutukan dan bencana. Meskipun Abu
Thalib, paman Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam), tidak memeluk agama Islam, ia tetap
memberikan perlindungan untuk keponakan tercintanya. Ketika kaum Quraisy bersikeras untuk
melukai keponakannya, Abu Thalib memberitahu Muhammad (Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam)
untuk pergi menyelamatkan dirinya sendiri karena ia sudah tidak sanggup melindunginya lagi.
Muhammad (Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam) kemudian menjawab pamannya dan berkata bahwa
walaupun mereka menaruh matahari di tangan kanannya dan bulan di tangan kirinya, beliau
belum siap untuk mundur dan menyerah menegakkan jalan Allah. Mendengar balasan Rasulullah
Islamic Online University Aqidah 301
118
(Shallallahu ‘alaihi wasallam), rasa cinta dan simpati yang tinggi pun timbul dalam diri
pamannya. Dia pun mendoakan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam) agar sukses dengan
misinya dan bersumpah untuk tidak mengkhianatinya, sumpah yang ia pegang teguh sampai
akhir.
Karena Islam merupakan sebuah proses dan metode ilmiah yang berdasarkan pada
investigasi intensif dengan observasi, klasifikasi, perbandingan, eksperimen, dan penarikan
kesimpulan logis dari hasil yang ditemukan, maka seruan Muhammad (Shallallaahu ‘Alaihi
Wasallam), dipandu oleh wahyu Allah, pencetus dan penopang alam semesta, tidak lain adalah
seruan menuju harmoni dengan semesta, pemikiran, dan tindakan manusia. Orang-orang Arab
kemudian tertarik dengan agama ini. Sifat ortodoksi dan paganisme mendalam masyarakat Arab
terkalahkan oleh terbentuknya suatu masyarakat teladan yang didirikan oleh beberapa orang
terpilih dari berbagai suku di Arab dibawah Islam dan kepemimpinan Muhammad (Shallallaahu
‘Alaihi Wasallam). Namun, orang-orang kafir kaum Quraisy di Mekkah bersikeras untuk terus-
menerus menyiksa umat Islam. Beberapa budak mereka yang beragama Islam dipukuli dan
disiksa karena mereka menolak untuk kembali ke dalam aliran paganisme dan meninggalkan
Islam. Ketika penyiksaan terhadap umat Islam terus meningkat, Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi
wasallam) kemudian meminta pengikutnya untuk menyebar ke seluruh dunia. Mengikuti nasihat
Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam), sejumlah kecil pengikutnya pun pegi mencari
perlindungan di Abisinia. Negus, raja Abisinia, sepakat untuk memberi perlindungan kepada
para imigran Muslim sampai mereka kembali ke Mekah ketika ia mendengar bahwa Umar Bin
Khattab, yang menjadi khalifah kedua setlah kematian Abu Bakar beberapa tahun kemudian,
telah memeluk Islam. Tetapi perhitungan mereka meleset karena Umar yang kuat dan
bersemangat pindah agama, kalangan Quraisy Mekah terbagi kedalam dua kelompok kuat yang
saling berlawanan, satu kelompok dibawah pimpinan kalangan Muslim Abu Bakar, Hamzah, dan
Umar, dan kelompok yang lain para penyembah berhala yang dipimpin oleh Abu Lahab, paman
lain dari Nabi, dia dan pengikutnya memperhebat penindasan dan penyiksaan umat Muslim.
Hasilnya, sebuah kelompk yang berjumlah 70 orang Muslim kembali ke Abissinia, dimana
mereka tinggal hingga Hijrahnya Nabi Muhammad dan para sahabat ke Yatsrib (Madinah).
Kaum Quraisy Mekah telah menutup rumah-rumah kalangan muslim setempat, beberapa bahkan
meninggal karena itu. Namun kemudian, rasa kesukuan yang lebih baik menguat dikarenakan
intervensi beberapa penyembah berhala dan blockade pun dihilangkan. Segera setelah kejadian
ini, Khadijah, istri Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam), dan pamannya yang menjadi
pelindungnya, Abu Talib meninggal dunia. Permusuhan terhadap Nabi dan umat Muslim
meningkat setelah wafatnya Khadijah dan Abu Talib, yang merupakan dua sosok yang
berpengaruh. Orang-orang Quraisy bahkan melemparkan sampah dan kotoran kepada Nabi
(Shallallahu ‘alaihi wasallam) ketika sedang shalat. Ketika penindasan menjadi tak tertahankan,
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan perjalanan rahasia ke kota terdekat di Taif, dimana
sukunya tidak hanya menolaknya tetapi juga melemparinya dengan batu, membuatnya berdarah-
darah. Ketika mendengar berita ini, orang-orang Quraisy menjadi bahagia dan semakin
menambah penyiksaan terhadap Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya. Pada
Islamic Online University Aqidah 301
119
masa inilah, Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) bertunangan dengan Aisyah, putri Abu
Bakar yang berusia delapan tahun, tetapi pernikahan ditunda hingga gadis tersebut mencapai usia
dewasa untuk menikah yakni 12 tahun. Namun, demi kebaikan seorang sahabat dan pelipur lara
selama hari-hari yang penuh ujian berat tersebut, beliau menikahi Saudah, janda dari sahabatnya
yang wafat dalam perjalanan pulangnya dari Abissinia.
Hampir dalam waktu yang bersamaan, sekitar tahun 621 M, terjadilah peristiwa penting
dan besar “Al-Mi’raj” atau “Isra’” (Naik) oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sebuah
perjalanan malam untuk menguatkan spiritualitas dan pengetahuan gaibnya dimana hanya Tuhan
semesta alam yang mengetahuinya. Perjalanan dari masjid suci di Mekah (Ka’bah) ke masjid
suci di Yerussalem (Masjid Al-Aqsha) dengan pandangan akan keagungan Allah, kehidupan
surgawi, keindahan dan kemuliaan surga yang dijanjikan bagi mereka yang beriman, serta
pertemuan dengan ruh dari nabi-nabi sebelumnya merupakan hal yang unik bahwa setiap
keyakinan dalam kisah dari Nabi yang jujur” dari Allah menyediakan batu ujian keimanan
orang-orang yang beriman. Tanpa membicarakan apakah itu adalah sebuah pandangan, naiknya
ruh atau naiknya tubuh, yang tidak dapat menyediakan analisis yang berguna pada fenomena
unik dan satu-satunya ini yang tidak terjadi kepada siapapun sebelumnya juga tidak di masa
depan, hal ini mungkin hanya dapat dikatakan bahwa kejadian ini merupakan keajaiban terbesar
pada keimanan dan keyakinan dari umat Muslim akan keagungan Tuhan semesta alam,
keagungan Nabi serta kejujuran dari Nabi umat Islam yang agung ini cukup banyak. Ini
merupakan sebuah kejadian yang tidak dapat dipahami, oleh para penyembah berhala di Mekah,
meskipun mereka memiliki keimanan buta akan kekuatan patung-patung batu yang tak terhitung
banyaknya yang tidak dapat melihat, mendengar, merasakan, atau bahkan menolong dirinya
sendiri dan diabadikan tidak hanya di Ka’bah yang suci tetapi disetiap tempat untuk menolong
penganutnya dalam segala peristiwa yang mungkin terjadi! Mereka tidak memiliki pengetahuan
di luar mengendarai unta melalu padang pasir dari selatan Arab menuju ibu kota Syria di utara,
atau berlayar melalui laut merah selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan tanpa hasil
ramalan. Namun, bagi manusia yang berilmu pengetahuan hari ini, istilah “Buraq” dari kata
“Burq”, yang berarti kilat, listrik atau bahkan elektronik dan lain-lain, yang digunakan untuk
menunjukkan kendaraan malaikat Allah untuk membawa Nabi dari Mekah ke Yerussalem
dengan udara dan cara yang tidak diketahuai yang diwakili dengan anak tangga yang bercahaya,
yang dapat dikatakan, sebagai media untuk menaikkan beliau ke tempat suci melalui beberapa
tingkatan surga dalam beberapa jam selama malam yang tenang dan perjalan kembali yang
panjang tidak seharusnya menjadi masalah selama pemahaman pada tekniknya diperhatikan.
Bahkan seorang anak kecil hari ini tidak heran ketika berita tentang kapal penyelidikan ruang
angkasa yang diarahkan ke angkasa atau Skylab selama beberapa hari hingga tahun di luar
angkasa dan kembali disiarkan di radio, televisi, atau media berita. Beberapa dekade telah berlalu
sejak kapal-kapal nuklir dimasukkan ke dalam laut tanpa di isi ualng bahan bakar sama sekali.
Beberapa juta kilometer dimasukkan dalam setiap perjalanan ini, kebanyakan dari itu, termasuk
kembalinya dikontrol oleh stasiun di bumi!. Para ilmuwan hari ini paham betul akan hukum
kekekalan massa dan energi. Dalam pandangan ilmu pengetahuan melalui proses pengubahan zat
Islamic Online University Aqidah 301
120
menjadi energi, hal ini mungkin untuk mencapai kecepatan cahaya, tetapi bagaimana
mencapaiany tetap menjadi masalah. Jika manusia dapat menempatkan pengamat ruang angkasa
di dalam orbit dan juga dapat menariknya kembali sesuai keinginan, akankah sulit bagi Tuhan
semesta alam untuk menciptakan keajaiban seperti naiknya tubuh Nabi ke langit”. Jika cahaya,
yang merupakan dasar teori relativitas sejauh yang dipahami manusia, dapat melakukan
perjalanan miliyaran kilometer dalam satu jam dan mendekati 9 miliyar kilometer dalam 8 jam,
dapatkah seseorang memahami seberapa jauh super energi yang lain dalam kecepatan super
dengan kendali Tuhan semesta alam jauh, sangat jauh diatas kekuatan manusia , dapat
melakukan perjalanan itu? Duduk di kursi lengan sambil melihat ke langit, tidak dapatkah
pemahaman manusia berjalan menuju hal yang disebut “lubang hitam” di luar galaksi Bima Sakti
di luar akhir ruang angkasa” dan juga kembali pada pandangan dalam sedetik? . Selama
perubahan zat menjadi energi dan sebaliknya diperhatikan, bidang ini dalam banyak kasus
merupakan permainan anak kecil di kehidupan manusia saat ini. Apakah ini kemudian tidak
mungkin bagi Tuhan semeta alam?. Oleh karena itu, kejadian naiknya Nabi tidak dapat dianggap
kisah fiksi dalam bahasa ilmu pengetahuan hari ini. Oleh karena itu, baik ini adalah pandangan
pemahaman atau tindakan fisik, tidaklah menjadi masalah bagi manusia yang berilmu
pengetahuan hari ini. Namun, beliau yang dibawa oleh malaikat dalam sebuah kendaraan khusus,
sejauh ini masih tidak diketahui oleh manusia!. Satu satunya pertanyaan adalah apakah seseorang
siap untuk yakin atau tidak kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menceritakannya
dengan latar belakang sosial sebagai seorang yang “jujur” pada tiap dan seluruh waktu. Orang
yang betul-betul beriman sepenuhnya percaya pada pernyataan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
dan mereka yang tidak percaya menjadi orang yang ingkar. Sesederhana itu. Banyak pengikut
yang meninggalkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam setelah kejadian tersebut diungkap oleh
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika penindasan umat Muslim dari pada musuh meningkat
dan pembelotan beberapa pengikut menurunkan jumlah para sahabat, perintah diterima oleh Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam dari Allah untuk pindah ke Yatsrib (Madinah Al-Munawarah),
dimana beliau memperoleh banyak pendukung. Itu adalah kota dimana terdapat banyak
keluarganya yang tinggal di sana. Selain itu, jumalah sahabat yang pindah ke Madinah menjadi
tidak sabar akan kedatangan pemimpi mereka. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakar
mengatur pelarian di malam hari tanpa di ketahui oleh musuh, karena mereka telah menerima
informasi bahwa para musuh telah membuat rencana untuk membunuh Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam. Ketika tiba di Madinah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakar diterima
oleh penduduk Madinah dengan kehangatan persaudaraan dan kasih sayang. Madinah
merupakan tempat dimana pondasi negara dan agama Islam yang sejahtera diletakkan oleh Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam setelah memenangkan beberapa perang agama (Jihad), termasuk
penaklukan Mekah. Peperangan tersebut adalah untuk pertahanan diri umat muslim atas
kalangan Quraisy Mekah, penyembah berhala, Yahudi, dan lain-lain di wilayah Jazirah Arab.
Akhirnya, setelah penyempurnaan wahyu dari kitab terakhir dari petunjuk Allah kepada
umat manusia, Al-Qur’an, memberikan prinsip menyeluruh akan hukum dan perubahan
masyarakat dan negara Muslim sejahtera yang tidak mendiskriminasi dalam segala hal, bukan
Islamic Online University Aqidah 301
121
hanya untuk orang Arab, tetapi untuk seluruh alam, pada usia 63, Muhammad shallallahu 'alaihi
wasallam, Nabi penutup dan terakhir, menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 632 M di
Madinah Al-Munawarah, meninggalkan filosofi dan jalan hidup yang menjadi standar dan ideal
bagi manusia maju untuk diikuti hingga hari terakhir dari ras manusia di muka bumi.
Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, seorang Nabi, yang menjadi Nabi terakhir bagi
umat manusia di muka bumi, telah menunjukkan sebuah model kehidupan bagi manusia sebagai
seorang anak laki-laki, pemuda, suami, ayah, guru, pemimpin, dan Nabi, semua dalam satu,
menjadi dirinya yang sama dengan manusia lainnya, kecuali status spesialnya sebagai Nabi.
Beliau menekankan pentingnya pemikiran, kata-kata, dan perbuatan baik dalam setiap langkah
dalam hidup, selalu menjadi contoh dan teladan bagi orang lain untuk diikuti dengan mudah.
Sumber-Sumber Islam
Al-Qur’an dan Hadist (riwayat dari Nabi Muhammas shallallahu 'alaihi wasallam) merupakan
dua sumber utama dalam agama Islam.
Al-Qur’an al-Karim
Al-Qur’an al-Karim diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya, Muhammad shallallahu
'alaihi wasallam melalui malaikat Jibril selama sekitar 23 tahun, ayat pertama diturunkan “di
malam kemuliaan” (97:1), “Malam yang penuh rahmat” (44:8), yang kebanyakan dianggap
merupakan sepuluh malam terakhir dari bulan suci Ramadahan. Pernyataan bahwa Al-Qur’an
merupakan sastra Arab yang luar biasa, tidak terkalahkan dalam keindahan dan isi, tanpa
pertentangan diakui oleh banyak penulis non-muslim. Bahwa Al-Qur’an dipertahankan dengan
benar dari hurup dan tanda baca seperti ketika diturunkannya tanpa perubahan, telah dibuktikan
dengan fakta bahwa Al-Qur’an, sejak hari-hari diturunkannya kepada Nabi, telah dimasukkan
dengan iman kedalam ingatan banyak murid dan juga dipertahankan dalam tulisan dengan
kebenaran dan kesempurnaan sehingga lebih dari jutaan Salinan Al-Qur’an telah ada selama
beberapa masa hingga hari ini tanpa sebuah huruf pun yang berbeda dari satu salinan ke salinan
yang lain. Janam Sakhis (kisah hidup) Guru Nanak, pendiri agama Sikh, yang ditulis oleh
“Guru” seperti Guru Dangji dan lain selama 50 hingga 80 tahun setelah kematian pemimpin
mereka, menunjukkan bahwa Guru Nanak telah berkata kita telah melihat dengan teliti kitab
Taurat, Zabur, Injil, dan Weda tetapi untuk petunjuk yang sempurna dan kode dunia hanyalah
Al-Qur’an (halaman 147): “Jika terdapat buku keimanan, maka itu hanyalah Al-Qur’an”
(halaman 149)”. George Sale, pada pelajaran selanjutnya (Bab , hal. 47-48) dari terjemahannya
pada Al-Qur’an menuliskan itu (Al-Qur’an) umumnya indah dan fasih khususnya ketika
menirukan cara-cara kenabian dan frasa spiritual. Hal ini...diramaikan dengan ekspresi yang
penuh hiasan dan singkat tetapi padat, dan dibanyak tempat, khususnya ketika keagungan dan
Islamic Online University Aqidah 301
122
sifat Tuhan digambarkan, Maha Mulia dan Sempurna.”. juga dalam terjemahan Al-Qur’an J.M
Rodwell (hal. 15) mengatakan, “harus diketahui bahwa Al-Qur’an pantas mendapatkan pujian
tertinggi atas konsepsi dari alam berdasarkan sifat dari kekuatan, pengetahuan serta persatuan
dan pemeliharaan semesta. Bahwa keyakinan dan iman akan Ke-Esa-an Tuhan langit dan bumi
dalam dan kuat, dan meskipun bersisi legenda dan visi luar biasa, mengajarkan perayaan
kekanak-kanakan, dan membenarkan pertumpahan darah, penganiayaan, perbudakan dan
poligami, tetap saja, di saat yang sama ia membentuk banyak kejujuran moral yang dalam dan
mulia serta kebijaksanaan yang kuat, dan telah membuktikan bahwa bagian-bagian di dalamnya
dimana negara, mugnkin, dapat dibangun”. Selain itu, Sir Hamilton Gibb menyatakan dalam
Muhammadanisme (hal 49-60, edisi kedua, 1967,) “hal ini nampak dibangun dengan baik bahwa
tidak ada pertukaran materi yang diperkenalkan (dalam Al-Qur’an) dan bahwa bentuk dan isi
dari ajaran Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dipertahankan dalam presisi yang tepat”.
Hal ini juga menarik untuk diketahui bahwa dalam sejarah agama (Volume II, 1950, hal 386),
George Foot Moore menuliskan, Islam adalah agama yang paling baru dan besar, dan ia
bangkit dan maju lebih penuh dari pada yang lain dalam sejarah. Wahyu Nabi selama kurang
lebih 20 tahun, dalam perjalanannya dikumpulkan dalam Al-Qur’an selama tahun-tahun
berikutknya setelah kematiannya, dan keasliaan isinya yang tidak perlu dipertanyakan”. Dalam
publikasi Agama-agama terbesar di dunia (110-123) ditemukan, “tidak pasti bahwa Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wasallam dapat menulis atau membaca, tetapi sejak awal pengikutnya
menuliskan apa yang diucapkannya melalui potangan dan kertas dari kulit, bulu, batu datar,
tulang, potongan papan, dan dada laki-laki. Setelah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wasallam pada 683 M., potongan-potongan tersebut di kumpulkan dan Al-Qur’an di
satukan”.
Dalam buku yang berjudul Injil, Al-Qur’an dan Ilmu pengetahuan, Dr Maurice Bucaille
meneliti kitab suci dengan menggunakan pengetahuan ilmiah modern. Ia telah membuktikan
dengan kesimpulan, bukan hanya bahwa kitab suci tidak menunjukan kotradiksi dengan konsep
modern tentang ilmu pengetahuan dalam Al-ur’an, tetapi juga pandangan yang diberikan oleh
kitab ini ke dalam rahasia penciptaan, hidup, dan alam semesta sejalan dengan fakta ilmiah di
abad ini. Hal ini tidak dapat dipahami jika seandainya Al-Qur’an merupakan karya seorang
manusia atau di salin dari kitab-kitab sebelumnya, khususnya Injil.
Seperti persetujuan dari para murid, berdasarkan tuturan dari Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wasallam, dirinya tidak dapat membaca dan menulis, beliau tidak dapat
membaca wahyu dari Allah ketika pertamakali disampaikan kepadanya oleh malaikat Jibril. Ia
berisi ayat-ayat Al-Qur’an yang terkenal 1 sampai 5 surat ke-96, “Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Di sini disebutkan bahwa
beliau menjawab kepada malaikat Jibril bahwa ia tidak bisa menulis dan membaca, kemudian
Jibril memeluknya, menekannya dengan kuat, dan keajaiban yang muncul adalah beliau dapat
Islamic Online University Aqidah 301
123
membaca. Bagian-bagian wahyu dari Al-Qur’an yang agung dalam bagian yang besar atau kecil ,
dengan keseluruhan 6,666 ayat dengan 323,760 kata, semuanya muncul selama penglihatannya
pada malaikat yang tidak dapat dilihat oleh orang lain selain dirinya, wahyu yang menjadi
perintah diberikan dari waktu ke waktu berdasarkan kebutuhan pada kejadian khusus selama
masa kenabian sekita 23 tahun. Selama 13 tahun pertama dari periode ini, di Mekah, dan wahyu
terfokus pada pernyataan, awalnya secara rahasia lalu terbuka melawan mereka yang ingkar
kepada Allah” (Kafir) dan “yang menyekutukan Allah” (Syirik) sembari memperkuat keimanan
dan konsep ke-Esa-an Allah” (Tauhid). Permusuhan terbuka dari para penduduk Mekah, yang
ditunjukkan dengan penindasan orang-orang yang beriman dan boikot sosial, memaksa Nabi dan
pengikutnya untuk hijrah ke Madinah dimana penduduknya menerima Nabi dan pengikutnya
dengan tangan terbuka. Di sinilah, umat Muslim, dibawah kepemimpinan Rasulullah
(Shallallahu ‘alaihi wasallam), membangun masyarakat islam dan pondasi negara Islam. Wahyu
selama periode Mekah berisi perintah perang dan perdamaian, tawanan, harta rampasan perang,
pakta perjanjian, administrasi keadilan, pengangkatan moral masyarakat, perkembangan sosial
ekonomi, hak penguasa dan rakyat, pria dan wanita, orang tua dan anak, suami dan sitri, teman
juga tetangga dan keluarga, penduduk asli dan orang asing, juga mengenai shalat, zakat, Haji,
dan Zakat. Menyempurnakan wahyu dalam 2 tahun kenabian merupakan ayat dalam
“penyempurnaan wahyu dan Islam”. Seperti yang terlihat dalam Al-Qur’an, perintah agama yang
beragam di berikan secara bertahap: shalat awalnya diperintahkan selama malam hanya selama
tahun pertama periode mekah karea tidak aman untuk shalat di siang hari di antara musuh yang
sering mengejek, mencoba untuk melumpuhkan dan menganiaya umat Muslim, termasuk Nabi
ketika shalat. Kemudian, dzikir pagi dan petang itu diperintahkan, melengkapi petunjuk untuk
mendirikan lima shalat wajib setelah Mi'raj (Kenaikan) yang bagaimanapun, masih diberikan
secara rahasia di lembah sampai pertobatan Umar Bin Khattab yang agung, yang menjadi
khalifah kedua nanti, ketika persembahan doa di depan umum dimulai. Puasa, panggilan shalat
(Adzan) dan pembayaran Zakat juga dimulai selama periode Madinah. Beralih ke Mekah untuk
menghadap Ka'bah (rumah Allah yang dibangun awalnya oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam) dan
bukannya ke Yerusalem untuk shalat sehari-hari juga diinstruksikan di Madinah. Semua tindakan
ini adalah sebagai hasil dari wahyu al-Qur’an Allah kepada nabi suci yang disampaikan dari
waktu ke waktu oleh Jibril, malaikat terpenting.
Tidak hanya wahyu Qur’an yang dihafalkan oleh beberapa pengikut nabi suci segera
setelah setiap bagian diturunkan, tetapi mereka juga mencatat secara tertulis pada kulit, tulang,
batu dan bahkan di peti beberapa pengikutnya, setelah membacakannya kepada nabi untuk
mencegah kesalahan agar keasliannya tidak hilang. Bahkan urutan dan seri dari setiap ayat dan
bab dari seluruh wahyu telah ditunjukkan oleh nabi suci dan, dengan demikian, Al-Qur'an dalam
tatanan alaminya telah tersedia tidak hanya dalam bentuk hafalan tetapi juga dalam bentuk
dokumenter yang tercatat oleh beberapa murid dari nabi. Namun, ketika selama kekhalifahan
Abu Bakar, khalifah pertama, ia menemukan beberapa murid yang telah menghafal Al-Qur'an
(Haffaz) telah disiksa dalam peperangan, ia memutuskan untuk mendapatkan lebih banyak
salinan otentik dari Al-Qur'an yang disiapkan dan didistribusikan ke semua kota dari negara.
Islamic Online University Aqidah 301
124
Kemudian, selama masa Khalifah kedua, Umar, seperti yang dilaporkan oleh Ibnu Hisyam,
salinan sebanyak 100.000 dalam "Khattal-Amiri" (tulisan Amiri) tersedia di berbagai bagian
negara Islam. Selama masa khalifah ketiga, Utsman, sebuah dewan dari dua belas murid terkenal
nabi suci ditugaskan untuk mempersiapkan Al-Qur’an sesuai dengan aksen "Quresh" dan
mengirimkannya ke Mekah, Madinah, Basra, Kufah, Yaman, Suriah. dan Bahrain. Selama masa
pemerintahan khalifah keempat, Ali, Abul Aswad, seorang murid yang dipercaya, menempatkan
tanda fonetis pada teks Qur’an agar bisa dibaca dengan benar bahkan oleh Muslim non-Arab dan
untuk menjaga pembacaan ayat-ayat yang benar secara seragam (Qir’at). Al-Qur’an juga tetap
menjadi literatur kesegaran sepanjang zaman sampai hari ini melalui pembacaan oleh Qariyun
dan Haffaz selama shalat harian dan khususnya selama shalat sunnah Tarawih di bulan puasa
Ramadhan ketika seluruh Qur’an dibacakan beberapa kali selama bulan itu. Pada setiap era dari
1400 tahun terakhir setelah wahyu Al-Qur'an, dulunya ada dan bahkan hari ini ada ratusan ribu
orang Haffaz yang telah menghafal al-Qur’an secara keseluruhan dan melafalkannya setiap hari
dari ingatannya. Dengan demikian, keaslian dan ketepatan Al-Qur'an telah dijaga selama
bertahun-tahun bahkan tanpa ada perubahan pada tanda baca dan fonetiknya sama sekali. Tidak
ada kitab suci agama lain atau Kitab yang diwahyukan oleh Allah, termasuk Taurat atau Injil,
yang dapat mengklaim keaslian dan kebenaran yang akut. Lebih lanjut, kompetisi Qir'at, di mana
Qariyun dari seluruh dunia Muslim mengambil bagian dalam pembacaan Al-Qur'an dengan
benar, juga terus ada selama berabad-abad hingga saat ini. Ini sebenarnya apa yang telah
dijaminkan oleh Allah di dalam Al-Quran, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-
Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (15: 9).
Allah sendiri berfirman dalam Al-Qur’an: Qur’an adalah kebenaran (2:91), yang jelas
(24:46), nyata (2:99, 12:1), sederhana (41:3), cahaya (42:52; 64:8), kebijaksanaan (17:39; 10:1;
81:2; 36:8; 15:1), petunjuk (27:2; 45:20; 31:3), penuh rahmat (6:156). Membuktikan dan
menegaskan kitab-kitab Allah sebelumnya (2:41,89,91, 97; 3:3; 4:47; 5:48; 35:31; 46:30); Bani
Israil mengetahuinya sebagaimana disebutkan dalam Kitab Suci mereka (26:196); Tidak
membuat diskriminasi antara para nabi Allah (2:136,285; 4:152), tujuan dari Kitab ini adalah
untuk membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya (14:1,52); Pesan untuk umat manusia
bahwa mereka mungkin tahu bahwa Dia adalah Satu Allah dan bahwa orang-orang yang berakal
dapat mengingatnya (14:52; 17:41).
Al-Qur’an telah berulang kali menantang para kritikus yang sangat terpelajar serta musuh
dari "Nabi Islam yang buta huruf" serta orang-orang kafir untuk menghasilkan, oleh mereka
sendiri, sepuluh Surah (Bab), atau satu Surah atau bahkan pengucapan seperti al-Qur’an
bersama-sama dengan saksi-saksi mereka dan para penolong, jika mereka percaya bahwa Al-
Qur'an bukanlah mukjizat Allah, bahwa itu adalah pemalsuan dan bahwa itu adalah buatan, atau
itu tidak pernah benar sama sekali (2:23; 10:38; 11:13; 52:88,34). Oleh karena itu, Allah dengan
tepat menegaskan juga di dalam Al-Qur’an bahwa tidak seorang pun dapat menghasilkan hal
yang sama bahkan jika semua manusia dan Jin harus saling membantu (17:88). Tantangan ini
yang tetap tidak terbantahkan selama masa hidup nabi suci itu juga tetap demikian sepanjang
Islamic Online University Aqidah 301
125
1.400 tahun yang lalu atau lebih karena akan terus demikian untuk selamanya. Lebih lanjut,
penelitian matematika yang dibantu komputer baru-baru ini telah mengungkapkan bahwa Al-
Quran suci, kata-kata Allah yang sempurna, telah dijaga dari gangguan dan perubahan dengan
menggunakan sistem matematis yang saling berpautan yang luar biasa dimana hampir tidak
mungkin ada - satu dari enam ratus dan dua puluh enam septillion (626 x 10
24
) - kemungkinan
menghasilkan dokumen total yang sama dengan ciptaan apa pun dari titik penguncian numerik
saja!
Al-Qur’an mengungkapkan bahwa sebenarnya Kitab itu membenarkan apa yang terjadi
sebelumnya sebagai petunjuk Allah kepada manusia dari waktu ke waktu seperti 'Taurat atau
Hukum Musa (‘alaihissalam), Zabur atau Mazmur Daud (‘alaihissalam), Injil atau Injil Yesus
(‘alaihissalam) dan kitab-kitab serta wahyu yang dikirim ke banyak nabi lain sebelum
Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) (3:3); bahwa Allah menurunkan ilham kepada
Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) sebagaimana Dia telah menurunkan wahyu kepada
Nabi Nuh dan utusan-utusan Allah lainnya setelah beliau seperti Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub,
dan Suku-sukunya, Isa (Yesus), Ayub, Harun, Sulaiman, Daud dan Musa (‘alaihissalam) dari
waktu ke waktu (4:163).
Tertulis dalam Al-Qur’an bahwa Kitab suci diturunkan kepada Ibrahim (87:19). Kita-
kitab suci yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah kitab Taurat nabi Musa, kitab Zabur nabi
Daud, Kitab Injil nabi Isa, dan Al-Qur’an Nabi Muhammad (Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam).
Sehingga, Al-Qur’an membenarkan proses penurunan pedoman suci melalui kitab-kitab
terdahulu yang pernah diturunkan dan melalui standar-standar kebenaran yang diajarkan oleh
nabi. Al-Qur’an juga mewajibkan seluruh umat Islam untuk meyakini kitab-kitab sebelumnya
(2:4, 136, 285; 3:3, 84; 5:49-51; 6:92-93) karena semua utusan Tuhan adalah pembawa
peringatan dan berita baik (4:163; 6:85-87; 19:53; 21:86). Al-Qur’an menuliskan, ‘Kesejahteraan
untuk Nuh, Ibrahim, Musa, dan Harun, Ilyas, dan semua nabi, (37:79, 120, 130, 181) dan
menuliskan bahwa Ibrahim, Ishak, Yakub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun,
Zakariya, Yahya, Isa, Ilyas, Ismail, Ilyasa, Yunus, Luth, termasuk sebagai yang terpilih menjadi
nabi dan menerima Kitab yang diturunkan kepada mereka (6:48-87 6:89). Sehingga, Al-Qur’an
menyatakan bahwa semua nabi Allah dan semua wahyu-wahyu serta kitab-kitab yang mereka
terima, merujuk kepada hal yang sama, yaitu Islam yang diajarkan Muhammad (Shallallaahu
‘Alaihi Wasallam). Namun, seperti yang ditunjukkan dalam surat-surat yang membahas Kristen
dan Yahudi, karena wahyu-wahyu dan kitab-kitab terdahulu telah tercemar, hilang, atau sudah
tidak relevan lagi bagi pola hidup manusia yang sudah berkembang di zaman moderen, maka Al-
Qur’an pun diturunkan sebagai wahyu terakhir untuk orang-orang beriman karena Al-Qur’an
adalah pedoman terutuh dan terakhir untuk umat manusia berlaku selamanya. Inilah posisi Al-
Qur’an sebenarnya dan ini juga lah yang menjadi tugas nabi-nabi terakhir.
Islamic Online University Aqidah 301
126
Riwayat dari Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam) (Hadits)
Sejalan dengan perintah dalam Al-Qur'an, penting bagi umat Islam untuk mengikuti
arahan dan nasihat yang diberikan oleh Nabi Muhammad (Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam) serta
meniru cara hidupnya yang hebat, karena semua arahan, nasehat, dan gaya hidupnya dapat
dianggap seperti wahyu dan dalam banyak kasus, kebiasaan-kebiasaan Nabi Muhammad
(Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam) ini menjelaskan secara rinci isi dan arti dari ayat-ayat Al-Quran
yang umumnya hanya merujuk pada beberapa hal penting saja. Contohnya, dalam Al-Qur’an,
penjelasan mengenai shalat wajib lima waktu dan bagaimana shalat dilaksanakan hanya
dijelaskan berupa konsep fundamental saja, sedangkan seluk-beluk rinci tentang shalat diperoleh
dari contoh yang dilakukan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam) selama masa kenabiannya.
Sehingga, jika cara hidup nabi tidak dianggap sebagai pelengkap yang esensial, cara menunaikan
shalat lima waktu pun tidak akan dapat diketahui dengan rinci. Dalam sebagian besar aspek
filsafat Islam, pemikiran, keyakinan, iman, hukum, dan perilaku, atau dengan kata lain,
kebiasaan nabi Muhammad (Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam) berupa ucapan serta tindakannya,
berperan sebagai pelengkap Al-Qur'an.
Dalam mengklarifikasi perbedaan-perbedaan minor, umat Islam merujuk kepada cara-
cara yang diterapkan empat khalifah pertama, yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali, dimana
keempat khalifah ini dianggap memiliki otoritas terhadap yurisprudensi Islam, pemerintahan,
konsep Syariah, dan konsep negara kesejahteraan. Mereka dijadikan rujukan karena keempat
khalifah ini merupakan orang-orang terdekat Nabi Muhammad (Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam)
semasa hidupnya. Terdapat ribuan hadits yang mencakup hampir semua aspek pemikiran dan
kehidupan manusia untuk membimbing umat Islam ke jalan Allah yang benar sesuai dengan
pedoman Al-Qur'an. Beberapa cendekiawan besar Islam yang fasih dalam persoalan
yurisprudensi agama, menghabiskan seumur hidupnya melakukan penelitian untuk menyaring
keotentikan hadits-hadits ini. Mereka menelusurinya kembali ke istri-istri atau murid-murid
terpercaya Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam). Setelah merasa yakin dengan keotentikan
yang ditemukan, yang telah dibenarkan oleh banyak sumber, mereka kemudian membuat
kompilasi dari "kebiasaan-kebiasaan yang otentik" ini. Kompilasi ini tidak hanya dianggap
sebagai rujukan, tetapi juga dibaca, dan bahkan dihafal oleh umat Islam, sama seperti Al-Quran.
Kebiasaan-kebiasaan yang telah terbukti benar kemudian disusun oleh enam cendekiawan abad
ke-9 M yaitu Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Maja. Kumpulan-
kumpulan ini kemudian dijadikan sebagai referensi yang disetujui.
Ada dua sumber hukum lain yang juga ada di abad kedua Hijriah (abad ke-8 M.), Ijma
dan Ijtihad.
Untuk mengatasi perbedaan pendapat antar individu dan regional yang dapat terjadi
nantinya, teori hukum dan praktek Syariah kemudian dibakukan sesuai dengan pedoman yang
ada dalam Al-Qur'an dan Hadits oleh konsensus Ulama-Ulama terkemuka yang disebut sebagai
"Mujtahid" generasi pertama setelah kematian Nabi Muhammad (Shallallaahu ‘Alaihi
Islamic Online University Aqidah 301
127
Wasallam) seara ketat dalam petunjuk yang diberikan oleh Al-Qur’an dan hadist. Setelah
mencakup hampir sleuruh aspek penting syariah melalui Ijma’, institusi ini dianggap sebagai
penutup. Oleh karena itu, setelah akhir abad tersebut, mempertanyakan setiap keputusan yang
diperhatikan, telah tiba pada dasar Al-Qur’an dan Hadis, menjadi terlarang sejak itu.
Ijtihad, berarti “untuk mencoba” atau untuk “mendesak seseorang” merupakan alat untuk
mencapai sebuah solusi, secara hukum dan ajaran, pada masalah-masalah baru dalam sebuah
konsensus yang baru berdasar pada pendapat pribadi (Ra’y) dari ilmuwan muslim yang unggul.
Pada abad kedua Hijriah, Ijtihad digantikan dengan Qiyas (bernalar dengan analogi) berdasarkan
Al-Qur’an dan Hadist. Meskipun penerimaan dari tubuh Hadist dalam kebanyakan masalah pada
hari ini nampak berakhir setelah periode Ijma’ , ilmuwan muslim kemudian dan penerimaan
muslim universal, seperti Al-Gazali (abad ke-12), Shah Waliullah (abad ke-18) dan lain-lain,
telah meyakini bahwa Ijtihad tetap sejalan dengan persetujuan uum dari pada ilmuwan Muslim
sebuah negara, dalam kondisi dimana sebuah masalah tidak ditutup sebelumnya, yang mungkin
dapat dihadapkan pada umat Muslim di era modern, institusi Ijtihad masih tersedia pada negara
Muslim jika kebutuhan akan hal itu meningkat di masa depan, dengan kokoh berdasar pada Al-
Qur’an dan Hadist.
Filosofi Islam
i. Konsep Keyakinan dan Keimanan
Keimanan Islam didasarkan pada keyakinan kokoh bawa Allah, menjadi yang Tunggal dan
Satu perencana, pendesain, pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur seluruh alam semesta, hanya
kepadaNya ketaatan, peribadahan, dan tempat mencari perlindungan; dan bahwa Muhammad
(Shallallahu ‘alaihi wasallam) merupakan Nabi terakhir Islam dalam rantai kenabian yang lebih
dulu darinya dan bahwa Nabi terakhir dikuatkan oleh Allah dengan bimbingan melalui wahyu
termasuk kitab suci Al-Qur’an melalui malaikat jibril selama 23 tahun masa kenabian. Umat
Muslim telah berulang kali diperingati, seperti Bani Israil, melawan penyembahan berhala,
menolak pemberian bentuk kepada Allah secara fisik maupun lainnya, menghubungkan ciri
sementara seperti semangat, keluar dan menghubungkan kekuatanNya kepada seluruh makhluk.
Singkatnya, seperti halnya Yahudi, umat muslim juga diperintahkan oleh Allah untuk meyakini
ke-esa-anNya semata.
Al-Qur’an telah menjelaskan:
bahwa Islam, “Agama di sisi Allah” telah diberikan kepada umat manusia sejak masa
awal ketika manusia telah memulai hidupnya di bumi, dalam proses langkah demi
langkah, melalui Nabi Allah melalui masa demi masa: bersama dengan wahyu suci,
keajaiban dan kitab-kitab yang dibutuhkan untuk membimbing manusia di zaman
tertentu;
Islamic Online University Aqidah 301
128
bahwa Islam yang sama telah diajarkan oleh para nabi sebelumnya, beberapa dari mereka
disebutkan juga beberapa tidak disebutkan dalam Taurat dan Al-Qur’an, yag dikirim
untuk mengajarkan pada masyarakat tertentu yang belum mendapatkan petunjuk, juga
diajarkan dalam bentuk lengkap dan sempurna oleh Nabi terakhir, Muhammad
(Shallallahu ‘alaihi wasallam), yang diperkuat dengan dengan wahyu Tuhan juga kitab
terakhir Allah yang menjadi dasar patokan dan petunjuk, Al-Qur’an;
bahwa inti dari agama Islam diajarkan dan diikuti oleh banyak nabi Allah dari masa ke
masa: untuk percaya pada Allah yang Maha Esa yang merupakan perencana, pendesain,
pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta, untuk tidak menyembah selainNya,
tidak mempersekutukanNya dengan apapun, kekuatan dan keagungan Allah Yang Maha
Adil dan Bijaksana;
bahwa proses turunya wahyu dan tugas yang diberikan kepada para Nabi di tutup dengan
hadirnya Nabi Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) sebagai nabi terakhir dan
wahyu Al-Qur’an sebagai patokan norma dan petunjuk sepanjang waktu dan
disempurnakan dan menyempurnakan dan melngkapai agama melalui nabi terakhirnya
dan Al-Qur’an. Dan
-bahwa pengikut dari agama yang sempurna ini telah dijadikan “umat terbaik yang
mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kejahatan serta beriman kepada Allah”
ii. Penciptaan alam semesta
Al-Qur’an menyebutkan bahwa alam semesta terdiri dari tujuah lapis langi dan bumi”
yang diciptakan selama enam hari (7:54) empat hari untuk penciptaan bumi dan dua hari untuk
penciptaan langit yang diterdiri dari “asap” (41:10,11), sehari dalam perhitungan Allah sama
dengan ribuan tahun dalam hitungan manusia (70:4), bumi dipersiapan untuk dapat dihuni oleh
manusia dari waktu yang tidak diketahui ketika waktu penciptaan ditentukan oleh Allah. Selain
itu, untuk memberikan tanda petunjuk pada manusia dalam hal ini, Al-Qur’an juga menyatakan
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya
dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? Dan telah
Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama
mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat
petunjuk” (21:30.31)
iii. Penciptaan manusia
Kejadian yang mendahului dan mengikuti penciptaan manusia pertama sama seperti yang
diberikan dalam Al-Qur’an dengan apa yang diberikan dalam Injil kecuali pada beberapa spek
fundamental. Seperti yang sebutkan dala Al-Qur’an, ketika Allah menyampaiakan kepada para
Islamic Online University Aqidah 301
129
malaikat keinginanNya untuk menciptakan manusia, sebuah ciptaan baru yang akan menjadi
“wakilNya di muka bumi” (2:30) dari “sebaik-sebaik bentuk” (95:4) dan diberikan beberapa
kelebihan , (90:8-10) atas malaikat dan jin (makhluk yang diciptakan lebih dulu dari api tanpa
asap seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an 15:27 dan 55:16), mereka berpandangan bahwa
mereka telah ada untuk memujiNya dan mengagungkanNya, sehingga tidak diperlukan untuk
menciptakan makhluk baru, yang hanya akan menimbulkan pertumpahan darah dan kerusakan di
muka bumi. Akan tetapi Allah menolak mereka, dengan firmanNya Aku mengetahui apa yang
tidak kamu ketahui” (2:30). Oleh karena itu, Allah menciptakan Adam, manusia pertama, dari
tanah liat, menjadikannnya dalam sebaik-baik bentuk (15:26:65:14), menaruhkan ruha
kedalamnya dan mengajarkannya nama benda-benda, dan memerintahkan para malaikat untuk
menyebutkan nama benda-benda. Mereka tidak dapat melakukannya dengan alasan, seperti yang
mereka kemukakan, mereka tidak mengetahui kecuali apa yang diajarkan oleh Allah kepada
mereka (2:31,32). Kemudian Allah memerintahkan Adam untuk melakukannya yang kemudian
dapat dia lakukan, lalu Allah memerintahkan mereka untuk menghormati Adam dengan bersujud
kepadanya. Perintah ini dipatuhi kecuali iblis, pemimpin para jin, yang sebelumnya diangkat
menjadi teman para malaikat karena pengetahuan, kebijaksanaan, dan ketaatannya kepada Allah.
Iblis beranggapan bahwa, dia telah diciptakan dari api, dia lebih hebat dari Adam; yang
diciptakan dari tanah, sehingga ia tidak ingin bersujud kepada Adam (2:33,34). Karena
kesombongan, pembangkangan, dan ketidakpatuhannya pada diri iblis, dia dibuang oleh Allah
dari kalangan para malaikat, dan dijadikan sebagai “setan” yang terkutuk (7:13). Wanita
pertama, Hawa, juga diciptakan oleh Allah sebagai teman Adam dan keduanya ditempatkan di
dalam surga dengan izin untuk makan dan menikmati segalanya tetapi hanya harus menahan diri
dari melanggar atau mendekati pohon khusus” (2:35,7:19.). Sebelumnya, bukannya menyadari
kesalahannya dan pembangkangannya kepada Allah, serta memohon ampunan dan
keagungannya, Iblis justru meminta izin dari Allah untuk memberikannya pengangguhan juga
kekuatan untuk dapat membalaskan dendam atas Adam hingga “hari akhir” (15:36), karena ia
menganggap bahwa pengusirannya disebabkan karena penciptaan Adam, padahal itu disebabkan
karena kebanggaan, kesombongan, ketidakpatuhan dan pembangkangan kepada Allah!.
Permintaan tersebut dijamin dengan peringatan bahwa dia dan mereka yang mengikuti jalannya
akan dimasukkan kedalam neraka bersamanya, api yang berbahaya dan membakar (7:14-18).
Oleh karena itu, ketika Adam dan Hawa telah menjalani masa di surga, Iblis yang telah berjanji
untuk membalas dendam pada mereka dalam setiap kesempatan, menggoda mereka untuk
mendekati pohon terlarang, menjanjikan bahwa Allah melarang mereka mendekati pohon itu
karena , “mereka akan menjadi malaikat dan akan hidup kekal” (7:20). Adam dan Hawa, yang
kalah pada godaan Iblis, memakan pohon dalam larangan perintah Allah dan sebagai hasilnya,
rasa malu ditunjukkan kepada mereka” (7:22), keduanya menyesali pembangkangan mereka
kepada Allah, yang kemudian diterima dan diampuni. Namun, surga tidak lagi ditempatkan di
dalam surga. Bersama iblis, Adam dan Hawa keluarkan dari surga untuk hidup di bumi hingga
hari akhir” menjadikan anak cucu mereka musuh bagi satu sama lain. Allah dengan segala
kebaikanNya, berjanji kepada Adam bahwa anak-anaknya akan dirahmati dengan petunjuk dair
Islamic Online University Aqidah 301
130
waktu ke waktu melalui nabi-nabi pilihan dan rasul di antara merek, sehingga mereka menjalani
hidup yang terang dan taat, menjauhkan diri dari godaan setan dan jalan iblis dan keturunanya,
surga yang abadi dapat didapatkan kembali oleh manusia (2:36-39,7:23-25).
iv. Konsep nabi dalam Islam
Berdasarkan filosofi Islam, janji Allah dipenuhi dengan Nabi dan Rasul dari Adam
(alaihissalam), dimana Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) menjadi Nabi penutup dari
rantai kenabian juga nabi-nabi dan rasul-rasul yang tidak diketahui (utusan ) Allah, bebeapa
diantaranya adalah Nuh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishak, Daud, Zakariah, Yunus, Yahya, Yakub,
Joseph, Musa, Harun, Sulaiman, Idris, Zulkifli, Ilyas dan lain-lain yang telah disebutkan dalam
Taurat yag diwahyukan kepada Musa (alaihissalam) dan dalam Al-Qur’an yang diturunkan
kepada Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) (Al-Qur’an 4:163-165, 5:21: 6:84-90: 23:23-
50:57:26-27). Semua nabi dan rasul ini adalah laki-laki denga karakter teguh, dipilih dan
ditunjuk oleh Allah untuk memberi petunjuk kepada orang-orang, suku, dan masyarakat tertentu
di masa tertentu, diperkuat dengan wahyu Allah dan kitab-kitab agamawi yang berisi hukum dan
petunjuk yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sosial dan spiritual yang seimbang yang
sesuai dengan persamaan hak asasi manusia dan bertujuan pada tujuan utama untuk memasuki
surga: semua nabi mengajarkan agama yang sama, Islam, yang sesuai dengan masanya yang
ditekankan pada permainan yang adil, keadilan dan keimanan, begitupun dengan ketaatan kepada
Allah yang Maha Esa yang merupakan satu-satunya Perencana, Pendesain, Pencipta, Pemberi
rezki dan Pemelihara seluruh semesta dan segala yang ada di dalamnya (42:13): semua nabi ini
telah ditugaskan dalam masanya dengan tugas tertentu untuk mengantarkan dan membimbing
hanya pada orang-orang tertentu kecuali Nabi dan Rasul terakhir, Muhammad (Shallallahu
‘alaihi wasallam), yang ditugaskan oleh Allah sebagai Nabi terakhir untuk menyempurnakan
agama Islam dengan kitab wahyu terakhir, Al-Qur’an, yang merupakan “kalimat Allah” dan
terjamin dari segala kerusakan hingga “hari akhir” juga sebagai wahyu untuk sebagai petunjuk
utama dalam emansipasi spiritual manusia secara keseluruhan dengan mengantarkan pada
kehidupan sosial yang seimbang hingga “hari akhir” (2:87; 4:82:, 5:92, 6:19,92:, 9:6, 15:9, 27:6,
45:2 56:77,78) yang merupakan batu landasarn dalam keyakinan dan keimanan islami.
Kedudukan nabi dalam Islam, seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an, adalah seluruh
utusan Tuhan membawa kabar gembira juga peringatan (57:26, 11:25). Adam, Nuh, dan Ibrahim
serta Imran, dipilih oleh Tuhan (3:32). Ibrahim dijadikan pemimpin bagi manusia, dipilih di
dunia ini dan sosok teladan, dapat dipercaya juga seorang nabi (2:124,130: 16:129). Ismail yang
dapat dipercaya dalam janji dan seorang nabi (19:54). Musa yang disucikan dan seorang nabi
(19:66). Al-Qur’an menyatakan bahwa Ibrahim, Ishak, Yakub, Buh, Daud, Sulaiman, Ayub,
Joseph, harun, Musa, Zakaria, Yahya, Isa, Ilyas, Isamail, Ilyasa, Yunus, dan Luth semuanya
dermawan, saleh, dan agung 96:84-87) dan mereka diberikan kitab, kekuasaan, dan kenabian
(6:89).
Islamic Online University Aqidah 301
131
Oleh karena itu, orang Muslim harus beriman pada tiga kitab- kitab Zabur, kitab Taurat,
dan Injil yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi dan Rasul Daud, Musa dan Isa (alaihissalam),
sebelum datangnya Al-Qur’an yang merupakan petunjuk akhir kepada nabi terakhir, Muhammad
(Shallallahu ‘alaihi wasallam)(3:3; 4:136). Selain itu, umat muslim tidak membedakan satu nabi
dengan yang lainnya karena agama yang diajarkan oleh para nabi sebelumnya berdasar pada
wahyu yang diberikan kepada mereka oleh Allah, meskipun sesuai untuk orang-orang dan
generasi tertentu, tetap tidak dalam bentuk sempurna dan lengkap. Muhammad (Shallallahu
‘alaihi wasallam), yang dikirim sebagai “penutup para nabi” memperkuat wahyu dan kitab
terakhir, Al-Qur’an, menyempurnakan dan melengkapi Islami untuk manusia yang sepenuhnya
maju (4:150, 152). Oleh karena itu, Al-Qur’an memperbolehkan untuk memakan makanan yang
bersih dan unuk menikahi perempuan Yahudi dan Nasrani, yang disebutkan sebagai Ahli
kitab”, dan karena mereka pada dasarnya percaya pada satu Tuhan seperti yang diwajibkan
dalam kitab.
v. Keyakinan, Keimanan dan Amal dalam Islam
Keenam rukun iman adalah :
- Beriman kepada Allah
- Beriman kepada malaikat-malaikat Allah
- Beriman kepada nabi-nabi Allah
- Beriman kepada kitab-kitab Allah
- Beriman kepada hari kiamat
- Beriman kepada Qada dan Qadar
Lima rukun Islam adalah:
- Beriman dan mengucapkan syahadat Laa ilaha illallah muhammad ar rasulullah/tiada
Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”
- Mendirikan shalat lima kali sehari pada waktu yang tentukan
- Berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari selama bulan Ramadhan, tidak
makan dan minum juga tidak memikirkan, membicarakan, atau melakukan tindakan tak
menyenangkan:
- Membayar zakat dan memberikannya kepada orang miskin dan yang berhak menerima
dalam masyarakat) dalam bentuk produk, asset, perdagangan, dan kelakuan sehari-hari
- Menunaikan ibajah haji ke “Baitullah” di Mekah dan melakukan manasik haji, jika
seseorang mampu melakukannya baik secara fisik maupun finansial
Islamic Online University Aqidah 301
132
vi. Akhlak Islam
Terlepas dari aspek keyakinan, iman dan tindakan seperti yang dijelaskan di atas yang
telah diperintahkan pada umat Islam demi membangun masyarakat yang adil, bersih dan
sejahtera yang diarahkan menuju tujuan akhir yakni untuk mendapatkan kembali surga abadi
yang hilang, umat Islam telah diberi petunjuk melalui Al-Qur'an dan wahyu Allah lainnya
kepada nabi untuk menanamkan nilai-nilai moral dari tatanan tertinggi untuk menjadikan mereka
umat terbaik, dan melatih kejujuran dalam semua bidang kehidupan (33:35; 4:69); untuk menjadi
adil dalam semua transaksi (seperti orang mengharapkan keadilan untuk diri sendiri) 4:58; 4:135;
7:29; 16:90; 57:25); menjadi sangat sabar, menjaga sumpah, baik hati dan penuh perhatian
kepada sesama makhluk, khususnya terhadap orang tua, orang miskin, orang yang
membutuhkan, anak yatim piatu, musafir dan hanya untuk anak yatim bagaimana pun juga (2:83,
177, 215; 4:2,3,6,8,10,36; 17:34); untuk menjadi toleran dan pelindung penganut agama lain
selama mereka tetap menjadi warga negara yang taat hukum dan tidak menghalangi umat Islam
dalam mempraktekkan agama mereka sendiri (22:40); untuk menjaga kebersihan tubuh dengan
mandi, terutama setelah berhubungan badan, melakukan wudhu dengan mencuci semua bagian
tubuh yang terbuka sebelum shalat lima waktu (5:6); menjaga mulut tetap bersih dengan sering
menyikat gigi; berpakaian rapi, sebaiknya dengan jubah putih; tidak melakukan pencurian (5:38);
tidak berdusta atau menyembunyikan bukti (39:3; 40:28; 52:11; 24: 7; 2: 283; 70:33); tidak
memberikan pinjaman dengan bunga (2:275, 276, 278-281); tidak terlibat dalam perjudian dan
meminum minuman keras (2:219; 6:90,91); bahkan tidak mendekati prostitusi atau perzinahan
yang keduanya memalukan dan buruk yang akan mengarahkan ke kejahatan lain (17:32; 24:2,3);
tidak membunuh kecuali atas apa yang telah Allah sucikan (17:33; 26:68); tidak melakukan
bunuh diri atau menyakiti diri sendiri (4:29); tidak makan daging babi, darah, daging bangkai,
hewan apa pun yang telah dibunuh tanpa disembelih dalam nama Allah dengan darah yang
mengalir keluar dengan bebas, atau makanan apa pun yang diberikan sebagai persembahan bagi
para dewa atau Tuhan (5:3; 6:145) ; 16:115), dan seterusnya. Juga ditekankan bahwa seharusnya
tidak ada paksaan dalam agama dan keyakinan (2: 266; 10:99), di mana non-Muslim bebas untuk
mengikuti agama pilihan mereka sendiri selama umat Islam tidak terhalangi untuk mengikuti
agama mereka sendiri. Bagaimanapun, hal ini tidak berlaku untuk seorang Muslim, yang harus
mengikuti ajaran Islam, setelah menerimanya dengan kemauannya sendiri. Menghamburkan apa
pun yang mungkin berguna bagi orang lain adalah dilarang dan mengambil jalan tengah dengan
menghindari pemborosan di satu sisi dan kekikiran di sisi lain dalam semua lapisan kehidupan
yang diperintahkan (17:27, 29). Prostitusi dan perzinahan telah dimurkai (17:32) dan dihukum
secara drastis (24:2), karena mereka adalah kejahatan yang tidak hanya mengganggu dan
membahayakan kehidupan sosial rakyat tetapi juga menjadi sumber kejahatan yang mengarah ke
kejahatan lain, seperti sebagai kebencian abadi, dan bahkan penyebab perkelahian antara kerabat
dan teman-teman. Namun, dalam kasus-kasus pengecualian di mana itu menjadi perlu baik
karena takut melakukan prostitusi atau perzinahan atau ketidakadilan bagi anak yatim (dan bukan
karena nafsu sendiri), seseorang diizinkan untuk menikah hingga empat istri, hanya jika ia
sanggup berlaku adil bagi mereka semua (4: 3). Namun demikian, praktik kesabaran atau
Islamic Online University Aqidah 301
133
pengendalian diri dalam hal-hal ini dianjurkan (4:25). Perceraian dibuat legal untuk pria dan
wanita pada pertanyaan ketidaksesuaian dan terbukti tidak bermoral, tetapi rujuk kembali antara
suami dan istri yang diceraikan diizinkan setelah tidak lebih dari dua kali perceraian. Namun,
setelah perceraian ketiga, pasangan yang sama mungkin tidak menikah lagi kecuali wanita yang
bercerai menikahi suami kedua dan juga bercerai dengannya secara alami (2:229, 230). Tujuan
menyediakan dua peluang untuk rekonsiliasi dengan masa tunggu antara pasangan yang bercerai
melalui upaya-upaya diri mereka sendiri, orangtua dan kerabat adalah untuk menghindari, sejauh
mungkin, perpisahan mutlak dan terakhir dari ikatan pernikahan sakral, yang membahayakan
kesejahteraan masa depan dari diri mereka sendiri, dan anak-anak khususnya, jika ada. Pria dan
wanita yang bercerai dapat menikahi orang lain dengan bebas sesuai yang mereka pilih, setelah
berakhirnya masa iddah yang diputuskan (2: 232). Pada saat pernikahan, suami harus
memberikan mahar yang pantas kepada istri sesuai dengan status dan kemampuannya sebelum
dia meletakkan tangannya padanya, dan mahar ini tidak dapat diambil kembali pada saat
perceraian (4: 4,19; 20, 21).
Di bidang kerja, Islam mengharapkan semua orang tidak hanya melakukan tugasnya
dengan obyektivitas, kesungguhan, kesabaran, dan sebagai yang terbaik dapat membuahkan hasil
seperti yang ditakdirkan oleh Allah, tetapi juga untuk tidak menikmati ketidakjujuran atau
mengemis. Kepercayaan seorang Muslim dalam "takdir" sering ditertawakan oleh non-Muslim.
Faktanya, ini adalah satu-satunya jalan yang tersisa bagi manusia ketika kita menganggap bahwa
hasil bersih dari tindakan apa pun tidak dapat dibatasi secara ketat hanya untuk reaksi fisik,
kimia, dan konversi langsung dalam waktu, tetapi dalam hal abstrak, terhadap reaksi total dalam
hal efek dari tindakan dalam semua aspek totalnya meliputi konsekuensi tak terbatas yang dapat
diatribusikan dengan tujuan, maksud dan sasaran dalam pikiran serta efek yang "harmonis",
dalam ruang dan waktu di masa depan, semua disatukan. Semua harus dipertimbangkan secara
mendalam. Oleh karena itu, dengan niat apa, untuk kesempurnaan apa dan dengan tujuan apa,
baik yang diketahui maupun yang tersembunyi dalam pikiran di setiap tindakan yang berbeda
dari seorang manusia dan apa efek akhir yang diperolehnya dalam ruang dan waktu yang hanya
diketahui oleh Allah, yang merupakan satu-satunya "perencana, perancang, pencipta, penopang,
dan pengatur semua materi dan energi yang diciptakan di alam semesta." Dengan benar, al-
Qur’an menyatakan; “Dan sesungguhnya kepada masing-masing [mereka yang berselisih itu]
pasti Tuhanmu akan menyempurnakan dengan cukup, [balasan] pekerjaan mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (11:111). Meskipun begitu,
Al-Quran juga menuliskan bahwa; “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (13:11) dan bahwa Allah
maha adil dan maha pengasih bagi setiap mahkluk-Nya dimana kehendak-Nya diterima dengan
setara oleh semuanya, tetapi orang-orang yang beriman di jalan yang benar akan menerima
keuntungan lebih daripada mereka yang tidak beriman. Terakhir, telah dijanjikan dalam Al-
Qur’an bahwa “Siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah hari
kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka” (2:62). Sungguh pengasih Allah, memberikan kesempatan bagi
Islamic Online University Aqidah 301
134
orang-orang dzalim sampai “hari kiamat” (14:142). Namun, jika hampir semua manusia terus-
menerus berbuat kejahatan dan penindasan, maka Dia akan menolak sebagian manusia dengan
manusia lain (22:40). Contohnya seperti apa yang terjadi pada umat-umat Nuh, Hud, Syuaib, dan
Salih dan pada orang-orang seperti Fir’aun, Haman, dan Qarun (Korah), dimana di dalam Al-
Qur’an, tertuliskan bahwa Allah memusnahkan seluruh orang jahat yang dengan sadar terus-
menerus melakukan kejahatan dan bahwa Allah menyelamatkan orang-orang baik di antara
mereka sebagai bentuk pelajaran untuk kesejahteraan mereka. Al-Qur’an menjanjikan; “Dan
Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya
orang-orang yang berbuat kebaikan.” (11:117). Dari semua ayat-ayat ini, serta dari nasihat-
nasihat dan arahan lainnya, dapat disimpulkan bahwa hampir semua permasalahan masyarakat
manusia maju yang berhubungan dengan kebebasan rohaniah, baik secara langsung atau tidak
langsung, telah diselesaikan oleh Al-Qur’an dan ajaran-ajaran Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi
wasallam) yang berlaku selamanya.
vii. Ekonomi Islam
Perihal urusan ekonomi, Islam mendukung sistem sosialisme alami dan adil. Selain dari
Islam memperbolehkan kepemilikan materi melalui usaha halal, berdasarkan dari ayat-ayat yang
ada dalam Al-Qur’an, Islam juga menekankan kewajiban pembayaran Zakat untuk mereka yang
berhak menerimanya seperti orang-orang fakir, miskin, anak-anak yatim piatu, dan orang-orang
yang berjuang di jalan Allah. Selain itu, Islam juga menekankan untuk melakukan sedekah
sebanyak mungkin demi membantu mereka yang kurang mampu dalam masyarakat. Zakat telah
dirancang sedemikian rupa sehingga jika akumulasi penghasilan yang diperoleh tetap diam tanpa
diedarkan dalam usaha dan investasi, akumulasi penghasilan tsb akan dikurangi setengahnya
dalam dua puluh lima tahun dan akan habis dalam lima puluh tahun. Jadi, orang-orang secara
tidak langsung didorong untuk menjaga kekayaannya dalam sirkulasi yang produktif, yang
merupakan suatu prasyarat untuk kemajuan ekonomi rakyat secara luas. Zakat merupakan pajak
keagamaan wajib yang dibayar melalui kekayaan, modal, perdagangan, ternak, hasil pertanian,
hasil tambang, dan lain-lain. Zakat yang dikeluarkan pun bervariasi mulai dari dua setengah
persen hingga dua puluh persen, tergantung jenis zakatnya. Zakat hewan ternak dihitung dalam
bentuk angka. Zakat adalah sarana untuk mencegah kemiskinan dan akumulasi kekayaan dalam
berbagai lapisan masyarakat Islam serta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pengeluaran
negara. Jadi, dalam masyarakat yang mengikuti ajaran Al-Qur'an, orang-orang yang menderita
kemiskinan berat dan orang-orang jutawan dengan kekayaan timbunan berlebihan tidak akan
ada. Dalam dunia perdagangan, dilarang untuk memperoleh keuntungan berlebihan dari
penjualan barang-barang kebutuhan dasar yang diperlukan. Menimbun persediaan makanan dan
barang-barang kebutuhan dasar juga dilarang, baik menimbun dengan menggudangkan barang-
barang tersebut atau menyimpannya untuk dijual kembali demi mendapatkan keuntungan lebih
banyak. Semua kontrak dan perjanjian harus dihormati dengan teliti.
Islamic Online University Aqidah 301
135
Meskipun Islam menghalalkan segala jenis perdagangan yang tidak berniat untuk
memperoleh keuntungan berlebihan, Islam sangat melarang untuk meminjamkan uang dengan
bunga. Ini lagi-lagi dapat dianggap sebagai suatu usaha untuk mencegah golongan orang kaya
dari menikmati penghasilan mereka tanpa terkena risiko apa pun yang tidak wajar dan menjaga
waktu mereka dari aktivitas bersenang-senang yang tidak dianjurkan, aktivitas yang orang-orang
dengan kekayaan dan penghasilan berlebih sering tergoda untuk lakukan. Namun, Islam
mendukung investasi kemitraan yang jelas untung dan ruginya. Hal ini kemudian akan membuat
para mitra terlibat dalam kegiatan bisnis yang bermanfaat suatu keharusan demi kemajuan
ekonomi dan sosial. Dalam semua jenis bisnis, baik itu bisnis perdagangan, pertanian, industri,
atau bisnis lain dimana terdapat hubungan atasan-pekerja di dalamnya, upah yang adil dan wajar
untuk pekerja serta keuntungan yang adil untuk investor menjadi bahan pertimbangan dalam
semua aspek bisnis dimana kedua pihak diuntungkan atas dasar rasa persaudaraan dan kerja
sama menjauhi segala bentuk konflik. Dengan demikian, sistem ekonomi Islam adalah sistem
alami dimana orang-orang tidak perlu merasa khawatir perang kelas atau eksploitasi kelas borjuis
kepada kelas proletar akan terjadi. Apa yang tersisa setelah pembayaran Zakat pada produksi,
aset, cadangan, dan setelah pembayaran pajak pemerintah menjadi murni milik pribadi yang
tidak dapat diklaim oleh siapapun; bahkan oleh pemerintah. Islam telah memperhitungkan sifat
manusia yang paling penting bahwa manusia memerlukan insentif untuk bekerja, sehingga Islam
pun memberikan hak untuk memiliki kekayaan bersih, kekayaan yang sangat dibutuhkan untuk
menjalani kehidupan yang nyaman. Namun, bagi orang-orang Islam yang sadar tentang arahan
yang ada dalam Al-Qur'an, mereka tahu bahwa mereka tidak akan dapat memiliki ketenangan
pikiran kecuali mereka mengeluarkan sedekah (amal) dari kekayaannya untuk memperbaiki
kondisi para tetangga, anak-anak yatim, janda, orang-orang lansia yang tidak mampu, serta
orang-orang yang sedang dililit utang. Hal ini, meskipun sebuah institusi relawan, pada
umumnya dipraktikkan dengan tulus bukan hanya orang-orang dari kalangan kaya dan kelas
menengah di antara umat Muslim tetapi juga oleh golongan kurang makmur, kebanyakan secara
diam-diam, ketika di Al-Qur’an dan nabi suci telah memuji kemurahan hati itu yang
memberikan dengan tangan kanan tanpa diketahui tangan kirinya”.
Bisnis negara dalam bidang ekonomi dibatasi pada pada persoalan administrasi negara,
dari skema kesejahteraan dan properti agama seperti, masjid, panti asuhan, sekolah, rumah sakit,
rumah untuk orang miskin, selain dari memastikan bahwa tidak ada satu orang pun di dalam
negara yang kelaparan dan melarat dikarenakan ketidakmampuan untuk mendapatkan
penghasilan karena kesehatan yang buruk atau tidak punya pekerjaan. Kepemilikan properti
pribadi melalui perampasan seperti pada negara komunis bukanlah tugas pemerintah karena tuga
pemerintah bukanlah bertindak sebagai kapitalis yang memiliki properti yang seharusnya
dimiliki orang-orang. Ketik pandangan islam menjadi perhatian, jika setiap properti menjadi
kesulitan bagi negara, dalam tindakan untuk melaksanakan tugasnya yang paling penting
mengajak pada kebaikan dan mencegah pada kejahatan”, negara memiliki hak untuk
menghukum pemilik dari property sesuai dengan hukum syariah Islam. Selain itu, jika negara
menemukan kekayaan tertentu telah dikumpulkan dengan tujuan illegal, perangkat negara
Islamic Online University Aqidah 301
136
memiliki tujuan untuk memperbaiki pemanfaatannya dari pemilik juga untuk memastikan bahwa
porsi kekayaan yang seharusnya dimiliki orang lain juga dikembalikan pada pemilik yang berhak
tanpa mengambil jalan kekerasan dan penganiayaan. Tindakan seperti itu mungkin dilakukan
setelah ditemukan bukti berdasarkan hukum Islam diperoleh dengan persahabatan atau
perlawanan berdasarkan kasus. Keputusan yang mendiskriminasi tanpa membuktikan urusan
apapun terhadap penduduk juga dilarang.
viii. Kejahatan dan Hukum
Seorang Muslim dimaksudkan untuk menjadi teladan bagi orang lain untuk diikuti,
seperti yang dijelaskan dalam AL-Qur’an (3:110), jika jalan tersebut juga ajaran Nabi
Muhammad (Shalla Allahu ‘Alaihi Wasallam) diikuti. Namun, manusia, sesuai sifatnya,
merupakan makhluk yang sangat egois dan pencari kesenangan dan berada dibawah pengaruh
buruk setan, yang mencoba yang terbaik untuk membelokkan setiap orang dari jalan yang benar
sesuai dengan sumpahnya yang telah diucapkannya di surga untuk membalas dendam kepada
Adam dan keturunannya hingga hari akhir dan penangguhan yang diberikan kepadanya oleh
Allah ketika ia dikeluarkan dari surga. Oleh karena itu, seorang Muslim mungkin kehilangan
perlindungannya beberapa kali dan melalukan kejahatan tertentu yang Allah telah larangkan.
Selain itu, di berbagai masyarakat bisa terdapat unsur buruk yang mencoba untuk mengganggu
kedamaian dengan memanjakan dalam kejahatan yang terlarang oleh hukum syariah Islam.
Secara moral, ketika setiap orang harus memberikan jawaban kepada Allah di hari penghakiman
kelak atas segala perbuatan yang dilakukan oleh diri sendiri, dengan alasan bahwa tindakan
buruk yang dilakukan oleh individu mungkin memberikan efek yang luas di dalam masyarakat,
hukuman dunia juga telah dijelaskan dalam Al-Qur’an untuk diberikan kepada pelanggar hukum
yang terlibat dalam kejahatan tertentu. Karena alasan bahwa hukuman yang seperti itu telah di
jelaskan oleh Allah sendiri, yang mengetahui setiap ciptaanNya sepenuhnya, penguasa negara
diberikan kepercayaan untuk melaksanakan hukuman yang sesuai, tidak memiliki kekuasan
dalam persoalan, juga telah dijelaskan dalam Al-Qur’an untuk mengatur hukuman itu tanpa
menunjukkan simpati yang bisa menjadi penghalang bagi orang lain. Seperti hukum dalam
Taurat, hal ini dalam prinsip “mata untuk mata, gigi untuk gigi, hidup untuk hidup”, kecuali
untuk kejahatan seperti minum minuman keras di depan umum, mencuri dan tindakan asusila,
yang setiap perbuatan tersebut di iris-iris, memotong tangan dan mengiris atau melempari batu
telah dijelaskan.
ix. Status Wanita dalam Islam
Ini merupakan sebuah pertanyaan yang umum dikemukakan oleh kalangan Non Muslim
dan secara kasar, juga tanpa mengapresiasi implikasi islaminya. Bahwa wanita telah diciptakan
sebagai pasangan untuk pria umumnya dalam padangan proses reproduksi dan sex, layaknya
Islamic Online University Aqidah 301
137
binatang, diterima oleh semua. Pria, menjadi yang paling beradab dalam spesies binatang, juga
harus berbuat seperti itu. kebebasan penuh untuk berhubungan sex telah menciptakan kekacauan
di dalam masyarakat. Sehingga hubungan pria dan wanita harus diatur merupakan hal yang
sangat penting dalam masyarakat yang beradab. Sebuah penyatuan yang diterima secara sosial
dengan istilah “pernikahan” diterima oleh semua agama dan masyarakat dunia karena tanpa hal
ini, keluarga, masyarakat seluruhnya memasuki kekacauan.jika setiap pria diperbolehkan untuk
berhubungan sex dengan wanita manapun ataupun sebaliknya, norma-norma yang diatur dalam
kehidupan sosial pasti kacau, meninggalkan sebuah lingkungan kecemburuan yang besar,
pertengkaran dan bahkan perang kelas. Islam telah mengenali kebutuhan fundamental ini untuk
menempatkan tatanan sosial seluruhnya pada tempat yang benar dimana kecemburuan,
pertengakaran, dan perang kelas dapat dihilangkan seluruhnya. Seperti yang telah dilakuka
dalam bidnag ekonomi dan harta benda, Islam juga telah menempatkan hubungan pria dan
wanita pada tempat yang realistis dalam pandangan kualitas emosional umat manusia. Karena
kecemburuan dapat melahirkan kebencian dan perang, dan salah satu sebab kecemburuan adalah
hasrat seksual, sebab yang paling penting yang menghasilkan hasrat seksual adalah pencampuran
se tanpa pembatasan, telah dilarang dalam Islam. Hukum islami telah menspesifikkan kategori
wanita yang tidak dapat dijadikan istri seperti ibu, saudara perempuan, anak perempuan dari
saudara kandung, ibu mertua, dua wanita yang bersaudara, menantu perempuan, dan lain-lain
yang memiliki hubungan darah yang dekat dan mereka yang, dengan hubungan pernikahan,
mendapatkan status tersebut. Pencampuran bebas antar laki-laki dan perempuan yang tidak
masuk dalam kelompok ini tidak dianjurkan untuk mencapai sebuah masyarakat yang bersih. Hal
ini dikarenakan, sedikit banyak, laki-laki dan perempuan tertarik satu sama lain karena nafsu
seksual. Karena alasan ini sehingga laki-laki, umumnya menyukai teman perempuan, juga
sebaliknya. Secara sosial, kebutuhan moral sehingga hal ini tidak dianjurkan. Pernikahan
memperbolehkan pria dan wanita untuk melakukan sex dengan tujuan suci untuk melahirkan
keturunan, hal ini harus dianggap sebagai sebuah institusi moral yang agung di masyarakat
manapun dimana hukum kepemilikan akut berlaku. Oleh karena itu, keharusan untuk memiliki
kebebasan bagi laki-laki dan perempuan untuk memiliki hubungan dekat satu sama lain kecuali
dengan yang memiliki hubungan darah atau suami istri tidak seharusnya ada. Jika kebebasan
tanpa batasan tersebut ada, keakraban biasanya berkembang menjadi cinta yang kemudian diikuti
dengan seks, yang berbahaya bagi masyarakat yang tertata karena selain dari membesarnya
kecemburuan dan kebencian bahkan antar hubungan darah, pertanyaan tentang genetika bisa
menjadi persoalan. Jika seorang wanita melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu pria,
menjadikan wanita tersebut mungkin tidak selalu dapat mengetahui ayah dari anaknya dan
kegagalan ini dapat membongkar organisasi keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, larangan
dalam Islam pada pergaulan bebas pria dan wanita secara umum dan wanita tidak diizinkan
untuk menikahi lebih dari satu pria di saat yang sama, tidak seperti pria yang dapat dijelaskan
dengan adil.
Kemerosotan yang menakutkan pada nilai moral ketika membahas mengenai seks di
negara-negara barat pada umumnya dan masalah sosial ini telah menciptakan bagi banyak negara
Islamic Online University Aqidah 301
138
pada kebutuhan khusus tidak diulang di sini, ketika dunia sadar akan masalah besar ini dengan
tanpa solusi pada tahap ini kecuali mengadopsi norma-norma sosial dalam hal ini seperti yang
diberikan oleh Islam. Di saat yang sama, Islam telah menjamin kebebasan dengan takaran
tertentu dan penghormatan kepada wanita dengan realisasi penuh dan status alami wanita, yang
mereka sendiri terima sebagai “jenis kelamin yang lebih lemah”. Di negar-negara barat juga di
negara-negara timur, ketika hukum negara secara terpisah harus disusun untuk menyediakan
kesamaan bagi pria dan wanita dalam bidang-bidang tertentu, Islam telah menjamin hak-hak
istimewa ini sejak 1400 tahun yang lalu bahkan ketika wanita tidak begitu tercerahkan untuk
bahkan mengapresiasi bahwa mereka memiliki status seperti itu. Al-Qur’an menyatakan “Pria
adalah pelindung bagi perempuan” (4:34). Hal ini sejalan dnegan perintah Al-Qur’an yang jelas
bahwa bukan hanya istri yang harus diangkat dalam status ekonomi suami sebelum pria itu
menaruh tangan di atas tangannya, tetapi mahar tersebut yang menjadi milik istri tidak dapat
diambil kembali bahkan ketika bercerai, bahwa wanita memiliki hak atas harta benda dan
kekayaannya sendiri juga untuk mewarisi property dari keluarga yang meninggal: bahwa istri
harus diperlakukan dengan kebaikan dan mengerti bahwa wanita juga memiliki hak untuk
meminta cerai pada kasus tertentu, telah membuat kedudukan, sosial juga ekonomi wanita aman
dalam Islam, dimana tidak ada agama lain yang dapat berikan kepadanya. Secara alamiah, hak-
hak dan perlindungan seperti itu mewajibkannya untuk menjadi taat pada suami dalam beberapa
hal yang memiliki tanggungan sosial dan moral. Kesamaan hak yang sempurna adalah sebuah
pernikahan hanya ketika kita menyadari bahwa bahkan alam telah menciptakan wanita dengan
ketidaksamaan hak yang buruk terhadapnya sebagai konsepsi, keibuan, dan membesarkan anak-
anak melalui rasa sakit kala melahirkan, dengan kesabaran dan ketabahan yang hanya dimiliki
oleh wanita dan bukan oleh pria.
Sebuah aspek penting dari moral seksual Islami bahwa hal itu mengenali sifat alami pria
yang pada umumnya lebih superior secara fisik daripada wanita , bukan hanya soal pemikiran,
tetapi dalam kekuatan untuk membuat keputusan, tindakan dan tanggung jawab. Pria jarang ragu,
sedangkan sifat ini merupakan hal biasa bagi wanita. Selain itu, kekuatan seorang pria, kecuali
pada kasus yang langka, lebih superior dari pada wanita. Juga secara seksual, pria menunjukkan
hasratnya lebih jelas dibandingkan wanita. Bahkan di area prostitusi, yang merupakan kejahatan
sosial, wanita menjadi alas pemuas nafsu pria sangat jarang juga sebaliknya. Seorang wanita
biasanya menahan tersembunyinya yang besar, jika ada, sedangkan pria pada umumnya tidak
dapat melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, jika sejumlah besar pria secara biologi lebih
membutuhkan seks, bukannya mengizinkan cara ilegal dan anti sosial dengan prostitusi dan
asusila, Islam telah memberikan pria izin untuk mengijinkan pria menikahi lebih dari satu wanita
yang dapat ditanggungnya, menjaga semua istri sama secara sosial dan juga ekonomi. Pada
kenyataannya, selama masa perang ketika tawanan wanita ditangkap dalam jumlah besar atau
wanit-wanita yatim piatu ditinggalkan dibelakang karena kematian atau ketiak jumlah wanita
dibanding pria di masyarakat meningkat, ketetapan seperti itu menjadi rahmat. Cara lain atau
mengizinkan wanita-wanita itu untuk masuk pada prostitusi atau asusila, karena secara legal atau
illegal ada di banyak bagian di muka bumi, menjadi masalah sosial dimana tidak ada solusi yang
Islamic Online University Aqidah 301
139
ada kecuali melalui ketetapan seperti yang terdapat dalam Islam. Bahkan izin ini telah diperketat
sehingga tidak dipergunakan sewenang-wenang dengan membatasi jumlah maksimal yang
diijinkan pada satu waktu, yaitu empat, sehingga keturunan dalam ikatan perkawinan dapat
menjadi masyarakat yang terhormat, menikmati hormat dan hak legal warisan dan bukan sebagai
anak haram, seperti pada kasus masyarakat modern sekarang.
x. Kehidupan pribadi, sosial, dan bermasyarakat
Dalam bidang sosial, Islam memberikan kepentingan yang besar untuk persamaan
universal dengan pertama-tama menyatakan bahwa “semua muslim adalah saudara” (49:10), dan
seperti yang disabdakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam “seorang muslim tidak diperbolehkan
untuk makan sementara saudaranya kelaparan”. Penekanan besar ditempatkan untuk
kenyamanan dan ketidaknyaman orang lain serta menghindari gangguan pada orang lain.
Kejelasan dan keterusterangan dalam setiap perjanjian, menjaga kata-kata, persetujuan, janji-
janji, dan mencegah dari melakukan kejahatan seperti berkhianat, berselingkuh, berbohong,
menyembunyikan bukti, melakukan penipuan, pencurian, dan lain-lain. Selain menjaga kesucian,
pertunjukan kecantikan seseorang, yang mungkin dapat menarik perhatian orang-orang dan
bahkan terlibat dapat pembicaraan tidak penting dengan orang asing, telah dilarang bagi wanita,
dan pria diperingatkan untuk tidak memandangi atau tetap dalam pergaulan dengan wanita,
berduaan, pada waktu apapun untuk alasan apapun. Ketika wanita tidak hanya diizinkan tetapi
juga dianjurkan untuk mengambil tanggung jawab sosial, pemisahan antar jenis kelamin
dianjurkan. Hal ini untuk mengurangi pria dan wanita menjadi terlalu akrab satu sama lain yang
mungkin mengantarkan pada meningkatnya keinginan atau hasrat seksual antar mereka.
Bukannya menjadi sebuah perintah yang berdasar pada kecurigaan terhadap pria dan wanita, hal
ini dengan tujuan untuk mencegah setiap pelanggaran yang mungkin terjadi di masyarakat. Tidak
ada orang yang berperasaan atau pemahaman yang dapat menolak fakta bahwa ini merupakan
sebuah kewajiban untuk perkembangan masyarakat yang bersih dan seimbang sepanjang masa.
Penyebab utama dari hancurnya banyak pernikahan di masa kita, bukan hanya di negara-negara
barat tetapi juga tempat lain di dunia, mungkin dicari jejaknya hingga ke sumber hubungan
haram antara pria dan wanita selain dengan pasangan yang dinikahinya, awalnya berkembang di
kantor, fungsi umum, pesta, dan dansa yang kemudian diikuti dengan pertemuan-pertemuan
rahasia, dan seluruhnya disebabkan tidak adanya batasan satu sama lain. Pada kenyataanya,
ketika seseorang hanya mengenali keindahan pasangan sendiri, seseorang hanya akan tertarik
pada suami dan istri sendir. Tetapi ketika seseorang diperlihatkan pada kecantikan dan perbuatan
lawan jenis yang lain, sedikit banyak, pertimbangan pada kualitas pada pasangannya, pada
banyak kasus, seseorang cenderung merasa bahwa orang lain lebih menarik, anggun, dan
berbakat dan tidak dimiliki oleh pasangannya, sifat alami manusia untuk memperoleh apa yang
dianggapnya lebih baik, secara benar atau secara salah. Setiap orang yang cerdas memahami
masalah ini tengah dihadapi oleh masyarakat. Oleh karena itu, Islam telah mengambil langah
yang tepat untuk mencegah kejahatan sosial ini bahkan dari mencoba untuk mengangkat kepala
Islamic Online University Aqidah 301
140
dengan mengizinkan hubungan tak terbatas dengan wanita dan pria tertentu dan melarang yang
lainnya demi kebaikan.
Kita telah memabahas struktur ekonomi dalam filosifi dan cara hidup Islami lebih awal,
menjelaskan bagaimana Islam telah menunjukkan jalan yang benar untuk mengembangkan
sebuah ekonomi yang seimbang bagi individu, masyarakt, negara dan dunia secara keseluruhan
dibawah paying Islam, menjadi pelengkap satu sama lain, bebas dari ekploitasi, konfrontasi, dan
perang kelas. Selain itu, dalam sistem apapun, benar atau salah, peringatan yang tepat, petunjuk,
kebijakan dan hukuman yang tepat sangatlah penting utnuk menjaga individu dan juga
masyarakat luas dalam standar islam tanpa pengecualian. Fungsi ini yang merupakan aspek
penting dalam jalan Islam dilaksanakan oleh dua institusi yang disebuh sebagai hukum syariah
dan “ mendukung kebaikan dan melarang kejahatan”.
Pelaksanaan shalat wajib lima waktu setiap hari bagi setiap pria dalam jamaah, bahu
bersentuhan dengan bahu, mereka yang pertama datang mendapati tempat terdepan tanpa ada
pemesanan berdasarkan perbedaan sosial dan warna kulit: pelaksanaan ibadah ahji selama
perkumpulan tahunan di Mekah dan sekitarnya selama minggu kedua dalam penggalan Hijriah
pada bulan Zulhijjah tiap tahunnya, juga ibadah Umrah di masjid suci, juga di Mekah sepanjang
tahun dalam ketaatan dan kepasrahan sepenuhnya untuk memenuhi panggilan Allah kepada
orang-orang dengan kesehatan dan alat-alat dari seluruh dunia sebagai saudara yang sama tanpa
diskriminasi sosial, ras, dan warn kulit (setiap pria berpakaian dengan pakaian sederhana, unik
dan simbolis, dua meter panjangnya sedangkan wanita berpakaian sederhana tetapi modis:
makan dengan membagi jenis makanan yang sama yang tersedia bagi jutaan manusia: tidur di
tempat terbuka atau tenda di tengah cuaca dan lingkungan panas gurun pasir, sangat jarang,
nyaman), mengingatkan umat Islam pada kesamaan mutlak yang Islam berikan kepada tiap
Muslim. Selama ritual haji, wanita, harus berpakaian lengkap, hanya memperlihatkan wajah dan
telapak tangan, dengan kesederhanaan.
Dalam Islam, tidak ada hari istirahat khusus atau wajib (hari sabat) seperti sabtu bagi
Yahudi atau minggu bagi Kristen dimana orang-orang tidak bekerja. Dalam Bahasa Yahudi juga
dalam Bahasa Arab “Sabat” berarti sabtu. Namun, hal ini merupakan sebuah kewajiban bagi
setiap muslim yang mampu secara fisik untuk menghadiri shalat Jumat berjamaah, dan lebih
disarankan, pada masjid lokal ketika, mendahului shalat, sebuah khotbah yang disampaikan dari
mimbar oleh imam jamaah dalam topik penting yang berhubungan dengan persoalan agama dan
sosial berkenaan dengan persaudaraan juga kebutuhan untuk memperkuat keimanan orang-orang
yang beriman kepada Allah Yang Maha Agung. Setelah shalat Jumat ini berakhir, orang-orang
dapat melanjutkan pekerjaan mereka seperti biasa. Para wanita juga dapat ikut shalat Jumat, jika
mereka mau, seperti halnya shalat berjamaah lainnya yang tempatnya biasanya dipisahkan di
dalam masjid. Perintah untuk mendirikan shalat sebanyak mungkin di masjid dan secara
berjamaah pada waktu-waktu yang ditentukan serta untuk melaksanakan shalat Jumat wajib di
masjid terdekat bagi semua laki-laki yang mampu, memiliki makna sosial yang mendalam yang
melekat pada mereka karena mereka tidak hanya memberikan kesempatan untuk membuat ikatan
Islamic Online University Aqidah 301
141
persaudaraan antara satu sama lain lebih kuat tetapi juga untuk mengetahui kondisi sosial dan
ekonomi satu sama lain, di mana bantuan persaudaraan dapat diberikan kepada yang tidak
mampu dan yang membutuhkan secara sukarela.
Perintah tentang perlunya melakukan shalat wajib lima kali sehari pada waktu yang
ditentukan, sebaiknya dilakukan berjamaah dan di masjid, semua ditujukan menghadap Ka'bah di
Mekah dari mana saja di dunia - simbol yang dianggap sebagai rumah pertama di muka bumi
yang dibangun oleh nabi Ibrahim untuk penyembahan "Allah yang Esa" - tampaknya mengingat
Allah setiap hari berkali-kali serta bersyukur kepada-Nya atas kebaikan serta petunjuk-Nya yang
tak terbatas bagi setiap individu, terlepas dari latihan untuk menanamkan pentingnya ketepatan
waktu, keseragaman dan kesetaraan di antara semua Muslim. Mencuci semua bagian tubuh yang
terbuka (berwudhu) sebelum mengucapkan doa, menyikat gigi sebanyak mungkin dan
mengenakan pakaian bersih, sebaiknya putih, diarahkan untuk menanamkan kebiasaan hidup
bersih. Mandi setelah berhubungan seksual untuk laki-laki dan perempuan dan setelah siklus
menstruasi bulanan bagi wanita menjadi penting karena tubuh menjadi lelah setelah peristiwa-
peristiwa ini dan, oleh karena itu, untuk menjaganya agar tetap higienis, tidak ada mandi yang
sebaik dan sebersih itu. Tidak berarti bahwa perintah ini untuk mandi setelah hubungan
seksual yang sah adalah karena tindakan itu dianggap tidak bersih sebagaimana yang
dilukiskan oleh beberapa kritikus Islam. Diketahui bahwa praktisi profesi medis tidak meragukan
bahwa selama siklus menstruasi dan selama melahirkan bayi, banyak darah kotor dan materi lain
yang dibersihkan dari tubuh wanita dan untuk membersihkan tubuh mereka, satu-satunya cara
adalah dengan mandi. Demikian juga diterima oleh profesi medis bahwa ekskresi sistem
pencernaan dan peredaran darah kotoran dan air seni dari semua spesies hewan, termasuk
manusia, tidak higienis dan tidak bersih. Oleh karena itu, dan benar juga, dalam kode ilmu
kesehatan Islam kedua ekskresi manusia; seperti halnya hewan dan burung, telah dianggap tidak
bersih, dibutuhkan agar bagian tubuh manusia yang dibuang serta bagian tubuh manusia atau
pakaian yang bersentuhan dengan ekskresi basah ini untuk dicuci sepenuhnya dengan air bersih.
Di bidang sosial, beramal (sedekah) kepada orang miskin dan yang membutuhkan dengan
mengidentifikasi mereka telah sering diperintahkan oleh Islam pada semua Muslim. Sebagai
tambahan, pembayaran dari Zakat wajib (berbagi rezeki kepada orang-orang yang kurang
beruntung di masyarakat), puasa wajib selama dua puluh sembilan atau tiga puluh hari, seperti
yang mungkin terjadi, selama bulan Ramadhan setiap tahun dengan menahan diri dari semua
jenis makanan, minuman dan merokok dari fajar hingga senja juga telah ditetapkan untuk semua
pria dan wanita yang berbadan sehat. Berpuasa secara alami dapat membuat kita memikirkan
setiap orang yang mengalami kesulitan dan kesengsaraan serta kelaparan, hari demi hari, dengan
demikian mendorong masyarakat secara keseluruhan untuk memastikan bahwa tidak ada orang
yang benar-benar kelaparan karena kekurangan makanan dan air, hal yang paling penting untuk
mempertahankan kehidupan, setelah udara.
Dengan demikian, secara sosial, setiap Muslim diharapkan untuk benar-benar bersih,
dalam tubuh, pikiran, ucapan, perilaku dan tindakan sebaik mungkin dan bersemangat untuk
Islamic Online University Aqidah 301
142
membantu satu sama lain, saling berbagi kemakmuran dan duka cita sehingga masyarakat
berkembang secara keseluruhan seperti satu tubuh yang merasa rasa sakit atau ketidaknyamanan
yang ditimbulkan pada bagian mana pun dari anggota badan sosial. Tentu saja, tidak
mengherankan bahwa menjaga kebersihan dan penuh kasih ke sasama saudara Muslim, perhatian
terhadap kesejahteraan saudara-saudara yang lain, umat Muslim sangat prihatin dengan para
pemeluk agama mereka di luar negeri di luar batasan-batasan kebangsaan yang biasanya diterima
secara wajar. Semua harus makan dari piring yang sama serta minum dari cangkir yang sama,
seperti yang diharapkan oleh Islam. Ini adalah cita-cita sosial yang diproyeksikan oleh Islam
untuk mengembangkan model masyarakat yang adil tidak hanya untuk kelompok, masyarakat,
dan desa atau kota saja, tetapi untuk sebuah negara dan bahkan untuk seluruh dunia.
Perang Suci (Jihad) dan Perlakuan Non Muslim
Melawan musuh yang kejam untuk penjagaan diri, membela diri dan untuk menjaga
Islam atas perintah Imam (pemimpin Muslim), ketika musuh kafir terus menindas agama, adalah
perbuatan iman yang diperintahkan pada setiap Muslim oleh Allah melalui Al-Qur'an dan oleh
nabi, yang pahalanya adalah kesyahidan, keabadian dan surga yang kekal. Seorang Muslim harus
berjuang sampai mati untuk tujuan Islam atau sampai dia bebas untuk menjalankan praktik
keimanannya. Gencatan senjata hanya dapat diterima, dan hanya selama musuh terlalu
menjunjung tinggi ketentuan perjanjian dan kemudian tidak ada lagi perang yang diizinkan. Al-
Qur’an menyatakan; "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di
jalan Allah, [bahwa mereka itu] mati; bahkan [sebenarnya] mereka itu hidup, tetapi kamu tidak
menyadarinya.," dan "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu
mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Dan terhadap orang-
orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati." (2:164; 3:169, 170).
Bahkan, menurut hukum buatan manusia pun, jasa orang-orang yang menjadi korban karena
membela kemerdekaan akan selalu diingat dan keluarga korban yang ditinggalkan juga akan
dibantu dengan baik. Islam juga menganut pandangan sama perihal menghargai mereka yang
meninggal di jalan Allah. Ketika seorang muslim mencintai Allah dan agamanya lebih dari
apapun, artinya ia juga telah siap untuk meninggal di lapangan pertempuran membela prinsip
keimanannya. Jika musuh menawarkan untuk damai dan menjamin untuk berhenti melakukan
penindasan dan kekacauan, maka perang pun juga harus berhenti demi menghargai perjanjian
perdamaian, selama pihak musuh juga tidak melanggar kesepakatan perdamaian yang telah
disetujui. Menepati janji dan sumpah suci serta memenuhi kesepakatan adalah kewajiban bagi
umat Islam.
Dalam Islam, tidak ada larangan bagi non-muslim untuk bekerja dalam pemerintahan
atau posisi kenegaraan lainnya yang tidak mewajibkan mereka mematuhi hukum Syariah Islam.
Hal ini masuk akal karena dalam sebuah Negara Islam yang mayoritas masyarakatnya adalah
Islamic Online University Aqidah 301
143
muslim, seorang non-muslim tidak diwajibkan juga tidak diharapkan untuk mengikuti nilai-nilai
dan hukum Islam. Sehingga, seorang non-muslim tidak dapat menjadi kepala negara Islam.
Seperti halnya kewajiban membayar zakat bagi kaum muslim, dimana sebagian dari pembayaran
zakat tersebut digunakan untuk keperluan pertahanan dan militer Islam, orang-orang non-
muslim, yang tidak diwajibkan membayar zakat, diwajibkan untuk membayar pajak keamanan
atau “Jizya” (sebagai simbol menjadi warga negara yang patuh kepada otoritas negara). Dengan
membayar pajak keamanan ini, mereka pun diberikan jaminan perlindungan oleh negara (9:29).
Dalam negara Islam, tidak diperbolehkan ada hukum yang melanggar aturan dalam Al-Qur’an.
Semua warga negara non-Muslim yang tidak menentang nilai-nilai agama Islam memiliki
kebebasan yang sama dengan umat Islam, termasuk kebebasan dalam beribadah. Perihal urusan
ini, Al-Qur’an jelas menuliskan:
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, [tetapi]
janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu
jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu
[Mekah]; dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah
kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu
di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu [di tempat itu], maka bunuhlah mereka.
Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti [dari
memusuhi kamu], maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan
[sehingga] keta’atan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti [dari
memusuhi kamu], maka tidak ada permusuhan [lagi], kecuali terhadap orang-orang
yang zalim. (2:190-193);
Telah diizinkan [berperang] bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya
mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa
menolong mereka itu. (39) [yaitu] orang-orang yang telah diusir dari kampung
halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan
kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak [keganasan] sebagian
manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani,
gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di
dalamnya banyak disebut nama Allah... (22:39,40);
Tidak ada paksaan untuk [memasuki] agama [Islam]; sesungguhnya telah jelas jalan
yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada
Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui. (2:256).
Islamic Online University Aqidah 301
144
Ayat-ayat Al-Qur'an diatas ditunjukkan untuk membantah semua kesalahpahaman
tentang persoalan toleransi agama, perang antar-agama, dan propaganda terhadap Islam yang
sayangnya telah tertanam di dalam pikiran orang-orang non-muslim. Tidak ada kecacatan dalam
agama Islam, begitu juga dalam penganutnya yang benar-benar murni mengikuti ajaran Islam,
baik di masa Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam) maupun di masa setelah kematiannya
sejak 1400 tahun yang lalu.
Beriman di Dunia dan di Akhirat
Umat Islam meyakini bahwa setiap perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan
nantinya. Semua manusia yang sebelumnya meninggal akan dibangkitkan kembali untuk
menghadapi perhitungan akhir pada ‘hari terakhir’ semesta, hari ketika “bintang-bintang telah
dihapuskan, dan apabila langit telah dibelah, dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan
menjadi debu" (77:8-10) "dan apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di
dalamnya dan menjadi kosong" (84:3,4), dan kemudian perhitungan akan dilakukan dengan adil
sesuai dengan total keseluruhan perbuatan yang dilakukan manusia semasa hidupnya di dunia
ini, baik dan buruk. Perhitungan ini dilakukan karena manusia tidak dapat menilai secara
obyektif tentang apa yang baik dan buruk bagi mereka sesuai dengan pedoman yang diturunkan
kepada mereka di berbagai masa melalui berbagai nabi. Pilihan baik itu pada kebaikan ataupun
keburukan terletak pada sejara jujur di pundak tiap individu sendiri sama halnya dengan hukum
sebuah negara yang juga berjalan. Al-Qur’an sangat terang pada hal ini, seperti yang terdapat
dalam 11:115;” Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala
orang-orang yang berbuat kebaikan. “Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan
sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (36:54).
Disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa perbuatan baik dari tiap orang dicatat dalam buku amal,
secara khusus untuk tiap orang, oleh dua malaikat yang taat, satu malaikat mencatat amal baik
dan satu malaikat mencatat amal buruk (50:16,17;18), dan pada hari penghakiman, setiap buku
catatan amal dari tiap orang, yang “tidak meninggalkan yang besar ataupun kecil kecuali dicatat”
akan diperlihatkan dihadapannya sebagai bukti nyata dalam hubungan ini sebagai bukti untuk
atau terhadap tiap perbuatan (8:49). Menjaga catatan yang tepat dari tindakan tiap orang adalah
mungkin bahkan bagi manusia maju dengan bantuan computer dapat memberikan gagasan yang
jelas kepada kita bagaimana Allah, Pencipta setiap orang yang membuat computer, juga semesta
alam seluruhnya, mampu untuk mendapatkan dokumen dengan diinginkanNya dengan alat-alat
yang lebih hebat dan efisien sesuai kehendakNya, oleh karena itu tidak ada hal yang tak
terbayangkan atau luar biasa dalam masalah ini. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa “di
hari akhir”, tiap dan semua orang akan dihakimi dengan adil berdasarkan buku catatan amal
perbuatan sehingga tidak ada alasan atau campur tangan dari siapapun tanpa izin dari Allah yang
akan diterima.
Islamic Online University Aqidah 301
145
Konsep Surga dan Neraka
Pahala dan hukuman hanya ada dua, baik itu kehidupan yang kekal di surga, menikmati
dan menyenangkan diri pada semua hal baik dan seluruhnya sesuai dengan yang dinginkan
dengan rahmat dan hadiah dari Allah, atau sebuah kehidupan yang kekal di neraka, diberikan api
yang membakar dengan kotoran, serta segala hal yang buruk dan menakutkan. Sejauh dengan
spa yang manusia harus hadapi di surga tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an kecuali pengetahuan
bahwa hal tersebut berbeda dengan keberadaan manusia di dunia , di sebuah pesawat yang
berbeda dimana kepedulian, kekhawatiran, kematian atau kebutuhan mungkin tidak ada.
Sebaliknya, kebun kemakmuran dimana kedamaian, kebahagiaan, dan ketenangan dalam
kehadiran Allah yang agung di tengah-tengah orang-orang baik seperti para nabi, para syuhada,
orang-orang saleh dan jujur, semuanya hidup selamanya. Setelah kehancuran alam semesta, apa
yang terjadi selanjutnya adalah keputusan Allah, Perencana, Pengatur, dan Pencipta segalanya.
Petunjuk Ilahi bagi Tiap Manusia
“Suara hati” disetiap hati manusia menurupakan “petunjuk Ilahi” dari Allah yang
mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan mencegah agar tak memikirkan atau berbuat
keburukan. Namun, keegoisan diri manusia yang diperkuat dengan upaya godaan para setan
mengalahkan suara hati seseorang menjadi mangsa godaan setan. Hanya orang yang jatuh pada
jebakan dan melakukan perbuatan jahat , dirinya sendiri menjadi sepenuhnya dan seluruhnya
bertanggung jawab untuk dan semua tindakan dibawa pada gerakan dikarenakan pilihannya
sendiri, Allah tidak pernah pilih kasih kecuali pada tingkat hingga Dia meridhai seluruh
tindakan. Akibat dari setiap tindakan, baik atau buruk, dapat dihubungkan dengan hukum Allah.
Namun, semua itu adalah hasil dari keputusan manusia. Untuk membantu anak adam, Allah telah
menyediakan petunjuk melalui kitab dan wahyu dikirimkan kepada nabiNya hingga akhirnya
melalui pilihan “suara hati” seseorang yang seluruhnya bertujuan untuk menaruh mereka dalam
kebaikan , oleh karena itu, khususnya sebagai akibat dari keputusan yang diambil oleh manusia
akan dijawab oleh diri mereka sendiri.
Politik dan Hukum
Manusia menjadi “wakil” Allah di muka bumi, kesetiaan dan ketaatan manusia harus
kepada Allah semata. Umat Muslim adalah pengurus administrasi hukum Allah diantara
manusia. Pokok dari prinsip dasar ini, orang terbaik di antara umat Muslim yang dipilih sebagai
pemimpin umat muslim dan pemimpin ini bertanggung jawab untuk kesejahteraan rakyat dalam
segala bidang, spiritual, pilik, ekonomi, dan sosial. Dalam segala hal mengenai hukum Islam,
termasuk hukum mengenai kejahatan dan hukuman , Imam harus mengikuti hukum Al-Qur’an
dan ajaran Nabi Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) dan setiap aspek dalam kehidupan
Islamic Online University Aqidah 301
146
umum yang tidak dicakup oleh dua prinsip di atas untuk diputuskan dalam dasar konsensus dari
para penasehat yang dipilih dari Muslim yang “baik” dan berpengetahuan, tetapi tidak ada
keputusan yang bertentangan atau mengabaikan larang khusus dalam Al-Qur’an atau ajaran
khusus Nabi dalam hal ini mungkin dikembangkan oleh consensus seperti itu bahkan oleh para
doktor hukum agama. Oleh karena itu, hanya karena separuh dari dunia telah menerima sistem
khusus yang bertentangan dengan hukum yang diberikan oleh Allah melalui Al-Qur’an, sebagai
contoh, kasus hukuman mati seorang pembunuh yang menurut consensus modern adalah
bukannya menghukum mati pelaku pembunuhan, dia malah harus dikirim ke penjara untuk
mengubah karakter mental- hal ini tidak dapat diadopsi juga oleh umat Muslim karena dianggap
bahwa hal ini bertentangan dengan perintah Al-Qur’an yang telah menjelaskan hukum
“kesamaan” (Qisas), dimana hukuman dari pembunuh ialah kematian, kecuali pihak yang
dirugikan dipersiapkan untuk menerima “uang darah” atas pilihan sendiri. Hukuman “resmi”
dijelaskan oleh hukum syariah Islam berdasarkan Al-Qur’an dan teladan yang ditunjukkan oleh
Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam) harus dilaksanakan oleh penguasa tanpa menunjukkan
rasa kasihan. Hal ini adalah penghindar untuk meminimalisir kejahatan telah sepenuhnya
dibuktikan di kerajaan Saudi Arabia, dimana hukum syariah Islam, dengan hukum drastis atas
perintah Allah, telah dengan sukses berlaku di kalangan umat Muslim juga di kalangan non
muslim berkewarganegaraan asing, selama empat dekade terakhir, menjadikan negara ini sebagai
negara unik di dunia dimana tingkat kejahatannya terendah. Hal tersebut juga tidak bisa
dilupakan bahwa bahkan kini terdapat teriakan dari orang-orang, khususnya di Amerika Serikat
dan Inggris, untuk memperkenalkan kembali hukuman mati kepada pembunuh dan pemerkosa
karena jenis kejahatan ini dicatat meningkat, menjadikan keamanan dan kesucian orang-orang
terancam.
Terdapat kesalahpahaman bahwa Islam telah mengajarkan hanya pemerintahan yang
demokratis dan sehingga yang disebut raja tidak dapat diterima. Gagasan tersebut bertentangan
dengan Islam. Islam telah menjaga hal ini terbuka bagi orang-orang untuk memutuskan. Pada
kenyataanya, Al-Qur’an menyatakan bahwa Daud dan Sulaiman (alaihissalam) merupakan Raja
sekaligus Nabi. Penerimaan penguasa oleh orang-orang sangatlah penting. Penguasa yang penuh
kebaikan (pemimpin yang bermoral baik yang menempatkan sesuatu pada tempatnya untuk
menjaga semua lapisan masyarakat bahagia dan puas juga keamanan dan kehormatan tiap
individu, ketersediaan kebutuhan dasar dengan harga yang dapat ditanggung, kesejahteraan
sosial dan kesetaraan untuk bangkit di semua bidang di seluruh bagian dalam negara
diperhatikan), sehingga harus diterima oleh semua Muslim bahwa Ia dapat diterima oleh mereka
karena kepantasannya tanpa tergantug dengan apakah dia dipilih, mengangkat diri sendiri, oleh
seseorang, beberapa orang, atau sekelompok orang. Tidak boleh dilupakan bahwa bahkan cara
demokratis juga cara komunis sebuah pemerintahan, sebagian kecil orang-orang yang kuat,
beberapa kali cukup besar tapi kurang dari sebagian dari total populasi negara demokratis dan
bahkan sebagian besar orang di negara komunis, dipaksa untuk patuh pada keputusan pihak
penguasa meskipun oposisi, juga diharapkan untuk mewakili puluhan juga orang, tidak setuju
dengan kebijakan dan cara penting dari pihak yang berkuasa. Pada kenyataannya, contoh paling
Islamic Online University Aqidah 301
147
baik yang dicontohkan oleh Khalifah pertama Islam memberikan penerangan tentang bagaimana
seharusnya Imam orang Muslim. Abu Bakar pada pemilihannya sebagai Khalifah pertama
setelah wafatnya Nabi di Manidah, telah meminta rakyat untuk patuh kepadanya selama dirinya
patuh kepada Allah dan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam), dan tentang Umar II (Bin
Abdul Aziz), yang dijadikan khalifah ke-5, dikatakan bahwa, dia mencucurkan air mata,
memohon kepada Allah agar memberikan ampunan kepadanya, karena ia tidak tau jawaban apa
yang akan diberikannya pada “hari kiamat” jika ditemukan bahwa rakyat menderita kelaparan
dibawah pemerintahannya! Semua khalifah pertama selalu bekerja untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya sendiri dan hanya menerima gaji sedikit dari pemerintahan untuk pekerjaannya dan
pada kebanyakan kasus tidak mengambil gaji sama sekali. Empat khalifah pertama pernah
menanyai para penasehat mereka hanya pada beberapa kasus, karena Al-Qur’an dan Sunnah
Nabi menjadi pembimbing bagi mereka
Sistem Islami, telah membuka jalan untuk kesejahteraan penuh sebuah negara untuk
kemajuan umat Muslim juga orang lain secara politik, sosial, moral, spiritual, ekonomi dan
dalam urusan dunia yang menyuburkan pengetahuan, tubuh, pemikiran, sosial masyarakat rakyat.
Setiap tindakan dalam Islam ditujukan untuk mencapai akhir, mendorong manusia untuk
mencapai pribadi dan kehidupan sosial yang bersih, secara nasional dan internasional sejalan
dengan hukum alam dan lingkungan dengan dasar pada perintah Allah dan ajaran para Nabi.
Seorang non-muslim mungkin terkejut dengan kenyataan bahwa ajaran Nabi pada rakyatnya
1400 tahun yang lalu adalah untuk pergi mencari ilmu walau bahkan sampai ke negri Cina,
mengetahui sepenuhnya bahwa pengetahuan yang ada di sana juga merupakan pelajaran bagi
Islam.
Islam juga mewajibkan ketaatan dan kepatuhuan diri hanya kepada Allah serta ketaatan
pada ajaran Islam, seorang Muslim harus patuh pada aturan kebaikan dari penguasa siapapun
yang memimpin di negaranya. Seorang muslim dapat bertahan atau melawan hanya jika dirinya
atau masyarakat muslim dilarang untuk menjalankan ajaran Islam. Ajaran tersebut, pada
kenyataannya justru mengizinkan seorang Muslim untuk hidup dengan damai bukan hanya di
negara Islam, tetapi juga bahkan di negara non-muslim pendekatan realistis untuk hubungan
dunia tentunya. Al-Qur’an menyatakan bahwa seorang Muslim memiliki kebebasan penuh untuk
mencari rezeki yang halal di dunia ini juga untuk mencari ilmu melalui pengamatan pada diri,
lingkungan juga pada cakrawala luas di sekelilingnya untuk mendapati karunia, kegemilangan,
dan fungsi alam semesta secara keseluruhan, yang bahkan lebih luar biasa dibandingkan dirinya
sendiri- untuk mendapatkan konsep kuat akan kekuasaan dan kekuatan Allah yang telah
merencanakan dan menciptakan mereka untuk berkerja dalam harmoni dengan batasan dan
aturan tertentu. Oleh karena itu, Islam menganjurkan orang-orang yang beriman untuk
melakukan penelitian, mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat memperkaya
diri, pikiran dan lingkungan.
Islamic Online University Aqidah 301
148
Filosofi Hidup dalam Islam
Al-Qur’an menyatakan, “Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang
ada di antara keduanya dengan bermain-main” (21:16): bahwa Islam adalah Agama di sisi Allah
(3:19), bahwa Jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah” (51:16); bahwa
“umat Muslim adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (3:110); dan “Kami telah
menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan, untuk
menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan
kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.” (56:60,61), “(Yaitu) pada hari
(ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka semuanya
(di padang Mahsyar)”(14:48). Dapat dipahami dari Al-Qur’an bahwa kehidupan manusia di
dunia ini merupakan bagian kecil jika dibandingkan dengan kehidupan abadi sesudah mati,
dimana dia harus hidup, apakah itu dnegan menikmati kenikmatan surga atau dihukum di neraka,
sesuai dengan catatan dalam “ Buku amalan” yang dibuka untuknya pada hari pengadilan setelah
kebangkitan. oleh karen itu, pilihan akan surga dan neraka berada di tangan manusia sendiri.
Allah Maha Adil, memimbing manusia dalam hidupnya yang hanya satu kali di muka bumi
kejalan yang benar tanpa memaksanya untuk melawan keinginannya yang tiap jalan merupakan
ujian dari kecerdasan dan akhirnya membalas perbuatannya dengan surga atau neraka. Dalam
kekuasaanNya sebagai Pemilik Segala Kekuatan”, serta kasih sayang dan cinta, khususnya
pada umat manusia, Allah tidak hanya memberikan ampunan kepada manusia yang berada di
jalan yang salah lalu memohon ampun kepadaNya atas perbuatannya, berjanji untuk berada di
jalan Islam tanpa ingin kembali kepada pemikiran, perkataan dan perbuatan yang salah, tetapi
Allah juga membantu manusia melalui wahyuNya, menjadikan manusia dapat terus berada di
jalan yang benar jika sendiri ingin melakukan demikian. Ampunan yang di janjikan Allah
berkali-kali, mengharuskan manusia untuk ikhlas dan tidak munafik. Hal ini cukup jelas dari
Allah bahwa Allah memberikan kesempatan yang seperti itu kepada manusia selama hidupnya di
bumi, tetapi juga memberikan peringatan bahwa setelah menjalani kehidupan yang jahat, kejam,
serta ingkar pada bimbingan Allah, jika seseorang memohon ampun hanya baik ketika ia berada
di ambang kematian dengan sedikit kebaikan sebagai amalan di “hari akhir” dimana semua
wajah menghadapi penghakiman atas perbuatan di dalam “buku catatan amal”, permohonan
ampun seperti itu tidak diterima oleh Allah. Orang seperti itu tidak diberikan lagi oleh Allah
kesempatan untuk hidup dunia atau dimanapun untuk berubah.
Islam tidak mentoleransi untuk menyekutukan Allah dalam kekuatan, penyembahan atau
pemujian, atau memberikan ketaatan kepada selain Allah, dimana berhala, anak, istri, keluarga
atau kawan juga dapat dimasukkan dalam golongan itu. Dia Maha Esa, tanpa awal, akhir, tanpa
batasan ruang dan waktu dan Maha Mengetahui, Maha Kuasa. Ketia Dia berkehendak untuk
menjadikan sesuatu, Dia hanya berfirman Jadilah”, maka jadilah ia”. Dia Maha Kuasa, Maha
Mengetahui, Maha Ada, tanpa batas dan sangat penting. Perencana, Pendesain, Pencipta,
Pemelihara, segala apa yang ada di langit dan di bumi. Allah Maha Adil, Maha Pengasih dan
Islamic Online University Aqidah 301
149
Penyayang kepada seluruh makhlukNa. Inilah keimanan umat Muslim. Semua hal di atas
menunjukkan bahwa alam semesta dan selurh manusa telah diciptakan dengan tujuan khusus
dalam pandangan, dimana Allah, sang Pencipta, Yang Maha Mengetahui!
Kesimpulan
Seperti yang terdapat dalam analisis rinci sebelumnya, hal tersebut cukup jelas bahwa
aturan dan hukum Islam dalam seluruh kehidupan manusia memiliki tujuan dan juga rasional,
bertujuan untuk perkembangan sebuah masyarakat yang teratur dengan dasar nilai moral dan
cinta spiritual untuk menyusun negar yang sejahtera dimana “susu dan madu” dapat mengalir,
bukan sebagai paksaan, tetapi sebagai hasil dari usaha jujur dari tiap anggota masyarakat
berdasarkan kebutuhan dan kesepakatan bersama, mengantarkan pada era kepenuhan dan
kesyukuran. Di dalam masyarakat yang seperti tiu, segalanya harus dilakukan dengan cinta dan
tanpa paksaan sama sekali dalam keberlimpahan seperti itu, bukannya berdasarkan kebutuhan,
hal-hal akan didistribusikan berdasarkan kewajiban. Lihatlah betapa bertolak belakangnya
pendekatan ini pada kehidupan manusia dibandingkan dengan kehidupan masyarakat dalam
perang kelas tiada henti dan konfrontasi yang berasal dari cara hidup manusia, seperti
komunisme. Sehingga, dikarenakan pengabaian pada praktik agama Islam, yang telah
diwahyukan oleh Allh untuk kesetaraan bagi seluruh manusia, beberapa filsuf abad ke-19
membuat teori dan praktik baru seperti “komunisme” dengan pengetahuan yang sedikit dan
terbatas pada potensi dan kebiasaan manusia, juga alam disekelilingnya dengan harapan palsu
untuk menciptakan zaman yang penuh dengan kepuasan. Selama awal abad ke-20, organisasi
Bolsheviks memunculkan negara komunis sebagai obat mujarab inaugurasi era sosialis yang
sejahtera” dengan penjajahan tanpa belas kasih dan pembunuhan kaum borjuis jugan ploretariat
dengan prinsip akhir menentukan tujuan”, dengan gagasan bahwa hidup manusia pada
dasarnya merupakan sebuah perang kelas antara kaum borjuis dan ploretariat, dan dalam
kesalahan berpikir bahwa negara sosialis yang sejahtera dalam konsep mereka dapat dibawa pada
kehidupan nyata dengan konfrontasi, perang kelas dan pembunuhan tetapi bukan dengan cinta.
Namun, setelah enam puluh lima tahun, saat ini persaudaraan Komunis dan internasional yang
semula telah berevolusi menjadi partai kaum proletariat masih berfungsi sebagai partai di atas
mereka namun terus membicarakan tentang apa yang disebut perusakan kaum borjuis! Hasil
bersih dari persidangan baru adalah bahwa dunia dan, mungkin juga kepemimpinan Komunis itu
sendiri, menemukan bahwa semua sistem Komunis yang diantarkan ke Rusia hanyalah "konsep
utopis" lain karena alasan sederhana bahwa, setelah semua praktik konsep di bawah kesaksian
para ahli, spesialis, dan orang-orang partai selama lebih dari enam dekade, negara Komunis
masih harus hidup dengan kekurangan besar termasuk bahan makanan yang dibutuhkan untuk
memberi makan rakyatnya, dan belum lagi tentang barang-barang lain yang terdiri dari
kebutuhan-kebutuhan pokok kehidupan modern! Apakah manusia dari zaman Sputnik ini
memiliki begitu banyak waktu untuk membuang-buang waktu lagi dalam mencoba "teori-teori
hewan peliharaan" satu demi satu? Setelah secara drastis gagal dalam "Teori Negara
Islamic Online University Aqidah 301
150
Kesejahteraan Komunis," maka mengapa tidak secara keseluruhan kembali ke filsafat praktis dan
meyakinkan yang dianjurkan oleh Islam? Setidaknya kita memiliki bukti sejarah yang konkret
bahwa ketika dicoba lebih dari sekali di masa lalu, Islam telah mampu membangun suatu tatanan
sosial tanpa kelas dan memuaskan yang tak tertandingi sejauh ini oleh sistem apa pun karena
tidak ada alasan lain selain didasarkan pada kedaulatan Allah, petunjuk Al-Qur'an dan ajaran
nabi yang suci. Bagaimanapun, ini adalah konsep yang sepenuhnya diperintahkan oleh sang
Pencipta dan Pengatur umat manusia serta seluruh alam semesta.
Dengan demikian, apabila kitab suci al-Qur’an dan kehidupan nabi terakhir Islam,
Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam), dipelajari dengan seksama dan dengan akal yang
jernih, seseorang tidak mampu tetapi diyakinkan bahwa Islam adalah '”Agama” yang berada
dalam resonansi dengan alam dan satu-satunya cara hidup yang telah dirancang untuk manusia
yang telah berkembang sepenuhnya tidak hanya untuk mencapai tujuan yang adil dari sebuah
negara kesejahteraan menyeluruh di dunia ini, tetapi juga untuk membebaskan jiwa melalui
upaya yang tulus serta rahmat Tuhan Semesta Alam untuk mencapai kehidupan kekal yang
bahagia setelah kematian. Bagaimanapun, manusia yang memiliki keterbatasan juga harus terus
ada setelah kematiannya dalam keadaan atau bentuk lainnya yang tidak diketahui karena tidak
ada apapun, khususnya jiwa, yang dapat dihancurkan untuk selamanya , dan untuk alasan-alasan
logis yang diuraikan sebelumnya, hal ini tidak dapat diasumsikan menyatu menjadi Ketuhanan.
Bahkan Islam, agama yang ditetapkan oleh Allah, yang merupakan satu-satunya pencipta alam
semesta, seperti agama bagi seluruh umat manusia menjelaskan hukum yang sangat alami ini
dengan menyajikan beberapa hal yang logis dan meyakinkan untuk mengetahui bentuk hal yang
belum diketahui yang menanti manusia setelah kematian. Tidak diragukan lagi, penjelasan yang
meyakinkan tentang tujuan untuk jiwa manusia setelah kematian telah dibuat oleh Allah
sehingga manusia dapat bekerja tanpa henti untuk pencapaian imbalan yang dijanjikan - surga
yang nyata dan berlimpah di mana seseorang akan menemukan hal-hal baik yang dia sukai dan
semuanya akan menjadi miliknya sendiri.
Dengan demikian, Allah, yang merupakan Sang Perencana, pencipta, penopang dan
pengatur alam semesta dan yang mengetahui sepenuhnya tentang masalah, pola perilaku dan
spesifikasi setiap ciptaan, besar atau kecil, juga telah menyatakan dengan benar bahwa Islam
adalah “agama dengan Allah” dan bahwa umat Islam adalah "umat terbaik, memerintahkan apa
yang benar, melarang apa yang salah, dan beriman kepada Allah.... (3:110). Dengan kode
kehidupan yang lengkap yang meliputi pemikiran, kontemplasi, ucapan, tindakan, perilaku dan
apa yang bukan dari individu, rumah, masyarakat dan hubungan internasional yang berlaku
untuk semua waktu yang ditetapkan oleh pencipta, Islam adalah satu-satunya agama dan cara
hidup yang menarik bagi logika, akal, hati nurani, ilmu pengetahuan dan selaras dengan alam
yang mengarah pada emansipasi jiwa melalui kehidupan yang bermakna di dunia ini diikuti oleh
kehidupan kekal yang bahagia setelah kematian dengan rahmat Tuhan Alam Semesta. Karena
alasan logis bahwa ketuhanan dan ciptaan menonjol sebagai dua entitas yang berbeda pada dua
tingkat yang sama sekali berbeda, yang satu adalah yang Mutlak dan paling mutakhir dari yang
Islamic Online University Aqidah 301
151
lain, pemikiran yang sangat kuat tentang menggabungkan satu sama lain setiap saat tampaknya
tidak ada apa-apanya melainkan sebuah ilusi. Lebih jauh, jika semua dari milyaran ciptaan antara
masa lalu yang tak terbatas dengan masa depan yang tak terbatas dianggap sebagai bagian
integral dari satu Ketuhanan dalam tindakan, untuk disatukan atau digabungkan satu sama lain
kadang-kadang seperti yang cenderung dijelaskan oleh beberapa filosofi keagamaan, akankah
apa pun selain ketuhanan tetap kekal? Bencana pemikiran seperti ini memalukan bagi akal,
logika dan ilmu pengetahuan. Sebagai gantinya, aktivitas kreatif Tuhan harus berlanjut hingga
tak terhingga, dan setidaknya satu keadaan praktis dan realistis dari keselamatan yang diperoleh
untuk jiwa-jiwa dari banyak orang baik di antara manusia, memungkinkan mereka untuk
menikmati buah dari kerja keras mereka semua hidup di bumi, harus tersedia bagi mereka setelah
wakktu terakhir. Era kehidupan manusia di bumi harus berakhir satu hari ketika bumi serta
lingkungannya dan alam semesta mungkin harus kembali menyesuaikan diri dengan perubahan
gravitasi dan yang lainnya karena sekaratnya sejumlah benda langit besar dan kecil yang ada
setelah habisnya masa kehidupan normal mereka yang telah digariskan.
Sungguh sangat menakjubkan hukum dan pedoman akhir yang diturunkan Allah ini.
Pedoman yang ditujukan untuk umat manusia maju 1.400 tahun lalu melalui wahyu-wahyu Al-
Qur’an dan melalui cara hidup yang dicontohkan Nabi Muhammad (Shallallaahu ‘Alaihi
Wasallam), dimana hidupnya, khususnya pada masa kenabiannya selama 23 tahun, masih murni
dan dapat diterapkan oleh orang-orang masa lampau, masa sekarang, maupun masa depan demi
kemajuan mencapai masyarakat sejahtera dan emansipasi jiwa setelah kematian! Carilah, maka
kamu akan menemukannya; mintalah, maka kamu akan diberikan!
Islamic Online University Aqidah 301
152
Bab 8
Jainisme
Jainisme diperkenalkan pada sekitar abad ke-6 S.M. oleh Vardhamana Mahavira.
Jainisme berusia hampir setua Agama Buddha dan dianut oleh mereka yang menyimpang dari
Agama Hindu. Dianggap dalam kanon Buddha sebagai lawan agama sekte “Nirgrantha (bebas
dari ikatan), Jainisme memiliki tatanan monastik. Pengikut Jainisme berjumlah kurang dari dua
juta orang dan pada umumnya tinggal di daerah utara India pesisir barat. Meskipun begitu,
kekayaan yang dimiliki pengikut ajaran Jainisme membuat mereka memiliki pengaruh besar di
negara yang berpopulasi 800 juta orang ini.
Tradisi Jain mengklaim bahwa Mahavira berasal dari garis keturunan dua puluh tiga
malaikat atau nabi sebelumnya (Thirthakas) yang disebut sebagai “Jaina” (penguasa atau
pemimpin), yang telah mencapai penebusan (Nirwana). Thirtanakara pertama yang mencapai
Nirwana adalah mahluk mitos Rishabha (banteng emas) sedangkan Thirtanakara yang
keduapuluh tiga adalah Parshva (ular biru), yang hidup 260 tahun sebelum Mahavira.
Thirtanakara- Thirtanakara (malaikat) ini dipuja sebagai dewa (deva). Nemi (keong hitam), yang
merupakan pendahulu Parshva dan memiliki hubungan dengan Krishna dalam Bahgawad Gita
ajaran Hindu, disembah di kuil-kuil Jainisme. Sama seperti para pendahulunya, Mahavira
diceritakan berkasta Kesatria, berasal dari Vaishali, sebuah tempat di Behar India. Dibesarkan
sebagai pengikut ajaran Jainisme, dia kemudian menjadi biksu yang menanggalkan pakaiannya
dan setelah memperoleh sebelas murid, dia pun meninggal di usia tujuh puluh dua tahun sekitar
tahun 477 S.M. Pusat keagamaan sekte Jainisme ini bertempat di Bukit Abud di Rajputna, Gerar,
Santrunjaya, dan Ellora, semuanya bertempat dalam India.
Tradisi Jainisme menceritakan bahwa Mahavira adalah Buddha moderen dan merupakan
Jaina (malaikat atau nabi) yang ke-24 dari kultus yang pendahulunya adalah Parshva (Ular Biru),
yang hidup dua setengah abad sebelumnya. Tradisi Jainisme juga mengatakan bahwa Mahavira
mengkhotbahkan ajaran-ajarannya tanpa menyadari bahwa ajaran yang sama sebelumnya telah
diajarkan oleh para pendahulunya. Aturan-aturan perilaku Jainisme yang diajarkan adalah
sebagai berikut:
Islamic Online University Aqidah 301
153
- Jangan membunuh mahluk hidup;
- Jangan mengucapkan kebohongan;
- Tidak menggunakan benda kecuali diberikan:
- Tidak memiliki kepemilikan dunia kecuali pakaian; dan
- Menjalani hidup bujang tanpa istri
Perbedaan antara pengikut dari dua sekolah pemikiran adalah Mahavira Jains
mengenakan pakaian putih sederhana, sementara Parshva Jains berusaha untuk telanjang
setiap ada kesempatan, menunjukkan bahwa bahkan selama selang waktu dua setengah
abad, penduduk telah diharuskan oleh orang-orang di wilayah tersebut seperti untuk
mengenakan pakaian 2.500 tahun yang lalu. Fakta bahwa dua agama baru, Jainisme dan
Buddhaisme, telah muncul sebagai adaptasi kontemporer Hinduisme- yang keduanya
coba untuk hilangkan, antara lain, dua kejahatan sosial panteisme, yang mewajibkan
pemujaan terlalu banyak dewa-dewa, serta diskriminasi sosial yang berdasar pada
kelahiran dan, keduanya dengan persetujuan, ketidaksetujuan, perintah dari kitab Weda
menunjukkan bahwa Weda telah ketinggalan jaman setidaknya 2.500 tahun yang lalu.
Selain itu, bukankah munculnya dua agama baru di India dengan beberapa persamaan
dan perbedaan di antara keduanya dan Hinduisme setelah Krisna Avatar sendiri telah
menunjukkan cara yoga untuk mencapai “nirwana” melalui Geetha sebuah demonstrasi
dimana cara Weda dan Geetha tida cocok untuk mencapai Nirwana sebagai tujuan yang
diinginkan? Dua gerakan baru, Jainisme dan Buddhaisme berusaha untuk menunjukkan
cara yang berbeda untuk akhir yang sama khususnya karena Buddha, setidaknya telah
dianggap juga sebagai avatar.
Pengikut Jainisme menyatakan bahwa ajaran mereka tidaklah sepenuhnya sistem
etika semata, tetapi juga sebuah filosofi yang berdasarkan pada ajaran kemungkinan yang
dikenal sebagai “Anekanta” atau “Syadvada”, yang pada dasarnya merupakan ajaran
akan banyak kemungkinan, mencari dua aspek dari semua hal, “abadi” dan “tak abadi”.
Perpindahan jiwa (juga filosofi Hindu) didasarkan pada perbuatan baik dan perbuatan
buruk. Seperti pandangan Jainisme, ruh dari jiva berada disetiap hal, tidak ada jiwa yang
akan terluka sama sekali. Agar dapat membuat jiwa terbebas dari samsara, jiwa harus
tetap disucikan dengan menahannya dimana seseorang harus mendapatkan keimanan
yang benar, penegetahuan yang benar serta perbuatan yang benar. Mahavira memilih
jalan pembekuan diri sementara Buddha dengan ajaran jalan tengah, hasilnya mungkin
sama yakni, hancu melalui Samadhi” dibawah penderitaan fisik dan mental hingga
mati.
Perintah para pendeta Jainisme yakni mengelakkan segala kepemilikan sementara,
bahwa pakaian, dimana estetika Digambara masih melakukannya sesering mungkin.
Sekitar 317 S.M atau lebih, dibawah Bhadrabadu, Jainisme berkembang pesat di bagian
utara India. Prasasti juga menunjukkan bahwa selama abad ke-2 S.M pengikut Jainisme
dibagian India yang disebut Orissa di bagian utara sangat kuat. Setelahnya, dikarenakan
schism, aliran baru Ardhphalakas muncul di masa Bhadrabahu yakni sekitar 80 M telah
berkembang menjadi Swathambaras jubah putih. Masuknya Sidharaja yang kuat di
Islamic Online University Aqidah 301
154
Gujaran memberikan Jainisme perlindungan kerajaan, dimana di bawah
kepemimpinannya juga keturunannya Jainisme memperoleh posisi yang kuat di bagian
barat India. Digambara memiliki sastra agama sansekerta yang lebih tua dan Swathmbras,
peraturan-peraturan agama.
Pemujaan Jainisme tidak memiliki satu Tuhan. Dnegan berbagai pesimisme teori
dari Buddha, filososfi Syamkha dan Yoga, Jainisme bertujuan pada pembebasan dari
perpindahan jiwa (Samsara) dalam doktrin Hindu. Ketika materi muncul sebagai sesuatu,
hal tersebut dapat menjadi apapun, menjadi tidak terbatas merupakan hal yang kompleks.
Setiap materi dibagai kedalam yang sesuatu atau jiwa tanpa kehidupan (jiva), yang
terdahulu menjadi apa pun dalam dunia tahap perkembangan terendah, elemen-elemen
menjadi tubuh dari jiwa. Meskipun jiwa merupakan substansi, ia bukanlah materi: namun
mereka dapat berkembang, tidak dapat dihancurkan, dan dicirikan dengan kecerdasan
yang tidak dapat dihilangkan. Jiwa terdiri dari dua jenis- duniawi dan terbebas, yang
pertama masuk kedalam lingkaran transmigrasi dan yang kedua dibunuh selamanya,
sama saja dengan ajaran filosofi Hindu. Ke dalam jiwa duniawi dituangkan materi yang
sesuai, siap untuk berubah ke dalam delapan jenis karma yang kemudian digabungkan
dengan jiwa lalu membentuk tubuh halus yang menentukan keadaan dan sebagainya;
telah menyelesaikan tugasnya; setiap karma menyucikan jiwa sehingga ia cukup bersinar
untuk mencapai puncak semesta. Namun, di kehidupan yang tengah dijalani, karma
bertujuan utuk menggantikan yang tergantikan dan jiwa-jiwa harus memasuki tubuh yang
baru ketika kematian. Jiwa memiliki enam warna- tiga baik dan tiga buruk
mengindikasikan karakternya dan jiwa sendiri dapat memasuki beragam tahapan
berdasarkan pada apakah karma dinetralisasikan, dihancurkan atau memisahkan yang
satu dengan yang lain. Satu dair banyak sumpah yaitu untuk tidak membunuh, ketaatan
pada yang membutuhkan perhatian pada seluruh makhluk hidup dan untuk praktik tegas
dimana mulut harus tetap tertutup dengan pakaian jiwa kehidupan di udara dapat terluka
atau terkotori. Binatang kecil yang mengganggu mungkin dapat dihilangkan, tetapi tidak
dilukai atau dibunuh, rumah harus dijaga untuk seluruhnya bersih. Penguatan disiplin
biara yang intens melingkupi penahan tubuh, kesucian, tidak menyentuh alkohol, daging,
madu dan akar-akaran, juga pertahanan disiplin mental, penyucian pikiran, kontemplasi,
pengakuan dan permohonan ampun merupakan aspek penting dalam Jainisme, yang
mengabaikan pencapaian Nirwana (penyelamatan tertinggi) oleh wanita.
Tidak diragukan bahwa seperti halnya derivasi Hinduisme yang lain seperti
Buddhaisme dan Sikhisme, evolusi Jainisme juga merupakan hasil yang tak terelakkan
dari kebingungan yang penuh kekacauan oleh tuhan-tuhan yang tak terhitung banyaknya,
sistem kasta dan Karma-Dharma-Samsara yang mustahil yang berorientasi pada proses
penebusan, diantaranya, dengan tujuan filosofi yang jelas, masuk akal, dan dapat
dipraktekkan, pada dasarnya dari jalan pikiran dan hidup Hindu, memastikan kesetaraan
antara pria dan pencapaian penebusan dengan reinkarnasi. Namun, seperti yang tercatat
dalam sejarah, tidak ada satupun dari gerakan yang baru ini yang sukses untuk bersekutu
Islamic Online University Aqidah 301
155
bahkan bagian besar dari penduduk Hindu India kecuali hanya untuk sementara waktu.
Seperti perbadingan dengan agama Buddha, yang menekankan penolakan hal-hal duniawi
untuk mencapai Nirwana (penebusan sempurna dengan penyatuan dengan yang
Tertinggi) dari jiwa melalui Samadhi, dikarenakan hubungan orang awam yang terbatas
ajaran penolakan dari hal-hal duniawi melaui janji dari Jainisme untuk menjalankan
dengan pengejaran duniawi oleh para pengikut, menjadikannya lebih menarik bagi
mereka yang tidak setuju dengan Hinduisme, menjadikan Jainisme tumbuh subur
bersama kalangan kerajaan untuk beberapa waktu di wilayah yang terbatas di India.
Seorang dari kalangan awam, dapat mengambil sumpah untuk penolakan hal-hal duniawi
setelah melakukan progress yang cukup tanpa memasuki perintah biara atau memberikan
kewajiban penuh kepadanya. Inilah yang menjadi alasan mengapa banyak orang yang
kaya dan makmur ditemukan diantara penganut Jainisme di India dibandingkan dengan
yang lain, mempertimbangkan populasi mereka yang tidak penting. Ketika bunuh diri
merupakan seuah dosa, baik pertapa maupun orang awam mempercepat kematian dengan
sukarela kelaparan meskipun ini hanya diizinkan di usia tua saja. Kekurangan
sesungguhnya dari Jainisme adalah hal ini pada dasarnya merupakan sebuah pernyataan
keimanan dari kelas kaya yang, secara alami, bagian besar dikeluarkan. Ketika schisme
berkembang di dalam ajaran, yang berlebihan, di abad ke-15 M. Longa Sha,
mengumukan pemujaan idola dan membentuk aliran Dhundia (pencari) atau Shanakavasi,
yang kemudian terbagi dalam sub aliran.
Meskipun dipercaya banyak, sangat sedikit dari sastra Jainisme yang dicetak
umum. Digambara menyatakan bahwa kebanyakan dari literatur lama telah hilang dan
Swatambara hanya berhasil menjaga sebagiannya. Kitab-kitab tersebut telah dijwaga
ketat dan bahkan disembunyikan secara rahasia. Dalam arsitektur, Jainisme telah
melampaui, dan meskipun model Buddha diadopsi di dalam stupa dan kuil, mereka
mengambil seni mengukir di atas batu dalam presisi dan keindahan yang sangat tinggi.
Kuil Jain menunjukkan perpaduan antara karakter dan arsitektur mereka sendiri dan
Moghul.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Jainisme merupakan sebuah perintah dan
pernyataan keimanan yang sesuai untuk kalangan kaya dan orang-ornag yang tidak sepakat,
diama, setelah kaya, mungkin masuk kedalam disiplin biara yang ketat setelah mengambil
sumpah kesucian dan pengabaian hal-hal duniawi dengan tujuan untuk memerdekakan jiwa dari
perpindahan melalui pencapaian Nirwana, yang, namun, diabaiakan untuk para wanita.
Kepercayaannya biasanya mengecualikan masyarakat umum dari orang-orang jajarannya.
Sedangkan Hinduisme memiliki ketuhanan trinitas utama Trimoorthi dan ribuan dewa dan dewi
lain untuk disembah sebagai dewa untuk tujuan tertentu, Jainisme tidak percaya pada Tuhan,
meskipun jiwanya dapat mencapai keadaan keilahian, jiwa dan dunia menjadi ada dan abadi.
Tujuan utama dari Nirvana adalah perbuatan kesederhanaan dimana seseorang dapat
menghancurkan Karma lama dan mencegah pembentukan yang baru dengan menundukkan diri
pada iman yang benar, pengetahuan yang benar dan perilaku yang benar sepanjang waktu.
Islamic Online University Aqidah 301
156
Bab 9
Agama Yahudi
Agama Yahudi, Umat Yahudi dan Bani Israil
Agama Yahudi adalah agama dan cara hidup komunitas etnis dari dua belas suku anak-
anak Israel (Bani Israil), yang umumnya dikenal sebagai orang Yahudi. Berdasarkan monoteisme
yang kaku dan ketat, menjauhkan diri dari berhala dan gambar, orang Yahudi menyembah Tuhan
Satu-Satunya dan memiliki seperangkat keyakinan dasar dan nilai-nilai yang berkonsentrasi pada
tindakan, tatanan sosial, budaya, pernyataan dan konsep individu serta komunitas yang lebih
diutamakan orang-orang yang termasuk ke dalam dua belas anak dari kepala keluarga Yakub
(‘alaihissalam), yang ditunjuk kembali oleh Allah sebagai Israel. Siddour, buku doa orang
Yahudi, menekankan bahwa Tuhan adalah Satu. Shima, pengakuan iman Yahudi, menyatakan
bahwa Tuhan, yang merupakan pencipta alam semesta dan yang telah memilih Israel dalam cinta
dengan memberikan Taurat (pengajaran, bimbingan, pengarahan, atau hanya "Hukum"), adalah
"Satu" dan bahwa kasih-Nya harus dibalas oleh Israel dengan mematuhi Taurat, yang untuknya
mereka akan diberi pahala dan yang menentang akan dihukum.
Seperti yang ditemukan dari kitab suci dan tradisi Ibrani, dasar agama Israel diletakkan
setelah eksodus dari Mesir, sekitar abad ke-13 hingga ke-15 SM ketika satu-satunya Tuhan dari
nabi Ibrahim, Ishak, Ismail dan Yakub (‘alaihissalam), dalam kasih-Nya, membebaskan anak-
anak Israel dari Mesir di bawah kepemimpinan Nabi Musa (‘alaihissalam), menghukum para
penindas mereka, yang terdiri dari Firaun dan orang-orangnya dengan bencana dan malapetaka
lainnya, yang akhirnya tenggelam di laut. Di Sinai, Tuhan berbicara kepada anak-anak Israel
melalui nabi Musa (‘alaihissalam), menjadikan mereka orang-orang pilihan-Nya dan memberi
mereka perjanjian-Nya mengenai perilaku mereka terhadap-Nya sama seperti mereka dengan
satu sama lain serta orang-orang lain sehingga menjadikan mereka sebuah bangsa yang suci
dengan tujuan memimpin orang-orang lain untuk pertama kalinya dalam sejarah anak-anak
Adam (‘alaihissalam) di bumi. Setelah menopang kehidupan mereka secara ajaib dengan
persediaan makanan surgawi selama empat puluh tahun kehidupan nomaden mereka di padang
gurun Sinai, sebagai hukuman atas ketidaktaatan pertama mereka khususnya pemujaan
Islamic Online University Aqidah 301
157
terhadap sapi dan penolakan untuk menduduki tanah di utara yang dijanjikan sebelumnya oleh
Tuhan kepada leluhur-leluhur mereka, pada akhirnya Tuhan memungkinkan mereka untuk hidup
di tanah yang sama, yang merupakan tanah Palestina saat ini. Hal penting dalam peristiwa ini
adalah para rasul Allah, Musa dan saudaranya Harun (‘alaihissalam), yang ditugaskan oleh Allah
untuk membimbing anak-anak Israel keluar dari Mesir, menengahi perjanjian Allah dengan
mereka dan membawa mereka menuju Kanaan. Lembaga utama orang Yahudi adalah imamat,
kuil suci, Perjanjian, serta aturan dan dewan suku administratifnya. Meskipun Musa dan Harun
(‘alaihissalam) disamakan sebagai nabi, Pentateukh (lima kitab Musa) tidak menyebut mereka
demikian.
Orang-orang Yahudi mengklaim bahwa sejarah Bani Israil kembali dari 4000 tahun, yang
kira-kira 2000 tahun sebelum Kristus (‘alaihissalam). Namun, ciri khas Agama Yahudi hanya
terlihat dengan Musa (‘alaihissalam). Nama Tuhan Israel dikatakan telah diungkapkan dan
ditafsirkan kepada Musa (‘alaihissalam) di Sinai sebagai ''YHWH'', frase ilahi mistik yang tidak
begitu jelas, yang dimaksudkan, ''Aku adalah Aku" atau “Aku akan menjadi seperti apa Aku
nantinya." Mungkin itu berarti Tuhan Yang Mahakuasa, Mahahadir dan Maha Mengetahui,
Tuhan yang Maha Esa terhubung dengan istilah Ibrani "Hayah," atau "Jadilah." Perjanjian yang
merinci kewajiban orang Israel dinyatakan telah diterima langsung oleh Musa (‘alaihissalam)
selama mediasinya dengan YHWH di Gunung Sinai sebagai kepala bangsa Israel. Hal ini terlihat
dari Perjanjian Lama dari Alkitab Kristen, yang berisi Pentateukh serta kitab suci Ibrani lainnya,
bahwa kode perjanjian yang lebih besar maupun yang lebih kecil dalam kitab Keluaran, Imamat,
Bilangan dan Sepuluh Hukum Taurat serta tata cara dalam Kitab Perjanjian Kelima, adalah
ungkapan kehendak Tuhan yang berkuasa penuh dan unilateral yang diberikan melalui firman-
Nya kepada Musa (‘alaihissalam) di Sinai. Secara eksplisit ini ditujukan secara langsung kepada
orang-orang Israel secara keseluruhan, nabi hanya bertindak sebagai perantara untuk
menyampaikan pesan. Perjanjian memegang seluruh anak-anak Israel sebagai tanggungjawab
atas ketaatan yang ketat terhadap aturan dan hukum yang terkandung di dalamnya. Pembebasan
orang-orang Israel oleh YHWH dari penawanan yang lama di bawah perbudakan Firaun
membuat mereka wajib untuk memiliki kesetiaan yang tak tergoyahkan kepada YHWH serta
untuk menyembah-Nya secara eksklusif tanpa gambar— yang terukir, dicairkan atau
sebaliknya— menjauhkan diri dari semua dewa lainnya.
Kitab Suci Yahudi
Taurat, Talmud dan Midrash adalah tiga kitab penting agama Yahudi. Dari ini Taurat
dianggap sebagai kitab suci dan berisi tiga bagian Hukum (Pentateukh atau lima buku), Nabiim
(para Nabi), dan Kitabim (Kitab-kitab). Taurat ditemukan dalam Kitab Suci Kristen yang dikenal
sebagai Perjanjian Lama. Pentateukh, yang memuat kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan
dan Ulangan Perjanjian Lama, yang secara tradisional disebut lima kitab Musa (‘alaihissalam),
adalah yang paling dihormati dari semua buku agama orang Yahudi. Ini adalah peraturan utama
Islamic Online University Aqidah 301
158
dalam iman, moral, ibadah, pengorbanan, dan pertanyaan hukum dan perilaku Yahudi. Bahkan,
Taurat menjadi wahyu Allah kepada Musa (‘alaihissalam), kelima buku ini seharusnya dianggap
sebagai "Taurat." Nabiim (Nabi), koleksi delapan buku menurut orang Yahudi tetapi
menunjukkan dua puluh satu bab dalam Perjanjian Lama orang Kristen, dianggap berasal dari
nabi besar dan kecil Israel setelah Musa (‘alaihissalam) serta beberapa yang lain
menggambarkan sejarah dan konteks zaman para nabi yang berbeda. Sisanya, disebut
"Hegiagraph" atau tulisan-tulisan suci (Kitabim) berisi mazmur, pepatah, lagu dan sejenisnya
yang merupakan sastra puitis dari Perjanjian Lama.
Mishna (Hukum Rabbinik) tampaknya telah dikompilasi dan digunakan sebagai versi
kerajaan standar oleh Pangeran Yehuda antara tahun 220 dan 175 SM. dari praktik yang ada dan
Mirdashim dari berbagai aliran pemikiran Yahudi yang diakui. Karena Mishna tidak memberikan
kebebasan yang cukup kepada para rabi Yahudi untuk lebih menginterpretasikan Hukum
sebagaimana tuntutan tradisi, ia segera menjadi tidak puas dengan kaum intelektual klerus, dan
karena itu menjadi semi-kanonik. Oleh karena itu, Mirdashims pada Pentateukh dikompilasi dan
mulai digunakan. Sekitar periode yang sama, Talmud (Ajaran), yang berisi Mishna, komentar
dan hal-hal lain berdasarkan koleksi Palestina dan Babylonia, juga dikompilasi. Hukum utama
orang Yahudi didasarkan pada Ulangan, yang dalam Alkitab dilihat sebagai kitab kelima dari
Musa (‘alaihissalam). Sebagaimana dinyatakan di awal buku narasi ini, ini adalah kata-kata yang
disampaikan oleh Musa kepada seluruh Israel di seberang Yordan di padang gurun tetapi tidak
disebut sebagai firman Tuhan yang diberikan kepada anak-anak Israel melalui Musa
(‘alaihissalam). Namun, dalam empat buku dari Hukum Perjanjian dalam materi Pentateukh
yang cukup besar muncul dalam perintah Tuhan pada orang pertama untuk orang-orang Israel,
meskipun buku pertama, Keluaran, sebagian besar adalah narasi orang ketiga.
Hukum dan Etika Yahudi
Kitab suci Yahudi, Taurat, yang diyakini oleh orang-orang Yahudi sebagai Hukum Tuhan
yang diberikan kepada anak-anak Israel melalui Musa (‘alaihissalam), selain mengharuskan
mereka untuk menyembah dan mencari Tuhan yang Maha Esa, melindungi nilai kehidupan,
anggota tubuh, tenaga kerja, solidaritas sosial, hubungan antara manusia dengan dan tanpa suku
mereka sendiri, dan hak serta kewajiban individu. Namun, hukum tersebut mendiskriminasikan
kaum lain selain bani Israil, dimana bani Israil mendapatkan perlakuan khusus. Hukum ini
memerintahkan orang Yahudi untuk mempersembahkan lembu, domba jantan, biji-bijian, serta
kurban khusus yang dibakar kepada Allah di altar yang telah ditentukan. Pengurbanan ini
dijadikan sebagai penghormatan atau cara mengungkapkan rasa syukur atau sebagai bentuk
pengurbanan rasa bersalah. Hukum Torah menghilangkan perbudakan paksa orang-orang Yahudi
dan membatasi lama waktu memiliki budak menjadi tujuh tahun saja. Namun, menjual anak
perempuan sendiri tidak lah dilarang (Eksodus 21:7-11) dengan syarat-syarat tertentu. Majikan
yang menyiksa budaknya sampai mati juga harus dihukum mati dan majikan yang
Islamic Online University Aqidah 301
159
memuntungkan budaknya harus membebaskan budak tersebut Pembunuh yang tidak akan
menebus dirinya dari kematian tidak berhak mendapatkan suaka. Prinsip "mata dibalas mata"
diterapkan dalam kasus ketika seseorang mencederai anggota tubuh orang lain dengan sengaja
dan hukuman berupa denda diterapkan untuk pelanggaran seperti mencuri dan merusak properti.
Status kependetaan diperuntukkan kepada putra-putra Harun, saudara laki-laki Musa
(alaihissalam), keluarga Lewi yang membantu sebagai pendeta di altar ritual saja, bukan di
tempat lain. Hukuman mati diperuntukkan untk pelanggaran-pelanggaran seperti menduakan
Tuhan, homoseksualitas, mengutuk orangtua, zinah, berpura-pura menjadi penyihir atau
perantara. Namun, jika seseorang berzinah dengan budak perempuan yang bertunangan dengan
pria lain, “persembahan rasa bersalah di altar” dapat membuat pelaku termaafkan. Menikah
dengan keluarga sedarah dilarang dan hukuman mati diperuntukkan bagi mereka yang
melanggar. Untuk perbuatan tidak senonoh seperti melihat keluarga perempuan atau wanita
ketiga dalam keadaan telanjang, orang yang melanggar dapat menerima hukuman seperti
pemutusan hubungan dari keluarga atau hukuman ilahi seperti meninggal dalam keadaan tidak
memiliki anak atau pelanggar harus menanggung dosa atau ketidakadilan. Diperbolehkan untuk
melakukan pembelian dan penjualan budak dari orang-orang non-Israil dan budak-budak tersebut
dapat disimpan seumur hidup oleh majikannya sebagai barang pribadi. Diwajibkan untuk
mengikuti perintah perihal hari-hari suci, kewajiban untuk bersunat, dan Sabat mingguan setiap
Sabtunya dimana orang-orang dilarang untuk bekerja pada hari itu. Perintah ini berlandaskan
dari ayat yang menyatakan bahwa setelah menciptakan dunia dalam enam hari, bahkan Tuhan
pun beristirahat pada hari ketujuh dan menguduskannya (Kej. 2: 1-3). Dilarang untuk
mengucapkan kebohongan, menyumpah serapahkan Tuhan, mengonsumsi darah atau daging
mati atau daging binatang-binatang tertentu seperti babi, unta, babi, unta, musang batu, kelinci,
hewan karnivora, dan burung. Riba dilarang di antara sesama orang Israil, tetapi dibolehkan
dalam peminjaman dengan orang-orang non-Israil. Taurat mengizinkan untuk melakukan
poligami serta cerai dengan alasan perbuatan tidak baik (Ulangan 21:15). Namun, tagihan
perceraian harus diberikan: kepada wanita yang, meskipun tidak dilarang untuk menikahi orang
lain, tidak dapat dinikahi lagi oleh pria yang bercerai bahkan walau pria tersebut telah bercerai
dengan orang lain. Ritual-ritual rumit yang dijelaskan dalam Keluaran, bab 35 dan 36, dari
Perjanjian Lama - seperti pertemuan di dalam kemah yang menjadi tempat beribadat yang
berisikan Tabut, Perjanjian, Tutup pendamaian, ner tamid, dupa, minyak urapan, altar
pengorbanan dan pembakaran, pakaian para imam, instruksi mengenai waktu, tempat, dan cara
mengorbankan binatang kurban, serta cara membuang daging dan darah hewan yang
dikorbankan - telah menjadi simbol imamat Yahudi.
Masa-Masa Awal Kehidupan Bani Israil
Pada mulanya, selama berabad-abad, tujuan kaum Israil ialah ingin menguasai dan
menduduki tanah yang telah dijanjikan Tuhan kepada nenek moyang mereka, agama yang
Islamic Online University Aqidah 301
160
mereka anut juga suka dengan peperangan. Sehingga, agama ini pun dibatasi untuk bani Israil
semata, seperti yang dikehendaki oleh YHWH. Seperti yang tertulis dalam Keluaran 12:14,
orang-orang Israil kemudian menjadi pasukan yang disebut tentara YHWH dan mereka tinggal di
area perlindungan mereka, yang merupakan sebuah tenda yang menaungi kemah suci beserta
perlengkapan-perlengkapannya, dimana bagian terpenting dari perlengkapan-perlengkapan ini
adalah Tabut yang berisikan lempengan batu mengandung Perjanjian Allah kepada bani Israil.
Ketika mereka melakukan perjalanan, orang-orang Lewi bertugas membawa dan menjaga benda-
benda. Orang-orang Kohen mendapatkan hak kependetaan absolut. Tuhan YHWH, terkadang
juga disebut sebagai “Sang Pejuang” pergi bersama-sama dengan pasukan Israil. Dalam
perang, sebagian dari barang rampasan yang diambil diberikan kepada para pendeta, imam, dan
kaum Lewi. Setelah penaklukan Kanaan, pada masa Yosua tidak lama setelah kematian Musa
(alaihissalam), orang-orang Israil mulai hidup bersama dengan orang-orang Ibrani yang lebih tua
di sana dan lebih dulu menjadi suku keturunan masa patriarki. Tetangga timur dan barat Israil
sekarang menjadi musuh baru mereka dan periode "Hakim" atau juara pun dimulai.
Kebangkitan dan Kejatuhan Iman, Kemurtadan dan Hukuman
Tidak lama setelah kematian Yosua, yang telah berhasil memimpin bani Israil setelah
kematian Musa (alaihissalam), mereka kemudian memuja Baal dan Ashtroth dan banyak
ketidakadilan lainnya dari komunitas lokal, yang bertentangan dengan Hukum Perjanjian. Kitab
kedua dari Perjanjian Lama, Keluaran, menyatakan bahwa pemberontakan dan kemurtadan bani
Israil telah dimulai bahkan ketika Musa (alaihissalam) masih hidup. Tidak lama setelah Tuhan
berfirman dan menurunkan Perjanjian kepada mereka, mereka kemudian menyembah sapi,
akibatnya, mereka semua yang melakukan kemurtadan ini pun dihukum mati. Banyaknya
perbuatan murtad, penyembahan mahluk-mahluk setengah dewa, dan penindasan yang dilakukan
berulang-ulang ditandai oleh turunnya hukuman Ilahi dan permohonan minta ampun kepada
Tuhan setelah menerima hukuman pun banyak dilakukan. Allah dengan belas kasih-Nya yang
tak terbatas telah begitu baik kepada orang-orang itu, kendati hujatan mereka, permohonan
ampunan mereka tetap dijawab melalui utusan-utusan Tuhan seperti Othneil, Ehud, Deborah,
Gideon, Simson dan lainnya yang disebutkan dalam Kitab Hakim-Hakim, dimana melalui
penyelamatan ini, keimanan orang-orang Israil kepada Tuhan berhasil terjaga. Kitab Hakim
menuliskan bahwa mereka kemudian menyembah dewa-dewa orang Kanaan (Baal dan
Asytarot), dewa-dewa orang Siria, (Moab), Amon, Filistin, Sidon, dan lainnya, selama banyak
generasi. Sesuai dengan apa yang tertulis dalam Kitab Samuel, Gideon menolak untuk
mendirikan dinasti dengan alasan bahwa permintaan untuk memiliki raja sama saja dengan
penolakan terhadap Kerajaan Allah. Kemudian, sejumlah penyelamat mulai dari Jerubal, Bedan,
dan Jephtah pun muncul. Namun, karena Samuel meyakini bahwa monarki adalah karunia Allah
yang dirancang untuk menyelamatkan orang-orang dari Filistin, bertentangan dengan pandangan
Gideon, Saul pun dijadikan Raja melalui pemilihan ilahi dan karena pengakuan banyak orang
Islamic Online University Aqidah 301
161
kepadanya setelah kemenangannya melawan orang Amori. Dengan demikian, era para raja pun
dimulai. Selama masa pemerintahan Raja Daud (alaihissalam), Tabut tersebut kemudian ditebus
dan dipasang di Kota Daud di Yerusalem sekitar 900-1000 SM. Tabut ini dipasang dalam sebuah
tenda, sama seperti era pasca-Musa. Di masa pemerintahan Nabi Raja Sulaiman (alaihissalam),
kuil Allah yang megah pun dibangun di Yerusalem dan ibadah dilaksanakan di dalamnya, sesuai
dengan rencana ayahnya, Daud (alaihissalam). Ada 153.600 orang bekerja selama dua puluh
tahun membangun kuil tersebut.
Catatan-Catatan Kriminal
Sesuai dengan apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama, Bani Israil, dalam sejarah
panjang mereka mulai dari zaman Nabi Musa (alaihissalam), tidak hanya menyimpang dari
Perjanjian Allah dimana mereka sampai menyimpang dari kewajiban menyembah Allah Yang
Maha Esa, seperti yang berulang kali dituliskan dalam Perjanjian Lama, mereka "melakukan apa
yang jahat di mata Allah". Tidak hanya itu, mereka juga telah menganiaya beberapa nabi Allah (
I Raja-raja 19:14; Yer 2:30; Mat. 24:34) dan bahkan mencoba membunuh beberapa dari mereka,
seperti yang dikatakan dalam Injil oleh Yesus (alaihissalam) sendiri. Perbuatan bani Israil yang
tidak hanya membenci Yesus Kristus (alaihissalam), nabi Allah, tetapi bahkan bekerjasama
dengan kaum kafir Romawi untuk membunuhnya, dikisahkan dalam Alkitab sebagai cerita yang
menakutkan dan menyedihkan. Semua kitab injil perjanjian baru menyatakan bahwa kaum
Yahudi bahkan lebih menyenangi Barabbas si pembunuh untuk diampuni daripada Yesus Kristus
(alaihissalam), Rasul Tuhan (alaihissalam), yang ‘kejahatannya”, pada kenyataannya, adalah dia
mengajarkan kepada kaum yahudi untuk bertobat, taat pada Tuhan dan mencari jalan hukum
yang benar sesuai dengan yang telah ditunjukkan para nabi dengan injilnya dari tidak ada selain
Tuhan nenek moyang mereka. Hal ini merupakan kesimpulan yang aman bahwa pengusiran
akhir Bani Israel di seluruh dunia setelah penghancuran akhir negara Yahudi Palestina selama
bagian akhir dari abad ke-1 M hingga negara zionis baru Israel dibangun pada 1948 M, dan
penghukuman massal kaum Yahudi ke kamp konsentrasi juga pembunuhan jutaan kaum Yahudi
oleh pasukan penembak juga di dalam kamar gas dibawah perintah Hitler selama sepuluh tahun
penguasaan Nazi atas kekalahan kekuatan Axis di perang dunia ke-II dianggap sebagai sebuah
hubungan dalam rantai hukuman dari Tuhan kepada Bani Israel karena melakukan keburukan
dimata Tuhan. Tuhan mereka. Perlu diperhatikan bahwa bahwa setelah dibentuknya negara
zionis Israel, hal tersebut nampak seperti tinggal di sebuah negara yang di rebut dari negara-
negara Arab karena dibangun di atas tanah milik orang Arab, pertanyaan mengenai rehabilitasi
jutaan Arab palestina yang dipindahkan dari negara baru Israel tetap menjadi sebuah pertanyaan
besar selama tiga dekade. Akibat dari tragedi ini tidak hanya mempengaruhi hubungan antar
negara-negara di dunia, tetapi juga menjadikan negara-negara Arab dan Zionis dalam konfrontasi
yang berkepanjangan, menyebabkan gesekan perang antar keduanya selama 30 tahun atau lebih.
Bahkan hari ini, pondasi dari negara suci Bani Israel nampaknya tidak berada di tanah yang kuat
Islamic Online University Aqidah 301
162
karena, seperti yang kita semua ketahui, tiga juta dari mereka terkonsentrasi di tanah suci harus
dalam keadaan siaga perang, menghabiskan miliayaran dollar untuk material perang sejak
dibentuknya negara tersebut 35 tahun yang lalu.
Namun, apa yang telah di lakukan oleh Bani Israel sejak dibentuknya negara baru mereka
dibawah kewajiban dan tugas agama nampak bagi mereka sebagai sebuah tindakan yang
memang seharusnya dilakukan untuk mendapatkan kembali tanah suci yang pernah dimiliki oleh
nenek moyang mereka namun hilang karena hukuman ratusan tahun yang lalu karena perbuatan
buruk mereka sendiri seletelah diberikan kepada mereka karena kasih sayang besar dari
Yahweh., seperti yang disebutkan dalam perjanjian lama. Namun, jika dipandang dari sudut
pandang manusia modern saat ini, tidak dapat dikatakan bahwa mereka telah bertanggung jawab
secara pribadi bukan hanya karena pengusiran jutaan penduduk Arab termasuk para wanita,
anak-anak, dan orang tua dari rumah dan tanah mereka, memaksa sebanyak mungkin Yahudi
Israel sendiri, untuk hidup sebagai pengungsi dan pencuri hina selama beberapa dekade yang
merupakan penderitaan tanpa akhir, banyak dari mereka yang cacat, menderita atau terbunuh
selama perang yang terjadi. Ironisnya, hal ini telah terjadi terhadap orang-orang yang juga
percaya pada Satu Tuhan dari Bani Adam. Akankah sejarah terulang lagi atas tindakan Bani
Israel yang melakukan apa yang dianggap buruk di mata Tuhan,” untuk mengulang apa yang
sering kali diulang di perjanjian lama? Dunia harusnya sudah melihat!
Kisah Perahu , Lembaran-lembaran dan Taurat (Kitab Perjanjian)
Disebutkan bahwa ketika “perahu” ditempatkan oleh Nabi Sulaiman (alaihissalam) di
sebuah kuil yang baru, tidak ada apapun di dalamnya kecuali dua lembaran dimana kalimat
perjanjian, 10 perintah (exod 34:28) bahwa Musa (alaihissalam) telah menaruh di sana, di Horeb
dimana Tuhan telah membuat perjanjian dengan Bani Israel ketika mereka keluar dari Mesir (II
Chron 5:10). Hal ini membuktikan bahwa hukum yang Musa (alaihissalam) harus selesaikan,
dituliskan dengan tangannya sendiri sebelum kematiannya, dan apa yang harus dijaga di sisi
perahu untuk menjadi saksi terjadap mereka (Deut. 31:24-27), telah hilang semua, seperti yang
dimaksudkan dengan kalimat, tidak ada apapun di dalamnya kecuali dua lembaran”. II chron
34:14 juga menyatakan bahwa selama masah pemerintahan Josiah, sekitar 600-700 S.M, ketika
mereka membawa keluar uang yang telh dimasukkan kedalam Rumah Tuhan, Hilkiah, si pendeta
menemukan Buku Tuhan yang diwahyukan kepada Musa”. Selain itu, dikatakan bahwa nabiah
yang bernama Huldah, yang mengintervensi Tuhan dan Raja menemukan isi dari “Buku
Hukum”, adalah benar. Oleh karena itu, ia dibacakan kepada penduduk, Levite juga para
pendeta, dan bahwa setelah perjanjian diperbarui dan diubah (II Chron 34:22:33) seolah sebelum
kejadian ini tidak ada dari kalangan Levite dan murid yang tau apa isis dari “buku hukum” yang
asli!. Namun, selama masa pemerintahan Jehoiakim dan Zedkiah, yang melakukan apa yang
buruk di mata Tuhan, Tuhan mereka, dan karena Bani Israel tetap menghina utusan Tuhan,
memandang rendah kalimat-kalimatNya dan mengejek nabiNya, Nebuchadnezzar, Raja
Islamic Online University Aqidah 301
163
Chaldean dikirim kepada mereka.” Pertama Chaldean mengikat Raja Jehoiakim dengan rantai
dan membawanya ke Babilona, juga mmebawa bagian dari rumah Tuhan, kedua “mereka
membelah para pemuda dengan pedang di dalam rumah kudus dan tak memiliki belas kasih
kepada para pemuda atau pun perawan, orang tua atau lanjut usia. Dia memberikan semua
ditangannya. Dan semua bejana dari rumah Tuhan, dan semua harta karun raja dan pengeran,
semuanya dibawa ke Babilona. Dan mereka membakar rumah Tuhan, dan menghancurkan
dinding Yerussalem dan membakarnya dengan api dan menghancurkan semua bejana yang
berharga. Dia mengasingkan ke Babilona mereka yang lari dari pedang, dan menjadi budaknya
juga budak putra-putranya hingga dibangunnya kerajaan Persia, melalui mulut Jeremiah, hingga
tanah telah menikmati hari sabbatnya. Setiap hari menutup keterasingan menjaga sabat,
memenuhi 70 tahun” (II Raja raja 24:9-17: II Chron. 36”17-21: dan Jer 25:11-12). Para tawanan
Yahudi Babilona dinyatakan berakhir selama hampir dua abad.
Sejarah dan keaslian Taurat dan Kitab-Kitab Yahudi
Perjanjian lama menyatakan bahwa 10 perintah dituliskan di lembaran batu diwahyukan
oleh Tuhan kepada Musa (alaihissalam) ketika Dia berbicara kepadaNya di bukit Sinai sebagai
kepada Bani Israel. Lalu, ketika Musa telah selesai menuliskan kalimat dalam buku hukum ini,
hingga akhir,” dia memerintahkan Levite yang membawa perahu Perjanjian Tuhan: “ ambil buku
hukum ini, dan taruh di sisi perahu perjanjian Tuhan, Tuhanmu, dimana ia dapat menjadi saksi
untukmu: karena aku tau betapa membangkang dan keras kepalanya dirimu: lihatlah, ketika aku
masih hidup bersamamu, hari ini kamu masih membangkan kepada Tuhan: lalu bagaimana
setelah kematianku!” (Deut 31:24-27), dan setiap akhir tujuan tahun, di waktu yang ditentukan
, ketika seluruh bangsa Israel menghadap kepada Tuhanmu, di tempat yang dipilihNya, kamu
harus membacakan hukum ini kepada seluruh bangsa Israel di telinga mereka..” (Deut 31:24-27).
Hukum pasti diwahyukan kepada Musa (alaihissalam) selama masa jabatnnya, yang mungkin
diberikan padanya di usia 40 tahun atau sekitar itu dalam catatan hidupnya selama 120 tahun.
Gaya penulisan dari setidaknya lima kitab yang dianggap ditulis oleh Musa (alaihissalam), empat
berisi hukum, tidak nampak seperti diwahyukan Tuhan kepada Musa (alaihissalam). Seluruh
kitab injil nampak seperti narasi atau cerita , hanya mengutip beberapa perkataan Tuhan dan para
nabi di beberapa tempat. Kitab suci dari Tuhan pasti berada di orang pertama Tuhan seperti yang
diberikan kepada juru bicara khususnya, para nabi. Hal tersebut nampaknya setelah hilangnya
lembaran-lembaran suci yang asli juga kalimat-kalimat hukum Tuhan yang ditulis oleh Musa
(alaihissalam), di sebuah kitab ditulis oleh tangan nabi sendiri di tahun-tahun berikutnya,
beberapa penulis mengumpulkan kitab seperti yang dapat dilihat hari ini, semua yang mungkin
bukan penulisan ulang yang benar seperti aslinya Ezra. Catatan batu asli yang seharusnya
diberikan kepada Musa (‘alaihissalam) dan Arkansas serta kitab yang ditulis oleh Musa
(‘alaihissalam) yang semuanya harus dilestarikan sebagai bukti-bukti semuanya telah hilang oleh
Islamic Online University Aqidah 301
164
anak-anak Israel jauh sebelum kedatangan Yesus (‘alaihissalam) karena hal ini tidak didapatkan
di mana pun hari ini.
Kembali ke sejarah Alkitab itu sendiri, terjemahan tertua Perjanjian Lama dari bahasa
Ibrani asli tampaknya adalah Septuaginta abad ketiga B.Masehi yang ditulis dalam bahasa
Yunani. Sebelum itu, literatur yang tersisa hanya dokumen Ibrani. Hal ini terlihat dari ayat 36:
14-21 dari Tawarikh Perjanjian Lama bahwa “juga semua pemimpin di antara para imam dan
rakyat berkali-kali berubah setia
dengan mengikuti segala kekejian bangsa-bangsa lain. Rumah
yang dikuduskan Tuhan di Yerusalem itu dinajiskan mereka... tetapi mereka mengolok-olok
utusan-utusan Allah
itu, menghina segala firman-Nya, dan mengejek
nabi-nabi-Nya. Oleh sebab
itu murka Tuhan bangkit terhadap umat-Nya, sehingga tidak mungkin lagi pemulihan. Tuhan
menggerakkan raja orang Kasdim melawan mereka. Raja itu membunuh teruna mereka dengan
pedang dalam rumah kudus mereka, dan tidak menyayangkan teruna
atau gadis, orang tua atau
orang ubanan; semua diserahkan Tuhan ke dalam tangannya... Mereka membakar
rumah
Allah,
merobohkan tembok
Yerusalem dan membakar segala puri dalam kota itu dengan api... Mereka
yang masih tinggal dan yang luput dari pedang diangkutnya
ke Babel dan mereka menjadi
budaknya
dan budak anak-anaknya sampai kerajaan Persia berkuasa... sampai tanah itu pulih dari
akibat dilalaikannya tahun-tahun sabatnya, karena tanah itu tandus selama menjalani sabat,
hingga genaplah tujuh puluh tahun.” Selama pemerintahan Cyrus sekitar 500-600 B.Masehi
bahwa bangsa Israel yang jumlahnya kurang dari 50.000, dibebaskan dari penawanan Babilonia
dan diizinkan untuk kembali ke Palestina. Ini terjadi beberapa tahun kemudian dan setelah
pembangunan kembali bait yang dihancurkan di Yerusalem oleh orang Israel bahwa raja Persia
Artaxerxes memerintahkan juru tulis Yahudi Ezra di bawah piagam kerajaan "menetapkan
hatinya untuk meneliti Hukum Tuhan, melakukannya, dan mengajarkan ketetapan-ketetapan dan
peraturan-peraturan-Nya di Israel." (Ezra 7:10). Dengan demikian satu-satunya kesimpulan
bahwa dengan penghancuran kuil Yerusalem oleh api dan pembunuhan semua orang tua dan
muda bahkan dengan pengetahuan dan kepentingan sedikit pun, tidak sedikit dari hukum asli,
Arkansas dan catatan batu termasuk "kata-kata tertulis dari hukum ini dalam sebuah buku sampai
akhir," yang telah ditulis oleh Musa (‘alaihissalam) sendiri, dipercayakan kepada orang Lewi
"untuk diletakkan di sisi Tabut perjanjian Tuhan, Tuhanmu, bahwa mungkin ada di sana untuk
bersaksi melawanmu," dan disimpan di kuil suci di Yerusalem (Ulangan 31: 24-29), bisa lolos
dari kehancuran total dengan api. Tujuh puluh tahun kesedihan Yerusalem dan dua abad
penawanan orang Israel di bawah orang-orang kafir di Babilonia sebagai budak setelah holocaust
dan kehancuran total adalah periode yang sangat panjang. Oleh karena itu sangat tidak masuk
akal untuk mengharapkan bahwa versi asli dari Taurat bisa bertahan bahkan secara lisan di antara
orang-orang Israel yang kurang penting yang selamat dari genosida di Yerusalem dan dibawa ke
Babilonia sebagai tawanan dari para kafir. Lebih lanjut, "ketika Yerusalem berbaring sepi
merayakan hari Sabat selama tujuh dekade penuh penawanan," sebagaimana yang dinyatakan
dalam Perjanjian Lama, jelas menunjukkan bahwa tidak ada orang Israel yang tertinggal di sana
selama seluruh periode. Dalam keadaan itu, diserahkan kepada Ezra, sang juru tulis untuk
mengumpulkan desas-desus apa pun dari potongan-potongan cerita rakyat yang tersisa dari
Islamic Online University Aqidah 301
165
komunitas Israel yang tercemar oleh budaya kafir Babilonia, iman dan penyembahan atas
penahanan mereka selama dua ratus tahun, dan menghasilkan kompilasi baru dari Hukum Musa
yang hilang, jauh sebelum pembinasaan Babilonia di Yerusalem, menjadi rusak karena "juga
semua pemimpin di antara para imam dan rakyat berkali-kali berubah setia
dengan mengikuti
segala kekejian
bangsa-bangsa lain." (Chron. 36:14). Dalam situasi yang sangat sulit ini, tidaklah
mengherankan bahwa Taurat baru yang terdiri dari "yang seharusnya"—lima kitab Musa
(Pentateukh) dan sembilan bab berikutnya hingga bab Ezra dikompilasi, mungkin oleh Ezra
sendiri (dan yang lainnya) sekitar 499-500 SM dan kemudian - mengandung terlalu banyak
pengulangan sebagaimana yang seharusnya diharapkan dalam kompilasi seperti itu dari tradisi
lisan yang rusak yang melalui kesalahan penyebaran melalui mulut dari dekade ke dekade
menjadi tercemari oleh kepercayaan dan budaya kafir yang didominasi oleh pemujaan sejumlah
dewa dan dewi dalam masyarakat di mana orang Israel dipaksa untuk hidup sebagai budak yang
hina selama dua puluh tahun, jauh dari kemungkinan untuk mendapatkan bimbingan moral dan
spiritual sesuai dengan hukum yang asli. Sebuah contoh khusus adalah kitab Kejadian yang
pertama, yang tidak dapat diharapkan dari pertimbangan spiritual apa pun, berasal dari Pendeta
Yahudi yang arif, Ezra sendiri atau siapa pun, tidak berbicara tentang Tuhan yang Maha Kuasa
dan Maha Mengetahui. Ini untuk alasan bahwa Kejadian dan Keluaran dan para nabi dari
Perjanjian Lama secara khusus penuh dengan pernyataan merusak posisi agung dari Tuhan Yang
Mahakuasa, malaikat-malaikatnya yang suci dan nabi-nabi teladan, seperti untuk mengetahui
beberapa hal di bawah ini:
Tuhan memberi tahu Adam dan Hawa bahwa "janganlah kaumakan buahnya, sebab pada
hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (Kej. 2:17); pada hari ketujuh Allah telah
menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan-Nya, dan berhentilah Ia pada hari ketujuh itu dari
segala pekerjaan yang dilakukan-Nya. (Kej. 2: 2); Adam dan Hawa mendengar suara Tuhan
Allah berjalan di taman pada suatu hari yang sejuk (Kej. 3: 8). "maka anak-anak Allah
melihat,
bahwa anak-anak perempuan manusia
itu cantik-cantik,
lalu mereka mengambil isteri
dari antara
perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka... ketika anak-anak Allah
menghampiri anak-anak perempuan manusia,
dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak
bagi mereka" (Kej. 6: 2-4). “Ketika Tuhan mencium persembahan yang harum” (Kej. 8:21), “dan
Tuhan turun untuk melihat kota dan menara yang dibangun oleh putra-putra manusia” (Gen.
11:15). Nabi Ibrahim (‘alaihissalam) berkata kepada istrinya, Sarah, untuk mengatakan dusta
bahwa dia adalah saudara perempuannya "(Kej. 12:12). Tuhan Allah berfirman " Aku akan turun
sekarang untuk melihat apakah mereka benar-benar telah melakukan semua itu sesuai dengan
teriakan yang sampai kepada-Ku? Jika tidak, Aku akan mengetahuinya'' (Kej. 18:21). "Para
Malaikat memakan roti khamir yang dipersembahkan kepada mereka oleh Ibrahim" (Kej. 19: 4).
"Lot (para nabi) berkata kepada bangsanya, ‘kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak
perempuan
yang belum pernah dijamah laki-laki... perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu
pandang baik" (Kej. 19: 8). Anak-anak perempuan Lot membuat ayah mereka minum anggur di
malam hari dan berbaring bersamanya untuk mempertahankan keturunan melalui dia dan dengan
demikian anak-anak dilahirkan untuk mereka berdua (Kej. 19: 32-36). "Abimelekh, raja Gerar,
Islamic Online University Aqidah 301
166
mengambil Sarah, istri Ibrahim (nabi) (‘alaihissalam) untuk tidur dengan dia karena Ibrahim
(‘alaihissalam) mengatakan bahwa dia adalah saudara perempuannya... tetapi sebagai akibat dari
mimpi ketika raja tahu bahwa Sarah adalah istri nabi Ibrahim (‘alaihissalam), raja menegur
Ibrahim (‘alaihissalam) di pagi hari mengatakan bahwa ia telah membawa dosa kepada raja dan
kerajaan" (Gen 20: 1-11). Mengenai Harun, yang bukan hanya dijadikan rekan nabi dengan
saudara nabinya, Musa (‘alaihissalam), tetapi putra-putranya dijadikan imam selamanya oleh
Tuhan, ada pernyataan menentangnya dari membuat anak lembu emas dan asosiasinya dengan
ibadahnya juga, bersama dengan anak-anak Israel (Kel. 32: 2-6). Mengenai Nabi Raja Daud
(‘alaihissalam), ada dugaan bahwa ketika dia melihat seorang gadis cantik mandi saat dia
berjalan di lantai dasar istana raja, terlepas dari mengetahui bahwa dia adalah istri tetangga yang
lain, Daud (‘alaihissalam) membawanya dan tidur bersamanya (tindakan murtad ini melawan
Sepuluh Perintah yang telah disebut pemurnian wanita); akibatnya, dia mengandung seorang
anak dan setelah perencanaan agar suaminya dibunuh oleh Yoab, Daud (‘alaihissalam)
menikahinya; tetapi tindakan Daud ini tidak menyenangkan Tuhan (II Sam.11: 2-27). Tentang
raja nabi Sulaiman (‘alaihissalam), dinyatakan bahwa ia memiliki 700 istri dan putri, dan 300
selir dan bahwa ketika ia sudah tua, ia memalingkan hatinya dari istri-istrinya kepada dewa-dewa
lain dan bahwa hatinya tidak sempurna dengan Tuhannya seperti hati ayahnya, Daud
(‘alaihissalam), karena telah pergi setelah Astoret; dewi Zidonia dan setelah Milcom, kekejian
Amon. Sulaiman (‘alaihissalam) juga dinyatakan untuk tidak hanya membangun istana tinggi
untuk Kamos, kekejian Moab, di bukit sebelum Yerusalem dan untuk Molekh, kekejian anak-
anak Amon, tetapi juga istana bagi istri asingnya yang dibakar kemenyan dan dikorbankan untuk
dewa-dewa mereka, dan karena itu Tuhan marah dengan Sulaiman (‘alaihissalam). Sebab
hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan
diri kepadanya, dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti
allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN (1 Raja Raja
11:1-11). dan seterusnya.
Tidak diketahui apakah buku ini ditulis oleh Erza dalam bahasa Ibrani atau bahasa aram
yang digunakan orang-orang Yahudi, sepulangnya mereka dari penahanan. Versi Erza
menyatakan bahwa mayoritas para rabbi suka merahasiakan ilmu-ilmu dan buku yang mereka
miliki, sehingga kompilasi Erza yang orisinil pun tidak dapat ditemukan. Dikisahkan bahwa Erza
telah menulis Sembilan puluh empat buku tetapi hanya dua puluh empat buku yang tidak
disembunyikan, sedangkan sisanya dirahasiakan! Bahkan, Erza sendiri dikisahkan pernah
bersedih karena “dunia ada dalam kegelapan, dan penduduknya tidak memiliki terang. Karena
hukum-Mu telah dibakar" (2 Esdras 14:20-22), menandakan bahwa Taurat yang orisinil
sebelumnya telah lenyap. Saat ini, tidak ada kitab Taurat Erza versi orisinil yang tersedia karena
tidak adanya versi Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani atau Aram yang dapat ditelusuri kembali
ke versi Erza. Namun, berdasarkan dari sejarah “bagaimana Alkitab datang kepada kita,” seperti
yang ditunjukkan dalam Alkitab versi revisi yang disunting oleh John Stirling pada tahun 1952,
terlihat bahwa Alkitab terjemahan bahasa Yunani paling pertama (Perjanjian Lama) muncul di
abad ketiga SM. dan bahwa sebelum diterjemahkan, Alkitab masih dalam versi berbahasa Ibrani
Islamic Online University Aqidah 301
167
yang disalin dalam gulungan-gulungan oleh para penulis selama berabad-abad. Tetapi tidak
diketahui versi Alkitab berbahasa Ibrani yang mana yang diterjemahkan ke dalam bahasa
Yunani. Legenda mengatakan bahwa Septuaginta, yang bernama seperti itu karena disusun oleh
tujuh puluh atau lebih ahli Taurat, dibuat dari hasil kerja keras selama lebih dari satu abad
melibatkan banyak orang. Namun, seperti yang dapat dilihat dari beberapa ayat-ayat dalamnya,
teks Septuaginta sangat kacau dan membingungkan. Ini akibat dari salah membaca teks Ibrani.
Akibatnya, penggunaan Septuaginta sebagai referensi hanya akan menyulitkan ketika digunakan
sebagai panduan untuk memahami teks Ibrani dan cukup banyak cendekiawan meragukan
keandalannya. Bahkan di awal-awal kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M. pun, Septuaginta
sudah tidak dapat diterima oleh para rabi konservatif karena adanya perbedaan baik dalam
Kanon dan dalam teks versi bahasa Ibrani. Sehingga, sekitar 140 M., bahkan di kalangan Yahudi
Yunani pun, versi terjemahan Aquila yang lebih liberal pun pada akhirnya menggantikan
Septuaginta. Dua terjemahan Alkitab bahasa Latin, satu dibuat untuk digunakan di Italia dan satu
dibuat untuk Afrika Utara, menjadi populer selama abad kedua dan ketiga M. Paus Damasus I
merasa tidak senang dengan kebingungan-kebingungan yang muncul dari Alkitab-Alkitab
terjemahan ini, termasuk kedua Alkitab versi Latin. Karena itu, di abad ke-4, dia menugaskan
Santo Hieronimus Jerome untuk menyunting Alkitab sah versi baru bernama “Vulgata”. Santo
Jerome menghabiskan hampir dua dekade menyunting Vulgata dan hasil suntingan tersebut
kemudian diterbitkan di 404 M. Terlepas dari dukungan Santo Agustinus dan yang lainnya,
Vulgata dan Alkitab versi Latin tidak diterima secara langsung oleh semua kalangan karena
adanya perbedaan antara Vulgata dan versi bahasa Latin. Tetapi, Konsili Trento menjadikan
Vulgata sebagai standar Alkitab terjemahan bahasa Latin. Edisi terbarunya, yang disusun di
tahun 1590, direvisi dan dikeluarkan pada tahun 1592. Penerbitan ulang ini dilakukan atas dasar
permintaan Paus Pius X kepada komisi internasional dan jilid pertama “Vulgata Baru” pun tiba
di tahun 1926. Alkitab versi bahasa Inggris pertama sebelumnya telah diterbitkan oleh Miles
Coverdale pada tahun 1535 dan versi bahasa Inggris pertama Perjanjian Baru sebelumnya telah
diterbitkan oleh William Tyndale di tahun 1526. Alkitab Agung, yang disiapkan oleh komisi
resmi, diadopsi oleh para pemimpin negara dan gereja dan diterbitkan pada tahun 1539, untuk
dijadikan sebagai satu-satunya versi kitab suci yang sah dan diizinkan. Namun, karena versi lain
masih tetap populer, versi revisi dari Alkitab Agung bernama "Bishop's Bible" pun diterbitkan
pada 1568; namun Alkitab versi ini juga tidak menjadi populer. Pada tahun 1611, terjemahan
bahasa Inggris resmi lainnya yang dikenal sebagai "King James Bible" kemudian diterbitkan. Ini
lagi-lagi harus direvisi karena menerima banyak kritikan dan Alkitab versi baru lainnya lagi
kemudian dikeluarkan sekitar tahun 1885, diikuti oleh Alkitab Standar Amerika pada tahun
1901. Versi Standar Amerika ini pun juga direvisi besar-besaran dalam versi standar Perjanjian
Baru di tahun 1946, Perjanjian Lama di tahun 1952, dan Apokrifa Alkitab di tahun 1857 M. Di
tahun 1947, komisi para ahli dari Inggris mulai mengerjakan terjemahan-terjemahan baru.
Terjemahan baru Perjanjian Baru pun muncul di tahun 1961 M dan terjemehan baru Perjanjian
Lama dan Apokrifa muncul pada tahun 1970. Sehingga, berdasarkan dari sejarah Alkitab ini,
dapat disimpulkan bahwa selama dua puluh abad terakhir, belum ada satu pun hasil terjemahan
Islamic Online University Aqidah 301
168
Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang disepakati bulat oleh semua golongan gereja.
Mengenai Perjanjian Lama yang orisinil, dapat disimpulkan bahwa Taurat telah hilang jauh
sebelum era Daud (alaihissalam) dan apa yang diyakini sebagai Kitab Hukum yang hilang
seharusnya telah ditemukan di kuil di Yerusalem oleh Hilkiah sang imam di masa pemerintahan
Yosiah sekitar 600 sampai 700 SM lalu. Hal ini dikukuhkan sebagai firman Tuhan oleh seorang
nabiah melalui meditasinya dengan Tuhan! Namun, bahkan yang ditemukan ini pun lenyap
dimakan api selama penghancuran besar-besaran kaum Kasdim di Yerusalem atas perintah raja
mereka. Alhasil, Taurat Erza pun, yang disusun selama dua abad atau lebih, tidak lagi memiliki
hubungan yang sahih dengan “Buku Hukum” yang ditemukan oleh Hilkiah ini. Tidak ada jejak-
jejak dari Taurat baru yang disusun oleh Erza ini pada abad kelima S.M. ini. Sangat mengejutkan
dan sulit dipercaya bahwa begitu banyaknya tuduhan murtad dan tidak suci terhadap keagungan
Tuhan dan para nabi dan malaikat kudusnya telah disahihkan dan diterima sebagai kanon oleh
cendekiawan-cendekiawan yang merevisi kitab suci berkali-kali di masa lalu.
Dari apa yang telah dibahas dalam analisis sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa
mematuhi dan menghormati "Hukum" bukanlah suatu hal yang menyusahkan dan Yudaisme
ditujukan hanya untuk dua belas suku bani Israil dan keturunan mereka, dan bukan untuk orang-
orang di seluruh dunia, dan bahwa bahkan "Hukum" atau Taurat yang mereka miliki, secara
keseluruhan, tidak sesuai dengan firman nyata dari Tuhan yang diberikan pada awalnya kepada
mereka melalui Nabi Musa (alaihissalam). Sehingga, tidak mengeherankan bahwa ada banyak
inkonsistensi dan referensi yang tidak benar mengenai Allah, para rasul, dan malaikatnya masuk
ke dalam kitab mereka akibat dari asosiasi panjang orang-orang Israil dengan penyembahan
berhala dan takhayul-takhayul selama 3000 tahun terakhir. Namun demikian, tidak dapat
dikatakan bahwa tidak ada satu pun kandungan Taurat asli dan wahyu-wahyu Allah yang
diturunkan kepada banyak nabi setelah Musa (Alaihissallam) terkandung dalam Perjanjian Lama.
Ini karena Perjanjian Lama sama sekali tidak mentoleransi adanya Tuhan selain Tuhan Yang
Maha Esa, Penguasa alam semesta, dimana keyakinan ini merupakan dasar pengabdian yang
universal dan umum bagi ketiga agama bersaudara ini, yaitu agama Yahudi, Kristen, dan Islam.
Islamic Online University Aqidah 301
169
Bab 10
Shintoisme
Shintoisme yang bertempat di Jepang berusia setidaknya sekitar dua puluh abad, setua
agama Kristen. Shinto adalah pemahaman Sino-Jepang mengenai konsep Kami-no-Michi,
artinya “Jalan Kami” atau “Jalan Tuhan”. Shintoisme merupakan jalan hidup yang berkembang
sekitar kepercayaan dan ritual-ritual yang diasosiasikan dengan penyembahan deitas-deitas kuno
Jepang. Shintoisme kemungkinan muncul akibat masuknya Agama Buddha ke dalam Jepang
sekitar abad keenam. Nama Shintoisme digunakan untuk membedakan diri mereka dari kultus-
kultus Agama Buddha. Di Jepang, “Urusan Penyembahan” (Masuri-goto) telah menjadi adat
sejak zaman kuno sebagai penanda festival dan upacara-upacara yang ditujukan untuk dewa-
dewa orang Jepang. Budaya dan agama melebur menjadi satu, upacara penyembahan dewa sama
dengan upacara yang diterapkan dalam pemerintahan. Khususnya, setelah restorasi kaisar pada
tahun 1868 M. kesatuan antara budaya kuno dan negara dihidupkan kembali dan dalam konteks
ini, kuil-kuil Shinto dijadikan sebagai agensi utama untuk menggerakkan, merayakan, dan
mendukung kepentingan kehidupan bangsa di Jepang.
Saat ini Shinto terbagi menjadi dua bentuk: Shinto kuil (Shinto Jinja), yang sebelumnya
bernama Shinto Negara (Kokka Shinto), dan Shinto masyarakat (Shinto Shuha), yang
mengandung lebih dari seratus sekte di dalamnya. Ajaran Shinto kuil memiliki kuil-kuil dengan
berbagai macam ukuran yang disebut Jinja, mulai dari kuil kecil yang ditujukan untuk keluarga
dan dewa-dewa pelindung lokal sampai kuil-kuil besar untuk memperingati penguasa dan
pahlawan yang meninggal membela negara, sedangkan kuil-kuil Shuba (Kyokai) untuk
penyembahan sekte milik Shinto Shuha berukuran kecil dan kelihatan biasa saja.
Meskipun saat ini Jepang tidak memiliki agama nasional dan semua agama diperlakukan
setara, sejak tahun1940 dan seterusnya, karena semua kuil Shinto berada dibawah pengurusan
biro kuil pemerintahan Jepang, kuil-kuil ajaran Shinto ini pun terus mendapatkan bantuan dari
pemerintah. Beberapa Shinto sektarian memiliki pengaruh-pengaruh Konfusianisme di
dalamnya, sedangkan yang lain bersifat murni kepercayaan dan upacara Shito, beberapa lainnya
sangat menekankan upacara pemurnian dan beberapa lainnya merupakan kultus pemujaan
gunung. Gunung Fuji, yang dikenal sebagai Fujiyama, dihormati oleh semua orang Jepang tidak
Islamic Online University Aqidah 301
170
hanya sebagai objek ilahi tetapi juga sebagai simbol bangsa dan negara Jepang. Ini karena
adanya hubungan timbal balik antara negara dan budaya di Jepang. Sejak perang dunia kedua,
banyak hal berubah secara drastis dimana tidak ada negara yang mendukung Shintioisme dengan
pengabaian hal-hal duniawi sepenuhnya oleh kaisar Tapaneae pada tahun 1946. Sebelumnya,
terdapat sekitar 48 pengikut Shiptoisme yang berbatasan dengan Jepang yang percaya bahwa
kaisar mereka suci, menjadi keturuan dewa matahari.
Diawali dengan penyembahan alam oleh para pekerja tani, tidak ada batasan tuhan dalam
aliran Shinto. “Kamis” merupakan tokoh dunia alam yang disembah sebagai tuhan, dewa dan
dewi yang mencakup apapun seperti langit, bumi, matahari, bulan, badai, pepohonan, musim
semi, sungai, laut, bebatuan, gunung, pertumbuhan, kesuburan, bintang, planet, hal-hal misterius,
dan lain-lain. Di era Shinto yang lebih tua dikatakan bahwa terdapat Yao-yorodzu-No-Kami”
yang berari 800 ribu banyak tuhan”. Di masa moder, selama masa pasca perang, untuk
menyuburkan sentiment pada keluarga imperial sebagai dasar persatuan nasional, dunia dewa-
dewa Shinto kemudian diperbesar mencakup jiwa para raja juga para pahlawan dan ksatria yang
meninggal dalam perang dan tugas militer negara seperti yang ditunjukkan oleh kuil nasional
Yasukuni di bukit Hill di Tokyo untuk memberikan tempat suci bagi mereka yang kehilangan
hidupnya selama perang dan yang seharusnya diberikan penghargaan dengan pengangkatan ke
tamu abadi dari dunia para jiwa yang diyakini oleh Shinto untuk menjaga takdir bangsa.
Dengan ancaman pengikisan budaya Shinta oleh Buddhaisme, kebangkitan kembali
Shintoisme dengan fondasi yang lebih solid dan aktif menjadi penting untuk penguatan persatuan
nasional dan budaya orang Jepang. Kerena itu, selama masa dinasti Tokugawa, para ilmuwan
dana bad ke-16 hingga abad ke-18 membangun sebuah teori yakni dewi matahari, Ameta-
rassu-Omi-Kami merupakan pendiri pertama dari silsilah keturunan kerajaan Jepang yang
memiliki kedaulatan sempurna yang berada dalam kesuksesan kerajaan yang tak terhancurkan
sejak lama ditakdirkan untuk menguasai Jepang selamanya, dan karena pengenalan emosional
dengan Kami Yang Agung dari dewa-dewa masa lampau ini, orang-orang Jepang itu lebih
berani, lebih baik hati, lebih cerdas dibandingkan dengan ras manapun”. Oleh karena itu, mereka
mengembangkan doktrin yang diturunkan kaisar dari dewa-dewa yang juga ditetapkan oleh
keinginan dewa untuk memperluas kekuasaannya ke seluruh dunia dan bahwa ras Jepang
sepenuhnya dirahmati untuk melakukan apa yang secara moral benar tanpa kebutuhan
pendapatan luar yang orang-orang kurang beruntung diwajibkan untuk bergantung. Hingga
kekalahan Jepang di perang dunia II, doktrin ini berlaku. Doktrin ini berdasar pada psikologi ras,
dipercaya bersifat ketuhanan, diterima oleh orang Jepang sebagai keyakinan nasional dan hal
tersebut membimbing perasaan, institusi, ritual, sistem moral, pemikiran dan pandangan bangsa
sebagai sebuah kesatuan telah ditunjukkan sebagai “Yamato Damashi” (Jiwa Yamato) dan
“Bushido (Jalan Ksatria), dan ditunjukkan di sastra saat ini seperti Seshin Nipponn” atau
Semangat orang-orang Jepang”. Gagasan “Semangat orang-orang Jepang” dan keyakinan kuat
bahwa sebagai keturunan para dewa dengan garis keturunan para raja sejak masa para dewa,
masih tak terhancurkan, bangsa Jepang mengemban tugas ilahi untuk menyelamatkan dunia dan
Islamic Online University Aqidah 301
171
menenangkan dengan propaganda, yang menyebabkan orang-orang Jepang begitu berani dan
setia dalam perang, perintah, disiplin dan kesetiaan, dalam kerjasama yang aktiv dengan Nazi
yang juga memiliki gagasan yang serupa yaitu superioritas ras Arya.
Namun, kekalahan Jepang dan Nazi di perang dunia ke-II membantu menghilangkan
mitos tersebut dari pikiran mereka untuk kebaikan mereka dan kebaikan dunia seluruhnya,
sehingga ideology Shinto berubah menjadi internasionalisme tidak hanya untuk memenangkan
dukungan sosial dunia, tetapi juga untuk menjadikannya agama dari niat yang baik. Sehingga,
ritual-ritual yang dipersiapkan oleh persatuan kuil nasional Jepang pada tahun 1946 yang
digunakan untuk kuil Shinto berisi doa-doa untuk kedamaian dunia dan persaudaraan. Juga
kebanyakan masyarakat Jepang masih memegang gagasan ini, yang masih dihormati oleh
mereka. Secara bersamaan keagungan dari dewi matahari dan tempat-tempat suci yang
dihubungkan dengan Ise (Amaterasu-Omi-Kami) dipertahankan sebagai dewa orang-orang
Jepang, juga berdasarkan tradisi Jepang, untuk meneruskan penghubung yang orang Jepang telah
miliki sejak lampai ketika Shintoisme yang sama dengan ideologi di masa kita telah menjadi
agama negara Jepang.
Islamic Online University Aqidah 301
172
Bab 11
Sikhisme
Jaidev, pengarang dari Geetha Govind, seorang filsuf dan pemikir Hindu, telah
mengajarkan di abad ke-11 M bahwa praktek Yoga dari Hindu tidaklah berguna sebagai
pengganti dari pemujaan Tuhan dalam pikiran dan kata-kata. Selanjutnya, dipengaruhi oleh
Islam, agama penguasa Mogul di India, Kabir, seorang filsuf penyair (1440-1518) juga telah
mencela pemujaan berhala dan ritual yang diperintahkan oleh filsafat kitab Hindu dimana
pemujaan dan persembahan kepada para dewa dewi menjadi serupa dengan jalan hidup Hindu
pada masanya. Di abad yang sama, Ramanand juga telah mencoba untuk membebaskan
pengikutnya dari kutukan sistem kasta Hindu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya
mengenai Hinduisme, banyak gerakan pencerahan dan penegasan yang telah dimulai oleh
banyak pemikir dan filsuf Hindu sejak abad ke-7 M, kejadian yang bukanlah sebuah kebetulah
semata. Pada kenyataannya, di abad inilah agama Islam diperkenalkan kepada dunia sebagai
jalan hidup yang sempurna menegaskan agama samawi sebelumnya, Yahudi dan Kristen,
sebagai pendahulu untuk membangun keyakinan akan Tuhan Yang Maha Esa juga
internasionalisme yang tak terbantahkan oleh manusia dimanapun ia berada.
Sebelumnya, agama Kristen telah diperkanalkan kepada penganut agama Hindu India dan
sekarang dengan pertimbangan rasional juga pandangan mulia Kristen dan Islam mengenai
Tuhan, manusia dan semesta juga melalui cara hidup para penyampai ajaran dari kedua agama
telah mulai memberikan pengaruh pada agama dan kebudayaan masyarakat India melalui
perpindahan agama dalam skala besar dari Hindu ke kedua agama tersebut. Dengan tidak
mengetahui filsafat yang lebih baik daripada yang diterangkan melalui budaya Dravidian-Aryan
yang berkembang selama ribuan tahun berdasar pada Weda dan juga tulisan setelahnya, strategi
dari para pemikir dan filsuf Hindu segera berubah dari usaha awal mereka untuk menguatkan
keimanan penganut agama Hindu melalui ritual-ritual seperti Shakti, Bhakti, dan aliran lain yang
memperlihatkan kekuatan mistis dari dewa-dewa Hindu hingga kampanye pembersihan, dan
gerakan Shudhi, yang bertujuan bukan hanya untuk mencegah umat Hindu berpindah keyakinan,
tetapi juga untuk menggoda penganut agama Hindu yang telah berpindah agama untuk kembali
ke dalam agama Hindu. Namun, pecahan di bendungan tidak dapat disatukan karena kecepatan
gerakan baru, khususnya Islam, terlalu besar untuk dihentikan. Bersama dengan tekanan dan
Islamic Online University Aqidah 301
173
tegangan yang diperkenalkan selama penaklukan Muslim di India, ketika Islam telah menjadi
sebuah agama minoritas yang kuat di India dengan perpindahan agama dalam skala besar terjadi
dimana-mana, hal tersebut sangatlah penting dalam hal menjadikan budaya Hindu setidaknya
tidak begitu usang seluruhnya, untuk menginterpretasikan filsafat untuk mengikuti situasi yang
terus berubah. Tetapi ini tidaklah mudah karena kitab dan filsafat Hindu telah memberikan
kesan yang dalam dalam kehidupan budaya masyarakat di sisi lain juga kebiasaan dari ajaran
kitab, kalangan atas, khususnya golongan Brahmana, yang tidak memiliki keinginan untuk
memberikan kelonggaran pada yang lain. Oleh karena itu, mendekati abad ke-15 M, pembuat
pembaharuan, Guru Nanak, seorang Hindu, memperkenalkan agama barunya, Sikhism untuk
kependetaan pribadi, tetapi juga pada kekurangan lama selama berabad-abad seperti keyakinan
pada keberagaman Tuhan, penyembahan berhala, ritualisme, perbedaan kasta, reinkarnasi, dan
lain-lain, demi memperkenalkan agama baru, menurut pembuatnya, didasarkan pada
penggabungan dua filsafat terbaik Islam dan Hindua dengan gagasan untuk membawa dua agama
bersama-sama.
Guru Nanak, pencipta aliran-aliran Sikh dan tokoh kontemporer Martin Luther, lahir pada
tahun 1569 M, merupakan akar dari monoteisme. Tradisi Sikh, dalam konteks pemegang filsafat
Hindu bahkan dalam keyakinan ini, menyatakan bahwa dia adalah renkarnasi dari Hindu
Upanishad pelindung ksatria Raja Janaka Videhas. Terlahir sebagai Hindu, tetapi tumbuh
bersama Umat Muslim; Guru Nanak diperkenalkan dengan ajar Kabir dan muslim sufi lainnya .
Setelah diberikan ajaran mengenai keragaman Tuhan dan sistem kasta dalam ajaran Hindu, di
sisi lain serta persaingan juga kesalahpaham yang besar antara politeisme Hindu dan monoteisme
Islam, Nanak mengeluarkan agama barunya, dengan niat terbaik, mungkin. Dia mengajarkan
pengikutnya tidak berharganya dari beberapa hal penting dalam keyakinan Hindu seperti
penyembahan berhala, pengabaian hal-hal duniawi, ibadah kepada dewa dewa sebagai jalan
untuk menyembah satu Tuhan, penebusan dosa, ziarah, sistem kasta dan sebagainya. Dia
menjatuhkan dinding pemisahan kasta yang tak terpisahkan digabungkan dengan Weda dan kitab
Hindu dengan menyatakan bahwa semua manusia sama di mata Tuhan, setiap orang berhak
untuk mencari pengetahuan tanpa memandang kasta dimana ia dilahirkan. Dengan demikian,
keyakinannya tetap terbuka bagi orang-orang dari semua golongan tanpa ada perbedaan kasta
yang dipraktikkan. Tidak diragukan bahwa dua faktor utama yang mungkin telah berkontribusi
pada pendekatan barunya adalah bahwa ketika ia lahir dan dibesarkan di lingkungan kasta Hindu
yang terpencil dan menyembah berhala, ia menjalani kehidupan awal, yang bertentangan dengan
para dermawan Muslimnya dimana ia pasti terkesan oleh ide-ide dan praktik-praktik luhur yang
ditemukan dalam Islam begitu pun dengan banyak aspek kehidupan lainnya.
Telah dikatakan sebelumnya bahwa pendekatan Guru Nanak memiliki semangat dasar
untuk mereformasi Hinduisme di era ketika ia datang ke konfrontasi langsung dengan filsafat
Islam yang jauh lebih menarik yang telah diperkenalkan ke daerah Punjab di India oleh Moghul
dan Penguasa Muslim Afghanistan. Namun, pemikirannya kemudian juga ditata kembali untuk
membawa pendekatan hubungan antara kedua agama. Bagaimana pun, perjalanan sejarah di
Islamic Online University Aqidah 301
174
India telah banyak membuktikan betapa banyak ide-idenya yang luput dari fakta bahwa para
pengikut aliran Sikh segera berbalik melawan tidak hanya umat Muslim tetapi juga melawan
umat Hindu sendiri selama beberapa tahun terakhir.
Kepercayaan pada Satu Tuhan menjauhkan diri dari berhala; menjalani hidup bersih; doa
melalui perantaraan Tuhan dengan memuji-muji nama-Nya (nam) untuk memungkinkan jiwa
untuk melewati siklus kehidupan yang berbeda sampai menyatu dengan Tuhan; sebuah
masyarakat yang tidak berpenghuni dan pantangan dari minuman keras adalah hal-hal penting
dari ajaran Guru Nanak Sikh. Sebelum kematiannya pada tahun 1539, Nanak telah menunjuk
penggantinya, seorang ksatria lain dengan nama Lehna, yang dikenal sebagai Guru Angad.
Penghargaan atas lahirnya kitab suci Sikh, The Granth Sahib, diberikan kepada Guru Angad. The
Granth Sahib bukanlah wahyu dari Tuhan, tetapi kompilasi dari apa yang Lehna telah dengar
dari Guru, menambahkan pikirannya sendiri dan refleksi untuk itu. Penemuan bahasa Sikh,
Gurumukhi (bahasa guru), dengan skrip Sharada yang dimodifikasi untuk menandai karakter suci
buku agama juga dikreditkan kepada Guru Angad. Kshatriya Amar Das, yang menggantikan
Guru Angad, kemudian mereformasi kultus dengan memisahkan The Udasi Order yang didirikan
oleh putra Guru Nanak sendiri, Shri Chand, dari kaum awam, mengecam Sati (pembakaran
seremonial istri seseorang dalam pembakaran jenazah suami yang telah meninggal) kaum Hindu
dan dengan menekankan kecaman Nanak terhadap sistem kasta Hindu dengan membuat semua
orang Sikh makan bersama. Guru Ramdas yang menggantikan Amar Das bertanggungjawab
untuk membangun Kuil Emas di Amritsar pada tahun 1579 di atas sebidang tanah yang diberikan
kepada orang Sikh untuk tujuan tersebut oleh Kaisar Akbar Muslim Moghul.
Selama abad ke- 17, Guru yang kesepuluh dan terakhir, Govind Rai, atau Govind Singh,
lebih lanjut merancang kultus Sikh di bawah naungan Organisasi Sikh yang diberi nama
''Khalsa” (murni), memperkenalkan upacara inisiasi Sikh (Pahul) untuk masuk ke Orde Sikh
yang militan, Lima simbol dari agama Sikh ditemukan hari ini— yakni Kesh (rambut yang tidak
dicukur), Katcha (celana sampai ke lutut), Kada (gelang besi), Kripan (belati kecil), dan Kanga
(sisir), yang dikenal sebagai "Lima K"— yang juga diperkenalkan sebagai hal wajib bagi semua
kaum Sikh selanjutnya. Meskipun nilai-nilai spiritual dikaitkan dengan masing-masing dari lima
simbol, fakta tetap diterima bahwa hal ini menjadikan Sikh sebagai ras pejuang dengan identitas
khusus untuk bertarung pada saat itu juga. Sebagai akibat dari perubahan ini, daging dan
minuman keras diizinkan untuk semua Sikh karena untuk para prajurit, berbeda dengan perintah
sang pendiri, Nanak, sementara tembakau dan narkotika, dilarang. Sebuah persekutuan (Kara
Prasad) dari tepung dicampur dengan mentega dan gula yang dimakan bersama terlepas dari
perbedaan kasta juga diadakan oleh Guru Govind Singh dalam kongregasi.
Upaya Govind Singh telah mengembangkan entitas politik-agama untuk melawan
kekuatan Muslim (Moghul) di India. Sebelum pembunuhannya pada tahun 1708, Govind Singh
memutuskan garis keturunan para Guru, yang menggantungkan Guruship masa depan dalam
'”The Granth Sahib” sebagai wakil Tuhan di bumi untuk membimbing Sikh. Sejak itu, aliran
Sikh berubah menjadi teokrasi militan. Pertumbuhan kekuatan politik Sikh yang
Islamic Online University Aqidah 301
175
mentransformasikan sekte keagamaan ini menjadi organisasi militer yang didorong oleh
kebencian terhadap Muslim, telah dimulai dengan kematian Kaisar Akabar pada tahun 1605.
Banda Bairagi, yang telah memproklamirkan dirinya sebagai Guru kesebelas, dari Sikh, bahkan
telah membentuk pasukan untuk melawan Moghul dan telah mengambil alih kekuasaan
penguasa Hindu Hill sampai kematiannya pada awal abad ketujuh belas. Pada tahun 1767, orang-
orang Sikh mengendalikan tanah luas antara sungai Indus dan Jamuna. Namun, pada tahun 1808,
Ranjit Singh menggabungkan seluruh wilayah Sikh, mendirikan monarki di bawahnya hingga
Peshawar, termasuk wilayah Kashmir. Setelah kematian Ranjit Singh pada tahun 1839,
pelanggaran hukum berkembang dan kekuatan politik dialihkan kepada tentara Sikh Khalsa.
Pada abad ke-19, meskipun orang-orang Sikh terus mempertahankan identitas mereka
yang terpisah, secara umum mereka tetap merupakan kumpulan sekte Hindu. Setelah kematian
Ranjit Singh, Sikh berperang beberapa kali dengan Inggris. Namun, setelah kekalahan terakhir
mereka di Gujrat, yang menyebabkan penyerahan terakhir mereka di tahun 1849, dan khususnya
setelah Pemberontakan India tahun 1857, Sikhisme dihidupkan kembali lagi sebagai kekuatan
agama daripada militeristik, merangsang perasaan anti-Muslim. Mulai sekarang, Granth Sahib
kembali menjadi Guru mereka. Buku doa umum, Panch Granthi, termasuk lima puisi dari
Granth, dibacakan setiap hari oleh Khalsa Sikh, para pengikut Guru Govind Singh. Namun, para
pertapa Sikh juga biasa melakukan ziarah ke kuil-kuil Hindu. Perguruan Tinggi Khalsa di
Amritsar didirikan dan Khalsa Diwan mulai memberi beasiswa kepada sekolah Sikh dan
masyarakat Sikh. Orang awam juga mulai bergerak pelan-pelan ke sekte Sikh. Di tahun-tahun
berikutnya, konflik sektarian terjadi di dalam komunitas Sikh, yang mengharuskan intervensi
otoritas Inggris di India serta M.K. Gandhi untuk pembentukan kembali ketertiban di dalam
komunitas. Setelah itu, orang-orang Sikh mulai bergabung dengan pasukan bersenjata India-
Inggris serta pertahanan dan layanan sipil India dalam jumlah besar. Selama pembagian India ke
Bharat dan Pakistan, posisi kuat Sikh dalam angkatan bersenjata dan layanan sipil India pada
umumnya dan di Punjab pada khususnya serta perasaan anti-Muslim dari komunitas Sikh
bertanggungjawab atas pembantaian massal umat Muslim dan Hindu yang malang di banyak
kota di India utara di mana Sikh secara keseluruhan menyelaraskan diri melawan Muslim.
Dengan demikian, meskipun tampak bahwa pemujaan Sikh merupakan upaya dari pihak
pendirinya untuk membawa pemulihan hubungan antara umat Hindu dan Muslim di India,
nyatanya hal itu ternyata merupakan pemalsuan pemikiran dan tindakan dari masyarakat Hindu
yang bertujuan pada konsolidasi politik dan sosialnya melawan erosi oleh agama-agama yang
lebih dinamis di India, khususnya Islam. Tanpa filosofi baru yang konkret mengenai kehidupan
setelah kematian kecuali doktrin Hindu lama yang sama tentang transmigrasi jiwa sampai
pertemuan akhir dengan Tuhan, gerakan baru Sikhisme juga tidak memenuhi kebutuhan dinamis
manusia modern yang mencari keseimbangan, filosofi yang logis dan bermakna serta cara hidup
yang memadukan keberadaan materialistisnya di dunia dengan kehidupannya setelah kematian.
Betapa anehnya bahwa meskipun apa yang ditemukan dalam "Guru Janam Sakhi Kalan
Bhai Bala," setelah melihat Taurat, Zabur, Injil dan Qur’an dengan saksama, Guru Nanak
Islamic Online University Aqidah 301
176
mengatakan bahwa ia telah menemukan kode tuntunan lengkap untuk manusia di Qur’an itu
sendiri, bahwa jika ada kitab iman apa pun itu, ia adalah Qur’an, dan bahwa Qur’an menjadi
buku tuntunan lengkap yang harus dipercayai dan diikuti; namun, dia lebih memilih untuk
meneruskan agama Sikhnya yang baru daripada dengan anggun menerima Islam, yang
merupakan agama yang dianjurkan oleh al-Qur'an sendiri!
Islamic Online University Aqidah 301
177
Bab 12
Taoisme
Toisme didirikan oleh Lao-Tzu di Cina dan kurang lebih mirip dengan ajaran
Konfusianisme. Taoisme memiliki dua aliran utama yaitu Taochia (Perguruan Taois) dan Tao-
chiao (Agama Taois). Taoisme menjadi bagian dari falsafah kehidupan Cina selama lebih dari
2000 tahun. Asal mula filsafat Tao atau “Tao-te-ching” ini masih belum jelas. Kata Tao yang
dalam bahasa Cina memiliki arti “jalan” juga merupakan kata kunci dalam falsafah
Konfusianisme. Filsafat Tao ini kelihatannya berkembang melalui dua jalan–Tao-te-ching dan
“Chiangtzu” di abad ke-4 S.M
Tao-te-ching
Inti dari Tao-te-ching pada dasarnya adalah naturalism melalui Wu-Wei (ketidakgiatan) yang
berarti tidak melakukan tindakan yang bersifat tidak alami. Segala hal harus terjadi secara
spontan, dan segala hal harus dibiarkan dalam keadaan alaminya. Tao mengajarkan untuk tidak
mengerjakan segala sesuatu demi kepentingan pribadi. Tao mengajarkan untuk menghasilkan
dan merawat benda-benda duniawi tanpa memiliki rasa kepemilikan terhadap benda-benda
tersebut. Tao juga mengajarkan untuk bekerja tetapi tidak merasa sombong atau bangga dengan
pekerjaan yang dilakukan. Sebuah pemerintahan menurut filsafat Tao harus bersifat spontan
tanpa menerapkan hukum, peraturan, atau upacara apapun dan oleh karenanya, pemerintah yang
terbaik menurut ajaran Tao adalah pemerintah yang tidak diketahui oleh masyarakat. Dengan
demikian, meskipun Tao-te-ching menentang kepalsuan, formalitas, perang, pajak, hukuman,
pengetahuan dangkal dan moralitas konvensional, di saat yang sama, Tao-te-ching ini juga
menumbuhkan semangat pemberontakan.
Walaupun Tao menekankan pemahaman mengenai ketidakadaan, Tao-te-ching juga
menyatakan bahwa sebelum eksistensi, terdapat ketidakadaan. Filsafat Tao meyakini adanya
eksistensi abadi dan ketidakadaan abadi. Jadi, Tao merupakan “prinsip eksistensi”, “sumber
surga dan bumu”, dan “ibu segala hal”. Tao menciptakan segala hal dan menjaga semuanya
Islamic Online University Aqidah 301
178
dalam suatu harmoni secara keseluruhan. Harmoni ini disebut sebagai "yang kekal" dan
pemahaman terhadap "yang kekal," disebut sebagai "wawasan".
Alam diibaratkan seperti air, wanita, dan bayi. Wanita dan bayi dianggap sebagai mereka
yang lemah. Meskipun air itu lembut dan lemah, hanya air yang paling efektif menghadapi yang
keras dan kuat. Filsafat Tao tidak hanya membesar-besarkan sifat lemah yang dimiliki air, tetapi
juga menekankan sisi kesederhanaannya. Hidup yang sederhana adalah hidup yang melepaskan
keuntungan materil, meninggalkan intelektualitas, melenyapkan keegoisan, dan menghilangkan
nafsu atau keinginan. Hidup seperti ini adalah hidup yang terang bagaikan cahaya tetapi
menyilaukan, yang membalas kejahatan dengan kebaikan, dimana kesempurnaan artinya
kekurangan, dan rasa kepurnaan artinya kekosongan, kesatuan, kepuasan, ketenangan,
keteguhan, pencerahan, umur panjang, dan seterusnya.
Chuang-tzu
Menurut Chuang-tzu, alam adalah sebuah transformasi diri yang spontan dan tidak
pernah berhenti tanpa diatur oleh Penguasa apapun. "Manusia yang murni ideal" merupakan
seorang pendamping alam yang membantu tetapi tidak mencoba untuk mengubah cara kerja
alam sesuai kemauannya dan bertujuan untuk mencapai kebebasan spiritual dan perdamaian
absolut melalui Wu-wei (ketidakgiatan). Ia mengadaptasi dan mengembangkan sifat pribadinya
sesuai dengan cara kerja alam untuk memperoleh "Kebijaksanaan Agung" yang membuatnya
tidak lagi membeda-bedakan segala sesuatu, tidak lagi peduli dengan subjektivitas, dan tunduk
kepada sang semesta. Semua mahkluk mendekap menjadi satu kepada Tao dan semua opini pada
dasarnya adalah sama karena semuanya bersifat relatif dan saling berhubungan satu sama lain.
Kesatuan ini membuat manusia dapat “menjelajah dengan sang Pencipta”, berteman dengan
hidup dan mati. Terdapat sejumlah unsur-unsur kebatinan, ketidakgiatan, dan fatalism dalam
ajaran ini, tetapi tujuan inti Chuang-tzu adalah untuk menjaga keaslian alam dan mencapai
kebebasan rohaniah.
Di abad keempat dan kelima S.M., kultus pelestarian kehidupan berkembang dan
memiliki pengaruh yang sangat besar di Cina sampai-sampai Yunchu, seorang reformis Tao,
tidak ingin membantu kota yang terancam punah atau bahkan mengorbankan dirinya. Neo-
Taoisme yang berkembang selama abad ketiga dan keempat S.M. juga terpengaruh oleh ajaran
dasar Wu-Wei. Akibat dari datangnya Agama Buddha di Cina, kedua aliran ini mulai saling
mempengaruhi satu sama lain. Seiring dengan kemunculan Taoisme di Tiongkok, gerakan lain
dengan tujuan menjadikan Taoisme sebagai sekte keagamaan juga mulai dilakukan oleh para
pendeta yang menawarkan ramalan dan sihir kepada orang-orang untuk memperoleh kekuatan
batin, menjadi awet muda, mendapatkan kekuatan super, dan mencapai keabadian. Selama masa
pemerintahan Chang-liu, seorang pemimpin agama yang terkenal dapat menyembuhkan orang
sakit kemudian mengorganisir gerakan ini sekitar 143 M. dengan mewajibkan setiap pengikut
Islamic Online University Aqidah 301
179
gerakannya untuk menyumbangkan sejumlah beras. Gerakan ini juga mengadvokasikan falsafah
energi kosmik positif dan negatif dan mengasimilasi beberapa aspek Konfusianisme untuk
memadukannya dengan Taoisme agar menghasilkan sebuah perpaduan untuk memperpanjang
umur seseorang melalui praktek alkimia dengan metode harmonisasi kosmik positif dan negatif
yang memusatkan "Energi Vital" (Chi) dari alam semesta ke dalam tubuh manusia. Selama abad
kelima M. di bawah pengaruh Kouchien-chieh yang meregulasikan upacara-upacara ritual Tao,
memperbaiki nama-nama dewa ajaran Tao, dan merumuskan ideologinya, Taoisme kemudian
menjadi agama yang terorganisir dengan landasan teoretis yang kuat dan praktik ritual yang
terperinci. Setelah itu, Taoisme pun menjadi agama negara dibawah perlindungan kerajaan
dinasti T'ang dan menjadi agama masyarakat buta huruf hingga awal abad ke-20 M. ketika
gerakan-gerakan baru yang muncul mencoba membuat Taoisme lebih sejalan dengan agama-
agama kontemporer yang berkembang lainnya untuk menjauhkan Taoisme dari ketakhayulan.
Tujuan untuk memperoleh keabadian duniawi tetap menjadi tujuan Taoisme, namun untuk
menyebarkan ajaran ini secara internasional, Taoisme kemudian memasukkan hal-hal baru ke
dalam ajarannya seperti perintah untuk menyembah dewa-dewa yang sebenarnya berasal dari
agama lain, anjuran untuk bersedekah, dan dorongan untuk membudayakan moral. Sehingga, ciri
khas Taoisme saat ini adalah terdapat banyak dewa, segala jenis takhayul, dan sekte-sekte di
dalamnya. Pencarian rahmat dan umur panjang juga menjadi ciri khas Taoisme yang lain.
Dengan demikian, perihal urusan pengabdian dan spiritualisme dalam ajaran Taoisme, bintang-
bintang, benda hidup dan benda mati, keseluruhan maupun sebagian organ tubuh manusia,
leluhur, makhluk bersejarah, kaisar Jade, tiga yang murni-yang dihormati dengan wujud, tanpa
wujud, dan berwujud Brahma, bintang biduk, kesatuan besar, dewa-dewa kesusastraan, dewa-
dewa kekayaan, dewa obat-obatan, dewa tanggah, dan dewi belas kasihan, semua ini merupakan
sejumlah dewa-dewa yang disembah dalam Taoisme. Sama sekali tidak terdapat pemahaman
mengenai Tuhan Yang Maha Esa, mengenai kehidupan akhirat, atau nilai-nilai rohaniah lainnya.
Taoisme juga memuja Sepuluh Grotto surgawi, dan tiga puluh enam Grotto tambahan, serta
tujuh puluh dua tempat dirahmati lainnya yang menjadi tempat kekuasaan mahkluk-mahkluk
abadi dimana mereka menunggu manusia yang mencari "jalannya".
Dari apa yang telah dibahas di atas, terlihat bahwa bentuk pengabdian dan ketaatan dalam
Taoisme ialah kebahagiaan dan kesejahteraan duniawi seperti kesenangan, kesehatan, kekayaan,
anak-anak, dan umur panjang.
Untuk mewujudkan ketiga asas Esensi, Energi Vital, dan Jiwa
yang diperlukan untuk mencapai tujuan akhir, para penganut ajaran Tao harus melakukan
pelatihan yang rumit seperti pengendalian nafas, mandi, diet, konsentrasi mental, higiene seks,
dan latihan fisik serupa yoga. Selain itu, masyarakat penganut ajaran Taoisme juga
mempraktekkan penggunaan obat-obatan, jimat, dan banyak ramuan lainnya yang berguna untuk
mengubah dan menghilangkan bentuk tubuh, dan mengubah air raksa menjadi emas.
Namun, proses penelitian kimia dan perkembangan obat-obatan mengantarkan pada banyak
penemuan ilmiah yang memberikan keuntungan bagi Eropa dan Barat saat ini. Dalam bidang
Islamic Online University Aqidah 301
180
tahayul, Taoist, seperti ramalan, ramalan nasib, serta penggunaan racun dan guna-guna untuk
beragam tujuan.
Setiap sekte memiliki kuil, gambar untuk disembah, pendeta, dan bahkan aturan-aturan
sendiri. di Cina utara, sekolah-sekolah utara disebut “ Sekte Persatuan Lengkap” yang berlaku di
sekeliling kuil putih di Peking sebagai pemimpin kuil menekankan kekuatan vital hidup manusa,
yang menurut mereka dapat diperpanjang dengan pola makan dan obat-obatan yang sesuai.
Pendeta mereka menikah, hidup di rumah dan berkenaan dengan Guru Surgawi, yang hidup di
pengunungan Naga dan Macan di pusat Cina, sebagai pemimpin mereka.
Pada praktiknya, dapat dilihat bahwa pencampuran Konfusianisme, Buddha, Shinto dan
Taoisme dalam satu hal atau hal lain telah menghasilkan evolusi dari jalan hidup yang umum
dari orang Cina peninsula, negara-negara asia timur dan Jepang.
Islamic Online University Aqidah 301
181
Bab 13
Zoroastrianisme
Sejarah Bangsa
Zarathustra di Persia lama, Zartosh di Persia baru dan Zoroaster di Mesir, merupakan
penemu dari agama yang dikenal dengan Zoroastrian, yang berkembang di Iran sejak sekitar
abad ke-7 S.M hingga sekitar abad ke-10 M, tetapi sekarang sebagian kecil orang yang
berjumlah sekitar 200,000 orang dan ditemukan kebanyakan di kota-kota pelabuhan Bombay di
India dan Karachi Pakistan, dan disebut Parsi, nama yang diambil dari tempat tinggal leluhur
mereka, Persia. Orang-orang yang makmur dan damai dikenal karena kehidupan budaya dan
komunitas mereka yang terajut baik, ditunjukkan melalui dana mereka untuk pembangungan
institusi pendidikan, rumah sakit, dan taman-taman umum di dua kota, umumnya pada masa
kekuasaan Inggris di India, yang tumbuh pesat dibandingkan dengan ukuran kecil populasi
komunis, orang parsi memulai migrasi mereka dari daerah yang disebut Gujarat di wilayah India
Bara selama abad ke-10 M ketika Islam telah menjadi agama domnan di Persia, menggantikan
dua agama di negara tersebut sebelumnya, yaitu aliran politeistik Iranian dan aliran dualis
Zoroaster. Selama masa awal imigrasi mereka di India, kaum Parsi merupakan komunitas tani
dan peternak, tetapi selama integrasi sosial dan ekonomi awal dengan India, mereka telah
mengikuti cara berpakaian orang Hindu lokal. Namun, ketika sejahtera, mereka berfokus pada
perdangan, industri dan pembangunan real estate di dua kota pelabuhan besar di Bombay dan
Karachi. Selama masa penguasaan Inggris di India, mereka mengikuti cara berpakaian orang
inggris. Selama masa awal di abad ini, kaum Parsi menduduki posisi yang penting di bidang
perdagangan, industry, real estate, pemerintah lokal serta dalam pembangungan lembaga amal di
kedua kota dimana beberapa nama sekolah, taman, dan rumah sakit dinamai dengan nama para
penyumbang dari kaum Parsi.
Islamic Online University Aqidah 301
182
Kehidupan Zoroaster
Zoroaster muncul di suatu tempat di wilayah pertanian, mungkin di bagian timur barat
Iran, dimana peternakan mungkin menjadi pekerjaan utama orang-orangnya. Meskipun era dan
tempat lahirnya Zoroaster tidak diketahui pasti, di duga ia lahir antara 600 dan 700 S.M. Tradisi
kaum Parsi menyatakan bahwa ia lahir 258 tahun sebelum Alexander, dimana orang Persia
menempatkan kelahirannya di masa Hystapes. Apakah Hystapes merupakan ayah dari Darius
atau orang lain juga tidak diketahui dari catatan manapun, meskipun jelas diketahui bahwa
Darius dan pewarisnya merupakan pengikut Zoroastrinisme. Zoroaster yang dianggap, mungkin,
sebagai penemu legendaris dari “sihir kebijaksanaan” dan praktek ilmu gaib yang menguat
selama berabad-abad dari 300 S.M hingga ke 300 M di Timur tengah dan Mesir, yang disebutkan
oleh Pluto sebagai putra dari Oromazdes. Umat Kristen sebelumnya menganggap bahwa
Zoroaster merupakan Nabi Ezekiel yang disebutkan dalam Kita Taurat Yahudi. Ilmuwan lain,
menempatkannya di wilayah lain selama tempat asal-usulnya diperhatikan. Avesta menyatakan
bahwa ia dilahirkan di Airyanem Vaejo di sungai Daitya, negara para dewa. Venda menyatakan
bahwa tempatnya adalah di tempat tinggal ayahnya di sungai Dareja; di Bandahish ini terdapat di
Airan Vej di sungai Daitya, dan di Yasna ini terdapat di Ragha. Bab ke-13 dari kehidupan
Zoroaster, hilang. Namun, buku ke-7 dari Dinkard yang dikatakan ditulis pada abad ke-9 M dan
berisi biografi diduga berdasar pada bab ke-13 yang hilang dalam Avesta, Shahnama dan
Zardustht-Nama abad ke-13 bercerita tentang kisah-kisah menakjubkan dan bahkan keajaiban
yang dihubungkan dengan kehidupan Zoroaster.
Zardust Nama menyatakan bahwa Zoroaster lahir dengan tertawa, tidak seperti kelahiran
bayi pada umumnya yang menangis, dia hidup di dalam hutan keju, dan dia diduga dapat
berkomunikasi dengan makhluk surgawi dan bahwa dia adalah pengagum dari dewa Zeus bangsa
Mesir hingga ia menghilang ke dalam hutan, penuh cinta dan kebenaran, hidup dalam sepi di atas
gunung dimana, ketika terbakar, ia dapat melarikan diri tanpa cedera untuk memberitahu orang-
orang. Dikatakan kemudian dla Avesta bahwa Zoroaster merupakan orang yang separuh mitos,
bagian akhir dari kisah pahlawan legendaris Iran Timur. Namun, di Gathas dia dianggap sebagai
tokoh dalam sejarah yang keberhasilannya dicirikan dengan kekuatan dan teladan yang baik dan
bahwa dia adalah pendahulu dari doktrin yang diungkap oleh Ormazd.
Lahir dan tumbuh di sebuah wilayah peternakan menjadi sasaran serangan dan
perampokan kaum nomad, Zoroaster mengganggap kekejaman seperti itu sebagai sebuah agresi
oleh “pengikut Lie”. Zoroaster tampaknya telah menjadi imam dari Ahura tertentu dengan nama
“Mazda” (bijaksana), begitu ia menyebut dirinya bersama Ahuras. Setelah menerima wahyu dari
Ahura Mazda (Tuhan Yang Bijak) yang mengangkatnya untuk mengajarkan kebenaran, pada
awalnya ia tidak secara drastis menentang kultus politeistik Iran kuno, tetapi, ia memberi
kejelasan kepada Ahura Mazda sebagai kepala "kerajaan keadilan" yang menjanjikan keabadian
dan kebahagiaan. Namun, "para pengikut Lie", "Dregvant" yang disebut oleh Zoroaster sebagai
kaum animis, musyrikis dan pedagang curang, menentang doktrinnya. Tulisan-tulisan Avesta di
Islamic Online University Aqidah 301
183
kemudian hari tentang kaum Zoroaster berbicara tentang Zoroaster sebagai cahaya legendaris
dan seseorang yang memiliki kekuatan gaib. Yasht dan Vendidad, khususnya, pembicaraan
tentang alam yang bersukacita saat kelahirannya, konfliknya dengan iblis untuk menyingkirkan
mereka dari bumi, dari Setan yang menggodanya untuk mengubah imannya, dan seterusnya.
Zoroaster seharusnya memulai misinya pada usia empat puluh dan telah berkhotbah selama tiga
puluh tujuh tahun. Terlihat bahwa salah satu putrinya menikah dengan seorang menteri istana
Raja Vishtapa, yang diyakini telah menjadi pelindung dan murid Zoroaster. Akhirnya, dia
seharusnya tinggal di istana raja dan meninggal di sana pada usia tujuh puluh tujuh tahun. Orang-
orang Yunani menganggapnya sebagai seorang filsuf, seorang ahli matematika, ahli nujum, nabi,
arsitek, pengrajin terampil, tabib dan pencetus kultus Penyihir. Meskipun Zoroaster tampaknya
telah membuat upaya nyata pada penyatuan agama politeistik kontemporer dan cara hidup seperti
orang-orang Yunani, Arya, Latin dan orang animisme lainnya di bawah payung pemujaan Satu
Tuhan yang Maha Esa, Zoroastrianisme saat ini tidak lebih dari agama monoteis, baik sebagai
Yudaisme atau Islam.
Kitab Suci Zoroaster
Avesta, kitab suci utama dari Zoroastrianisme, terdiri dari Yasna, yang merupakan
Gathas (Himne) dari Zoroaster, tujuh bab lainnya, terutama prosa, yang dikatakan telah disusun
dan ditambahkan ke dalam teks setelah pendirinya. Yasna dibacakan oleh para imam selama
upacara pengorbanan yang juga dikenal sebagai Yasna. Visp-Rat (Semua Hakim) adalah versi
modifikasi dari Yasna dengan beberapa tambahan yang merupakan permohonan dan
persembahan kepada Tuhan (Ratus) dari berbagai kelas makhluk. Vendivdat (hukum yang
dipaparkan kepada Daevas), juga disebut "Vendidad," terdiri dari dua bagian, merinci bagaimana
hukum itu diberikan kepada manusia, diikuti oleh delapan belas bagian aturan. Sementara Siroza
merinci para dewa yang memimpin selama tiga puluh hari dalam sebulan, Yashts adalah
kumpulan himne yang merupakan permohonan untuk ditujukan kepada para pemuja untuk
masing-masing dari dua puluh satu dewa seperti Mithra, Anahita, atau Verithrughna dan
seterusnya. Hadhoxt Nask (ujaran-ujaran) menggambarkan nasib jiwa setelah kematian dan
Khurda atau Avesta kecil berisi teks-teks kecil. Denkart (Kisah Agama) ditulis dalam bahasa
Pahlavi dari periode Sasasin dari kebangkitan Zoroastrian selama abad kesembilan Masehi di
bawah pengaruh Muslim di Persia, mengutip daftar dua puluh satu buku Nasks yang tersedia saat
itu, tetapi hanya satu yang ditemukan di Vendidad, selamat dari march of time. Gathas (lagu-lagu
lama) dinyatakan sebagai pidato yang Zoroaster sendiri telah sampaikan kepada orang-orang
pada usia empat puluh tahun dan setelah waktu itu digunakan untuk menyebarluaskan filsafat
dan agama barunya di istana Raja Vishtapa. Gatha menggambarkan Zoroaster sebagai manusia
adil, teguh dalam realisme, mengandalkan dan percaya pada Tuhan sendiri di bawah
perlindungan para malaikat. Tampaknya seolah-olah dia tidak hanya marah oleh penentangan
masyarakat terhadap doktrinnya, tetapi juga karena ketidakpercayaan dan dukungan yang tidak
cukup dari pengikutnya sendiri, dan mungkin, keraguannya sendiri tentang kebenaran dan
Islamic Online University Aqidah 301
184
kemenangan akhir dari doktrinnya. Gatha memuat nubuat-nubuat, pernyataan-pernyataan, dan
peringatan-peringatan yang disertai makna-makna tersembunyi dan ragu-ragu yang ditujukan
kepada para pangeran dan murid-muridnya sendiri. Gatha ini berbentuk dialog dengan Tuhan
dan para malaikat yang memanggil mereka sebagai saksi dengan referensi tidak langsung kepada
orangnya sendiri.
Gatha menekankan dalam hal perintah ilahi, pengabdian kepada Ormazd, perbuatan baik
dan perbuatan buruk, menghindari jalan menyesatkan, perlindungan sapi (mungkin berasal dari
konsep Veda Aryan yang kemudian menjadi tindakan tak terpisahkan dari devosi Hindu India
Agama Brahman) dan kemurnian jiwa serta tubuh, tetapi tidak ada ibadah seremonial. Sementara
menunjukkan keyakinan Zoroaster tentang kemenangan akhir dari yang baik, itu juga berisi
wahyu tentang hal-hal yang akan datang di masa depan, kebahagiaan atau kesedihan, jiwa,
pahala orang-orang beriman, serta peringatan kepada orang-orang kafir. Seperti yang
ditunjukkan oleh Gatha, Zoroaster percaya bahwa kedatangan seorang nabi adalah untuk tujuan
khusus dan bahwa "Masa yang baik" dan "Kerajaan Tuhan" itu dekat. Selanjutnya, nyanyian
memvisualisasikan kemenangan akhir umat beriman segera atas kekuatan jahat dengan intervensi
Ormazd, diikuti oleh cobaan umum dan pembentukan di bawah kerajaan dunia yang bersatu
dalam persekutuan abadi Ormazd dan malaikatnya, dari milenium di mana Matahari akan selalu
bersinar, semua umat beriman hidup bahagia tanpa campur tangan dari kekuatan jahat, setiap
orang beriman telah dianugerahkan karunia dari Vohu Maro (akal sehat) dan sapi yang tak
pernah habis.
Hampir setiap himne dari Gatha memiliki beberapa menyebutkan atau nasib lain yang
menunggu manusia setelah kematian, yang digambarkan sebagai kelangsungan hidup dunia ini.
Jiwa melewati jembatan Pembalasan (Cinvat), dipandang dengan rasa takut dan kecemasan oleh
setiap jiwa karena, saat melewati penilaian oleh Ahura Mazda, hanya yang baik yang masuk ke
dalam kerajaan kebahagiaan dan cahaya abadi (surga) dan yang buruk masuk wilayah kegelapan
dan horor yang kekal (neraka). Zoroaster, mungkin, adalah pemuja Mazda (Yang Bijak), salah
satu Ahuras, karena dia menyebut Mazda bersama dengan Ahura di salah satu himne-nya di
Gatha. Zoroaster biasa memanggil penyelamat yang akan datang ke dunia seperti fajar hari-hari
baru dan dia berharap dirinya menjadi salah satu dari mereka. Oleh karena itu, setelah
kematiannya, keyakinan akan kedatangan para penyelamat berkembang di Zoroastrianisme serta
harapan kembalinya Zoroaster, jika tidak secara pribadi, maka dalam bentuk ketiga putranya
setiap seribu tahun setelah air maninya, yang terakhir dinamai "Astavat Erat" (Perwujudan
Keadilan), atau "Saoshyans" (Sang Juru Selamat).
Doktrin dan Mitologi
Ahura Mazda adalah Tuhan tertinggi yang satu-satunya layak disembah seperti yang
Gatha katakan sebagai Pencipta langit (dunia spiritual) dan bumi (dunia materi), sumber dari
Islamic Online University Aqidah 301
185
pergantian hari yang cerah dan kegelapan malam, pemberi hukum yang berdaulat, pencetus
tatanan moral, hakim mutlak dari seluruh dunia dan, sebenarnya pusat dari sifat dasar. Dia
dikelilingi oleh setengah lusin atau lebih Amasha Spentas (mahluk mahluk halus) yang namanya
sering muncul dalam nyanyian Gatha.
Menurut Gathas, Ahura Mazda adalah ayah dari Spentas Mainyu (Roh Kudus), dari Aha
Vahishta (Keadilan atau Kebenaran), dari Vohu Manah (Pemikiran Lurus) dan Sparta Armaithi
(Pengabdian). Ada tiga entitas lain yang diharapkan untuk mempersonifikasikan kualitas Ahura
Mazda, yaitu Khshathra Vairya (kekuasaan yang diinginkan), Haurvat (keutuhan) dan Amret
Amretat (Keabadian). Kualitas-kualitas ini harus diperoleh oleh kedua dewa dan manusia
sehingga keduanya terikat oleh etika yang sama.
Menurut Yasna, dua roh ada pada awalnya, yang mewakili yang baik dan yang jahat, dan
keduanya memiliki kekuatan kreatif, yang positif dan yang negatif. Ormazd, yang ringan dan
hidup, menciptakan semua yang murni dan baik dalam dunia hukum, tatanan, dan kebenaran
yang etis. Kebalikannya, Ahriman, adalah kegelapan dan kotoran, menghasilkan semua yang
jahat di dunia. Dua roh saling mengimbangi tetapi kemenangan dari roh yang baik adalah apa
yang dituntut oleh etika Zoroastrian, melalui kesadaran.
Proyeksi Gatha lebih condong ke Ahura Mazda daripada roh jahat. Bagi Zoroastrian yang
baik, Ormazd adalah satu-satunya Tuhan dan Tuhan digambarkan sebagai sosok ideal raja
Oriental yang baik hati dengan para malaikat yang hadir sebagai personifikasi nilai-nilai etis,
yang digambarkan sebagai Amesha-Spentas (Sosok yang Suci dan Abadi), melayani sebagai
makhluk, instrumen, pengawal dan pembantu, yaitu:
Vohu Mana (akal sehat);
Ashem (kecerdasan yang benar, kebenaran, hukum dan aturan);
Khshathrem atau Khshathrem Vairum (kekuasaan dan kerajaan Ormazd yang belum
dimanifestasikan dalam semua keagungannya);
Armaiti (Penghormatan untuk putri Ormazd, Verecundia, dianggap sebagai tempat
tinggalnya di suatu tempat di bumi);
Haurvatat (Kesempurnaan);
Ameretat (Keabadian);
Geush Urvan (si genius dan pembela binatang); dan
Sarosha (si genius dalam ketaatan).
Seluruh aktivitas dunia sebenarnya adalah pertarungan antara dua kekuatan yang
berlawanan dari Ahriman dan Ahura Mazda. Manusia diciptakan oleh Ormazd yang netral,
memberinya kebebasan memilih dan bertindak, dan jiwa yang menjadi sasaran pertarungan ini
antara yang baik dan buruk, secara alami harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya
sebelum Ormazd. Pengakuan iman yang benar, perbuatan baik, kata-kata dan pikiran, dapat
Islamic Online University Aqidah 301
186
membuat manusia berada di jalur Ahura Mazda sementara lawannya akan menghubungkannya
ke Ahriman.
Monoteisme dan Dualisme
Seperti diketahui, filosofi Zoroaster secara eksklusif didasarkan pada kultus Ahura
Mazda. Meskipun memiliki bias kuat terhadap monoteisme, karena hubungan erat dengan usia
yang telah jauh ke dalam politeisme dari Persia itu sendiri dan dewa-dewa panteistik Veda dari
Arya yang mungkin tinggal di Persia untuk waktu yang cukup lama dalam perjalanan mereka
mencari tempat yang lebih baik untuk menetap, kemudian di timur di dataran Indus-Gangga,
seperti yang dikatakan di awal, nampak dari tulisan suci bahwa Zoroaster harus berkompromi
cukup banyak untuk memenangkan dukungan bagi doktrinnya. Sebaliknya, jika monoteistik
seperti Yudaisme atau Islam, bagaimana ia bisa tetap tenang pada dewa Veda Persia dan Arya-
Persia dari Mithra (Veda - Mitra yang terkait dengan Varuna) tidak dapat dijelaskan. Konsep
yang sangat mendasar dari Ormazd Agung sebagai satu-satunya Tuhan, meskipun
menggambarkan keinginan untuk monoteisme yang kuat, bagaimanapun, tidak hanya dualisme
tetapi panteisme politeisme juga dipamerkan dalam doktrin Zoroaster seperti yang digambarkan
melalui Ahriman, Ahura Mazda (keduanya memiliki kekuatan setara) dan Amesha Spentas.
Agama masyarakat Iran ini memiliki kemiripan dengan agama Weda bangsa Arya.
Kemiripan ini muncul karena sebelum bangsa Arya menginvasi dataran rendah Indo-Gangga,
orang-orang Arya sebelumnya telah lebih dulu lama menetap di Iran. Zarathustra merupakan
agama baru yang berasal dari kultus-kultus Iran. Istilah "Daeva" dalam Zoroastrianisme Awesta
dan "Div" dalam kebudayaan Persia moderen merupakan istilah yang digunakan untuk roh jahat,
tetapi dalam terminologi ajaran Weda, istilah ini digunakan untuk mewakili roh atau dewa yang
baik. Meskipun istilah "Ashura?" mewakili roh jahat dalam Hinduisme Weda, istilah "Ahura"
yang digunakan dalam kultus Iran kuno dan dalam Zoroastrianisme, mewakili roh yang baik.
Namun, Zarathustra menggunakan istilah Ahura ini untuk menandakan "satu entitas ilahi yang
mewakili seluruhnya" menjadikannya sebagai Mazdao (yang bijak) dan menurunkan konsep
Daeva untuk mewakili iblis atau setan serta energi dan roh-roh jahat. Bagi Zarathustra, "Tuhan
yang bijaksana," awalnya "Ahura Mazdao," kemudian menjadi "Ormazd," adalah makhluk
spiritual purba, "allfather yang sudah ada jauh sebelum dunia muncul, dan darinya lah tercipta
dunia yang jalannya diatur oleh matanya". Maka dapat dikatakan bahwa yang menjadi Roh
pembimbing Zarathustra adalah "Roh Kudus" yang meskipun bertujuan menuju kebaikan, ia
dibatasi dalam bertindak oleh saudara kembarnya sendiri, "Roh Jahat" (Angromainush Ahriman),
dimana dalam Yasna, dikisahkan bahwa ia diusir oleh Roh Baik karena ia melanggar larangan
dan sejak itu pun, ia hidup dalam kegelapan neraka. Namun, menurut pandangan Gatha, Ormazd
Agung berada di atas Roh Baik Mazda dan Roh Jahat Ahriman. Kedua Roh ini adalah dua energi
yang saling berlawanan di dunia ini. Roh Jahat dan Ohrmazd kemudian dijadikan setara dengan
semboyan "Di sini Ohrmazd dan di sana Ahriman". Para Daeva, yang dihormati sebagai dewa-
Islamic Online University Aqidah 301
187
dewa yang sempurna dan dipuja oleh kultus-kultus Iran, dianggap oleh Zarathustra sebagai anak-
anak Ahriman, setan, dan musuh umat manusia. Mereka juga dianggap palsu dan orang-orang
yang menyembah mereka dianggap sebagai penyembah berhala yang tersesat.
Zoroastrianisme sepeninggal Zarathustra
Seperti yang diperlihatkan dalam Yasna, Zarathustra menganggap dirinya telah diutus
oleh Ahura Mazda atau Ormazd untuk “memurnikan agama dari unsur-unsur pemujaan Daeva
yang merusak”. Meskipun pandangan Zarathustra mengenai alam semesta dan prinsip
dualistiknya terfokus pada monoteisme, namun karena konsep-konsepnya sendiri yang tampak
meragukan dan kontradiktif, seperti diterimanya Mithra, beberapa Ashura Spenta yang dianggap
sebagai personifikasi Ahura Mazda, dan konsep satu Tuhan yang berubah menjadi konsep
dualistik Roh Baik dan Jahat lalu kemudian menjadi dua dewa yang saling bersaing, serta
konsep-konsep kontradiktif lainnya, akhirnya membuat Zoroastrianisme menjadi filsafat yang
tidak konsisten. Maka tidak lah mengherankan bahwa segera setelah sepeninggalan Zarathustra,
para pengikutnya pun mulai menerapkan praktek pemujaan dewa-dewa politeistik.
Filsafat Zarathustra mengandung dua aspek di dalamnya, kehidupan di bumi dan
kehidupan setelah kematian. Kehidupan setelah kematian merupakan hasil penilaian kehidupan
sebelumnya di bumi yang diputuskan di surga oleh pengadilan perhitungan "Aka" yang
dilakukan oleh Rashnu (pelindung keadilan ) dan Mithra dengan berlandaskan kepada "kitab
kehidupan". Hasil perhitungan akhir manusia tergantung pada neraca perbuatan baik dan jahat
yang ia lakukan ketika masih hidup. Awalnya, filsafat Zarathustra tidak mengajarkan apapun
perihal pembebasan diri dari dosa, namun ajaran mengenai penyucian diri dari dosa dengan
melakukan taubat, pada akhirnya dijadikan sebagai bagian dalam ajaran filsafat ini. Jembatan
penghitungan, Cinvanto Pereto yang terpampang di jalan menuju surga (Garo Damana),
merupakan tempat dimana semua manusia akan tiba setelah mereka meninggal dan di sini lah
mereka akan diatur setelah perhitungan untuk menentukan apakah mereka akan tinggal
selamanya di surga atau neraka, tergantung dari jumlah akhir perbuatan baik dan buruk yang
mereka lakukan. Jika jumlah perbuatan baik dan buruk yang dilakukan seseorang berjumlah
sama, jiwa manusia tersebut akan ditahan dalam keadaan eksistensi intermediat yang disebut
“Hamestakeans” untuk menerima keputusan akhir di perhitungan paling terakhir. Hukum yang
telah ditetapkan tidak dapat diubah oleh pengorbanan apapun dan bahkan oleh rahmat Tuhan
sekalipun.
Pembaruan-pembaruan yang muncul setelah sepeninggalan Zarathustra ialah seperti:
awesta yang diinisiasi oleh dewan imamat (Athravano), kuil api, menjadikan Mithra sebagai
dewa, dan berbagai macam malaikat seperti kemenangan, Verethraghna, Anahita, dewi air, Sirius
serta planet dan bintang-bintang lainnya yang disembah oleh pengikut Zarathustra dalam
keperluan-keperluan khusus. Dalam eskatologi baru Zoroastrianisme, kiamat diprediksi akan
Islamic Online University Aqidah 301
188
terjadi 3000 tahun setelah meninggalnya Zarathustra, dimana pada saat itu, seorang Soyyant baru
akan lahir dari benih Zarathustra, mayat-mayat akan dihidupkan kembali, dan dunia abadi pun
dimulai. Bagian terakhir eskatologi ini agak berbeda dengan penjelasan yang terkandung dalam
ajaran filsafat sebelumnya dimana jiwa-jiwa manusia yang mati akan dibuang segera setelah
jiwa-jiwa tersebut mencapai jembatan Requiter. Dalam Awesta selanjutnya, dewa-dewa yang
dihindari dan diabaikan oleh Zarathustra seperti Mithra, Airyaman (pengganti Sraosha), Analuta,
Apam Napat, Verethraghna Vayu, serta dewa-dewa lainnya, dimunculkan kembali dalam kultus
ini. Sehingga dalam kredo pasca-Zarathustra, terdapat banyak dewa yang berada dibawah Ahura
Mazda yang Agung (Ahura Mazda) di dalamnya. Bahkan Roh Bounteous juga masuk ke dalam
Aura Mazda; menurut Yasht, dua roh ini saling bertanding; menurut Videvdat, Ahura Mazda dan
roh kehancuran saling melawan satu sama lain, menciptakan hal baik dan buruk. Kelihatannya,
karena banyaknya ketidakkonsistenan dalam kepercayaan ini, Ahura Mazda tidak dapat
dijadikan sebagai bapa dari roh-roh kembar yang saling bertentangan satu sama lain, dimana
yang satu adalah dewa dan yang satunya adalah anti-dewa. Hal ini kemudian memicu
pemerosotan Zoroastrianisme pada abad keempat S.M. sekitar zaman Aristoteles.
Pandangan Zoroastrianisme mengenai asal usul dunia menurut Bundahishn ialah bahwa
Ormazd Ahura Mazda dan Ahriman dipisahkan oleh kehampaan, meski keduanya ada sejak
kebadaian. Ormazd menciptakan dunia untuk menjadikannya sebagai medan pertempuran untuk
mengalahkan Ahriman. Dia tahu bahwa ini akan menjadi pertarungan terbatas berlangsung
selama lebih dari 9000 tahun sesuai dengan kesepakatan di antara mereka. Dalam kontes
pertama, Ormazd mengalahkan Ahriman melalui doa Ahuna Vairya (yang merupakan doa paling
suci orang Parsi), sehingga ia pun bersujud selama 3000 tahun, kontes kedua dari empat kontes.
Pada akhir periode ini, ia terhasut oleh pelacur, wanita pertama, dan dia kemudian melakukan
serangan lagi di semesta duniawi ini. Setelah Ahriman membunuh Lembuh Pertama, yang dari
sumsumnya terciptalah tanam-tanaman dan dari air maninya yang dikumpulkan dan dimurnikan
di bulan terciptalah binatang-bintang bermanfaat, Ahriman kemudian membunuh Gayomart,
manusia pertama, yang dari tubuhnya terciptalah logam dan dari sebagian air maninya yang
diawetkan dan dimurnikan di bawah sinar matahari terciptalah rhubab, dan dari sini lah pasangan
manusia pertama pun lahir. Pasangan manusia pertama ini disesatkan oleh Ahriman dan dengan
datangnya Zarathustra, kekuasaan Ahriman selama 3000 tahun pun berakhir. Sejak saat itu
Ormazd dan Ahriman bertarung selama 3000 tahun hingga Ormazd akhirnya menang melawan
Ahriman. Bundahishn juga menggambarkan kosmogoni manusia sebagai dunia miniatur atau
mikrokosmos, yang fana sejak serangan agresor. Ia memiliki lima bagian abadi dalam dirinya:
Ahu (kehidupan), Daena (agama), Baodah (pengetahuan), Urvan (Jiwa), dan Fravashi (jiwa-pra-
eksistensi); yang bisa jadi adalah konsep simbolik dari Yunani, Mesir, dan Iran tentang roh para
pahlawan.
Pandangan ortodoksi mazdayana menyatakan bahwa ketika Ormazd menciptakan dunia
materi, dia pertama kali menciptakan api yang berasal dari cahaya tak terbatas dimana dari api
ini, segala sesuatunya pun tercipta. Api ini “berwarna putih, terang, bundar, dan dapat dilihat dari
Islamic Online University Aqidah 301
189
kejauhan.” Manusia pertama, Gayomart, digambarkan sebagai bulatan di atas langit. Menurut
buku Pahlavi, Manushchihr, “Ormazd, Penguasa segala sesuatu, dari cahaya tak terbatas,
menciptakan api yang bernama Ormazd itu sendiri dan yang cahayanya berasal dari api itu
sendiri. Terlepas dari banyaknya literatur yang ada, kitab suci dan seluruh kosmologi serta
kosmogoni kultus ini masih sangat rumit, tidak jelas, dan sulit dipercaya. Sehingga banyak
pernyataan, filsafat, dan ajarannya tidak dapat dipahami karena sifatnya yang mistis dan tidak
logis. Sekitar abad ke-9 M, muncul gerakan pencerahan yang berlangsung singkat ketika
modifikasi terhadap beberapa inkonsistensi dasar keyakinan coba untuk diperkenalkan melalui
Zurvanisme, Manichaenisme dan lain-lain dalam kompetisi dengan agama rasional lainnya,
khususnya Islam. Namun, dikarenakan posisi Mazdean ortodoks sendiri yang mengharuskannya
menghadapi kematian, dijuluki sebagai orang yang tidak sepakat dengan alasan bahwa mereka
telah menggangu seluruh konsep agama sebelumnya.
Peribadatan Pasri dan Upacara Kuil
Api menempati kedudukan sentral dalam keimanan, keyakinan, dan ritual Zoroastrian.
Meskipun awalnya Zoroaster sendiri menawarkan sebuah ajaran dan filsafat monotheistik,
mungkin dikarenakan semangat kemajuan dengan aliran Iranian lama kontemporer menuju akhir
hidupnya mereka menjadi sangat menipis sehingga dualisme juga polytheisme tidak langsung
dapat dilihat bahkan di Gathas disifatkan pada dirinya sendiri. Di masa selanjutnya, dengan
datangnya Avesta dan adanya hubungan lebih lanjut dengan Weda juga polytheisme Iranian
lama, dan awal ritualisme yang berpusat pada altar api dan pengorbanan-pengorbanan yang
dibangun dengan kokoh dan dipertahankan oleh kalangan pendeta pada garis keturunan Yahudi
dan Levites, bahkan konsep tuhan perempuan dan laki-laki juga diperkenalkan dalam agama ini.
Gathas tidak menyebutkan peribadatan seremonial, atau Haoma, atau melindungi malaikat
penjaga yang disifatkan dengan Farvashi (pengakuan keimanan) yang dikembangkan setelah
masa Zoroaster. Periode Avesta berikutnya membuat perintah pendeta, membuat mereka
bertanggungjawab untuk sistemisasi dan organisasi ajaran keimanan dan peribadatan dengan
tunduk pada aturan Vendidad yang berhubungan dengan beragam tugas, pribadi maupun sosial,
seperti pembersihan, mandi, hukuman fisik, kebenaran, kerja bagus, kemajuan, budaya pohon,
bantuan pada orang alim, kesucian, sedekah, pengembangan lahan, peternakan, perlindungan
hewan-hewan yang berguna seperti anjing, pemburuan hewan-hewan yang berbahaya, larangan
pembakaran mayat dan kremasi, dan sebagainya. Mayat dibiarkan terpapar sinar matahari untuk
kemudian dimakan oleh burung bangkai dan binatang-binatang di tempat tertentu, biasanya di
menara tinggi (Dkakma).
Islamic Online University Aqidah 301
190
Ritual dan Perayaan Zoroastrian
Selama peribadatan pengorbanan di kuil, cukup terkemuka ritual meminum minuman
keras yang disebut “Hoama” (sama dengan jus tanaman Soma dalam Hindu Bhagavatgeetha,
yang juga sering diminum oleh para Yogis Weda ketika melakukan yoga dan pengorbanan, dan
digemari di aliran Iranian lama karena persatuan suku Arya). Namun, kuil zorastrian, tidak ada
patung untuk disembah, berpusat pada Tuhan dan pembakaran api abadi di altar ditempatkan di
tengah kuil, sehingga nama kuil Zoroastrian menjadi “kuil api”. Beragam pengorbanan dan
orang-orang dengan persembahan daging, susu, roti, buah, bunga, dan air keramat dilakukan di
dekat altar di dalam kuil tersebut, sedikit banyak diikuti oleh pendeta Yahudi di tempat
peribadatan mereka. Perintah kependetaan, seperti putra Aaron dan Levites Yahudi, melakukan
ritual kuil seperti pengorbanan, penebusan dosa, perayaan pensucian, penjagaan spiritual dan
perlindungan agama untuk orang awam. Orang beriman yang masih muda, pada awal usia 7
hingga 10 tahun dengan tali suci (cukup serupa dengan ikatan suci Hindu Brahman) dan baju
baru (sadre) dan sebuah korset (kusti) yang diberikan kepadanya untuk dipakai seumur hidupnya.
Api suci dianggap suci dalam berbagai sisi keimanan dan harus tetap terbakar, diberi
bahan bakar lima kali sehari. Penempatan api yang baru dilakukan dengan perayaan besar yang
menjadi ritual khusus untuk penyucian api juga untuk regenerasinya.
Penebusan dosa berarti membuat sebuah keputusan yang kuat oleh seorang Zoroastrian
untuk tidak melakukan dosa lagi, setelah pengakuan dosa di hadapan pendeta, Dastour. “Patet”
dibacakan selama perayaan ini. Yasna, pengorbanan haoma (cairan sakral) dilakukan sebelum
api suci disertai dengan pembacaan Avesta, memberikan persembahan roti, susu, daging, dan
lemak.
Terdapat tiga jenis penyucian, yaitu Pandyab atau upacara pembersihan, Baresnum
sebuah ritual yang dilaksanakan di tempat khusus dengan menggunakan seekor anjing yang
telinga kirinya disentuh dan gasnya dimaksudkan untuk menerbangkan roh-roh jahat. Ini
dilaksanakan selama beberapa hari.
Setelah kematian, seekor anjing khusus dengan sebuah tanda diatas kedua matanya
dibawa ke hadapan jenazah. Ritual dilakukan lima kali sehari. Pertama, api dibawa kedalam
ruangan dimana mayat diletakkan dan dibakar selama tiga hari. Setelah itu pemindahan mayat ke
menara kesunyian (Dhakma), yang ditinggalkan telanjang. Setelah itu api dimatikan di siang
hari. Bagian dalam menara kesunyian dibangun dalam tiga lingkaran konsentrasi, yang dibagi
untuk laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Setelah burung bangkai memakan daging mayat,
tulang belulang dan sisanya mengering di atas menara lalu diselesaikan dengan membuangnya ke
dalam sumur pusat. Perkabungan dilakukan di hari ke empat ketika jiwa dipercaya telah
mencapai dunia lain untuk di hadapkan di hadapan para hakim. Bagian ini merupakan upacara
yang sangat khidmat.
Islamic Online University Aqidah 301
191
Terdapat beberapa festival musiman (gahanbars): hari untuk mengenang orang mati yang
dilaksanakan di akhir tahun, Noruz, festival tahun baru untuk memuha Rapithwin, yang
merupakan penjelmaan siang dan musim panas, dan festival Mithra atau Mehragan, yang
dilaksanakan dengan penuh penghormatan. Setelah itu, setiap hari dalam sebulan, dan tiap bulan
dalam setahun digunakan untuk dewa tertentu.
Kejatuhan Zoroastrianisme
Berbeda dari skhisme, akomodasi umum dari dualisme yang kuat serta dewa dan
kependetaan, Zoroastrianisme kehilangan daya tarik aslinya untuk penganut aliran Iranian lama,
karena tidak banyak mencapai spiritualitas, khususnya setelah kemenangan Qadsiyah kalangan
Muslim pada tahun 635 M atas Persia dibawah kepemimpinan Yezdergerdid III pada masa
dinasti Sasanid, ketika aliran Zoroastrian tidak dapat sesuai dengan monoteisme absolut juga
kedinamisan Islam. Oleh karena itu, filsafat yang lengkap, rasional, dan dapat dipraktekkan yang
diberikan oleh Islam menarik perhatian pengikut Zoroastrianisme juga aliran anismisme lainnya
di Iran dalam jumlah yang banyak, hampir seluruh aliran politeisme termasuk Zoroastrianisme
tercabut dari kancah agama di Iran sekitar 1000 M. Namun, beberapa pengelak wajib militer dari
kalangan Zoroastrian-yang berjumlah sekitar seratus ribu atau lebih yang ditinggalkan-didapati
cocok untuk pindah ke anak benua India dimana agama tersebut bertahan namun stagnan sejak
membatasi diri pada dua kota pelabuhan yaitu hanya di Bombay dan Karachi, sehingga tidak
terlalu memiliki daya tarik bagi siapapun kecuali mereka yang terlahir sebagai Zoroastrian tetap
menganut agama tersebut di India dan Pakistan.
Islamic Online University Aqidah 301
192
Bab 14
Studi Perbandingan
Kriteria
Kehidupan manusia pada dasarnya terdiri dari tiga aspek: fisik, pikiran dan jiwa. Tubuh
dan pikiran dapat didefinisikan dan diidentifikasi sebagai materi, namun jiwa tidak demikian.
Jiwa bisa dirasakan hanya sebagai cara untuk membedakan yang hidup dari yang mati. Tubuh
dan pikiran ada seperti selama kehidupan hadir dalam bentuk kehadiran jiwa dan keduanya
menjadi tidak berguna pada saat jiwa itu pergi. Ilmu-ilmu alam meneliti tubuh dan pikiran serta
beberapa aspek kinetik dan potensi jiwa yang mengambil bagian dalam kehidupan secara
menyeluruh dari dua hal yang telah disebutkan sebelumnya. Sementara proses ilmiah
mendalilkan teori-teori tertentu berdasarkan konsep-konsep filosofis pada materi dan kosmos
kemudian membuktikannya melalui eksperimen yang menghasilkan deduksi yang seragam,
konsep filosofis mengenai jiwa dan rahasia ciptaan sejauh ini tetap merupakan teori saja, yang
tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Bahkan dalam kasus hal-hal ilmiah yang telah dianggap
sebagai fakta absolut untuk waktu yang lama, hal ini telah dimodifikasi secara drastis, kemudian
sebagai hasil dari memperoleh lebih banyak pengetahuan. Jadi, ketika ilmuwan abad kedua puluh
melihat kembali ke pendahulunya di abad kesembilan belas, hukum dan bukti, misalnya pada
struktur atom, telah berubah begitu banyak sehingga atom yang bahkan baru-baru ini dianggap
sebagai tak terpisahkan, tidak hanya hancur, tetapi teori partikel fundamental yang
dikembangkan baru-baru ini telah menciptakan dimensi baru dalam struktur materi sekaligus.
Selain itu, konsep lama tentang transmutasi unsur yang belakangan dicemooh oleh para alkemis
ternyata menjadi kenyataan mutlak hari ini. Demikian pula, bahkan teori pembuatan zaman
relativitas Einstein telah ditantang dan dalam beberapa aspek hampir terbukti tidak benar
sepanjang hidupnya. Namun, pengetahuan tentang pikiran, jiwa dan kehidupan masih tetap
rahasia seperti sebelumnya bahkan setelah penilaian antropolog tentang lebih dari satu juta tahun
keberadaan manusia.
Ini adalah fakta bahwa jiwa tidak dapat diidentifikasi atau dipenjara setelah durasi
tertentu, selama masa dimana jiwa membuat tubuh dan pikiran menjadi kelangsungan hidup,
Islamic Online University Aqidah 301
193
kekuatan motif yang mendorong tubuh dan pikiran menjadi jiwa. Tubuh hanya memiliki satu
fungsi, dan itu adalah untuk melakukan pekerjaan substantif atas perintah pikiran yang harus
mengambil keputusan sendiri, jiwa menyisakan kekuatan yang melaluinya perantara kehidupan
memungkinkan baik pikiran dan tubuh berfungsi dengan sinkron. Apa yang disebut "hati nurani"
tampaknya menjadi atribut jiwa, mencoba membimbing pikiran melalui arahan yang disebut
kriteria—"kebenaran" yang diizinkan dan "kesalahan" yang tidak pantas diterima. Inilah
pertanyaan tentang apa yang benar dan apa yang salah. Definisi hak yang nyata dapat berupa apa
saja yang secara universal baik bagi individu maupun masyarakat dan definisi yang sama tentang
apa yang salah juga bisa menjadi sesuatu yang secara universal buruk bagi manusia dan
masyarakat.
Pikiran, rasa syukur, kemarahan, gairah, cinta akan segala hal yang membuat hidup
seseorang nyaman atau menyenangkan, takut akan fenomena apa pun yang tampaknya memiliki
kekuatan jauh melampaui imajinasi sendiri dan seharusnya mampu menimbulkan manfaat atau
bahaya, suatu perasaan egois yang akut dimana seseorang menginginkan kekayaan dan harta
benda lainnya sebanyak mungkin untuk digunakan sendiri, kesombongan, jumlah kekuasaan dan
otoritas atas yang lain, dan seterusnya adalah beberapa ciri penting manusia. Di antaranya,
kemampuan berpikir adalah yang paling penting karena dengan ini seseorang menemukan
melalui intuisinya sejauh mana batas aman untuk pelaksanaan berbagai sifat yang disebutkan di
atas, dan bahkan penemuan ini tidak dapat muncul kecuali seseorang dibesarkan dan terus hidup
dalam masyarakat yang dipandu oleh norma dan batasan tertentu yang dapat diterima oleh orang
lain. Namun, cinta, kebanggaan, keegoisan, dan gairah umumnya tidak membiarkan diatundukk
dengan mudah pada perintah orang lain. Sejarah memiliki banyak bukti bahwa situasi seperti itu
berkembang di lebih dari satu individu dan selalu memberi peluang terhadap peperangan dan
pembunuhan sesama makhluk hidup.
Namun, apa yang baik untuk satu manusia dan masyarakat tertentu bisa menjadi buruk
bagi makhluk dan masyarakat lain sesuai dengan konteks yang dihadapi masing-masing. Akan
tetapi, untuk evolusi "satu masyarakat dunia" universal atau dengan kata lain, "satu negara
kesejahteraan dunia" universal, perbedaan semacam itu bisa berbahaya. Misalnya, masyarakat
beradab hari ini menganggap bahwa pencurian adalah tindakan buruk dan membantu sesama
adalah tindakan yang baik, namun masyarakat pencuri dan orang-orang kejam tidak menganggap
demikian. Masalah moral hanya bergantung pada lingkungan setiap masyarakat. Dengan
demikian jelas bahwa jika tanggungjawab pembuatan undang-undang atau evolusi dari kriteria
antara yang benar dan salah dipegang dalam masyarakat manusia, keseragaman tidak dapat
dicapai. Apa yang dihadapi masyarakat kita sekarang sayangnya di bagian manapun di dunia
adalah gejolak dasar yang sama yang telah ada selama ribuan tahun di masa lalu— pertanyaan
tentang memutuskan apa yang secara alami benar dan salah bagi manusia. Dengan kesempatan
acak, sering terjadi bahwa sementara beberapa kriteria bertepatan dengan beberapa masyarakat
yang bersangkutan, banyak yang lain tetap terpisah atau bahkan menentang, beberapa contoh
menjadi konsep tentang apa yang disebut kapitalisme dan sosialisme, etika tertentu berkaitan
Islamic Online University Aqidah 301
194
dengan hubungan antara pria dan wanita, konsep Tuhan, kejahatan dan hukuman, dan
sebagainya.
Abad kedua puluh telah menemukan bahwa keseragaman diperlukan dalam sebanyak
mungkin aspek kehidupan dan dengan pandangan inilah, pertama Liga Bangsa-Bangsa, dan
kemudian Perserikatan Bangsa-Bangsa dibentuk dengan partisipasi semua bangsa di dunia.
Terlepas dari begitu banyak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai oleh pria
dan wanita modern, masih ada cukup banyak perbedaan dan bahkan pada beberapa aspek penting
dari kehidupan internasional, tidak dapat dijembatani oleh diskusi dan konsensus di forum dunia,
karena semua keputusan masing-masing masyarakat didasarkan pada apa yang masing-masing
anggap benar atau salah di bawah bias tertentu dengan cara mereka sendiri dan oleh karena itu
pandangan tidak bertepatan. Sebuah kode internasional yang dirancang oleh Angkatan Super
yang mengontrol dan mengetahui segala sesuatu tentang tubuh, pikiran dan jiwa dari masing-
masing individu dapat memutuskan apa yang baik atau buruk bagi manusia secara keseluruhan
baik di ruang waktu yang dekat maupun jauh. Oleh karena itu, jika kriteria yang benar dan salah
untuk manusia dan masyarakat ditetapkan oleh Kekuatan seperti itu, maka dengan sendiriannya
seluruh manusia dapat dipersuasi untuk menerima kriteria tersebut. Kriteria seperti itu harus
sepenuhnya sesuai dengan sifat dan alam semesta di sekitarnya. Mari kita selidiki apakah kriteria
semacam itu memang ada di masa lalu dan apakah mereka masih ada.
Terlepas dari fakta apakah teori "Evolusi dalam Ruang dan Waktu" atau "The Big Bang"
telah bertanggungjawab atas miliaran hal yang kita lihat di bumi dan di surga, seorang manusia
yang diinvestasikan dengan kemampuan berpikir tidak mampu menalarkannya, tetapi
berspekulasi dan menyimpulkan tanpa ragu-ragu bahwa, bagaimanapun juga, tanpa pencipta,
tidak ada yang terjadi. Apakah pencipta ini disebut alam atau Tuhan bukanlah yang penting pada
awalnya karena kita sekarang sedang menyelidiki, dari prinsip pertama, kekuatan penting ini
yang memberikan kredibilitas untuk kehidupan itu sendiri. Tidak ada yang bisa. Oleh karena itu,
perselisihan bahwa telah ada dan ada Kekuatan yang memiliki kendali penuh atas alam semesta
secara keseluruhan, ciptaan, rezeki dan hari akhir, dan bahwa Kekuatan unik ini pasti ada tanpa
perubahan apa pun sejak masa lalu yang tak terbatas hingga masa depan yang tak terbatas, atau
dalam kata lain, tanpa permulaan atau akhir dalam ruang dan waktu. Pada dasarnya, bahkan
proyek kecil yang dapat dibayangkan membutuhkan cukup banyak perencanaan dan perancangan
sebelum penciptaan. Prasyarat penting dari perencanaan ini adalah pengetahuan tentang waktu
dan ruang bahwa ciptaan harus bertahan hidup. Maka kemudian bahwa semua perlindungan yang
mungkin dapat dibangun di dalamnya untuk memastikan bahwa, pada penciptaan proyek yang
dipertanyakan akan menjalani kehidupan yang direncanakan di bawah perlindungan tidak hanya
tanpa mengganggu proyek lain dalam waktu, ruang dan kompatibilitas, tetapi juga dalam
kesatuan serentak dengan semua proyek lain di sekitarnya. Sungguh begitu luar biasanya
perencanaan, perancangan, dan pengetahuan tentang segala sesuatu yang terjadi di masa dalam
ruang waktu tak terbatas, yang diperlukan untuk menciptakan kosmos yang luar biasa ini,
kosmos yang yang terdiri dari langit atau alam semesta dimana bumi kita, yang meskipun
Islamic Online University Aqidah 301
195
hanyalah suatu butiran di alam semesta ini, mengandung banyak sekali jenis kehidupan yang
sangat rumit sampai-sampai tidak ada seorang pun yang mampu benar-benar mengerti segala hal
yang manusia telah temukan sejak manusia menghuni bumi selama ribuan tahun lalu.
Setelah menyadari bahwa keagungan, keunggulan, kekuatan, dan pengetahuan tentang
ruang dan waktu ini pasti dimiliki oleh Sang Perancang alam semesta, kita pun dapat setuju
bahwa hanya Satu Kekuatan yang dapat menjadi pemrakarsa alam semesta dengan alasan
sederhana bahwa semua koordinasi, keselarasan, dan kesempurnaan hingga detail terkecil dari
segala sesuatu yang kita lihat di sekitar kita ini tidak akan dapat terjadi jika terdapat lebih dari
satu Kekuatan yang mengendalikan semuanya. Tentu kita dapat memahami bahwa setelah
melakukan penciptaan dan perancangan rencana secara keseluruhan, Kekuatan ini bisa saja
menurunkan perintahnya melalui banyak utusan. Namun, meskipun kita dapat meyakini adanya
penyerahan mandat ini, kita jangan melupakan bahwa perencanaan, perancangan, penciptaan,
dan pengurusan rezeki dan akhir segalanya sepenuhnya merupakan kuasa Sang Maha Kuasa
sendiri. Hal-hal yang dikerjakan oleh utusan-utusan ini terbatas pada pekerjaan tertentu yang
didelegasikan kepada mereka sesuai dengan apa yang telah direncanakan oleh Sang Maha Kuasa.
Para utusan ini tidak memiliki kekuatan untuk mengubah ketetapan apa pun yang telah
ditetapkan oleh sang pencipta sesuai dengan hukum alam yang ia buat sendiri. Untuk
memperjelas hal ini, anggaplah ini seperti sistem DNA alami yang ada dalam manusia,
tumbuhan, atau sel-sel dalam diri binatang atau seperti robot buatan manusia yang melakukan
pekerjaan-pekerjaan luar biasa menggunakan sensor dan computer yang terpasang dalam diri
robot tersebut Robot itu sendiri tidak dapat memiliki kemampuan untuk mengubah tugas yang
diberikan kepadanya dan robot ini melakukan tugas tersebut sesuai dengan logika spesifik yang
diberikan kepada robot itu oleh penciptanya. Tentunya, merupakan suatu fantasi khayalan untuk
meyakini bahwa robot ini mendapat kemampuannya dari dalam dirinya sendiri, tanpa bantuan
penciptanya yang memiliki hak prerogratif mutlak untuk mengubah program sesuai dengan
keperluan mereka. Konsep ini diterima oleh semua agama historis. Dengan demikian, ini
menjadi kesamaan pertama yang ada dalam semua agama masa kini. Kesaman kedua adalah
bahwa Sang Maha Kuasa ini disebut sebagai Tuhan, Yang Maha Esa, tetapi dikenal dengan
nama-nama yang berbeda dalam berbagai bahasa Allah, Brahma, Yahweh, Mazda, dan
seterusnya. Kesamaan ketiga yang ada dalam semua agama ialah bahwa Tuhan menurunkan
firman-firmannya melalui manusia-manusia terpilih baik yang berumur panjang maupun pendek.
Manusia-manusia terpilih ini menerima mukjizat-mukjizat yang tidak dapat diungguli oleh
siapapun. Riwayat tentang mukjizat-mukjizat ini bisa saja beragam.
Sehingga, tidak lah sulit untuk menerima bahwa setiap agama yang memiliki konsep
dasar Satu Kekuatan Tertinggi, Tuhan, sebagai sang Perencana, Perancang, Pencipta,
Pemelihara, dan Penghancur seluruh alam semesta, merupakan agama yang diturunkan oleh
Tuhan kepada manusia dalam berbagai zaman melalui satu manusia terpilih yang dipilih oleh-
Nya dari tiap zaman. Dengan alasan yang sama, maka cukup masuk akal untuk meyakini bahwa
masing-masing kitab suci yang dianut dalam berbagai agama yang dihubungkan dengan nabi-
Islamic Online University Aqidah 301
196
nabi, orang-orang hebat, bijak, dan sebagainya juga berlandaskan kepada firman-firman lisan
atau kitab-kitab Tuhan yang diturunkan kepada para nabi-Nya. Tidak lah sulit untuk menjelaskan
pencemaran yang dilakukan terhadap wahyu-wahyu Tuhan ini, yang dilakukan selama berabad-
abad melalui pernyataan yang berlebihan secara puitis, penerusan informasi lisan yang tidak
sesuai, catatan-catatan yang ditulis secara tidak lengkap atau bahkan yang dihancurkan.
Kehancuran atau pencemaran wahyu-wahyu Tuhan ini merupakan bukti konklusif bahwa Tuhan
memaksudkan wahyu-wahyu yang sudah tercemar tersebut untuk berlaku selama masa-masa
tertentu saja, bukan selamanya. Kitab-kitab Zoroastrianisme, Hinduisme, agama Yahudi, dan
Kristen merupakan bukti akan hal ini. Walaupun keagungan Tuhan Yang Maha Esa bersifat tetap
dan tidak berubah, Hukum yang diturunkan mengalami perubahan dari waktu ke waktu melalui
berbagai nabi dan rasul, seperti perubahan nabi yang terjadi dalam bani Israil dari Musa ke Yesus
(alaihissalam) dan berbagai inkarnasi dan resi yang terjadi dalam Hinduisme, atau yang juga
dikenal sebagai "Brahmanisme." Dengan demikian, setidaknya terdapat dua poin utama berikut
sebagai dasar untuk studi perbandingan agama-agama utama saat ini:
i. Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dikenal dengan nama-nama yang
berbeda dalam tiap bahasa berbeda seperti Allah, Brahman, Yhweh, Mazda, dan
sebagainya, yang merupakan Kekuatan Tertinggi tak terbantahkan yang sepenuhnya
bertanggung jawab atas perencanaan, perancangan, penciptaan, rezeki, dan akhir dari
semua materi dan energi di alam semesta, baik yang diketahui maupun yang tidak
diketahui.
ii. Kesinambungan bimbingan Tuhan kepada manusia melalui wahyu-wahyu yang
diturunkan sejak bumi ini dihuni kepada orang-orang tertentu baik secara lisan,
melalui kitab, atau melalui keduanya.
Bagi seseorang yang telah mempelajari berbagai agama, ia akan melihat bahwa akar dari semua
agama yang diwahyukan, termasuk Brahmanisme, terletak di wilayah Timur Tengah, yang terdiri
atas wilayah yang sekarang menjadi wilayah Yunani, Turki, Suriah, Palestina, Irak,
Semenanjung Arab, Mesir, dan bagian barat Iran yang berbatasan dengan Irak. Hal ini terlihat
jelas dari apa yang tertulis dalam ALkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan dalam Al-
Qur'an bahwa para nabi dari Adam hingga Muhammad, termasuk Nuh, Ibrahim, Luth, Ishaq,
Yakub, Joseph, Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Elia, Yunus, dan Yesus Kristus (Alahissalam),
semuanya berkhotbah di daerah ini dan daerah ini pula lah mereka meninggal. Diketahui bahwa
bangsa Arya bermigrasi dari Asia Tengah dan dapat diasumsikan bahwa ketika mereka menetap
sementara di Irak dan Iran barat, mereka menerima beberapa doktrin tentang Tuhan Tertinggi
dari nabi Ibrahim (alaihissalam), nabi yang disebutkan dalam Alkitab dan Al-Quran sebagai
pelopor agama bani Israil dan umat Islam. Nama dari penjaga kitab suci di antara orang-orang
Arya yang bermigrasi dikenal sebagai 'Brahmana, " dan Tuhan tertinggi mereka dikenal sebagai
"Brahman". Semua hal ini mengindikasikan bahwa ajaran yang mereka terima memang berasal
dari sang nabi pendiri, nabi Abraham atau yang juga dikenal sebagai Ibrahim (alaihissalam).
Dikisahkan di masa-masa awal kehidupan nabi Ibrahim bahwa selama pencariannya mencari
Tuhan semesta alam, ia menolak untuk menyembah bintang, planet, matahari dan berbagai
Islamic Online University Aqidah 301
197
berhala lainnya yang disembah di wilayah yang sekrang menjadi Irak ini. Menurut Nabi Ibrahim,
semua benda langit serta semua berhala tidak memiliki kemampuan untuk mengatur diri mereka
sendiri. Sehingga nabi Ibrahim pun, melalui penalarannya meyakini bahwa tidak ada yang lain
selain pencipta dan penopang semua ciptaan yang dapat menjadi Tuhan seluruh alam semesta.
Mungkin para imigran Arya pertama mendapatkan praktek penyembahan berhala, benda-benda
langit, serta benda-benda yang menginspirasi kekaguman dalam pikiran manusia lainnya, seperti
gunung, sungai, alam, dan sebagainya, dari kawasan Irak dan Iran yang mereka lewati, dimana
mereka menetap sementara disana dalam perjalanan mereka menuju dataran Indus-Gangga di
India, yang nantinya menjadi tempat tinggal mereka. Sehingga, meskipun Agama Hinduisme
mengakar dari beberapa ajaran Nabi Abraham atau Ibrahim (alaihissalam), dimana secercah
pengaruh-pengaruh ajaran nabi Ibrahim ini dapat ditemukan dalam Weda agama Hindu, agama
ini pada akhirnya juga tercemar oleh pemujaan terhadap alam, berhala, dan benda-benda langit
yang pada masa lampau lazim dilakukan di kawasan Timur Tengah dan India pada masa dan
dipertahankan sebagai warisan tradisional hingga hari ini. Tidak dapat kita pungkiri bahwa
beberapa filsuf Hindu abad pertengahan dan moderen juga berpendapat bahwa tidak ada konsep
perbedaan kasta dan penyembahan berhala di Brahmanisme dalam Weda. Namun, dari apa yang
dipahami dan dipraktekkan dalam agama Hindu dari dulu hingga sekarang, baik oleh kasta
Brahmana maupun kasta rendah di India secara keseluruhan, dapat dilihat bahwa kedua konsep
perbedaan kasta dan penyembahan berhala ini telah menjadi cara hidup intergral dalam agama
Hindu, mungkin sebagai warisan cara hidup dan kebudayaan tradisional.
Sebuah konsep yang tidak mencakup seluruh aspek pertumbuhan pikiran dan tubuh serta
keselamatan jiwa tidak dapat dianggap sebagai konsep yang utuh. Diketahui bahwa semua
agama utama membenarkan adanya otonomi yang diberikan kepada manusia untuk mengatur
dirinya di dunia ini dalam memenuhi kebutuhan pokok pikiran dan tubuhnya yang bertujuan
untuk membebaskan jiwa. Sebagian besar agama utama juga mendasarkan filsafat dan cara
hidupnya dari kitab-kitab suci yang dijadikan sebagai hukum dan firman Tuhan. Satu-satunya hal
yang tidak menjadi kesamaan dalam agama-agama ini adalah cara yang digunakan tiap agama
menuju tujuan. Mari kita amati bagaimana agama-agama saat ini memandang aspek-aspek
kesamaan ini dan seberapa jauh kitab suci ajaran mereka menunjukkan dirinya sebagai hukum
Tuhan yang sebenarnya.
Agama Buddha dan Hinduisme
Cara hidup ajaran Hindu dan Buddha mengajarkan bahwa keselamatan jiwa hanya dapat dicapai
melalui tindakan (Karma) dimana seseorang harus menghadapi konsekuensi dari semua
tindakannya tanpa adanya campur tangan Tuhan dalam penebusan jiwa ini. Tentu saja hal ini
berarti bahwa manusia harus mengalami siklus reinkarnasi dan kematian di dunia ini sampai ia
membersihkan semua ucapan, perbuatan, dan pikirannya yang buruk dengan melewati sejumlah
siklus kehidupan tak terbatas, dimana siklus kehidupan yang terakhir pastinya menjadi
Islamic Online University Aqidah 301
198
kehidupan yang seratus persen murni. Meskipun konsep penebusan jiwa ini dari luar terlihat
seperti sebuah solusi, namun jika ditelaah lebih lanjut, konsep ini sama sekali tidak memberikan
harapan bagi manusia, yang diciptakan memiliki banyak keterbatasan. Aturan acak yang
diterapkan kepada manusia malah hanya akan selalu merugikannya. Sama halnya dengan emas
yang selalu dimurnikan tiap dicairkan dan dibersihkan. Bahkan, seorang ahli fisika atau
kimiawan pun mengetahui ketidakmungkinan untuk mencapai seratus persen kemurnian elemen
ini. Bahkan setelah siklus pemurnian yang ke n + 1 pun, ketidakmurnian akan tetap ada di dalam
emas komersil tersebut. Memperoleh kualitas emas murni secara ekonomis sangatlah tidak
mungkin, namun secara teoritis, terdapat satu dari kemungkinan tidak terbatas untuk mencapai
kemurnian ini. Namun, jika konsep siklus kehidupan ini diterapkan dalam kehidupan manusia,
meskipun manusia tersebut sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupannya, besar
kemungkinan manusia tersebut akan tetap goyah berkali-kali dalam tiap siklus kehidupan yang ia
alami. Sehingga, hasil dari proses siklus ini bukannya meningkatkan kondisi manusia, tetapi
malah memperburuknya tiap kali siklus kehidupan diulangi. Latihan yang telah dijelaskan oleh
filsafat Hindu untuk peningkatan perbuatan seseorang merupakan sebuah hutan kehidupan untuk
kebaikan, hingga ia meninggal di sana tanpa pamrih melalui proses akhir penebusan dosa, dua
dari empat tahapan dalam hidup manusia, dikenal sebagai “Vanaprastham” dan “Sanyasam”.
Bahkan rumus ini memberikan pandangan suram dalam proses penebusan karena ketidaksucian
terkecil yang ditinggalkan oleh sanyasi atau yogi (yang melakukan penebusan) dapat
menyebabkan jiwanya tertolak untuk bersatu dengan Tuhan yang Agung, yang sepenuhnya suci,
sehingga mengharuskan reinkarnasi untuk menyucikannya lagi. Tetapi, seperti yang dinyatakan
oleh Bhagavatgeetha, “sangat sedikit Yogis yang mencapai tujuan Mukthi (keselamatan)”. Jika
demikian, lalu bagaimana dengan orang lain dalam jumlah yang lebih besar? Apakah tidak
mendapat keselamatan sama sekali? Di sisi lain, menjamin bahwa mayoritas umat manusia di
segala usia memasuki hutan kehidupan untuk menjadi orang yang memohon ampun untuk
kebaikan, mencari keselamatan, bagaimana bisa dunia terus menjadi sebuah intensitas yang
hidup? Hal ini jelas, bahwa kecuali, pertama, sebuah rahmat dari Tuhan mengambil peran dalam
hubungan manusia, dan kedua, Tuhan, Maha Pengasih dan Penyayang, mengampuni dosa-dosa
setiap mereka yang taat atas keikhlasan mereka untuk bertobat, berkembang, dan bersumpah
untuk tidak melakukan perbuatan dosa lagi dimasa depan dengan sengaja yang pasti mustahil
untuk dipraktikkan oleh siapapun untuk mencapai status tertinggi keselamatan melalui tindakan
seseorang (Karma). Lalu, apa yang menjadi balasan bagi mereka yang mungkin, secara teori,
dianggap telah berhasil melewati ambang pintu keselamatan?. Filsafat Hindu Geetha
menunjukkan bahwa jiwa-jiwa orang seperti itu bersatu dalam sifat ketuhanan baik itu dengan
mencapai kesetaraan dengannya atau, mungkin menjadi bagian dari Tuhan sendiri (Geetha 5:24,
25; 7:27; 8:5) mengakhiri lingkaran tanpa batas proses reinkarnasi (Geetha 8:16). Namun,
Geetha juga menegaskan bahwa manusia terlahir pada dasarnya dengan “sifat Tuhan” atau “sifat
setan” (16:1-20) seperti konsep Ormuzd dan Ahriman dalam filsafat Zoroastrian- bahwa bahkan
manusia yang berakal bertindak sejalan dengan sifat dasarnya karna makhluk hidup mengikuti
sifat dasarnya, dan itu dengan meninggalkan nafsu, amarah dan keserakahan dengan mengikuti
Islamic Online University Aqidah 301
199
aturan dalam kitab (Geetha 16:21-24) bahkan golongan kelas bawah, wanita, Waisa dan Sudra
yang mengabdi pada tugas mereka mencapai kesempurnaan dan tujuan tertinggi (Geetha 9:32;
18:45).
Namun, kontradiksi yang terdapat dalam dua pandangan berbeda-bahwa seseorang yang
“lahir” dengan sifat alami setan yang merupakan rahmat alamiah dari Tuhan dapat mencapai
kesempurnaan dengan cara yang sama dengan orang yang lahir dengan “sifat ketuhanan” dan
dengan usahanya sendiri melawan sifat almiah lahirnya- nampak seperti sebuah filsafat yang
tidak realistis. Namun, bahkan jiwa beberapa orang disamakan dengan Tuhan sebagai hasil dari
penebusan dosa, turut larut dalam ketuhanan dan tidak meninggalkan apapun kecuali Tuhan
sendiri, apakah ini akan menjadi pujian kepada Tuhan yang diartikan, bahkan menurut Geetha
sebagai Pencipta Kehidupan itu sendiri” ?. jika, disisi lain, jiwa-jiwa yang selamat terus
bermunculan, telah mencapai “kesetaraan” dengan Tuhan, bagaimana bisa anomali tentang lebih
dari satu Tuhan muncul bertentangan dengan pandangan Geetha sendiri yang menyatakan hanya
Satu Tuhan yang Agung?. Selain itu, apa yang disebutkan dalam Geetha 16:14, peribadatan
kepada Tuhan, kelahiran kedua, tentang guru dan orang bijak, penyucian, kejujuran,
keberlanjutan, tanpa kekerasan dikatakan menjadi penebusan dosa dari tubuh, pada faktanya
merupakan lawan dari perintah yang diulang-ulang oleh Krisna untuk beribadah dan bergantung
hanya kepadaya sebagai Tuhan yang Agung bahkan diatas Brahman yang juga ditunjuk sebagai
Tuhan yang Agung (8:16), seperti yang dikutip dalam Bab 13 di dalam Geetha yang sama.
Secara ilmiah, tidaklah benar untuk mengasumsikan bahwa materi dan energi manusia
atau makhluk lainnya dihilangkan ketika, seperti yang dinyatakan dalam filsafat geetha bahwa
jiwa yang selamat disamakan dengan ketuhanan tanpa adanya tambahan apapun pada ketuhanan
itu sendiri, karena asumsi ini bertentangan dengan fakta ilmiah sebagaimana konsep yang dibuat
oleh manusia bahwa tidak ada yang tercipta atau hilang seluruhnya, tetapi yang terjadi hanyalah
sebuah perubahan eksistensi. Namun, berdasarkan argumen yang ada, dikatakan bahwa jiwa
yang selamat menyatu dalam ketuhanan, lalu ketuhanan harusnya memiliki beberapa
“lowongan”, katakanlah, untuk menyerap tambahan atau, setidaknya ketuhanan harus menambah
jumlah materi, energi, kuantum dan lain-lain. Lalu apakah ini merupakan konsep yang rasional
mengenai Tuhan, yang dianggap oleh semua agama termasuk filsafat Geetha sendiri sebagai
Esensi Sempurna yang tidak membutuhkan apapun?. Oleh karena itu, dapat dilihat bahwa dalam
filsafat Hindu, nampaknya tidak terdapat penjelasan yang memuaskan yang dapat memuaskan
pikiran manusia secara ilmiah, logis, dan rasional tentang tujuan hidup, alam semesta, nasib
manusia setelah kematian serta bentuk jiwa setelah ia terselamatkan. Konsep-konsep dalam
pembahasan penting di atas hampir sama selama Buddhaisme dan Jainisme dikatikan, keduanya
merupakan bagian dari Hinduisme.
Kisah yang beragam serta luar biasa dan fantastis tentang penciptaan manusia dan alam
semesta seperti yang dirincikan dalam kitab Weda; pemberian penghormatan di rumah dan kuil
peribadatan pada benda mati berupa gambar dan patung beragam dewa dewi yang dimaksudkan
untuk mewakili “inkarnasi” jelmaan dari setengah dewa yang dianggap sebagai wakil dari Tuhan
Islamic Online University Aqidah 301
200
yang Agung, juga penghormatan kepada ciptaan-ciptaan Tuhan seperti manusia, burung, ular,
binatang, gunung, sungai, kekuatan alam dan lain-lain baik itu karena hal tersebut memberi
ilham atau diyakini dapat memberikan kebaikan atau keburukan atau secara mistis dianggap
terhubung dengan beragam setengah dewa; klasifikasi pembagian masyarakat ke dalam beberapa
kasta dengan penghalang tak tehancurkan disetiap kasta, seperti yang dinyatakan oleh kitab serta
dipimpin oleh kelas pendeta Brahmana; pemisahan yang kokoh antara kasta tingi dan kasta
rendah dalam masyarakat yang diperintahkan agar dipertahankan oleh kitab hingga sampai pada
pembatasan yang menyedihkan seperti ketika kalangan Sudra (kasta paling rendah) dalam Hindu
mendengarkan pembacaan kitab oleh kasta yang lebih tinggi (menurut Manusmrithi) harus
dihukum dengan menuangkan cairan timah ke telinga orang yang mendengarkan; batasan-
batasan tempat kalangan Sudra agar tak mendekat dengan kalangan kasta yang lebih tinggi,
khususnya kalangan Brahmana, juga untuk kuil peribadatan, atas perintah hukum pemisahan
hingga bahkan ketika terjadi pelanggaran, dilakukan ritual pembersihan seperti ritual mencuci
tempat atau orang yang dianggap terkena najis, harus dikeluarkan seperti yang ditentukan ;
Filsafat yang menakutkan dan tak ada akhirnya pada lingkaran Karma-reinkarnasi-penebusan
dosa dengan jalur yang telah ditentukan, yang sepenuhnya menghalangi rahmat dan ampunan
Tuhan Pengasih untuk mengubahnya; Ritual Sathi yang menjadi kewajiban bagi para janda untuk
membakar diri hingga mati di atas kayu bakar suaminya yang telah meninggal dan masih banyak
aspek kitab yang serupa yang terintegrasi secara solid kedalam filsafatnya menjadikan agama
dan cari hidup Hindu tidak hanya kuno tetapi juga tidak sesuai untuk mengatur kehidupan
manusia berbudaya masa kini dan nanti, yang mencari sebuah jalan dan pola hidup dalam konsep
persaudaraan berdasarkan kesetaraan antar semua orang tanpa memandang warna kulit, ras,
kekayaan, kelahiran atau kedudukan serta sebuah filosofi yang sejalan dengan nalar dan bukti
ilmiah memberikan sebuah tujuan hidup yang penuh makna di dunia ini serta harapan akan
balasan kepada setiap jiwa setelah kematian atas balasan perbuatan manusia selama hidup atas
rahmat dan ampunan Tuhan yang Pengasih. Namun, Bhagabatgeetha merupakan sebuah
himpunan filosofi abstrak dan sangat dalam. Kecuali untuk beberapa bagian yang berkaitan
dengan sifat Tuhan yang isi pokoknya adalah untuk menyampaikan polytheisme bersama dengan
konsep monoteisme; lingkaran penebusan dosa dengan jumlah reinkarnasi oleh orang yang sama
hingga jiwanya dibebaskan oleh karma itu sendiri; filosofi inkarnasi oleh Tuhan Yang Maha
Kuat, Maha Kuasa, Maha Mengetahui sendiri dimaksudkan untuk menghalangi kesempatan
untuk menyelamatkan dan membimbing manusia di bumi, menjalani hidup sebagai manusia
abadi atau makhluk lainnya; pemberian izin, meskipun bukan perintah langsung, untuk
menyimbah Tuhan-tuhan dan makhluk hidup lain selain Tuhan Yang Satu; Sanksi yang
diberikan untuk mempertahankan kelas-kelas kelahiran, dan lain-lain juga memiliki indikasi
untuk tidak menolaknya sebagai sebuah wahyu ilahi. Ini mungkin sama atau bahkan lebih tua
dari pada Taurat dan Injil. Meskipun keduanya merupakan wahyu ilahi, keduanya juga didapati
tercemari keasliannya dikarenakan faktor lamanya waktu juga kesalahan penyebaran secara
lisan, yang asli telah hilang. Percapakan antara Krisna dan Arjuna dalam Geetha di sampaikan
dalam narasi orang ketiga, dimana penulis mengutip perkataan keduanya; beberapa abad
Islamic Online University Aqidah 301
201
kemudian seolah ia hadir di sana ketika percakapan tersebut terjadi. Ini merupakan sastra yang
menarik. Oleh karena itu, dan untuk alasan yang telah dikemukakan sebelumnya, Krisna dan
Geetha berdiri di atas pijakan yang sama dengan Kristus dan Injil Kristen, keduanya tercemari
ketika berkenaan dengan Tuhan Yang Agung. Pada kedua kasus tersebut, kedua pemimpin dari
kitab tersebut menyatakan ke-esa-an dengan kekuasaan dan kekuatan tak tertandingi Tuhan Yang
Satu, dimana yang satu digambarkan sebagai inkarnasi Tuhan dan yang satu sebagai anak Tuhan.
Yahudi
Telah dilihat pada bab mengenai Yahudi, bahwa agama ini, seperti yang ditunjukkan
dalam kitab Taurat saat ini, yang terdapat dalam perjanjian lama dalam Kitab Injib, merupakan
sebuah kehidupan hidup yang keras mencapai “tanah yang dijanjikan” Palestina serta hak milik
wilayah tersebut oleh dua belas suku dari “Bani Israel” dan keturunan mereka atas bimbingan
Tuhan Yang Satu, Yahweh. Pada kenyataanya, sejarah agama ini diawali dengan penindasan
orang-orang yang merupakan keturunan nabi yakub (ditunjuk oleh Tuhan sebagai Israel”) oleh
bangsa Paraoh mesir serta penyelamatan mereka oleh Nabi Musa (alaihissalam) melalui beragam
tindakan yang berakhir dengan tenggelamnya Si Raja Penindas dan bala tentara kedalam
lautan.Orang-orang tersebut menyebar di Mesir; ketika Joseph, Benjamin dan saudara tirinya
bersama dengan ayahnya, Yakub (alaihissalam), tinggal di mesir ketika Joseph menjadi wakil
pemimpin bangsa mesir di masanya.
Dalam agama ini, terdapat penekanan pentingnya praktik monoteisme. Namun,
pelaksanaan hukum untuk seluruh kejahatan, hukuman, dan nilai moral yang mempengaruhi
kehidupan sosial lebih disukai oleh kedua belas suku bani Israel
.
Sebagai contoh, dalam hal
meminjamkan uang, masyarakat dilarang meminjamkan uang dengan memberikan bunga,
sedangkan meminjamkan uang kepada orang non Yahudi (istilah yang digunakan untuk non-
Israel) dengan memberikan bunga diizinkan. Demikian pula dalam hal perbudakan, dimana
perbudakan seorang Yahudi memiliki batas waktu, namun seorang non-Yahudi dapat dijadikan
budak seumur hidup, dan seterusnya. Berbagai nabi, pembela, hakim dan sebagainya yang
disebutkan dalam Perjanjian Lama juga telah diutus oleh Allah selama periode panjang tiga belas
abad atau lebih antara Musa dan Yesus (‘alaihissalam) dengan mandat khusus untuk
menyelamatkan dan menuntun anak-anak Israel kembali ke Hukum, ketika setiap malapetaka
dan kehancuran menimpa mereka sebagai hukuman karena melanggar perjanjian yang dibuat
oleh nenek moyang mereka berulang kali dengan Tuhan untuk menjadi monoteis akut dan adil.
Suatu aspek esensial dari agama Yahudi adalah pembedaan kelas yang ketat yang diperintahkan
untuk dipertahankan dalam masyarakat, yang urutannya terdiri dari putra-putra Harun yang
dibantu oleh para anggota keluarga Lewi harus menjadi imam secara eksklusif atas masyarakat
Yahudi yang tersisa untuk melakukan semua seremonial kuil di mana fungsi agama yang paling
penting diperintahkan dalam hukum yang berpusat di sekitar pelaksanaan pengorbanan.
Islamic Online University Aqidah 301
202
Faktor pembeda lain dalam agama tersebut adalah bahwa tidak ada orang lain selain
mereka yang dapat menunjukkan bukti dokumenter sebagai keturunan dari dua belas suku anak-
anak Israel yang dapat diterima atau mungkin memiliki klaim untuk diterima dalam masyarakat
Yahudi, alasan yang sederhana adalah bahwa Hukum Taurat dimaksudkan khusus untuk mereka.
Menurut Taurat, anak-anak Israel adalah orang-orang pilihan Tuhan. Karena alasan-alasan inilah
bahwa terlepas dari klaim orang Yahudi yang mengatakan leluhur agama mereka berusia empat
puluh abad, hari ini jumlah masyarakat Yahudi hanya kurang dari dua puluh juta orang, termasuk
sejumlah besar orang yang diisukan telah dianiaya oleh rezim komunis Rusia, menyebar di masa
lalu bahkan seperti yang mereka lakukan hari ini ke negara-negara lain termasuk Israel dengan
klaim telah menjadi milik komunitas etnis ini terlepas dari apakah mereka memiliki hak yang
tidak terbantahkan untuk klaim atas dasar silsilah yang terbukti atau tidak dan didistribusikan ke
seluruh dunia dalam kelompok-kelompok kecil, konsentrasi terbesar di antara mereka berada di
negara Israel, dengan sekitar tiga juta saja, dan sekitar tujuh juta di seluruh Amerika Serikat.
Akibatnya, kehidupan Yahudi masih merupakan perjuangan untuk pelestarian ras serta tanah suci
terkenal mereka yang dimiliki oleh nenek moyang mereka selama lebih dari 2000 tahun yang
lalu.
Tentunya, sebuah agama tidak diperbolehkan apabila jumlah dalam satu ras etnisnya
hanya sebesar 0,50 persen atau kurang dari populasi dunia, tidak termasuk 99,50 persen atau
lebih dari seluruh umat manusia, mulai dari pemimpin hingga jemaahnya tidak dapat memiliki
klaim untuk menjadi agama internasional dan jalan hidup bagi semua orang di dunia. Benar,
Yudaisme juga tidak mengklaim demikian.
Agama Kristen
Kita telah menemukan sebelumnya dari bab tentang Kekristenan bahwa ketika para
pengikut Yesus Kristus (‘alaihissalam) mengklaim bahwa nabi telah mencabut Hukum Taurat,
memperkenalkan yang baru, pada pengawasan ketat dari Perjanjian Baru, seseorang tidak dapat
menemukan hukum tertentu apa pun, tanpa menyebutkan tentang hukum baru, tentang hal-hal
yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan sosial manusia. Di sisi lain, juga disepakati
oleh mereka bahwa Perjanjian Lama dalam Alkitab dibiarkan utuh sebagai bagian dari kitab suci
Kristen karena memuat beberapa poin baik yang mengatur kehidupan sosial pria dan wanita.
Kenyataannya, apa yang terbukti dari ini adalah bahwa para arsitek iman Kristen, yang diadopsi
bertahun-tahun setelah kenaikan Yesus Kristus (‘alaihissalam), setelah tidak menemukan
undang-undang khusus yang diubah mengenai kehidupan sosial di dalam Injil yang dianggap
istimewa, mereka dipaksa untuk menjaga hukum Yahudi yang lebih tua untuk mengatur
kehidupan masyarakat Kristen yang mereka temukan.
Mengenai masalah kepercayaan, meskipun Tuhan dalam esensinya diakui oleh agama
Kristen sebagai satu-satunya yang menjadi Perencana, Perancang, Pemelihara, dan Penentu alam
Islamic Online University Aqidah 301
203
semesta dan segala sesuatu di dalamnya, doktrin Trinitas berkembang setelah Kristus pada ikatan
"Bapa, Anak, Roh Kudus," menganggap ketuhanan kepada Yesus Kristus dan
menghubungkannya dengan status sebagai anak Allah yang eksklusif, telah melampaui tujuan
hakiki dari monoteisme absolut. Pada tahun-tahun setelahnya, doktrin ini menjadi wujud yang
sangat berbahaya yang bahkan Tuhan, Yang Maha Esa teralihkan; Yesus, sebagai putra, dan
Maria, sebagai ibu, telah dianggap sebagai dewa pemujaan dan pengampunan. Kepercayaan
bahwa apa pun dosa yang dilakukan seorang umat Kristen, karena imannya kepada Yesus
(‘alaihissalam) tidak hanya sebagai putra Allah yang bertindak sebagai dan atas nama Tuhan
tetapi juga memiliki hak prerogatif untuk mengampuni setiap orang beriman pada Tuhan karena
Tuhan yang hidup abadi di antara manusia, tidak dapat dianggap sebagai keyakinan yang
berbeda dari konsep Hindu tentang "Inkarnasi" dari dewa "Brahmana" tertinggi dalam
manifestasi Vishnu, khususnya dalam "inkarnasi Agung Krshna" yang hidup di bumi dalam
bentuk manusia untuk dilihat, dipuja, ditiru dan untuk dicari sebagai perlindungan bagi
penebusan jiwa oleh manusia. Tidak boleh dilupakan bahwa skisma seperti penugasan khusus
kepada Yesus Kristus (‘alaihissalam), Perawan Maria, Salib dan para santo berdasarkan doktrin
"Trinitas" serta adopsi nama "Kristen" oleh para pengikut nabi, semua telah terjadi, bukan di
bawah arahan dari tuannya untuk melakukan hal tersebut selama masa hidupnya, tapi jauh
setelah kenaikannya atas dasar mimpi, imajinasi, halusinasi, dan penglihatan tidak sadarkan diri
tentang "dewa Yesus yang hidup" sebagai hasil dari apa yang dikenal sebagai "murid dan
pengikut tertentu yang telah DIILHAMI DENGAN ROH KUDUS," sebuah istilah yang terus
digunakan oleh pengikutnya sejak nabi meninggalkan dunia fana ini. Hal ini kemudian tampak
seolah-olah ada sistem paralel yang aneh dalam kehidupan di mana Yesus Kristus mengirimkan
wahyu kepada pengikut terpilih tertentu yang disebut "orang kudus" melalui media Roh Kudus,
kurang lebih dengan cara yang sama seperti Allah sendiri telah mengirimkan wahyu-wahyu-Nya
kepada para nabi-Nya melalui malaikat Jibril. Gagasan ini tidak dapat diterima sebagai sesuatu
yang berbeda dari penodaan agama karena alasan sederhana bahwa apa yang Yesus Kristus
(‘alaihissalam), putra Bunda Maria dan Nabi Allah, telah ajarkan dan perintahkan di bawah
bimbingan Tuhan selama misi kenabiannya yang pendek tentang Tuhan, iman dan agama, tidak
ada murid atau pengikut memiliki wewenang untuk memodifikasi dengan dalih "kesimpulan
yang ditarik sebagai hasil dari ilham tidak sadarkan diri dari para murid, rasul dan pengikut yang
telah dipenuhi dengan Roh Kudus" seperti yang disinggung dalam catatan Perjanjian Baru. Yang
paling penting dari semuanya, ini lebih dari sekedar imajinasi orang yang cerdas bahwa ia harus
percaya bahwa Yesus Kristus, Nabi Allah (‘alaihissalam) yang lahir dari seorang ibu manusia,
Perawan Maria, adalah satu-satunya putra Allah karena fakta bahwa ia dilahirkan tanpa ayah
manusia ketika Kejadian Perjanjian Lama, yang membentuk bab dari Alkitab yang sama tentang
iman Kristen, menyatakan bahwa manusia pertama, Adam (‘alaihissalam), diciptakan oleh
Tuhan yang Mahakuasa dari "debu dari tanah" tanpa membutuhkan ayah dan ibu sama sekali;
Tentunya saudara-saudara Kristen kita tidak percaya bahwa Adam adalah putra pertama Allah
dan Yesus (‘alaihissalam) yang kedua! Sebaliknya, seperti yang dijelaskan di bawah bab tentang
Kekristenan, catatan Perjanjian Baru membuktikan dengan jelas bahwa Yesus Kristus
Islamic Online University Aqidah 301
204
(‘alaihissalam) sendiri dalam berbagai kesempatan merujuk pada murid-muridnya dan
pendengarnya tentang Tuhan sebagai "ayahmu dan ayahku" dalam istilah umum yang
menunjukkan bahwa dalam hal ini dia tidak berbeda dari pria lain. Lebih lanjut, tidak ada bukti
positif yang tidak terbantahkan bahwa Yesus Kristus (‘alaihissalam,) nabi Allah, telah
mengambil risiko yang dapat dipertahankan setiap saat untuk mengklaim dirinya sendiri sebagai
Tuhan, tidak berbicara tentang menganggap dirinya dengan status "satu-satunya anak Tuhan"
dan hak prerogatif untuk melaksanakan kekuatan absolut Tuhan itu Sendiri untuk mengampuni
"dosa asli manusia" atau dosa-dosa yang dilakukan oleh seseorang setelah mempercayainya. Ini
adalah hal yang sangat berbeda yang patut dipercayai bahwa cara hidup yang dikhotbahkan oleh
Yesus Kristus (‘alaihissalam), nabi Allah yang agung, adalah salah satu yang dapat mengarah
pada pencapaian penebusan dan pengampunan dosa yang dilakukan oleh para pengikutnya jika
mereka bertobat dari kesalahan masa lalu mereka; Nabi Allah ini menggembar-gemborkan tema,
"Bertobatlah, karena Kerajaan Allah sudah dekat!" Bukan Kisah Para Rasul, melainkan Injil lah
yang menjadi catatan sejarah yang menceritakan kisah setelah kenaikan Yesus (alaihissalam) dan
yang menjadi bukti bahwa Yesus Kristus (alaihissalam) tidak pernah mencabut "Hukum Lama"
dengan "Hukum Baru" apapun karena tidak ada "Hukum Baru" yang ditemukan di dalam Injil.
Sehingga, anggapan Kristiani bahwa Yesus “menghalalkan semua makanan haram” tidak
terbukti dalam Alkitab. Apakah ada cara untuk menggantikan hukum suatu negara atau
masyarakat yang sudah tertulis dengan hukum-hukum baru selain dengan menjadikan hukum-
hukum baru tersebut sebagai hukum yang tertulis juga? Lalu dimana kah Hukum-Hukum baru
yang Gereja Kristen anggap ada di dalam Alkitab? Hal-hal yang dilaporkan oleh riwayat-
riawayat (Markus 7: 14-21, Kisah 10: 9-16", 44-48, dan Kisah Para Rasul: 11: 1-18) dalam
Perjanjian Baru dan catatan sejarah lainnya jelas menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan
seperti menjadikan semua makanan yang diharamkan oleh Taurat menjadi halal untuk umat
Kristen, mengizinkan orang-orang kafir non-Israil menjadi jemaat Kristiani, mengalihkan
kewajiban bersunat untuk orang-orang non-Israil ke umat Kristen, menginstitusikan gereja dan
melakukan ibadah jemaat di dalamnya, menyatakan hari Minggu sebagai hari Sabat dan bukan
sebagai Hari Sabtu orang Yahudi, menyebut para pengikut Kristus sebagai orang Kristen, fatwa-
fatwa mengenai versi Injil yang sah, serta mendewakan Kristus melalui Trinitas, dan banyak hal
lainnya merupakan bentuk perpecahan yang diterapkan demi kepentingan-kepentingan pribadi
setelah kenaikan. Juga dibuktikan dari berbagai Surat-surat dalam Perjanjian Baru dan catatan
sejarah lainnya bahwa hal-hal seperti perubahan "Keutamaan Kristen", penugasan keilahian
kepada Maria sebagai "ibu-Tuhan" dan santo-santo, pemberian jabatan Pendeta Kristen dan
jabatan-jabatan suci lainnya oleh Gereja kepada pengikut-pengikut terpiih, melakukan
pengakuan dosa di hadapan para klerus yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian jaminan
pengampunan dan penebusan atas nama Kristus (alaihissalam) atas dasar "Roh Kudus di Gereja",
"Perminyakan Ekstrim" yang dilakukan oleh klerus kepada orang meninggal yang menjamin
pengampunan dosa melalui kesertaan dalam penyaliban Yesus Kristus (alaihissalam), dan lain-
lain, semuanya merupakan pembaruan yang diterapkan tanpa otoritas apapun dari Yesus Kristus
(alaihissalam) dibawah kepemimpinan seorang antikristus Yahudi Yunani, seorang Romawi
Islamic Online University Aqidah 301
205
bernama Saul dan kemudian menjadi Paulus atau Santo Paulus, yang berubah menjadi pengikut
Yesus Kristus (alaihissalam) dalam perjalanannya menuju Damaskus pada abad keempat setelah
kenaikan Kristus (alaihissalam). Ia berubah menjadi pengikut Yesus karena ia menerima sebuah
penglihatan di sinanoga dari nabi yang menyatakan bahwa Yesus Kristus (alaihissalam) adalah
"Anak Tuhan"! Namun, dari bukti tidak langsung yang ada dalam Surat-surat, Injil Perjanjian
Baru, serta catatan sejarah dan penelitian beberapa penulis ulama terkemuka yang tidak
memihak, dan dari nalar secara logis pun, dapat disimpulkan bahwa hal-hal seperti mitos
penyaliban Yesus (alaihissalam), pemujaan nabi dan bunda Maria, penggantian hukum Torah
oleh hukum-hukum baru dari Injil (pada kenyataannya, tidak ada hukum baru), penghalalan
semua makanan yang diharamkan Taurat untuk umat Kristen, pembebasan dari kewajiban
bersunat bagi orang kafir non-Yahudi yang bertobat menjadi orang Kristen, penerapan konsep
"satu inti tetapi tiga entitas Tuhan berupa Bapa, Anak, dan Roh Kudus", menamai pengikut
Kristus sebagai orang Kristen di Antiokhia, mengganti hari Sabat dari hari Minggu menjadi hari
Sabtu, dan yang paling parah, menjadikan Perjanjian Lama (Pentateukh dan kitab-kitab suci dari
orang Yahudi lainnya) sebagai bagian pertama dan terpenting dalam Alkitab Kristen, semua ini
merupakan tindakan-tindakan orang Yahudi yang dipergunakan untuk mendiskreditkan nabi
terakhir bani Israil dalam rantai kejahatan berulang mereka, seperti yang telah disebutkan dalam
Injil Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Bahkan kitab-kitab Injil pun, yang dijadikan oleh Gereja sebagai kitab suci dari Tuhan
untuk Yesus (alaihissalam), seperti yang telah dikatakan sebelumnya, tidak mengandung
"Hukum Baru" apapun yang sejalan dengan "Hukum Lama" dalam Perjanjian Lama, seperti yang
ditemukan dalam "Leviticus" "Angka" dan "Ulangan". Bahkan Injil versi Barnabas pun tidak
mengandung undang-undang atau perintah khusus yang mungkin menjadi pengganti hukum
lama. Dalam keadaan itu, juga merupakan kesimpulan yang logis untuk mengatakan bahwa para
perancang skisma baru yang bernama Kristen ini tidak memiliki alternatif lain selain bergantung
pada hukum-hukum Perjanjian Lama, setelah memberikan beberapa kelonggaran sesuai
keinginan mereka perihal urusan makanan (seperti menghalalkan semua makanan terlarang),
urusan sunat, Trimurti, dan sebagainya. Tidak ada alasan lain yang menjelaskan mengapa
Perjanjian Lama dijadikan sebagai bagian dari Alkitab Kristen kendati gereja Kristen
beranggapan bahwa Hukum lama telah dimodifikasi dalam Injil-Injil. Secara keseluruhan, tidak
ada apapun dalam Perjanjian Baru yang membuktikan bahwa cara hidup yang benar-benar
dikhotbahkan dan ditunjukkan oleh Yesus Kristus (alaihissalam) berbeda dengan apa yang
ditekankan oleh para nabi bani Israil terdahulu, seperti Musa, Daud, Salomo, dan yang lainnya.
Ajaran-ajaran ini menjadi rusak selama berabad-abad di tangan orang-orang Farisi, para ahli
Taurat, raja-raja, dan para petinggi bani Israil, Yesus Kristus (alaihissalam) datang membawa
Injil untuk memperbaikinya. Sungguh sangat disayangkan bahwa bahkan Injil asli ini pun
tampaknya telah hilang!
Kekristenan yang dievolusikan oleh Paulus setelah kenaikan Yesus Kristus (alaihissalam)
menerima dorongan di awal abad keempat M selama masa pemerintahan kekaisaran Romawi
Islamic Online University Aqidah 301
206
Constantine I Agung, yang meskipun bukan seorang Kristen, ia mendukung gerakan ini karena
sesuai dengan ambisi politiknya. Dengan demikian agama Kristen pun menerima pengakuan dan
dukungannya. Penerimaan Kekristenan oleh kaisar Romawi berikutnya kemudian membantu
pendirian dewan umum sebagai sarana untuk mengadili perselisihan. Selama era "Doktrin dan
Disiplin", dogma-dogma Kristen "Trinitas" dan "persona Tuhan dalam Kristus", yang telah
dijadikan sebagai kriteria utama Gereja Kristen sejak saat itu, kemudian dikembangkan dari
keputusan-keputusan yang dibuat dewan umum ini selama abad keempat dan keenam M.
Doktrin Kristen yang berkembang sesudahnya memiliki keyakinan dan kepercayaan
bahwa Allah mengutus 'putra-Nya,' Yesus Kristus (alaihissalam), turun ke bumi untuk menjalani
kehidupan manusia, menderita seperti manusia, mati untuk penebusan manusia dari dosa, dan
bangkit kembali, "dengan mulia." Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang mengatakan
bahwa "Kristus, Anak Tuhan yang kekal, adalah sama dengan Tuhan, sang Bapa," dan bahwa
"Tuhan adalah Satu dalam esensi, tetapi tiga dalam persona - Bapa, Putra, dan Roh Kudus - putra
Allah yang kekal sejatinya menjadi Tuhan dengan keutamaan seorang manusia sejati yang telah
dilahirkan dari Bunda Maria”, kemudian menjadi bagian-bagian esensial dalam pengakuan klasik
pertama dan kedua dari ortodoksi Kristen, setidaknya sejak Konsili Nicea pada tahun 325 M
ketika kaum Paulis memenangkan pertempuran Tritunggal melawan Unitarian yang salah satu
pemimpinnya adalah Barnabas, yang karena versi Injil miliknya menolak keilahian Yesus
Kristus (alaihissalam), Injil verisnya pun ditentang dan tidak diterima oleh penganut Kristen.
Adalah suatu fakta sejarah didukung oleh bukti yang jelas mengatakan bahwa Alkitab
telah diedit beberapa kali oleh ulama terkemuka di masa lalu dan bahwa penambahan, koreksi,
modifikasi, dan restorasi materi sebelumnya dimasukkan ke dalam versi yang lebih baru.
Meskipun terkadang perubahan yang dilakukan hanya sekedar perbaikan bahasa saja, perubahan-
perubahan perihal ajaran dan sejarah pun juga dilakukan. Saat ini, berbagai macam versi Alkitab
dianut oleh berbagai sekte-sekte Kristen yang berbeda. Bahkan dalam empat versi Injil yang
diterima oleh Gereja Kristen pun, terdapat perbedaan perihal silsilah Yesus (alaihissalam);
Matius menemukan dua puluh lima leluhur dari David ke Joseph tukang kayu (Matt.l: 6-16),
Lukas menelusuri kembali ke Daud dan menemukan empat puluh leluhur, kebanyakan leluhur-
leluhur ini memiliki nama-nama yang berbeda dan berada dalam dua daftar induk yang juga
berbeda (Lukas 3: 23-31), kedua periwayat ini seharusnya menerima inspirasi oleh Tuhan untuk
menulis Injil! Namun demikian, adalah suatu ironi bahwa kedua periwayat ini tidak dapat
menghubungkan asal-usul Yesus dengan Daud dan Ibrahim (alaihissalam) dengan alasan bahwa
silsilah berasal dari ayah, bukan dari ibu. Dalam kasus Yesus (alaihissalam), hal ini diterima
bahwa ia tidak memiliki ayah manusia, dan Joseph bukanlah ayahnya dengan alasan konsepsi
ajaibnya atas kehendak Tuhan telah mengambil tempat sebelum pernikahan Maria sang perawan
dengan Joseph si tukang kayu. Oleh karena itu, seperti yang terdapat di dalam Gospel, Yesus
(alaihissalam) bukanlah keturunan Bani israel dari pihak ayah, meskipun Joseph merupakan
keturunan Bani Israel. Pertentangan dan kontradiksi ini juga beberapa yag lainnya , seperti yang
telah dijelaska sebelumnya di bab Kristen dan Yahudi, pasti, tanpa keraguan, telah mengguncang
Islamic Online University Aqidah 301
207
keimanan orang-orang Eropa dan umat Kristen, khususnya di abad ke-18 dan setelahnya, dalam
injil dan ajaran gereja Kristen.
Terakhir, tentang pertanyaan mengenai kehidupan sesudah mati, Gospel dalam injil tidak
menjelaskan apapun bahkan dengan jalan kontemplasi. Tidak ada bahkan dalam bentuk pertanda
dalam keempat gospel bahwa terdapat pengampunan bagi jiwa manusia dan seperti apa
pengampunan itu. hal tersebut mungkin untuk memuaskan nafsu manusia untuk mengetahui
pertanyaan mendesak ini tentang sebuah filosofi bahwa perancang Kristen harus menyusun tema
Ampunan Yesus” dan sebagai hasil dari pengampunan jiwa. Tetapi hal tersebut hanya berhenti
di sana tanpa ada penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini tentang pentingnya pemerolehan
kecerdasan manusia. Hal ini penting, sebuah pertanyaan bahwa manusia yang mencoba dengan
keras untuk hanya melakukan perbuatan baik, mengambil pelajaran dalam semua kesulitan,
menahan diri dari segala godaan, ingin yakin apakah segala usahanya akan mendapat
pengampunan yang lebih baik dibandingkan dengan orang lain yang selalu mengalah pada
godaan dan hanya melakukan sedikit kebaikan. Ajaran tentang penebusan dosa dalam agama
Kristen sangatlah tidak jelas sehingga orang cenderung percaya bahwa dengan hanya melakukan
kebaikan tidaklah memberikan akibat karena, dalam hal apapun, siapapun yang hanya” percaya
pada Kristus (alaihissalam) dijaminkan pengampunan tanpa melihat perbuatannya sesuai dengan
ajaran Kristen percaya pada Kristus dan kau akan diampuni” dari apa yang disebut dosa
murni” juga dosa yang kau lakukan hingga kematian. Oleh karena itu, seorang yang percaya
pada Kristus (alaihissalam), seperti dalam ajaran Kristen, Kristus (alaihissalam) yang akan
menjawab atau bertanggung jawab atas dosa-dosa bagi mereka yang datang setelahnya, jika hal
ini yang terjadi, lalu apa balasan moral atas orang yang jujur, baik hati, baik budi, penuh kasih
sayang, mencintai, dan lain-lain, atau untuk menahan diri dari melakukan perbuatan jahat dan
dosa?. Namun, Injil juga menyatakan bahwa Yesus (alaihissalam) menekankan pengikutnya agar
melakukan kebaikan dan menghindari perbuatan dosa. Bagaimana bisa ketidaksesuaian dan
kontradiksini ini muncul?. Kerangka ajaran Kristen sejauh ini tidak menjelaskan seperti mengapa
Yesus (alaihissalam) sendiri mewajibkan pengikutnya untuk menahan diri dari perbuatan dosa
jika selimut pengampunan dan penebusan dosa telah dijanjikan olehnya kepada setiap orang
yang percaya kepadanya? aneh, sungguh. Ini merupakan alasan yang lain untuk menyimpulkan
Injil yang murni, yang diwahyukan Tuhan kepada nabiNya, Yesus Kristus (alaihissalam) tidak
disampaikan dalam bentuk ASLI dalam bentuk dan isi.
Secara alami, banyak orang telah kehiangan ketertarikan spiritiual pada agama Kristen,
karena ia tidak memenuhi persyaratan dari manusia yang sepenuhnya maju untuk menjalani
kehidupan sosial yang patut dihargai di dunia ini, di masa kini dan masa depan- ia lemah dalam
keimanan yang tidak bertentangan dengan nalar manusia, dan sebuah filosifi tentang penebusan
dosa yang sejalan dengan logika manusia. Ini juga merupakan sebuah fakta yang tak
terbantahkan bahwa semua usaha manusia harus diarahkan pada tujuan khusus agar tidak sia-sia.
Oleh karena itu, jika keimanan dan jalan hidup manusa tidak diarahkan pada pencapaian dua
tujuan diatas; ini merupakan sebuah kesimpulan awal bahwa upaya seumur hidup adalah sia-sia.
Islamic Online University Aqidah 301
208
Apa yang terjadi dengan jiwa manusia setelah kematian hanya diketahui oleh Tuhan yang
merupakan satu-satunya perencana, perancang, dan pengatur alam semesta. Secara alami, dua
rahasia besar, - apa tujuan hidup manusia dan apa yang terjadi pada jiwa manusia setelah
kematian- hanya diketahui oleh Tuhan. Oleh karena itu, untuk dapat hidup sepenuhnya yang
dapat mengantarkan manusia pada kesimpulan yang benar seperti yang direncanakan oleh Tuhan
hal ini hanya benar bahwa jalan yang diatur oleh Tuhanlah yang dipilihnya. Maka hal tersebut
menjadi jelas bahwa keimanan dan jalan hidup yang lain dari apa yang telah direncakan Tuhan,
dan disampaikan kepada makhlukNya melalui nabi-nabi pilihanNya dari kalangan manusia
dalam segala usia dan dijaga dalam bentuk keaslian dan dokumen yang benar tanpa mengalami
perubahan atau penggantian bahkan oleh manusia paling cerdas, dapat membimbing manusia ke
tujuan yang diinginkan dalam hidup serta pengampunan dosa. Keimanan dan jalan hidup yang
seperti itu berada dalam keseresaian yang sempurna dengan alam pasti berhasil karena dapat
sepenuhnya memuaskan logika dan nalar manusia yang maju. Yang lainnya gagal, menjadi
filosofi yang tidak nyata. Inilah yang terjadi pada keyakinan dan jalan hidup karena keduanya
telah dibuat oleh manusia dan bukan oleh Tuhan, sebuah fakta yang telah dibuktikan pada
halaman-halaman sebelumnya.
Apa yang telah terjadi baru-baru ini, merupakan akibat setelah Renaissance, revolusi
industry- seperti penyebaran pengetahuan melalui percetakan dan langkah besar dibuat dalam
bidang penemuan ilmiah dan teknologi di abad ke-19 dan ke-20 dengan perlahan terus mengikis
keimanan Kristen, menjadikannya hampir kuno, hal ini berhubungan dengan pandangan dunia.
Dampak penuh dari aplikasi temuan ilmiah, setidaknya, telah cenderung mengarah pada
pelemahan “keyakinan” yang menjadikan penganut yang sedikit itu semakin menipis, hampir
sepenuhnya hilang. Hasilnya, khususnya di Eropa, dimana keyakinan pada agama Kristen duluya
mengakar kuat, kesetiaan pengikut telah bergerak di awal abad ke-20, baik itu ke komunisme
atau penyangkalan nilai-nilai agama, dengan alasan bahwa banyak dari mereka yang tidak tau
keyakinan mereka sendiri dan tentu saja keyakinan agama yang lain juga. Jujur, bahkan mereka
yang tau tentang agama mereka tidak dapat memberikan dimensi yang meyakinkan dalam
keyakinan mereka berkenaan dengan dosa murni manusia, Trinitas, Tuhan dalam Kristus,
penebusan dosa yang berubah-ubah, ampunan, Ruh Kudus di dalam gereja dan mitos lainnya.
Namun, Kristen merupakan sebuah keyakinan kepada Tuhan, Tuhan Yang Esa, dan
sebuah keyakinan pada jalan Tuhan melalui jalan Kristus (alaihissalam) berdasarkan wahyu ilahi
sebagai penyingkapan jalan ini dalam sejarah Bani Israil dan persatuan gereja. Dasar dari
keyakinan ini adalah, meskipun cukup tidak realistis, tidak terlalu berbeda dengan agama
politeistik; Tuhan Yang Maha Kuasa, menguasai segalanya dan menyebabkan segalanya terjadi
melalui kehendakNya belaka, harus mengirimkan “PutraNYa” (atau inkarnasi dalam keyakinan-
keyakinan yang lain) untuk dilahirkan, hidup dan mati seperti makhluk lainnya, untuk
membimbing manusia di muka bumi! Betapa anehnya keimanan ini ketika seseorang
memikirnya dengan sungguh-sungguh, menggunakan imajinasinya dengan nalar yang kokoh,
apakah pria maupun wanita biasa akan mampu menyamai atau menunjukkan dalam bentuk
Islamic Online University Aqidah 301
209
pribadi, seperti yang dinyatakan oleh Kristen dan beberapa agama lainnya, dengan Tuhan
sendiri, atau Inkarnasi atau anak Tuhan, atau bahkan malaiakat atau manusia super. Bimbingan
Tuhan kepada umat manusia sampai melalui manusa juga sehingga akan menjadi contoh dan
model bagi yang lain, yang tentu saja mudah untuk diikuti, keajaiban hanya menjadi alat untuk
meyakinkan mereka yang tidak beriman akan tugas para nabi sebagai utusan Tuhan, yang
bertindak bukan dengan kehendaknya melainkan karena perintah Tuhan.
Rincian dan analisis kritis sebelumnya menunjukkan, kitab, agama, hukum, dan
keyakinan Kristen yang dalam bentuk aslinya, tanpa keraguan, berasal dari Tuhan, saat ini tidak
meyakinkan, tidak sesuai, dan tidak menarik nalar manusia yang maju hari ini dan esok dengan
alasan bahwa beragam buku wahyu dalam bentuk aslinya seperti Injil dari Yesus Kristus, Taurat
dari Musa, dan Zabur dari Daud dan nabi-nabi yang lain diantara Musa dan Yesus (alaihissalam)
telah hilang atau dicemari atau digantikan dengan campur tangan manusia. Karena inovasi
manusia tidak hanya berkembang di bawah keterbatasan akut tidak hanya sejauh peristiwa yang
saat ini dikhawatirkan tetapi juga tanpa wawasan yang mendalam memungkinkannya
memikirkan masa depan dalam ruang dan waktu, ramuan tersebut hanya dapat berfungsi sebagai
solusi sementara yang murni dan sederhana. Dengan demikian, formula dan hukum untuk
mencapai suatu negara kesejahteraan yang ideal berdasarkan pada satu konsep dunia yang cukup
untuk semua waktu filsafat universal yang dapat dijelaskan secara logis dan proses yang adil
dan masuk akal untuk pembebasan jiwa manusia setelah kematian— tidak tersedia dalam doktrin
Kristen.
Zoroastrianisme
Tidak diragukan bahwa Zoroastrianisme tampaknya menjadi sebuah agama dalam arti
istilah karena fakta-fakta bahwa pendirinya, Zoroaster, telah mengklaim diri sebagai nabi Tuhan
tertinggi dari konsepnyaOrmuzd atau Ahura Mazda tampaknya telah menolak penyembahan
dewa-dewa lain dan dinyatakan telah berkhotbah untuk pembentukan tatanan yang adil dan
damai di masyarakat. Sampai tingkat tertentu, filosofi ini mengandung rumusan untuk
pengembangan masyarakat yang adil, pemujaan dan penyembahan Tuhan Yang Maha Esa dan
konsep akhir dari pembebasan jiwa manusia, tetapi tanpa banyak informasi logis yang dapat
dimengerti di baliknya. Zoroaster tampaknya telah berusaha untuk mereformasi cara-cara hidup
dan agama Yunani yang dahulu, serta animisme dan politeisme Aryan dan Iran dengan menolak
penyembahan dewa selain, Ahura Mazda yang Esa atau Ormuzd, Tuhan Yang Maha Esa.
Pengakuan iman Zoroastrian seperti yang ditemukan dalam Yasna XII menyatakan: "Aku
menolak para Daevas. Aku mengakui diriku sebagai pemuja Mazda, seorang Zoroastrian, musuh
Daevas, seorang nabi Tuhan, memuji dan menyembah Yang Kudus yang Abadi. Kepada Tuhan
yang Bijaksana, aku berjanji atas semua hal baik kepadanya, bersifat dermawan, adil, mulia,
terhormat, aku bersumpah semua yang terbaik untuk-Nya yang memberi limpahan berkah
kepada sapi, hukum, pemuka agama..." Zoroaster juga menyingkirkan ritual pemujaan darah Iran
Islamic Online University Aqidah 301
210
kuno dan pengorbanan Haoma kepada dewa-dewa. Bagaimanapun, dia mempertahankan
pengorbanan api, karena menurutnya, api adalah simbol kebenaran dan ketertiban. Ini mungkin
dibandingkan dengan "persembahan korban yang dibakar" di altar tempat ibadah oleh Bani Israil
di bawah arahan dan kehadiran para imam dan orang Lewi dan upacara pengorbanan Veda
dengan api yang dilakukan oleh orang-orang Hindu di bawah pengawasan para imam Brahmana.
Selama tulisan suci Zoroastrian dikhawatirkan, karya Manichaean Kephalaia di Koptik
diketahui mengandung sebuah bagian bahwa Zoroaster tidak menulis buku apa pun selama masa
hidupnya dan buku-buku yang ada yang dikaitkan dengannya telah ditulis oleh murid dan
pengikutnya setelah kematiannya. Juga dikatakan dalam tradisi Parsee bahwa sekitar 500
B.Masehi mungkin ada tujuh puluh sekte yang masing-masing memiliki Avesta sendiri, masing-
masing mengklaim realitas dan orisinalitas, dan karena itu Raja Arthneskes memilih komite
tujuh dari lebih dari delapan puluh ribu orang terpelajar untuk membuat Avesta standar. Namun,
bahkan kitab ini dinyatakan telah punah untuk waktu yang sangat lama. Di tempat lain juga
dinyatakan bahwa dua puluh buku atau lebih yang ditulis oleh Zoroaster sendiri semuanya hilang
selama penaklukan Alexander Agung dan itu di bawah arahan Raja Ardeshir Babekan bahwa
Dastur Tonsar menyusun dua puluh satu volume (Nasks) dari apa pun yang bisa diingat. Juga
dinyatakan bahwa dua jilid pertama Dinkard (Ketetapan Agama), sebuah ensiklopedia tentang
Zoroastrianisme dalam sembilan volume yang dikompilasi pada abad kesembilan Masehi, juga
hilang. Buku kedelapan dan kesembilan dari Dinkard membahas isi Avesta, yang juga telah
punah pada saat penulisan Dinkard. Jadi, dari informasi yang tersedia, tampaknya hampir benar
untuk menyimpulkan bahwa sebagian besar dari kitab asli atau khotbah asli Zoroaster telah
hilang dan bahwa mungkin, hanya beberapa potongan dari kitab tersebut yang telah ditinggalkan
untuk informasi bagi anak cucunya. Lebih lanjut, tidak seorang pun dapat memastikan yang
mana dari kitab suci yang ada adalah yang asli atau bahkan bagian dari khotbah asli Zoroaster
sendiri untuk alasan bahwa selama berabad-abad sejumlah materi tulisan suci telah ditambahkan
oleh banyak pemuka agama agar literatur tulisan suci tersedia bagi semua umur. Untuk kategori
ini termasuk buku-buku seperti Dinkard, Avesta yang lebih kecil dan seterusnya dan bahkan
banyak dari Avesta kecuali Gatha, yang merupakan satu-satunya yang dikaitkan secara bulat
dengan guru itu sendiri oleh hampir semua pengikut Zoroaster. Dengan demikian, seperti yang
akan muncul, status Avesta juga berada di pijakan yang sama seperti Taurat Yahudi atau Injil
Kristen dalam hal keaslian, reliabilitas dan orisinalitas sebagai wahyu yang ditransmisikan oleh
Tuhan melalui Zoroaster, memprihatinkan jika ia diterima sebagai seorang nabi.
Dalam hal apapun, doktrin Zoroastrian yang berdiri saat ini, meskipun mengandung
beberapa cara yang koheren untuk pengembangan masyarakat manusia materialistik, dualisme
dalam dua karakteristik Tuhan yang berlawanan antara Ormuzd, kekuatan yang baik, dan
Ahriman, kekuatan jahat, keduanya memiliki kesamaan kekuatan Tuhan dan konsep Ahura
Mazda sebagai bapak Roh Kudus, keadilan, pemikiran yang benar dan pengabdian sebagaimana
yang digambarkan dalam Gatha dan Yasna, benar-benar melemahkan dan bertentangan dengan
konsep Ahura Mazda sebagai Tuhan tertinggi yang layak untuk disembah. Lebih lanjut,
Islamic Online University Aqidah 301
211
pemujaan Amesha Spentas yang disebutkan dalam Gatha, darah dan pengorbanan Haoma, ordo
pendeta, metode khusus pembuangan mayat-mayat serta pelaksanaan upacara pemakaman dan,
yang paling penting, mitos-mitos tentang kosmogoni, penciptaan manusia dan makhluk lain,
yang tidak menarik secara logika maupun nalar dan tidak pula sesuai dengan konsep-konsep
ilmiah, membuat agama Zoroastrian jauh dari menjadi model untuk ditiru sebagai filosofi
lengkap dan cara hidup manusia yang sepenuhnya berkembang hari ini dan seterusnya.
Tidak mengherankan bahwa para pengikut agamaya diabaikan saat ini dan jumlahnya
bahkan terbatas pada dua kota di Bombay dan Karachi di subkontinen Indo Pakistan meskipun
leluhur agama mereka diklaim berusia 4000 tahun atau lebih.
Agama Timur Jauh
Filosofi dan cara hidup seperti Konfusianisme, Shintoisme, Taoisme dan berbagai
turunan lainnya yang diperkenalkan oleh pendiri masing-masing di antara masyarakat mereka
selama beberapa abad sebelum kedatangan Yesus Kristus tentu saja menyediakan tujuan besar
untuk kehidupan fana setiap individu dan masyarakat dari usia masing-masing ketika aliran
tersebut berada dalam kebingungan. Meskipun tampaknya tidak ada bukti yang menunjukkan
bahwa salah satu pendiri mereka telah mengklaim kenabian untuk diri mereka sendiri atau
filsafat mereka menjadi istimewa bagi alam atau telah menerima wahyu dari Tuhan; tidak ada
alasan untuk percaya bahwa mereka tidak menerima wahyu ilahi sama sekali untuk alasan bahwa
Tuhan tidak dapat menjaga suatu bangsa atau usia sama sekali tanpa berkat dari bimbingan-Nya,
dan karena fakta yang tak terbantahkan bahwa filsafat-filsafat telah mampu untuk menciptakan
ketertiban di masyarakat yang relevan tidak melalui kekuatan, tetapi melalui cinta dan hormat,
yang merupakan salah satu tujuan paling penting dari agama. Meski demikian, seperti yang
ditemukan saat ini, tidak ada satu pun cara hidup yang sesuai dengan definisi kita tentang agama
yang diwahyukan karena tidak ada kitab suci yang tampaknya dikaitkan dengan mereka baik
oleh sejarawan atau oleh pengikut mereka atau bahkan pendiri mereka sendiri. Lebih jauh lagi,
semua dari mereka, seperti yang telah ditemukan dari diskusi di bawah bab yang dialokasikan
untuk masing-masing, tidak memiliki konten spiritualisme dan filosofi ilmiah yang dapat
menjawab pertanyaan tentang tujuan alam semesta, kehidupan secara umum, kehidupan manusia
secara khusus dan emansipasi jiwa manusia kecuali hanya pada tingkatan yang terbatas, sebagai
akibat dari tercampurnya agama Buddha dan Hindu. Ketika kita mencari sebuah agama yang
menyediakan filosofi keseluruhan yang menawarkan solusi untuk semua masalah penting dalam
kehidupan yang timbul sambil menghadapi realitas alam semesta setiap saat berdasarkan
petunjuk ilahi untuk memimpin kehidupan yang bermanfaat di dunia dengan pertumbuhan
seimbang antara pikiran dan tubuh dan yang terpenting dengan harapan untuk keselamatan atau
penebusan jiwa manusia setelah kematian, tidak satupun dari agama Timur Jauh ini, beberapa di
antaranya tidak memberikan wawasan tentang pertanyaan penebusan atau kehidupan setelah
kematian sama sekali, tidak memenuhi kebutuhan kita, meskipun mungkin 500 juta atau lebih
Islamic Online University Aqidah 301
212
orang di negara-negara Timur Jauh seperti Cina, Jepang, Korea, Vietnam dan yang lain
menganggap diri mereka termasuk satu atau lebih atau bahkan semua agama sekutu
Konfusianisme, Shintoisme dan Taoisme dengan warna Agama Buddha tertentu, tanpa banyak
dari mereka yang secara khusus didedikasikan untuk salah satu dari aliran tersebut. Bagi mereka,
perhatian utamanya adalah kehidupan sosial yang nyaman, damai dan dapat diterima yang
dimodulasi oleh penyembahan dan pemujaan terhadap alam, lingkungan, pahlawan dan jiwa
leluhur serta rasa patriotisme nasional yang kuat tetapi tidak banyak spiritualisme atau pemikiran
tentang filsafat seperti seperti apa tujuan hidup atau alam semesta dan apa yang terjadi setelah
kematian atau bahkan konsep Tuhan dan seterusnya.
Sebagian besar filsafat Timur Jauh menemukan kesulitan nyata dalam rekonsiliasi dengan
pembuktian sains dan logika manusia hari ini, terutama pada kosmogoni dan penciptaan
manusia. Selain itu, kebanyakan dari mereka sangat jarang menekankan kepercayaan yang teguh
pada satu Tuhan semesta alam dan pemujaannya yang secara halus, tidak lain adalah ungkapan
rasa terima kasih yang sederhana kepada Pencipta yang Agung dan Baik dari alam semesta dan
pemberi kecerdasan pada manusia secara khusus, suatu sikap yang seharusnya secara spontan
muncul dari pikiran manusia yang memahami karena aspek unik ini telah dibangun ke dalam
spesifikasi manusia. Dengan demikian, tidak ada cara hidup agama Timur Jauh yang dijelaskan
di atas ditemukan dapat diterima sebagai model lengkap yang sejauh ini mengandung filsafat
lengkap logis dan realistis bagi pikiran manusia yang dikembangkan dan menjelaskan tujuan
penciptaan alam semesta dan manusia di dunia serta apa yang tersimpan untuk manusia setelah
kematian, juga menunjukkan metodologi praktis dan adil untuk evolusi kesejahteraan negara
bagi seluruh umat manusia di setiap era kehidupan berdasarkan internasionalisme, persaudaraan
universal, cinta dan sikap saling menghormati.
Komunisme
Seperti yang telah dibahas sebelumnya dalam babnya sendiri, diketahui bahwa
Komunisme adalah sistem sosial, ekonomi, dan politik yang dirancang dan diciptakan oleh
orang-orang tertentu yang memiliki pengetahuan yang sangat sedikit tentang agama mereka
sendiri atau sama sekali tidak memiliki pengetahuan apapun tentang agama-agama lain yang
penting, dan karena mereka benar-benar kecewa dengan sistem sosio-ekonomi dan politik yang
ada, mereka pun mencoba sendiri untuk merancang cara hidup bermasyarakat baru sebaik yang
bisa mereka bayangkan untuk membentuk masyarakat sosioekonomi yang bebas dari eksploitasi
dan penindasan. Sayangnya, perancang utama sistem ini, Karl Marx, karena latar belakang
sosialnya dan keterbatasan spiritual yang ia miliki, ia tiba pada kesimpulan yang salah, pertama,
bahwa bukan lah kesadaran manusia yang menentukan eksistensi mereka, tetapi sebaliknya,
eksistensi sosial mereka lah yang menentukan kesadaran mereka, dan yang kedua, bahwa sejarah
manusia selalu berupa persaingan antar kelompok kepentingan yang berpikiran sama dengan
kelompok lain, atau yang disebut sebagai konfrontasi kelas untuk eksistensi; oleh karenanya,
Islamic Online University Aqidah 301
213
kecuali kelompok proletariat berhasil dalam "penghapusan total kaum borjuis dan antek-
anteknya, negara kesejahteraan sosial-ekonomi kelas buruh tidak mungkin akan berkembang.
Sehingga, kita dapat berkesimpulan bahwa perancang teori Komunis maupun pencipta kelompok
Komunis tersebut tidak memiliki kepercayaan pada Tuhan. Filsafat Komunis dan masyarakat
Komunis mengabaikan atau menghilangkan Tuhan dari seluruh urusan manusia. Komunis hanya
memikirkan aspek materialistis dari kehidupan, sama sekali tidak memperhitungkan hidup
setelah kematian. Seorang komunis beranggapan bahwa hidup dalam dunia ini semata-mata
hanya melibatkan hukum alam yang bergantung pada kelahiran, kehidupan, dan kematian yang
acak, tidak lebih dari itu. Jadi dalam filsafat Komunis, manusia tidak memiliki masa lalu, masa
sekarang, dan masa depan di luar lingkup kehidupan material dunia. Sungguh menyedihkan
bahwa para perancang dan pengikut filsafat aneh ini belum mampu mengambil pelajaran dari
filsafat sains yang mengatakan bahwa jika tidak ada tujuan, maka seharusnya milyaran benda
yang lahir dan hancur di alam semesta ini, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, tidak
perlu ada. Ketika seseorang menolak untuk bergerak satu sentimeter pun kecuali jika diperlukan,
maka itu berarti bahwa ia tidak ingin menciptakan apapun kecuali ada tujuan, kegunaan, atau
alasan dibaliknya dan bahwa tidak ada yang diciptakan tanpa adanya tujuan dan pembuat di
belakangnya, lantas, bagaimana bisa dia menerima ilusinya bahwa semua yang ada di alam
semesta ini datang dengan sendirinya tanpa adanya rencana, tujuan, kegunaan, atau pencipta
dibaliknya? Jika seseorang dapat berpikir bahwa tujuan matahari ialah untuk menjaga kehidupan
agar terus berjalan, alasan apa yang dapat dia berikan untuk menjelaskan apa gunanya hidup
diciptakan sebenarnya? Apakah hidup ini merupakan suatu rencana atau hanyalah suatu hal yang
tidak bertujuan apa-apa? Tentu tidak! sangatlah masuk akal untuk berkesimpulan bahwa ada
tujuan mengapa segala sesuatu diciptakan dan bahwa ada pencipta dibalik ini semua, dan hanya
dia sendiri yang mengetahui penyebab, alasan, dan tujuan dari segala sesuatu di alam semesta,
baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Sejarah kehidupan perancang dan pelaksana teori Komunis yang dibahas dalam bab
tentang Komunisme sebelumnya membuktikan bahwa mereka semua terlalu memaksakan diri
mereka untuk mencapai tanah impian ideologi Komunis. Ini karena kemalasan, ketidakmampuan
mereka untuk menghadapi kenyataan kehidupan, dan kurangnya pengetahuan yang mereka
miliki tentang agama apa pun. Sebagian besar dari orang-orang ini adalah orang-orang gagal
dalam kehidupannya. Jika kita menelaah kehidupan Karl Marx, perancang Marxisme, kita dapat
mengetahui bahwa terlepas dari langkanya pendidikan selama abad kesembilan belas, Marx
memiliki gelar sarjana hukum dan pada saat itu, tidak ada kekurangan kesempatan kerja di
Eropa, maka sangatlah mengherankan mengapa Karl Marx bisa menjadi pengangguran dan
menghabiskan satu dekade hidupnya dalam keadaan miskin di kota besar seperti London, dimana
ia dan keluarganya hidup bagaikan orang miskin hanya dengan jelai dan kentang, dan kelima
anak mereka meninggal akibat kekurangan gizi. Namun tetap saja, sifat manianya membuat dia
salah membaca sejarah manusia sebagai perang kelas antara borjuasi (kelas menengah) dan
proletariat (kelas masyarakat berupah miskin). Kita dapat dengan mudah melihat bahwa Marx
sebenarnya tidak ingin melakukan kerja keras, bahkan jika kita melihat kegagalan Marx dalam
Islamic Online University Aqidah 301
214
menjalankan tugasnya menjaga keluarganya dengan memilih cara hidup yang miskin dan susah,
ia sendiri lah sebenarnya yang membuat anak-anaknya jatuh sakit dan meninggal karena
kekurangan gizi. Tragedi ini semata-mata terjadi akibat kemalasan, kekejaman, dan keteledoran
dari Karl Marx sendiri. Jika kita menelaah secara kritis sejarah kehidupan sebagian besar
pemimpin Komunis pada saat itu, kita akan mengetahui bahwa tidak ada dari mereka yang
benar-benar ingin bekerja dengan cara yang keras seperti cara hidup seorang petani, pekerja
pabrik, atau bahkan pekerja kantoran untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk
menanggung jatah makan dua kali sehari untuk diri mereka sendiri dan tanggungan kehidupan
mereka, meskipun mereka menentang kesulitan dan eksploitasi yang dilakukan kaum burjois
kepada kaum proletariat dengan tujuan untuk memulai perang kelas abadi dalam masyarakat.
Jika memang para perencana dan perancang Marxisme dan Komunisme benar-benar tulus untuk
mencari filsafat menuju negara kesejahteraan, sebenarnya sudah ada bimbingan dan arahan untuk
mengembangkan filsafat ini, bimbingan yang berlandaskan pada rasa persaudaraan, pemberian
bantuan dan pertolongan untuk mereka yang miskin, kebaikan yang dilakukan dengan tulus,
pemberian makanan untuk mereka yang miskin, menyembuhkan orang sakit, dan hal-hal lainnya
yang dianggap sebagai kebajikan esensial untuk pengembangan masyarakat materialistik yang
baik. Semua kebajikan-kebajikan esensial ini dapat ditemukan dalam Sepuluh Perintah dan
dalam Khotbah di Bukit yang seharusnya telah diketahui oleh semua orang yang dibesarkan
dalam lingkungan Kristen. Namun semua nilai-nilai kebajikan ini diabaikan oleh mereka karena
para pemimpin Marxis dan Komunis menyadari bahwa jika mereka menerapkan nilai-nilai
Kristen tersebut, mereka tidak akan bisa mendapatkan pembedaan eksklusif sebagai pencetus
gagasan dan menjadi bos dari pertunjukan baru ini.
Tentu saja, ada alasan lain juga yang berperan penting memainkan gagasan konfrontasi
dan perang kelas. Bahkan, karena masyarakat Eropa pada abad ke-18 cenderung condong ke arah
imperialistik, mereka kemudian melangsungkan penaklukan benua Asia, Afrika, dan Amerika
Selatan dengan kolonialis Eropa yang bertujuan untuk mengeksploitasi kekayaan dan sumber
daya benua-benua ini melalui perusahaan perdagangan global yang dibiayai dan didukung oleh
bank, kaum kapitalis, dan para penguasa negara-negara Barat. Hal ini kemudian menciptakan
persaingan di antara negara-negara Barat seperti Jerman, Belanda, Spanyol, Portugis, Inggris,
dan banyak lainnya dan pada akhirnya persaingan ini menyebabkan perang yang amat
mengerikan dan merusak yang tentunya bertentangan dengan ajaran-ajaran Kristen. Pembiayaan
perang-perang ini tentu saja berasal dari bangsa-bangsa penjajah yang diambil melalui pajak dan
suplai masyarakat yang dijajah. Kaum kelas pendeta, terutama Tsar Rusia, yang sangat
bergantung pada kontribusi besar kaum kapitalis kepada badan amal Kristen untuk menjaga
masyarakat miskin tetap merasa bahagia dengan pembayaran-pembayaran denda yang
diwajibkan, juga mendukung upaya-upaya untuk melakukan perang dengan harapan agar mereka
dapat menyebarkan agama gereja sampai ke benua Asia, Afrika, dan Amerika. Lebih parahnya
lagi; munculnya Renaisans dan Revolusi Industri telah memicu rasa penasaran untuk mencari
ilmu dan penyebaran liberalisme dan akibat dari penemuan mesin cetak, penyebaran literatur-
literatur yang membuat masyarakat menjadi kritis dengan ajaran Gereja pun terjadi. Hal ini dapat
Islamic Online University Aqidah 301
215
dilihat dari sikap masyarakat yang mulai mempertanyakan doktrin-doktrin yang tidak realistis
dari Gereja. Dengan terjadinya penyebaran pengetahuan, massa yang selama ini diajarkan dan
dipaksa untuk menerima begitu saja tradisi-tradisi, jalan hidup, dan kepercayaan yang disebarkan
oleh Gereja, sudah mulai tidak mempercayai ajaran-ajaran Gereja tersebut lagi karena mereka
tidak menemukan penjelasan logis yang mendukung kepercayaan dan ajaran-ajaran yang seperti
mitos ini. Tindakan para klerus dengan memberi dukungan terhadap kaum kapitalis dan
imperialis juga berkontribusi menumbuhkan ketidaksukaan massa terhadap Gereja. Waktu yang
tepat untuk mengganti materialism dan unilitarianisme yang kuat di Eropa melalui penerimaan
komunisme ideal yang revolusioner yang bertujuan pada evolusi negara yang sepenuhnya
materialistik yang dikontril secara eksklusif oleh kaum Proletariat, menggantikan kaum Borjuis,
dan menyoroti dogma seperti agama adalah candu”, “akhir menentukan segalanya”, dan lain-
lain.
Oleh karena itu, komunisme menjadi makmur dari tahun ke tahun hingga, mungkin,
setidaknya lebih dari sepertiga populasi manusia masa kini telah menjadi komunis atau menganut
ideologi atau simpatisan ideologi tersebut, secara benar atau salah. Namun, gambaran gerakan ini
telah dapat menciptakan dalam pikiran orang luas setelah percobaan lapangan adalah bahwa
meskipun disiplin resimen disokong oleh kekuatan militer yang besar, teknokrat, finansial yang
besar, sumber daya alam yang banyak, para ilmuwan, para ahli bekerja dengan teknologi modern
dan di bawah pengawasan partai hirarki dunia komunis Eropa tetap tidak dapat mengatasi
kekurangan bahan makanan selama pemerintahan diktator Komunis selama 65 tahun terahir,
termasuk kekurang di bidang sosial ekonomi lainnya. Satu satunya hal yang dapat dipenuhi
adalah pemenuhan kebutuhan produksi senjata dan material perang juga termasuk penaklukan
negara-negara lain untuk menyebarkan komunisme di dunia. Oleh karena itu, trek sepanjang
percobaan lapangan dari ideologi komunis yang baru dalam perkembangan sosial ekonomi oleh
populasi dunia yang besar telah terbukti gagal, mendemonstrasikan tanpa keraguan bahwa
Marxisme dan Komunisme memiliki kekurangan dalam filosofi yang dianutnya bahkan dalam
bidang evolusi dari negara sejahtera hanya menyentuh bagian kecil populasi dunia.
Selain itu, karena ideologi komunis-Marxisme mengabaikan keberadaan Tuhan dan
bahkan tidak peduli pada apa yang terjadi pada jiwa manusia setelah kematian atau tentang
tujuan hidup manusia dan alam semesta. Komunisme tidak memberikan filosofi yang lengkap
yang dapat menunjukkan jalan hidup yang mencakup pertumbuhan fisik dan spiritual manusia.
Islam
Seperti yang telah ditemukan sebelumnya dalam pembahasan rinci agama Islam, yang
terdiri dari keimanan, keyakinan, dan cara hidup untuk individu dan masyarakat menumbuhkan
filosofi kesepakatan bersama dan rasa persaudaraan di kalangan masyarakat tanpa memandang
ras, warna kulit, kedudukan atau kekayaan untuk mencapai keselamatan jiwa manusia selama
Islamic Online University Aqidah 301
216
kehidupan sesudah mati berdasarkan pada perbuatan baik dan rahmat Allah, Sang Pencipta dan
Pengatur alam semesta. Struktur masyarakat dibangun diatas ajaran untuk menerapkan pikiran,
kata-kata dan tindakan yang baik dari individu untuk menciptakan masyarakat, negara, dan
komunitas dunia, yang didasarkan pada keimanan pada Allah semata melalui Al-Qur’an yang
diyakini sebagai kitab Allah yang terakhir di turunkan kepada penutup para nabi, Muhammad
(Shallallahu ‘alaihi wasallam). Hal ini, tanpa diragukan, merupakan rahmat sesungguhnya bagi
manusia, dimana Dia telah menjadikan Islam sebagai agama terakhir melalui Nabi dan kitabNya
yang terakhir, menguatkan dan melengkapi wahyu yang telah diturunkan kepada para Nabi
sebelumnya melalui proses ini Dia telah menghindarkan orang-orang yang beriman dari
keraguan yang melingkupi mereka tentang apakah nabi dari Tuhan akan datang, bagi mereka
yang meyakini nabi palsu atau mereka yang tidak beriman kepada Nabi yang benar akan tersesat
seperti yang terjadi pada Bani Israel. Oleh karena itu, umat muslim telah dijamikan bahwa tidak
ada nabi atau kitab wahyu setelah Nabi penutup, Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) dan
kitab terakhir, Al-Qur’an suci.
Ketika membahas mengenai keimanan umat Muslim, hal ini merupakan konsep yang
logis bahwa Pencipta, Perancang, Pemberi Rezeki, dan Pengatur alam semesta adalah Allah
semata diatas semua konsepsi material apapun, Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha
Mengetahui, serta Penguasa ruang dan waktu, tidak membutuhkan siapapun, konsep menjadi
unik untuk mempertahankan kedamaian dan keteraturan alam semesta. Dia menurunkan
petunjukNya kepada manusia melalui wahyuNya kepada para nabiNya yang memiliki kualitas
agung dari kalangan manusia sehingga seluruh manusia dapat mengikutinya dengan mudah, dan
bukan makhluk supranatural yang mustahil untuk ditiru oleh manusia biasa. Tuhan, Allah, dalam
konsep Islam yang Maha Pengasih, Penyayang, Adil dan memberikan ampunan kepada mereka
yang berjanji untuk secara sengaja kembali melakukan dosa setelah bertaubat. Filosofi Islam
menyatakan bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah dan bahwa segala
yang ada di alam semesta telah diciptakan untuk dimanfaatkan umat manusia di muka bumi.
Norma kelakukan dari umat Muslim dalam perjalanan hidup di dunia ini telah diatur dan di
sampaikan secara rinci dalam Al-Qur’an suci serta didukung oleh arahan dan tindakan Nabi suci
Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) yang sesuai untuk mencapai kesejahteraan dunia
dalam segala waktu untuk segala ras, berbagi kehidupan yang sejahtera sebagai saudara yang
setara tanpa diskriminasi tetapi dengan tujuan bersama untuk mencapai keselamatan jiwa
berdasarkan usaha pribadi selama masa hidup di dunia serta rahmat dari Allah, keselamatan
merupakan kehidupan tanpa beban yang sepenuhnya berbeda.
Islam menyokong kedamaian bagi diri sendiri, masyarakat, negara dan dunia serta
kedamaian bagi umat muslim selama kehidupan abadi sesudah mati. Islam melarang paksaan
dalam agama, namun memerintahkan perlawanan bahkan perang hanya pada tujuan untuk
mempertahankan masyarakat Islam hingga huru-hara atau penjajahan berhenti. Tolenrasi dengan
agama lain yang tidak memusuhi umat islam merupakan princip utama dalam filosofi Islam
dengan dasar bahwa jika Allah menghendaki, Dia akan menjadikan setiap manusia muslim, oleh
Islamic Online University Aqidah 301
217
karen itu, filosofi Islam menekankan pada hal, berkenaan dengan lingkungan dunia, seorang
muslim harus menemukan jalan yang benar untuk keselamatan jiwa, mengikuti perintah agama
yang diwajibkan bagi mereka.
Islam mendukung untuk mencari segala ilmu pengetahuan yang benar yang dibutuhkan
untuk memungkinkan manusia dan negara untuk hidup di dunia ini dnegan benar, serta
melakukan penelitian untuk mebuka rahasia alam agar semakin menguatkan iman umat muslim
juga untuk menaklukkan kekuatan alam (Al-Qur’an, 45:13) untuk hidup dengan nyaman dalam
batasan yang tepat serta menghindari eksploitasi. Beberapa tanda telah disebutkan dalam Al-
Qur’an berkenaan dengan beberapa rahasia ciptaan- seperti evolusi alam semesta dari asam yang
meluas dalam waktu ribuan tahun; pembelahan langit dan bumi yang dulunya merupakan
kesatuan yang padu; penyusunan bumi dan tujuh lapisnya untuk membentuk sistem yang selaras;
fungsi dinamis gunung sebagai penyeimbang dan untuk menghindari pergerakan bumi ketika
berputar pada porosya, penciptaan manusia pertama dari tanah; penciptaan wanita pertama
sebagai pasangannya untuk meneruskan generasi manusia; proses penciptaan manusia dari darah
dalam tahapan yang beragam hingga kelahiran bayi dan masih banyak fakta dasar alam lainnya
yang belum dibuka oleh para ilmuwan bahwa dalam domain teori hingga waktu ketika Al-
Qur’an diturunkan kepada Nabi terakhir yang tak dapat membaca. Hal ini juga merupakan
sebuah fakata bahwa kebanyakan teori yang dibangun pada hari ini dalam topik seperti itu belum
dapat dikonfirmasi juga disimpulkan dimana ilmu pengetahuan dunia modern memiliki
pandangan yang berbeda, masih belum dapat dibuktikan! Tujuan dari Al-Qur’an menyediakan
konsep dasar yang jelas pada masalah tersebut dapat diapresiasi sebagai sebuah usaha dari Allah
untuk menghilangkan prasangka dan untuk memberikan manusia awal yang positif untuk
melakukan penelitian dan investigasi yang lebih jauh dengan dasar yang valid untuk
menguatkan pemikiran manusia maju akan keagungan Allah Yang Maha Esa, Pencipta alam
semesta, juga untuk mendukung usaha manusia untuk memahami beberapa rahasia alam semesta
untuk kebaikan mereka sendiri dan untuk menyadari kelemahannya dibandingkan dengan
Keagungan dan Kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa.
Hukum-hukum pribadi dan sosial tentang Islam bertujuan untuk menyelamatkan
masyarakat dari kejahatan dan menciptakan keamanan bagi setiap orang agar dapat hidup dengan
damai. Larangan pada beberapa jenis makanan seperti jenis daging dan minuman keras tertentu
memiliki implikasi biologis dan sosial yang memengaruhi kesehatan seseorang dan masyarakat
di mana para ilmuwan pun belakangan ini telah banyak mengetahui tentang hal ini dan
menghapus keraguan mereka sebelumnya. Sangat menarik untuk dicatat bahwa beberapa
larangan pada makanan juga berada dalam kitab Taurat anak-anak Israel. Tak bisa dipungkiri
bahwa sebagian besar karakter makhluk hidup diatur oleh genetika, makanan, dan seterusnya.
Filosofi Islam; karena itu; menganggapnya sebagai persoalan iman, dan memang benar bahwa
Allah, yang merupakan pencipta manusia begitu pula dengan segala sesuatu yang ada di alam
semesta, mengetahui perubahan biologis apa yang mengarahkan karakter seseorang berdasarkan
makanan jenis apa yang dimakannya. Terlepas dari masalah iman, kode yang mengatur
Islamic Online University Aqidah 301
218
pemeliharaan hukum dan ketertiban; keluarga; pergantian hak milik; apa yang baik dan buruk;
hubungan antara penguasa dan yang diperintah; kesepakatan antara Muslim dan non-Muslim;
beribadah dan mengingat Allah; ekonomi; transaksi antar individu; hak dan kewajiban individu;
hubungan antara si kaya dan si miskin di satu sisi serta majikan dan karyawan di sisi lain;
kejahatan dan hukuman; perilaku manusia di setiap kesempatan; kontrak dan perjanjian; perang
dan damai; satu negara kesejahteraan dunia; dan singkatnya, setiap aspek penting dari kehidupan
manusia, perempuan dan masyarakat telah ditentukan secara adil oleh Islam secara jelas dan
tidak ambigu, yang berlaku untuk setiap situasi, kapan saja, dan tidak mungkin untuk
menemukan aspek lain baik yang dicakup atau yang tidak dapat dicakup oleh penerapan
perpanjangan dari kode yang ada dalam Syariah Islam. Mungkin dengan tegas diklaim bahwa
tidak ada agama lain atau bahkan cara hidup di dunia yang dapat memenuhi tantangan Islam
yang penting ini. Hal ini merupakan perbedaan besar terhadap Islam dalam mengakui
kehormatan manusia, Islam telah diperintahkan bagi setiap Muslim sejak 1400 tahun yang lalu
ketika umat manusia tidak menyadari bahwa kesetaraan dan kebebasan adalah hak manusia sejka
lahir, bahwa setiap manusia setara dan bebas di mata Allah seperti yang lain dan bahwa tidak ada
paksaan dalam agama. Prinsip-prinsip kardinal ini dapat ditemukan oleh forum manusia elit abad
ini saja. Persaudaraan menyeluruh dan kesetaraan antara setiap Muslim dan yang lainnya dengan
kemampuan yang ditunjukkan oleh umat Islam di seluruh dunia ketika mereka shalat berjamaah
lima kali sehari, merapatkan bahu, yang pertama datang menduduki shaf depan tanpa ada
perbedaan berdasarkan status, posisi, kekayaan, warna atau ras dan selama melaksakan ibadah
haji di tanah suci Mekah semua laki-laki harus mengenakan jenis pakaian yang sama (satu set
yang terdiri atas dua potong kain yang tidak terikat dan hanya bagian kepala yang nampak)
selama beberapa hari tanpa pengecualian tidur di jenis tenda yang hampir sama atau di tempat
terbuka, berbagi setiap fasilitas yang tersedia di sana tanpa menggerutu, tetapi dengan tersenyum
satu sama lain dalam penyerahan diri sepenuhnya kepada panggilan Allah dan dengan kesetaraan
persaudaraan seutuhnya serta tanpa ada perbedaan atau prasangka karena posisi, status, ras atau
warna, mengesankan komunitas dunia yang bijaksana dan cerdas melalui standar tinggi praktik
toleransi, kesetaraan dan persahabatan yang telah dibangun ke dalam filsafat Islam. Inilah alasan
mengapa Allah telah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Islam adalah agama Allah.
Islamic Online University Aqidah 301
219
Bab 15
Kesimpulan
Upaya sungguh-sungguh dan tulus dari penulis adalah untuk memberikan gambaran pena
lengkap dari semua agama yang ada dan jalan hidup penting yang ada saat ini berdasarkan pada
tulisan suci dan kitab-kitab penting lainnya yang ditulis oleh otoritas terkenal dengan maksud
untuk memungkinkan pembaca untuk memiliki pemahaman rinci tentang filosofi dan standar
praktik masing-masing, bersama dengan penjelasan, dan analisis aspek yang lebih penting dari
masing-masing. Selanjutnya, penulis telah mencoba kadar terbaiknya untuk mengutip referensi
dari buku-buku yang relevan, terutama tulisan suci, yang dirasa perlu dan mendasarkan kritiknya
pada kutipan tertentu dari tulisan suci untuk meyakinkan pembaca jika perlu. Dengan demikian,
tugas para pembaca untuk memuaskan diri mereka sendiri bahwa apa yang disampaikan pada
mereka adalah otentik. Karena fakta selalu menjadi fakta, pertanyaan tentang kesalahpahaman
alasan penulis seharusnya tidak muncul.
Dari penjelasan terperinci dari semua fakta yang tersedia yang dapat diperoleh penulis
dari sejumlah buku referensi serta pengalamannya sendiri selama lima puluh lima tahun terakhir
hidupnya sebagai orang yang berhati-hati menerima pengetahuan yang ditemukan di mana pun ia
bepergian atau hidup, bergaul dengan orang-orang dari berbagai latar belakang kehidupan—
murid, guru, pejabat, pekerja, pendeta, doktor agama dan filsafat, industrialis, rentenir,
pengusaha, dokter, ulama, dan sebagainya— benar-benar yakin akan fakta bahwa jika ada agama
dan cara hidup yang memiliki filosofi realistis yang menarik akal budi dan merangkul kehidupan
umat manusia secara keseluruhan, meliputi bidang apa pun dari aktivitasnya— pemikiran,
pekerjaan, kepuasan, perilaku sosial, internasionalisme, mengutip beberapa saja— dan
mendorong manusia untuk menjalani masa hidup penuh yang disesuaikan dengan alam dan
pembuktian sains dan dengan harapan untuk pencapaian keselamatan jiwa manusia setelah
kematian, adalah yang termuda dari semua agama yang diwahyukan, yaitu Islam, agama yang
damai. Jika saja Islam diterima sebagai agama masyarakat dunia, kita memiliki semua panduan
di dalamnya untuk pertumbuhan yang seimbang dari seluruh umat manusia menuju pencapaian
pemerintahan satu dunia yang bebas dari kekurangan, kelaparan, diskriminasi rasial, perang dan
konfrontasi. Kemudian, sebuah tatanan ekonomi dunia baru yang didasarkan pada Hukum-
hukum Sang Pencipta Dunia, Allah Yang Maha Esa pun akan dapat dibangun. Tatanan dunia
Islamic Online University Aqidah 301
220
yang melarang segala macam bentuk ketidakadilan, eksploitasi, dan penindasan serta yang akan
menuntun kita menuju abad harmonis yang dipenuhi dengan kemakmuran, kepuasan, dan cinta-
impian semua kalangan, termasuk kalangan Komunis. Betapa damainya kehidupan umat
manusia jika dunia seperti ini yang dibangun, dunia yang bebas dari diskriminasi ras yang marak
terjadi di dunia moderen saat ini. Betapa luar biasanya jika saja semua pencapaian kemajuan
sains dan teknologi moderen disalurkan untuk membuat hidup manusia menjadi lebih bahagia
daripada digunakan untuk saling menghancurkan? Hanya hukum Tuhan sang Penguasa alam
semesta yang melampaui batasan ruang dan waktu lah yang dapat menjadi hukum yang berlaku
secara uinversal selamanya. Hukum buatan manusia dapat dipertentangkan dan tidak dapat
diterapkan secara universal serta pemahaman manusia, yang terbatas hanya pada masa sekarang,
juga dapat lekang oleh ruang dan waktu.
Dalam era ini, dimana manusia telah mencapai kesempurnaan biologis dan memiliki
hasrat untuk mempersatukan seluruh umat manusia dengan memperkuat ikatan persaudaraan
universal serta melarang segala bentuk diskriminasi, kekurangan, kelaparan, kemiskinan, dan
pemerintahan dunia dibawah satu komando, dimana para politisi dan pemerintah merasa
khawatir akan terbentuknya masyarakat moderen yang korup dan tidak taat hukum, yang bersifat
sangat materialistis tanpa menjunjung nilai-nilai spiritual sama sekali, dimana orang-orang
berilmu dalam masyarakat ini belum mampu melewati kecepatan cahaya dan menyadari
keterbatasan manusia, semua manusia harus benar-benar merenungkan kebesaran milik Islam.
Sehingga jelas pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa: Islam merupakan satu-satunya yang
dapat menjadi penyelamat umat manusia, satu-satunya agama dan cara hidup utuh yang dapat
menuntun umat manusia dari masa apapun menuju keimanan dan kehidupan seimbang yang
menggabungkan nilai-nilai esensial materialisme dengan nilai-nilai moral dan spiritualisme, yang
menawarkan ganjaran setimpal untuk setiap jiwa manusia, baik ganjaran yang akan diberikan
ketika ia masih hidup di dunia maupun yang akan diberikan dalam bentuk yang berbeda di
kehidupan kekal setelah kematiannya, yang diberikan secara proporsional sesuai dengan
perbuatan, pikiran, dan perkataan yang ia tujukan kepada sumber segala kasih sayang dan
kebaikan yakni Sang Penguasa Yang Maha Esa. Seperti yang telah diperlihatkan sejauh ini
dalam stud ini, tidak ada agama atau cara hidup lain selain Islam yang bersifat sangat
meyakinkan, praktis, dan dapat merangkul semuanya.
Tugas saya sebagai pengarang berakhir ketika pesan yang unik dan berharga perihal
pencerahan global mengenai agama Islam yang luar biasa ini telah tersampaikan melalui risalah
ini. Saya mengatakan "luar biasa" karena tidak ada filsafat lain seperti ajaran Islam yang
mencakup kehidupan dunia ini dan mengandung konsep yang ideal, realistis, logis, ilmiah,
meyakinkan, dan penuh dengan harapan mengenai keselamatan jiwa manusia setelah kematian.
Ajaran-ajaran lain selain Islam mengandung aturan yang harus mengalami perubahan terlebih
dahulu agar dapat diterima dan diterapkan oleh seluruh bangsa-bangsa dunia di seluruh masa.
Kemudian muncullah perntanyaan, apakah ajaran-ajaran selain Islam ini akan dapat menjadi
ajaran yang utuh dan dapat diterapkan di segala masa ketika aturan ajaran-ajaran tersebut telah
Islamic Online University Aqidah 301
221
direvisi? Jawabannya adalah “Tidak”. Perihal urusan penyelamatan jiwa manusia, filsafat-filsafat
lain cenderung menyesatkan manusia jatuh ke dalam rantai tanpa ujung atau sama sekali tidak
mengangap adanya kehidupan setelah kehidupan manusia di dunia ini. Perihal urusan iman dan
keyakinan, Islam mengandung perbedaan besar dari filsadat-filsafat lain dimana dalam Islam,
kekuasaan Allah Yang Maha Esa, Penguasa mutlak segala materi, ruang, dan waktu yang tidak
memiliki batasan apapun, tidak hanya mampu mengatur seluruh masa, baik masa lalu, masa kini,
maupun masa depan tanpa bantuan siapapun, tetapi juga mampu untuk berkali-kali mengampuni
dosa manusia dan menjawab secara langsung panggilan mereka yang menyembah-Nya tanpa
perlu perantara karena Ia “lebih dekat dengan mereka daripada urat leher mereka sendiri". Segala
hal yang ingin Ia ciptakan, baik berupa materi atau kejadian, pasti terjadi karena perintah unik-
Nya yakni, “Jadilah” maka “Terjadilah ia!”. Dibandingkan dengan konsep mutakhir ini, kita
malah menganut agama-agama dan cara hidup lain yang menciptakan berbagai macam
perwakilan Tuhan yang wajib untuk diterima dan disembah, yang mewajibkan hambanya untuk
berkali-kali melewati banyak kehidupan suram dan mengerikan secara tidak terbatas hingga ia
akhirnya mencapai kehidupan yang sepenuhnya bersih dan suci, kehidupan yang dicapai tanpa
adanya campur tangan Tuhan sedikitpun berkeinginan untuk mengampuni hamba-Nya. Ajaran
seperti ini hanya sebuah khayalan belaka. Terdapat beberapa agama dan filsafat yang
mengajarkan bahwa mereka yang beriman akan menerima pengampunan dan penebusan, namun
ada juga ajaran-ajaran yang sama sekali tidak menganggap keberadaan Tuhan dan adanya
kehidupan setelah kematian. Di sisi lain, kaum ateis dan Komunis sama sekali menolak konsep
Ketuhanan karena mereka menganggap bahwa hidup manusia hanyalah sesuatu yang terjadi
secara acak dan alami, mereka tidak meyakini adanya kehidupan akhirat. Jadi bagi mereka yang
merasa bimbang untuk memilih keyakinannya, mereka harus berhati-hati mempertimbangkan
semua aspek secara penuh dan memutuskan sendiri keinginannya, sehingga Islam menegaskan,
"Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), karena sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam)
daripada kesesatan (kufur)."
Tidak perlu untuk ditanyakan lagi kontribusi apa yang sejauh ini telah dilakukan oleh
semua penganut setia agama Islam dalam mengembangkan Islam menjadi contoh bagi dunia.
Saya jelaskan disini bahwa sejarah kehidupan masa lalu Islam tidak perlu diragukan lagi
merupakan bukti yang menunjukkan pola kehidupan Islam seutuhnya, setidaknya sejarah
kehidupan Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wasallam) dan beberapa dekade sepeninggalannya.
Dengan demikian, Islam ini adalah ajaran yang benar-benar telah diuji dalam penerapannya.
Oleh karena itu, ini saatnya bagi kalian para pembaca cerdas dan seluruh umat manusia untuk
mempelajari agama ini dari semua sisi secara kritis tanpa prasangka apapun dan lihatlah sendiri
apakah benar ajaran Islam ini memang merupakan tuntunan utama bagi umat manusia, yang
diturunkan melalui seorang anak yatim piatu yang jujur bernama Muhammad (Sallallahu Alaihi
Wasallam), yang dibukukan ke dalam kitab terakhir Allah yakni Al-Qur'an yang sama sekali
tidak tercemar selama lebih dari 1400 tahun dan dijanjikan oleh Allah akan tetap bersih sampai
hari akhir tiba dan yang merupakan sebuah pedoman memastikan bahwa wahyu dan firman yang
Islamic Online University Aqidah 301
222
diturunkan oleh Allah kepada nabi-nabi sebelumnya memang benar adanya. Akan tetapi, Al-
Qur'an ini mengungguli kitab-kitab sebelumnya yang telah tercemar.
Jangan biarkan ego dan kecintaan kita terhadap ras, budaya, atau tradisi yang penganut
agama internasional terdahulu telah lakukan merusak hati nurani bersih kita sebagai manusia
modern yang sepenuhnya berkembang. Lagi pula, ajaran Komunisme, yang berpikiran sempit
bahwa pencapaian negara kesejahteraan hanya sebatas kesejahteraan materialistis saja,
dipraktekkan selama enam setengah dasawarsa oleh para pendukungnya yang memiliki
keterbatasan sebagai manusia biasa yang tidak dapat mengatur cara kerja alam. Mereka tidak
memiliki pengalaman apapun perihal dampak dari penerapan teori Komunisme ini, dan kita pun
telah melihat bahwa teori ini tidak dapat diterapkan. Sedangkan agama Islam ini telah ada
dihadapan kita, agama yang memiliki catatan gemilang - selama masa pemerintahan Rasulullah
(Shallallahu ‘alaihi wasallam) dan selama beberapa dekade sepeninggalannya, dimana negara
kesejahteraan yang sesungguhnya dan masyarakat Islam yang terdiri atas orang-orang yang
saling bersaing mengejar prestasi dalam menegakkan nilai-nilai moral dan kebaikan demi
mendapatkan tempat di surga yang dijanjikan Allah, telah berhasil dibangun di atas tanah yang
tidak memiliki apapun yang patut untuk dibanggakan pada dunia, sebelum munculnya Islam di
sana. Sejak saat itu, kejayaan Islam terus berlanjut berkontribus mensejahterakan dunia dan
karenanya, generasi-generasi selanjutnya berhutang pada Islam. Sekarang, semua tergantung dari
dunia moderen yang berisikan nalar, pencerahan, sains, dan teknologi ini untuk meneruskan
kesejahteraan dari kejayaan Islam jika memang generasi dunia modern saat ini ingin mencapai
satu tatanan dunia yang bebas dari rasa takut, rasa kekurangan, penindasan, kemiskinan, serta
diskriminasi ras.
Saat ini, jumlah populasi dunia telah mencapai lebih dari empat miliyar dan yang
beragama Islam hanya berjumlah sekitar ribuan juta tersebar di seluruh penjuru benua. Jadi, ada
peluang bagi seluruh dunia untuk memperbarui peradaban saat ini melalui agama Islam yang
bahkan dapat membuat impian negara kesejahteraan perancang Marxisme dan Komunisme
menjadi kenyataan. Inilah harapan terakhir umat manusia untuk melenyapkan seluruh
ketidakadilan, penindasan, dan eksplotasi yang ada di dunia dan untuk membangun negara
kesejahteraan yang sesunguhnya, yang didukung dengan nilai-nilai moral sehingga keselamatan
jiwa manusia pun tercapai. Apakah umat manusia akan belajar dari sejarah bergerak menuju
jalan yang benar?